Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Dua minggu yang penuh dengan drama kepura-puraan, fitting gaun yang menguras emosi, dan sindiran tajam dari Kimberly Valerio akhirnya memuncak pada hari ini.
Gereja katedral tua di pinggiran Los Angeles itu didekorasi dengan bunga lili putih dan mawar merah yang kontras—sebuah perpaduan antara kesucian dan gairah yang berbahaya.
Briella Zamora berdiri di depan altar, terbalut gaun pengantin sutra yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di hadapannya, Lexington Valerio berdiri tegak, tampak seperti dewa Yunani dalam setelan tuksedo hitam yang dijahit dengan presisi milimeter. Namun, ada yang berbeda dari tatapannya hari ini. Bukan lagi tatapan dingin yang kaku, melainkan tatapan gelap yang sarat akan dominasi.
"Aku menerima kau, Briella Zamora, sebagai istriku," ucap Lexington dengan suara bariton yang stabil, namun matanya mengunci mata Briella seolah-olah ia baru saja menandatangani akta kepemilikan atas jiwa wanita itu.
Setelah janji suci diucapkan dan cincin terpasang, pendeta mengizinkan mereka untuk berciuman.
Briella mengira itu hanya akan menjadi ciuman formal untuk kebutuhan foto.
Namun, begitu bibir mereka bertemu, Lexington merenggut pinggangnya dengan kasar, menarik tubuhnya hingga tak ada celah udara di antara mereka. Ciuman itu panjang, menuntut, dan penuh dengan aura yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesempurnaan. Lexington menghisap bibir bawah Briella hingga gadis itu mengerang kecil, sebuah ciuman yang tidak ditujukan untuk merayakan cinta, melainkan untuk menandai wilayah kekuasaan.
Saat mereka melepaskan tautan bibir diiringi tepuk tangan tamu undangan, Lexington merunduk sedikit, membisikkan sesuatu di telinga Briella yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Selamat datang di nerakamu, Sayang," bisik Lexington dengan seringai tipis yang hanya bisa dilihat oleh Briella. "Aku masih menyimpan setiap kata 'Macet' yang kau ucapkan di kepalaku. Kau pikir aku akan membiarkanmu menang?"
Briella tersentak, menatap mata suaminya yang berkilat tajam. "A-apa maksudmu?"
"Nanti malam, aku tidak akan membiarkanmu berjalan dengan normal," Lexington mempererat cengkeramannya pada jemari Briella saat mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Ingat malam pertama kita saat umur delapan belas tahun? Dua hari, Briella. Dua hari penuh kau tidak kuat ke kamar mandi sendiri dan wajib kugendong karena kakimu gemetar hebat. Malam ini? Aku akan memastikan kau tidak bisa turun dari ranjang selama tiga hari. aku akan mengingatkanmu pada setiap detik rasa sakit dan nikmat itu. Berkali-kali lipat."
Deg.
Jantung Briella berdegup kencang antara rasa takut dan antisipasi yang gila. "Kau gila, Lexington. Ini pernikahan, bukan ajang balas dendam biologis!"
"Aku memang gila karena kau, dan sekarang aku punya hak hukum untuk menjadi gila sesukaku."
Mansion Valerio – Pukul 23.00
Suasana kamar pengantin itu sangat mewah, namun terasa menyesakkan bagi Briella. Ia baru saja selesai membersihkan wajah saat pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Lexington yang hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam yang sengaja dibiarkan terbuka di bagian dada, memperlihatkan tato "Property of Briella" yang masih bertahta di perut bawahnya.
Lexington berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti predator yang mengunci mangsa. Ia menarik tangan Briella, mendorongnya dengan lembut namun tegas ke arah ranjang berukuran super king.
"Aku punya satu pertanyaan sebelum kita mulai membayar hutang 'macet' itu," ucap Lexington, suaranya serak dan berbahaya. Ia mengukung tubuh Briella dengan kedua tangannya, membuat napas mereka beradu. "Selama lima tahun ini... apa kau pernah bersama pria selain aku?"
Briella menatap mata gelap di depannya. Ia ingin berbohong, ingin mengatakan bahwa ia memiliki puluhan pria agar Lexington cemburu, tapi lidahnya tidak bisa berdusta di bawah tatapan itu. Ia menggeleng pelan. "Tidak pernah. Hanya denganmu."
Mendengar itu, sisi Lexington meledak. Sebuah rasa puas yang posesif muncul di wajahnya. Ia tidak suka berbagi, dan mengetahui bahwa wilayahnya tetap suci selama lima tahun membuatnya kehilangan akal sehat.
"Bagus," desis Lexington. "Karena jika kau menjawab ada orang lain, aku mungkin akan menghancurkan pria itu. Tapi karena hanya aku... maka aku akan menghancurkanmu malam ini."
Tanpa peringatan, Lexington memulai serangannya. Dia benar-benar egois. Ia tidak memberikan ruang bagi Briella untuk bernapas, apalagi untuk beristirahat.
Setiap sentuhannya adalah tuntutan, setiap kecupannya adalah klaim. Lexington menggunakan segala teknik yang ia miliki untuk membuktikan bahwa mesin yang dituduh "macet" itu adalah mesin paling bertenaga yang pernah ada.
"Lex... kumohon... berhenti sebentar..." Briella memohon dengan suara serak saat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Rambutnya berantakan, dan keringat membasahi tubuhnya. "Masih ada hari besok... aku lelah..."
"Besok?" Lexington menarik dagu Briella, memaksanya menatap mata yang penuh obsesi itu. "Tidak ada hari besok untuk orang yang sudah menghina harga diriku di depan publik. Kau ingin bukti? Aku akan memberikannya sampai kau memohon agar aku berhenti."
Lexington tidak membiarkan Briella tidur nyenyak. Setiap kali Briella hampir terlelap karena kelelahan, Lexington akan kembali membangunkannya dengan cara yang paling provokatif. Ia benar-benar mendominasi setiap inci ruang dan waktu malam itu.
Briella merasa ini buruk. Otot-ototnya mulai terasa kaku dan lemas secara bersamaan. "Aku akan mengalami kerutan jika kurang tidur! Dan... ahhh! Lexington, Brengsek... lebih cepat!"
Mendengar teriakan itu, Lexington justru tertawa kecil—sebuah tawa penuh kemenangan. Ia tidak kaget dengan kegilaan Istrinya.
Di balik protes dan tangisannya, Lexington tahu bahwa Briella adalah satu-satunya wanita yang bisa mengimbangi keliarannya. Inilah Briella Zamora-nya; wanita yang akan selalu membencinya di pagi hari, namun akan selalu mendesah namanya dengan penuh damba di tengah malam.
"Kau suka ini, bukan? Katakan padaku kau menyukainya, Bri!" Lexington menuntut pengakuan sambil terus mendominasi.
"Ya... aku benci ini, tapi aku menyukainya! Kau gila, Lex!"
"Aku memang bajinganmu, Sayang. Dan kau tidak akan pernah keluar dari kamar ini sampai kau benar-benar tidak bisa menyebut kata 'macet' lagi dalam hidupmu."
"Kau pasti bilang aku egois?" Lexington berbisik di sela ciumannya di leher Briella. "Ya, aku egois. Aku ingin kau merasakan setiap detak jantungku yang hanya berdetak untukmu. Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Dokter Zamora. Kau terjebak denganku selamanya."
Malam itu berakhir dengan matahari yang mulai mengintip dari balik tirai, dan Briella benar-benar tidak bisa lagi merasakan kakinya.
Lexington benar-benar menepati janjinya; ia telah merubah kamar pengantin itu menjadi medan pertempuran di mana hanya satu pemenangnya: dominasi seorang Valerio yang tersakiti egonya.
Briella menatap suaminya yang kini tertidur dengan raut wajah puas di sampingnya. "Kau benar-benar masalah terbesar dalam hidupku, Lex," gumamnya lemas sebelum akhirnya Tertidur karena kelelahan, menyadari bahwa hidupnya sebagai Nyonya Valerio akan menjadi perjalanan yang sangat, sangat melelahkan secara fisik.
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇