NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Di kediaman Dirgantara, suasana pagi yang biasanya tenang mendadak pecah oleh deklarasi mengejutkan dari sang ratu rumah.

Maya duduk di kursi makan sambil menaruh roti bakar di piring Dion .

"Mas Arlan! Aku sudah memutuskan! Aku bosan jadi pengangguran cantik yang hobinya cuma nguras kartu kredit Mas!" seru Maya dengan semangat membara.

Arlan yang sedang menikmati kopi paginya hampir tersedak. "Lalu? Kamu mau jadi apa, Sayang? Mau beli mal tempat kamu belanja kemarin biar bisa jadi bosnya?"

"Bukan!" Maya memperbaiki duduknya dengan anggun. "Aku mau kerja! Aku mau cari uang sendiri, biar kalau aku beli tas kuning ke-empat, aku nggak perlu ngerasa berdosa sama limit kartu Mas!"

Arlan meletakkan cangkirnya, menatap Maya dengan serius namun lembut. "Sayang, kalau itu masalahnya, kamu bisa kerja di kantor Mas. Mas punya posisi kosong untuk Sekretaris Eksekutif, atau kalau kamu mau, Mas bisa bikin divisi baru khusus buat kamu. Divisi 'Pecinta Belanja Internasional'. Kamu tinggal duduk manis, goyang kaki, dan gaji kamu akan lebih besar dari direktur mana pun."

Maya berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. "Ih, itu mah namanya korupsi dalam rumah tangga! Aku nggak mau! Aku mau cari kerja sendiri, pakai keringat sendiri , dan tanpa embel-embel nama 'Istri Arlan Dirgantara'!"

Dafa yang sedang merapikan dokumen di sudut ruangan spontan batuk kecil. "Nyonya, mencari kerja di luar sana itu kejam. Bagaimana kalau bosnya galak?"

"Kalau bosnya galak, aku galakin balik! Beres kan?" jawab Maya enteng.

Arlan menghela napas panjang. Ia tahu jika Maya sudah dalam mode seriusbegini, tidak ada yang bisa menghentikannya. "Oke, Mas izinkan. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Kalau dalam seminggu kamu belum dapat kerja, kamu harus menyerah dan jadi asisten pribadi Mas di kantor. Setuju?"

"Setuju! Siapa takut!" Maya melakukan high-five imajiner dengan udara.

Keesokan harinya, Maya berangkat dengan penuh percaya diri. Ia tidak memakai mobil mewah suaminya, melainkan nekat naik taksi online.

Ia mendatangi beberapa perusahaan besar. Namun, setiap kali masuk ke lobi, Maya justru berakhir dengan berbagai penolakan.

Hingga akhirnya, kaki Maya yang lecet karena memakai high heels membawanya berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah. Gedung itu memiliki logo besar .ALISTER GROUP.

"Wah, gedungnya tinggi banget! Pasti gajinya tinggi juga!" Maya merapikan rambutnya dan melangkah masuk dengan gaya diva.

Ia tidak tahu bahwa di lantai paling atas, Devan Alister sedang menatap foto Maya di atas mejanya informasi yang ia minta tempo hari.

"Maya Dirgantara... Mantan Istri Arlan Dirgantara yang hilang ingatan," gumam Devan sambil menyeringai. "Ternyata dia lebih berbahaya dari yang aku kira."

Tiba-tiba, telepon di meja Devan berbunyi dari bagian HRD di lantai bawah.

"Tuan... ada seorang wanita yang bersikeras ingin melamar kerja di posisi desain,katanya anda yang menyuruhnya untuk menemui HRD tapi terus terang pak kita tidak sedang membutuhkan seorang desainer."

Devan mengerutkan alisnya,berfikir dan mengingat-ingat apakah dia pernah menyuruh seseorang untuk datang ke kantor.

Devan memutar pulpen mahal di jemarinya, otaknya bekerja cepat. Ia hampir saja mengatakan "usir saja" namun entah mengapa tiba-tiba ia membuka ponselnya yang tersambung langsung ke cctv kantor.

Sebuah bayangan melintas di benaknya ,bayangan wanita bar-bar yang menarik tangannya di butik dan memerintahnya seperti pelayan terlihat jelas di ruangan HRD.

Desain? Aku menyuruhnya? Devan menyeringai tipis. Ia tahu ini adalah akal-akalan Maya untuk bisa masuk ke dalam. Benar-benar wanita yang tidak tahu malu, tapi justru itu yang membuatnya menarik.

"Biarkan dia naik," ucap Devan pendek.

"Tapi Tuan, kita benar-benar tidak ada posisi..."

"Bawa dia ke ruangan saya sekarang," potong Devan tanpa bantahan, lalu menutup teleponnya.

Lima menit kemudian, pintu besar ruangan Devan terbuka. Maya melangkah masuk dengan langkah gontai, satu tangannya memegang sebuah dokumen. Wajahnya yang tadi semangat kini terlihat sedikit kuyu, namun matanya tetap berapi-api.

" Seperti tidak asing..." Lirih Maya saat melihat Devan yang duduk di kursi kerjanya, matanya naik ke atas sedang berfikir keras mengingat dimana melihat pria yang sedang duduk di hadapannya itu.

Devan bangkit dari kursinya, berjalan mendekat sambil melipat tangan di dada. "Aku pemilik gedung ini, nona. Dan seingatku, aku tidak pernah menyuruhmu melamar sebagai desainer."

Suara bariton yang terasa berat dan dingin itu membuyarkan fikiran Maya yang entah kemana.

Maya terdiam sedetik, lalu menyengir lebar tanpa dosa . "Hehe, habisnya kalau aku nggak bilang gitu, Mbak-mbak di bawah nggak kasih aku masuk. Aku sangat butuh pekerjaan ini pak, aku sudah di tolak di perusahaan-perusahaan lain"

" Apakah kamu sudah kehabisan uang karena belanja kemarin begitu banyak...?"

Maya tersentak kaget mendengar ucapan pria itu,ia kemudian menatap wajah pria itu dengan seksama seolah sedang menilai ketampanan wajahnya. Maya membeku saat bayangan nya tertuju pada seorang pria yang ia kira adalah salah satu pegawai di toko tempat nya belanja kemarin.

Maya tersenyum kikuk,ia tertunduk menahan malu karena sudah melakukan kesalahan besar.

" Sudah ingat..?"

Maya berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa malu yang mendadak menyerang seperti sengatan listrik. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Devan dengan senyum yang dipaksakan jenis senyum yang biasa ia gunakan kalau ketahuan menghabiskan camilan Dion di tengah malam.

"Ah! Mas... eh, Pak Bos!" Maya tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Dunia sempit banget ya? Kemarin aku kira anda salah satu pegawai di toko itu, Maaf..."

Devan hanya menatapnya datar, Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga Maya bisa mencium aroma kayu cendana yang mahal dari tubuh pria itu.

" Apa dengan kata maaf saja cukup..?"

Maya mendongak ,sejenak tatapan mereka bertemu. Jarak keduanya begitu dekat membuat Maya sedikit terpaku dengan tatapan Devan yang seolah ingin memakannya.

" Aku sudah minta maaf...dan juga itu salah anda kenapa menurut saja ,jadi saya kan semakin yakin." Ujar Maya membela diri sembari mendorong Devan dengan pelan untuk memberi jarak di antara mereka.

Devan kembali ke meja kerjanya dengan mode dingin dan datar." Berikan CV mu."

Maya menyodorkan map dokumen di tangannya dengan gerakan kaku. Rasa percaya diri yang tadi membuncah seolah menguap melihat aura Devan yang kini benar-benar terasa seperti "Bos Besar" yang kejam.

Devan membuka map tersebut. Alisnya terangkat saat membaca isinya. Tidak ada pengalaman kerja formal yang mentereng, yang ada hanyalah selembar fotocopy ijazah dan beberapa riwayat hidupnya.

"Oh...Maya Dirgantara.Apa suamimu, Arlan, sudah bangkrut sampai-sampai istrinya harus membohongi HRD-ku demi sebuah pekerjaan?" tanya Devan dengan nada meremehkan.

Mendengar nama Arlan disebut, ego Maya langsung tersulut. Ia menegakkan punggungnya, menatap Devan tepat di mata dengan berani. "Ini nggak ada hubungannya sama Mas Arlan! Dan dia nggak bangkrut, dompetnya masih bisa buat beli bakso se-Indonesia kalau dia mau. Ini soal harga diri! Aku mau kerja pakai keringat sendiri, bukan pakai koneksi suami!"

Devan menyilangkan tangan di depan dada, matanya memicing selidik. "Keringat sendiri? Kamu bahkan tidak bisa membedakan CEO dengan pelayan toko. Bagaimana aku bisa yakin kamu punya kemampuan?"

"Yah... kalau soal membedakan orang, saya memang agak 'lemot' dikit, Pak. Tapi kalau soal ide, otak saya ini lebih encer dari santan!"

" Tapi maaf sekali,nyonya Arlan kami tidak sedang membutuhkan karyawan baru."Devan menutup map itu dengan bunyi brak yang cukup keras, membuat Maya sedikit jenggit.

"Dengarkan saya, Nona Maya. Di perusahaan ini, saya tidak butuh desainer amatir yang harganya lebih mahal dari kainnya. Tapi," Devan menjeda kalimatnya, matanya menyipit licik. "Saya butuh asisten pribadi yang sanggup menghadapi tekanan tinggi.

" Asisten pribadi..? Jika Arlan tahu ia bekerja sebagai asisten pribadi untuk orang lain,pasti suaminya itu akan mengamuk,tapi tekadnya sudah kuat untuk mandiri , tidak bergantung pada suaminya.

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!