Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8.
Arka yang melihat Kayla seperti orang ketakutan langsung berjalan cepat memastikan apa yang salah
"Kayla? kenapa diem?." Arka bersuara langsung membuat Kayla tersadar
Kayla langsung mengambil ponselnya di lantai, tersadar dari lamunannya langsung memasang senyum palsu, teringat pesan dari Celine barusan, apakah itu benar?.
"Arka?, dari mana kamu semalem, aku udah nungguin tau." Kayla berusaha mengalihkan atensi Arka yang sepertinya curiga terhadap dirinya.
"Ngga dari mana mana, kenapa tadi diem? kayak lagi ketakutan." Arka memandang tajam Kayla, alisnya menekuk tajam.
"O-ohh tadi, tadi itu aku kaget liat jumpscare lewat di beranda." Jawab Kayla dengan kekehan kecil, ia berusaha meyakinkan Arka dari gesturnya seperti tidak terjadi apapun barusan.
Arka beberapa detik diam memastikan sambil menatap Kayla tak berhenti, sedangkan Kayla melepaskan senyumnya seolah benar.
"Hmm." Arka akhirnya menghela napas pelan, bahunya sedikit turun.
"Yaudah." Ucapnya singkat, seolah percaya dengan alasan Kayla.
Kayla dalam hati langsung merasa lega, napasnya yang tadi terasa berat kini perlahan normal kembali.
"Dikirain kenapa." Tambah Arka santai, lalu berjalan mendekat.
Cowok itu mengangkat sedikit plastik yang ia bawa, menunjukkannya ke arah Kayla.
"Nih, gue beliin makan." Arka meletakkan bungkusan makanan itu di atas meja kecil samping ranjang.
Kayla menatapnya beberapa detik, agak kaget.
"Buat aku?." Tanyanya pelan.
"Lah terus buat siapa lagi?." Arka menjawab datar, tapi tangannya sudah sibuk membuka bungkus makanan tersebut.
Aroma makanan langsung menyebar di ruangan, membuat perut Kayla yang sejak tadi kosong langsung bereaksi.
Kayla perlahan duduk lebih tegak, memperhatikan Arka yang sedang membuka kotak makan itu.
"Lo belum makan kan?." Tanya Arka tanpa melihat.
Kayla menggeleng pelan.
"Belum." Walaupun ia sudah makan pagi tadi oleh sarapan yang dibawakan perawat, namun Kayla belum merasa kenyang jadi lebih baik ia menggeleng saja
Arka mengambil sendok plastik, lalu duduk di pinggir sofa menghadap Kayla.
"Mulut." Ucap Arka singkat sambil menyuapkan makanan itu.
Kayla sedikit terdiam, matanya menatap Arka yang terlihat biasa saja, seolah hal itu bukan sesuatu yang besar.
"Kenapa diem?." Arka menaikkan alisnya.
Kayla langsung membuka mulutnya pelan, menerima suapan itu.
"Enak?." Tanya Arka lagi.
Kayla mengangguk kecil.
"Iya."
Arka lanjut menyuapi beberapa kali tanpa banyak bicara, gerakannya santai tapi kelihatan hati-hati, apalagi mengingat kondisi Kayla yang baru pulih.
Beberapa menit berlalu. Kayla tiba-tiba memegang pergelangan tangan Arka yang sedang mau menyuap lagi.
"Udah, gantian." Ucapnya pelan.
"Gantian apaan?." Arka menatapnya.
Kayla langsung merebut sendok itu dari tangan Arka, membuat cowok itu sedikit mengernyit.
"Aku juga mau nyuapin." Ucap Kayla dengan nada agak manja.
Ck. Arka mendecak kecil.
"Ribet banget lo."
Tapi tetap saja, ia tidak menolak, Kayla mengambil sedikit makanan, lalu mengarahkannya ke mulut Arka.
"Mulut." Tiru Kayla, dengan nada yang sedikit mengejek.
Arka menatapnya sebentar, lalu akhirnya membuka mulut. Kayla tersenyum kecil melihat itu. Suasana yang tadi terasa tegang perlahan berubah jadi lebih hangat.
Mereka akhirnya makan bergantian, kadang Kayla yang nyuapin, kadang Arka yang balik nyuapin lagi.
Sesekali Kayla tertawa kecil, sedangkan Arka cuma menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Lo kayak anak kecil." Gumam Arka.
"Biarin." Jawab Kayla santai.
...---...
Setelah makanan habis, Arka membereskan bungkusnya dan membuangnya ke tempat sampah, Sedangkan Kayla kembali duduk santai di ranjang, memainkan ponselnya.
Ruangan kembali tenang.
Arka duduk di sofa, membuka ponselnya juga, entah main game atau sekadar scrolling.
Sesekali ia melirik ke arah Kayla, memastikan perempuan itu baik-baik saja, Kayla sendiri terlihat sibuk, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di layar.
Pesan dari Celine tadi masih terngiang di kepalanya, namun Kayla memilih diam. Ia melirik Arka sebentar, lalu kembali ke ponselnya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
"Hmmm…" Kayla tiba-tiba bersuara pelan, namun Arka tidak langsung merespon.
"Kenapa?." Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Aku bosen." Ucapnya, Kayla menoleh ke arah Arka, bibirnya sedikit mengerucut.
"Terus?." Jawab Arka datar.
"Aku mau pulang." Kayla langsung to the point.
Arka akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Kayla.
"Belum boleh." Jawabnya tegas.
Kayla langsung menghela napas panjang.
"Arkaaa…" Nada suaranya berubah jadi merengek.
"Gue bilang belum." Arka tetap pada pendiriannya.
Kayla cemberut, memalingkan wajahnya.
"Disini bosen banget tau." Keluhnya.
"Ya tahan." Arka santai.
Kayla langsung menatap Arka lagi.
"Tapi tadi perawat bilang aku udah boleh pulang." Ucap Kayla cepat.
Arka menyipitkan matanya.
"Serius?."
Kayla langsung mengangguk berkali-kali.
"Iya! tadi pagi dia bilang lukaku udah membaik semua."
Arka diam beberapa detik, berpikir.
"Lo yakin? jangan bohong." Nadanya mulai serius.
"Ngga bohong, aku serius!" Jawab Kayla cepat.
Beberapa detik hening.
Arka menghela napas pelan, tangannya mengusap wajahnya sebentar.
"Yaudah." Ucapnya akhirnya.
Mata Kayla langsung berbinar.
"Beneran?!"
"Iya." Jawab Arka singkat.
Kayla langsung tersenyum lebar.
"Tapi." Arka menambahkan, membuat senyum Kayla langsung tertahan.
"Ada syarat."
Kayla mengernyit.
"Apa?."
Arka menatapnya lurus.
"Lo berhenti kerja."
Kayla langsung terdiam.
"Hah?."
"Gue ga mau kejadian kemarin keulang lagi." Ucap Arka serius.
Ekspresinya berbeda, tidak santai seperti biasanya.
"Kemarin lo hampir kenapa-kenapa." Tambahnya.
Kayla menunduk sedikit.
"Tapi…"
"Gak ada tapi." Potong Arka.
"Lo berhenti."
Nada suaranya tidak keras, tapi jelas tidak bisa dibantah.
Kayla menggigit bibirnya pelan, berpikir.
Beberapa detik ia diam.
Lalu akhirnya menghela napas.
"Iya deh…" Jawabnya pelan.
Arka memperhatikannya, memastikan.
"Bener?."
Kayla mengangguk.
"Iya."
Arka akhirnya berdiri.
"Yaudah, siap-siap. Kita pulang."
...---...
Beberapa waktu kemudian, Kayla sudah selesai bersiap, Arka membantu membereskan beberapa barangnya, lalu mereka keluar dari kamar rumah sakit itu.
Koridor terasa sepi, langkah kaki mereka terdengar pelan, sampai akhirnya mereka keluar dari gedung. Udara luar langsung menyambut.
Kayla menarik napas dalam-dalam.
"Seger banget." Gumamnya.
Arka sudah berjalan duluan ke parkiran menuju motornya.
"Naik." Ucapnya singkat.
Kayla langsung duduk di belakang Arka, memegang jaket cowok itu pelan.
Mesin motor dinyalakan, tak lama, mereka mulai melaju meninggalkan rumah sakit. Angin menerpa wajah Kayla, rambutnya sedikit berantakan tertiup, beberapa menit pertama, Kayla tidak terlalu memperhatikan, namun lama-lama ia mulai sadar.
"Ka." Panggilnya.
Arka tidak menjawab.
"Ka." Kayla sedikit menaikkan suaranya.
"Iya." Jawab Arka.
"Ini bukan jalan ke kost aku." Ucap Kayla.
Motor tetap melaju.
"Iya." Jawab Arka santai.
Kayla mengernyit.
"Lah terus?."
Arka tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian.
"Lo nginep di tempat gue."
Kayla langsung terdiam.
Matanya sedikit melebar.
"Hah?."
Motor tetap melaju, berbelok ke arah yang berbeda.
Menuju satu tempat.
Apartment Arka.
Kayla hanya bisa diam, tangannya sedikit mengencang memegang jaket Arka, perasaan aneh kembali muncul di dalam dirinya, antara bingung… dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
... ---...
TO BE CONTINUE