Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Aleta baru saja keluar dari kelasnya, jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Dia menengok kiri kanan saat merasakan ada orang yang sedang mengawasinya.
"Let, kenapa sih? Dari tadi kelihatan bingung gitu." Tanya Serena yang berdiri di sebelahnya.
"Tidak ada, hanya perasaanku saja mungkin."
"Maksudmu?"
Aleta menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak mungkin mengatakan secara langsung bahwa dia merasa di awasi. Bisa-bisa Serena panik dan berujung membuat keributan dadakan di koridor sekolah.
"Eh, tadi siang kau jadi ketemu sama Clara?" Serena baru ingat jika tadi Aleta sangat telat waktu ke kantin bahkan mepet jam istirahat selesai.
"Jadi, cuma sebentar doang."
Serena mengernyitkan dahi. "Sebentar dari mana? Kau baru muncul di kantin pas bel sudah mau selesai. Itu yang kau sebut sebentar?"
Aleta menghela napas pelan, sudut bibirnya terangkat tipis seolah menutupi sesuatu.
"Ya... ada sedikit urusan," jawabnya singkat.
"Urusan apa?" Serena langsung mendekat, matanya menyipit penuh curiga. "Jangan bilang Clara ngomong yang aneh-aneh lagi padamu."
Aleta terdiam sesaat. Ingatannya melayang pada pertemuan singkat di belakang gedung kantin tadi Clara yang berdiri dengan senyum tipis, terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya selalu mencari masalah.
"Tidak penting," katanya akhirnya, memilih memotong. "Sudah, ayo pulang."
Serena tidak langsung bergerak. Dia menatap Aleta beberapa detik lebih lama, mencoba membaca sesuatu dari ekspresi temannya itu.
"Kau ini aneh, Let. Biasanya kalau ada masalah, kau yang paling cerewet cerita."
Aleta terkekeh kecil, tapi tawanya terdengar hambar. "Mungkin aku lagi capek."
Serena mendecak pelan, tapi akhirnya menyerah. "Ya sudah, tapi kalau ada apa-apa, kau harus cerita. Jangan sok kuat sendiri."
Aleta hanya mengangguk.
Mereka mulai berjalan menyusuri koridor yang perlahan mulai sepi. Suara langkah kaki siswa lain bergema samar, bercampur dengan suara kursi yang diseret dari dalam kelas-kelas.
Namun, perasaan itu kembali muncul. Tatapan. Aleta berhenti mendadak.
"Kenapa lagi?" Serena ikut berhenti, menoleh heran.
Aleta tidak langsung menjawab. Matanya menyapu sekitar ujung koridor, tangga darurat, hingga jendela-jendela yang memantulkan bayangan samar. Kosong.
"Aku... benar-benar merasa ada yang mengikuti," gumamnya pelan, kali ini tidak bisa lagi dia tahan.
Serena langsung menegang. "Hah? Serius?"
Aleta mengangguk kecil.
Serena refleks menoleh ke belakang, lalu ke samping, bahkan sampai melongok ke dalam kelas kosong di dekat mereka.
"Tidak ada siapa-siapa," katanya, meski nada suaranya kini ikut merendah.
"Itu dia yang membuatku tidak nyaman," balas Aleta lirih. "Kalau memang tidak ada siapa-siapa, kenapa rasanya seperti..."
"Seperti apa?" Serena mendekat.
Aleta menelan ludah. "...seperti dia ada di dekatku."
Hening sejenak.
Angin siang berhembus masuk dari jendela yang terbuka, membuat tirai tipis berkibar pelan. Entah kenapa, suasana mendadak terasa berbeda lebih dingin, lebih sunyi.
Serena meraih lengan Aleta tanpa sadar. "Sudah, kita cepat keluar saja dari sini."
Aleta tidak menolak. Mereka mempercepat langkah menuju tangga. Namun saat Aleta menuruni anak tangga pertama sesuatu terasa janggal. Seolah ada suara langkah lain... yang tidak seirama dengan mereka.
Aleta membeku.
"Itu kau?" bisiknya.
Serena langsung menggeleng cepat. "Bukan."
"Sudahlah, mungkin kucing."
Aleta menggandeng lengan Serena menuruni anak tangga, instingnya sebagai mantan pembunuh bayaran cukup kuat. Dan kini dia yakin jika sedang di awasi oleh seseorang.
"Siapa dia, dan kenapa dia mengintaiku?" gumam Aleta lirih.
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁