NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08 // MBKCM

​Di sudut rak gaun paling belakang Butik Elegance, atmosfer mendadak terasa begitu menyesakkan bagi Kiana. Pertanyaan berbisik dari Saskia barusan seolah menjadi hantaman telak yang meruntuhkan sisa-sisa ketenangan yang baru saja dia bangun di depan rombongan direksi tadi.

​Mata Kiana memanas, cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia merasa ingin menangis lagi saat memori malam di dalam mobil itu kembali berputar tanpa permisi di otaknya. Mengingat bagaimana pria berjas abu-abu yang berwibawa tadi adalah pria yang sama yang telah merenggut kesuciannya.

​Dengan bibir bergetar, Kiana mengangguk pelan pada Saskia.

​Saskia menganga lebar, matanya membelalak sempurna seolah dunianya baru saja diguncang gempa. Dia merasa tidak percaya semua ini nyata. Bagaimana mungkin CEO sekaya Ardan Arkatama adalah pria mandul yang ditemui sahabatnya di atas jembatan sepi?

​Saskia menghirup napas dalam-dalam, bersiap mengeluarkan pekikan syoknya. "Astaga, Kia!"

​Namun sebelum Saskia heboh dan memancing perhatian karyawan lain atau Bu Ambar, Kiana dengan gerakan refleks yang cepat segera membekap mulut sahabatnya itu dengan telapak tangannya.

​"Hush! Jangan bahas di sini, Sas! Aku mohon," bisik Kiana panik, matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan waswas.

​Saskia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengangguk paham di balik bekapan tangan Kiana. Kiana perlahan menurunkan tangannya setelah memastikan Saskia bisa mengontrol emosinya.

​"Oke, baiklah. Aku mengerti perasaanmu," ucap Saskia, menurunkan nada suaranya hingga nyaris berbisik di telinga Kiana.

​Saskia mengusap pundak Kiana, mencoba memberi kekuatan dan ketenangan pada sahabatnya yang tampak begitu rapuh, meski sebenarnya dia sangat ingin membahas ini dengan sejuta khayalan di dalam otaknya. Sebagai pencinta drama, isi kepala Saskia saat ini sudah dipenuhi plot-plot romantis tentang pelayan butik dan sang CEO, walaupun dia tahu Kiana sedang sangat terluka.

​Kiana mencoba mengatur napas, menghirup udara butik sedalam-dalamnya untuk menenangkan debaran jantungnya yang masih menggila. Dia menyeka sudut matanya yang sedikit basah dengan ujung jarinya. "Aku gak apa-apa, Sas. Yuk, kembali ke depan. Nanti Bu Ambar curiga."

​"Iya, yuk. Semangat, Kiana!" balas Saskia memberikan kepalan tangan kecil sebagai penyemangat. Kiana tersenyum tipis, lalu keduanya siap untuk kembali bekerja melayani pelanggan.

​Sementara itu, di sisi lain Royal Plaza, kunjungan Ardan berjalan lancar tidak ada masalah. Seluruh jajaran manajemen mall bernapas lega karena sang CEO tidak memberikan evaluasi yang terlalu kejam pada sistem operasional mereka. Namun, setelah inspeksi formalitas selesai, Ardan belum pergi dari mall itu sampai sore.

​Ketika para direktur bersiap mengantarnya ke lobi utama, Ardan justru menolak halus. Dia mengatakan ingin melihat mall itu saat ramai pengunjung di jam-jam sibuk sore hari secara langsung tanpa pengawalan ketat.

​Kini, Ardan didampingi Bimo sedang berada di lantai dasar. Mereka tidak berjalan keliling, melainkan hanya duduk saja di kursi tunggu yang disediakan manajemen mall secara dadakan di sudut strategis yang tidak terlalu mencolok, namun memiliki pandangan luas ke arah koridor utama.

​Mata elang Ardan terus bergerak, menatap lalu lalang pengunjung yang mulai memadati area mall. Namun, Bimo tahu persis ke mana arah fokus mata bosnya yang sebenarnya sejak tadi.

​"Pak," Bimo berdehem kecil, memecah keheningan di antara mereka sambil melirik jam tangan pintarnya. "Semakin sore pengunjung semakin ramai, saya rasa kita sudah cukup melihat pergerakan alur konsumen hari ini. Atau... mungkin Anda sedang menunggu seseorang lagi?"

​Bimo sedikit menggoda, senyum usil terukir di sudut bibirnya. Dia tahu sebenarnya bosnya ini punya maksud lain di balik alasan ingin melihat mall saat ramai. Alasan sebenarnya adalah karena Ardan sedang menunggu Kiana selesai kerja di jam empat sore. Bimo bisa membaca itu dari bagaimana Ardan terus melirik ke arah koridor yang terhubung dengan Butik Elegance.

​Ardan langsung mengalihkan pandangannya dari kerumunan, menatap Bimo dengan tatapan sedingin es. "Jangan bicara sembarangan ya, Bimo. Pastikan kamu sudah mencatat semua hal penting dari hasil inspeksi tadi untuk laporan rapat besok Senin."

​"Tentu saja sudah, Pak. Semuanya aman di dalam tablet saya," sahut Bimo terkekeh pelan, sama sekali tidak takut dengan gertakan dingin Ardan yang sudah menjadi makanan sehari-harinya.

​Ardan melirik jam di dasbor informasi mall. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Karena tidak mau terlalu dicurigai oleh kejelian Bimo yang menyebalkan, akhirnya Ardan berdiri dari kursinya untuk meninggalkan mall, mengakhiri sesi kunjungan hari ini.

​"Ayo, Kita pulang," perintah Ardan tegas.

​"Baik, Pak," jawab Bimo bergegas mengikuti langkah lebar bosnya.

​Namun, takdir sepertinya memang sedang mengerti keadaan Ardan. Saat mereka berjalan menyusuri koridor belakang menuju akses parkir basement khusus eksekutif, langkah kaki Ardan mendadak melambat.

​Dari kejauhan, di area lorong keluar karyawan yang terhubung dengan area parkir luar, dia melihat dua sosok wanita berjalan keluar. Itu adalah Kiana dan Saskia yang baru saja keluar dari pintu samping yang biasa dilewati karyawan.

​Ardan menghentikan langkahnya, berdiri di balik pilar beton besar yang searah dengan jalur keluar tersebut. Dari jarak yang cukup jauh ini, Ardan tidak bisa mendengar obrolan Kiana dan Saskia, tapi dia bisa melihat dengan sangat jelas sosok Kiana dengan tampilan sederhananya. Gadis itu sudah melepas seragam butiknya, kini hanya mengenakan kaos putih polos longgar dan celana jeans biru yang membingkai kakinya yang jenjang, dengan rambut panjangnya yang dikuncir kuda secara asal. Penampilan yang sangat kasual, namun entah kenapa di mata Ardan terlihat jauh lebih memikat daripada Dania Abraham yang dipamerkan pamannya.

​Di posisi Kiana dan Saskia, mereka sedang berjalan beriringan menuju halte bus luar. Mereka sedang membahas sesuatu yang tidak ingin Kiana bahas, tapi Saskia yang dasarnya keras kepala terus menekan dan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan nakal.

​"Kia sayangku... katakan padaku secara jujur," bisik Saskia sambil menyenggol pundak Kiana dengan ekspresi wajah naik-turun yang menggoda. "Gimana rasanya pria tinggi besar seperti Pak Ardan itu? Maksudku... dia kan atletis banget tuh, pasti berasa banget kan?"

​Wajah Kiana seketika merona merah padam sampai ke leher mendengar pertanyaan vulgar sahabatnya. Dia langsung mencubit lengan Saskia gemas. "Sas! Kamu sudah gila ya?! Ini aib, Sas, bukan sesuatu hal yang romantis yang bisa kamu tanyain detailnya begitu!"

​Saskia mengaduh pelan sambil tertawa, sama sekali tidak kapok. "Hei, Kiana! Kamu tadi tidak lihat apa cara dia menatapmu pas di butik? Tatapannya itu tajam, mengunci, kayak singa mau menerkam mangsa tahu! Dengerin aku ya, pria itu kalau udah dikasih begituan biasanya susah lupa. Apalagi kalau dia merasa puas saat itu. Nah, dari tatapannya sih kayanya dia suka sama kamu, atau minimal ketagihan sama kamu!"

​Kiana menghentikan langkahnya, menatap Saskia dengan mata melotot jengkel namun juga malu setengah mati. "Saskia Anindya! Kamu mau aku pecat jadi sahabat?!"

​Mendengar ancaman itu, Saskia justru terpingkal-pingkal. Dia mundur dua langkah, menjaga jarak aman dari jangkauan tangan Kiana yang siap mencubitnya.

​"Wah, wah... main pecat-pecatan nih ceritanya? Ihhh, aku takut deh sama calon Nyonya Arkatama ini! Ampun, Nyonya!" goda Saskia setengah berteriak sambil menjulurkan lidahnya.

​"Saskia! Sini gak?!" Kiana yang gemas luar biasa ingin mencubit Saskia lagi, tapi gadis berambut pendek sebahu itu dengan lihai menghindar segera berlari ke arah depan sembari ketawa cekikikan.

​"Kejar kalau bisa, Calon Nyonya Besar!" seru Saskia meledek.

​Melihat tingkah ajaib sahabatnya, Kiana tidak bisa menahan dirinya lagi. Rasa sedih dan sesak yang menggelayutinya sejak pagi perlahan menguap. Kiana segera menyusulnya dengan tawa yang sama, berlari kecil mengejar Saskia yang terus meledeknya. Ya, meskipun pembahasan mereka sebenarnya adalah soal masalahnya yang sangat berat, setidaknya kehadiran Saskia yang bermulut ember itu berhasil mencairkan ketegangan dan mengembalikan senyum tulus di wajah cantik Kiana sore itu.

​Di balik pilar beton basement, Ardan terus memaku pandangannya pada sosok Kiana yang sedang berlari kecil sambil tertawa lepas. Senyuman gadis itu di bawah sinar matahari sore terlihat begitu kontras dengan wajah ketakutan yang dia lihat beberapa hari lalu di dalam mobilnya.

​Ardan terdiam, dadanya mendadak berdesir aneh melihat tawa itu. Ada rasa hangat yang tidak biasa menjalar di hatinya, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan dari wanita mana pun selama tiga puluh lima tahun hidupnya.

​"Pak Ardan?" panggil Bimo pelan, membuyarkan lamunan sang CEO. Bimo ikut melihat ke arah perginya Kiana dan Saskia dengan senyum penuh arti. "Mobil Anda sudah siap, Pak. Kita berangkat sekarang?"

​Ardan berdehem pendek, langsung mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi sedingin es seolah tidak terjadi apa-apa. "Ya. Jalan sekarang," jawabnya dingin, lalu melangkah menuju mobil dinasnya yang sudah menunggu dengan pintu terbuka. Namun di dalam hatinya, Ardan tahu, dia tidak akan bisa melupakan tawa gadis bernama Kiana Mahira itu dengan mudah.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!