NovelToon NovelToon
Milly Sang Pelihat Terakhir

Milly Sang Pelihat Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mata Batin / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?

Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Terpaksa Tidur di Teras Rumah

Milly lupa. Kunci rumahnya ada di dalam tas. Tasnya tadi terbuang di pinggir jalan. Terpaksa malam ini ia harus tidur di teras. Udara malam itu sungguh dingin. Ia duduk meringkuk di atas kursi kayu rotan. Ia berharap pagi lekas datang. Dan ia bisa berbaring di balik selimut yang hangat.

Suara pintu kayu yang berderit, beradu dengan lantai, membangunkan Milly. Embun pagi masih menyelimuti udara di sekitarnya. Nenek Dorothy melangkah keluar dari ambang pintu. Ia memakai mantel tebalnya. Dan betapa terkejutnya saat ia mendapati Milly yang sedang menggeliat di atas kursi teras.

"Kenapa tidur di luar?" tegur Nenek Dorothy dengan suara khasnya. Milly langsung berdiri.

"Lupa bawa kunci, nek," ujar Milly dengan pandangan sendu.

"Kemana kuncimu?" selidik Nenek Dorothy melanjutkan interogasi.

"Hilang," desis Milly nyaris tak bersuara.

"Bagaimana bisa?" timpal Nenek Dorothy menyipitkan mata.

"Kemarin rumah Alletta kebakaran," setengah ragu, setengah takut Milly mulai bercerita.

"Hubungannya?" kernyit Nenek Dorothy mencari tahu.

"Aku dan seorang teman membawa Alletta ke rumah sakit. Kami menunggu Alletta sampai terbangun. Karena menghirup banyak asap, Alletta pingsan nek." Jeda. "Tapi, hari sudah terlalu malam saat aku kembali ke rumah. Di tengah jalan, ada seorang datang dari belakang merampas tasku. Aku lari secepat mungkin yang aku bisa." Jeda lagi. Milly menatap lurus neneknya, sebelum lanjutnya, "Masalahnya, aku lupa kalau kunci rumah ada di dalam tas itu."

Milly sengaja tidak menyebutkan nama Wayne. Ia tidak mau neneknya bertanya lebih lanjut siapa Wayne, apa hubungan Wayne dengan dirinya, bagaimana latar belakang Wayne. Belum lagi, kalau Nenek Dorothy ingin mengundang Wayne ke rumah. Bisa besar kepala Wayne--pikirnya bergidik tak suka.

Juga ia tak menyebutkan adanya bayangan hitam yang mengejarnya. Bukan sekedar pencuri jalanan biasa. Ia benar-benar tidak ingin Nenek Dorothy kawatir lebih dari seharusnya.

"Untung mereka tidak mengejarmu," ujar Nenek Dorothy menghela lega. Semalam ia menunggu Milly sampai jam 10 malam. Tapi Milly tidak kunjung datang. Tanpa ia sadari, ia jatuh tertidur di sofa hingga pagi ini. Begitu terbangun, ia kembali mencari Milly di kamar, tapi tetap tidak menemukan. Tadinya ia berpikir akan lapor polisi. Cuma siapa sangka ternyata Milly sudah pulang, hanya saja Milly tidak bisa masuk rumah, karena kuncinya hilang.

Milly mengiyakan. Ia menenangkan Nenek Dorothy. Katanya--larinya semalam cukup cepat, sehingga tidak terkejar. Kali ini ia tidak sepenuhnya berbohong. Semalam berkat bantuan Wayne, kecepatan Wayne memang membuatnya jadi tak terkejar oleh bayangan hitam itu.

"Alletta, bagaimana keadaannya?" ujar Nenek Dorothy bertanya lagi, peduli.

"Sudah sadar, nek." Jeda. "Nanti pulang sekolah, rencananya aku mau jenguk lagi," imbuhnya memberitahu.

Nenek Dorothy hanya berdeham. Ia lalu meminta Milly segera membersihkan diri dan ganti baju. Pagi ini Milly tidak usah jalan kaki, usai sarapan, biar sopir yang antar ke sekolah.

Sebenarnya di garasi rumah, ada mobil, sebuah sedan tua. Juga biasanya ada sopir, Pak Herman, yang setiap pagi datang dan setiap sore akan pulang. Kulit Pak Herman kulit sawo matang efek terbakar sinar matahari. Badannya gempal dan suaranya bariton. Sudah hampir 15 tahun Pak Herman bekerja di rumahnya.

Sejak kecil Milly tahu dia cucu adopsi. Ia sudah terlatih melakukan segala sesuatu sendiri. Ia tidak ingin merepotkan orang lain. Itu juga sebabnya ia jauh lebih suka berjalan kaki atau bersepeda.

Tapi kali ini Milly pilih menurut. Ia tidak membantah. Badannya terasa remuk akhir-akhir ini. Ia masih belum mengerti, kenapa, bayangan hitam itu tidak berhenti mengejarnya. Jujur ia lelah fisik dan lelah mental. Ia butuh istirahat. Dan pikirnya--naik mobil jauh lebih bisa menghemat tenaga. Juga bagian terpentingnya, ia tidak perlu bertemu dengan Wayne di tengah perjalanan.

***

Setibanya di kelas, Milly merasa janggal, ada tas hitam yang sudah bertengger di bangkunya. Alletta, teman sebangkunya, seharusnya belum masuk. Jadi, tas siapa ini--batinnya. Ia mau pindahkan, tapi tidak tahu harus dipindah kemana. Karena pemiliknya pun ia tidak tahu.

Ia melirik ke arah tas sekali lagi. Sepertinya tas itu cukup familiar. Tapi ia belum ingat siapa pemiliknya. Karena belum ingat juga, ia mengabaikan tas di dekatnya. Ia mengeluarkan buku novel misteri lain dari dalam tasnya sendiri. Untung di lemarinya masih ada dua tas ransel lain. Ia mengambil yang biru dan mengisi dengan buku dan alat tulis sebelum berangkat tadi.

Tadi saat berangkat, ia sempat meminta Pak Herman berhenti di sekitar jalan tempat tasnya menghilang. Ia sudah mencari di semak-semak, di saluran air dan di pinggir-pinggir jalan tapi tasnya tidak ku ketemu. Setengah jam mencari, ia akhirnya menyerah. Ia kembali masuk mobil dan meminta Pak Herman mengemudikan ke sekolah.

"Lagi baca buku apa?" tanya Wayne yang sudah duduk disampingnya.

Milly mengernyit. Ia bukannya menjawab pertanyaan Wayne, malah balik bertanya, "Kenapa kau duduk disini?"

"Untuk menjagamu," sahut Wayne enteng.

Pupil mata Milly tanpa sadar melebar. "Tidak perlu," katanya.

"Sudah diputuskan, aku akan duduk disini selama Alletta belum masuk," beritahu Wayne tanpa mau diinterupsi.

"Keputusanmu sepihak, tidak sah," komentar Milly tak mau kalah.

Wayne menyeringai.

"Siapa bilang?" Jeda. "Bahkan tadi aku sudah melapor ke Wali Kelas. Mulai sekarang, aku tukar tempat duduk dengan Alletta," beritahu Wayne sambil tersenyum penuh kemenangan.

"Bohong," sanggah Milly mulai sewot.

"Kalau tidak percaya," tiba-tiba tangan Wayne menyentuh salah satu tangan Milly yang sedang memegang buku. "Boleh tanya langsung ke guru," desis Wayne setengah berbisik.

Milly langsung menarik tangannya. Buku yang dipegangnya otomatis tertutup.

"Ternyata baca novel," sindir Wayne sedikit sarkas.

"Duduk yang benar, jangan sembarang sentuh tangan orang," komentar Milly greget.

Tatapan mata Wayne seolah mengejek. Ia mendekatkan wajahnya ke Milly. Cukup dekat, lalu berkata, "Bukankah semalam tak keberatan?"

"Itu beda. Semalam darurat. Murni menyelamatkan diri," bantah Milly menyanggah.

Wayne hanya ber-ooo ringan. Seolah kata-kata Milly dianggap uap yang segera lenyap.

"Kalau kau mau duduk disini, boleh, tapi jangan mengganggu," peringat Milly sungguh-sungguh. Ia kembali memasukkan novelnya ke dalam tas. Dan mengeluarkan buku paket fisika.

"Tidak janji," desis Wayne lirih.

Milly dibikin naik pitam pagi-pagi. Ia tidak mood bicara dengan Wayne. Tapi tanpa rasa bersalah, Wayne terus memancingnya bicara padanya.

"Hari ini tidak jalan kaki?" tanya Wayne lagi.

"Tidak," jawab Milly mode ketus.

"Tidak naik sepeda?"

"Tidak."

"Lalu naik apa kau pergi ke sekolah tadi?" tanya Wayne mencari tahu.

"Naik pesawat," jawab Milly sarkas.

"Kau demam ya?" telapak tangannya tiba-tiba memegang dahi Milly.

Reflek Milly langsung menampiknya. "Tidak."

"Kok ngelantur?" sahut Wayne bertanya-tanya. Padahal Wayne sebenarnya sudah tahu Milly naik mobil tadi pagi. Ia melihat Milly turun dari mobil saat mencari tasnya yang hilang. Dari jarak yang cukup aman, ia mengikuti pergerakan Milly dari jauh.

Milly memejamkan mata sebentar. Ia menarik nafas dalam-dalam.

"Tadi diantar sopir nenek, naik mobil," jawab Milly menyudahi drama tak berujung mereka.

Tak lama guru datang. Kelas menjadi hening. Mereka mendengarkan penjelasan guru. Hari ini mereka belajar teori gravitasi Albert Einstein.

***

1
Devi..
ceritanya seru thor.. gk bisa ditebak alur dan endingnya gmana.. semoga ceritanya terus berlanjut smpai selesai dan byk pembaca yg menikmati cerita ini🤗
Liza Tan: makasii Kak.. terus ditunggu yaa kelanjutannya 🫰🏻😉
total 1 replies
Davina Aurora
cerita nya bagus semangat ka😊🩷
Liza Tan: thank you Kak 🫰🏻💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!