Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 8
Dewangga masih berdiri di depan rumah yang gelap itu beberapa saat setelah tetangga tersebut kembali masuk ke rumahnya. Angin malam bergerak pelan, membuat bendera kuning di depan rumah Zeya berkibar pelan.
Matanya terus menatap pintu yang tetap tertutup.
Dadanya terasa kosong.
Namun tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya.
"Mamah, Papa" gumamnya pelan.
Napasnya sedikit tercekat.
"Mereka pasti tahu… mereka pasti tahu sekarang Zeya sedang dimana "
Tanpa berpikir lebih lama, Dewangga segera berbalik. Langkahnya cepat menuju mobilnya. Ia membuka pintu dengan tergesa lalu masuk ke dalam, menyalakan mesin hampir secara refleks.
Mobil itu melesat meninggalkan rumah Zeya.
Namun kali ini Dewangga mengemudi jauh lebih kacau.
Setir mobil dipegang erat oleh tangannya yang gemetar. Kakinya menekan pedal gas terlalu dalam, membuat mobil melaju jauh lebih cepat dari seharusnya di jalanan malam yang masih cukup ramai.
Lampu-lampu jalan melintas cepat di depan matanya.
Namun pikirannya tidak benar-benar bisa fokus pada jalanan.
Yang ada hanya bayangan Zeya.
Zeya yang kehilangan kedua orang tuanya.
Zeya yang mungkin menunggunya saat itu.
Dan dia…
Tidak datang.
"Gue bodoh" gumamnya dengan suara pecah. "Gue benar-benar bodoh"
Tiba-tiba sebuah bayangan bergerak di depan mobilnya.
Seseorang sedang menyeberang jalan.
Dengan gerakan cepat, Dewangga langsung membanting setir ke kiri.
Ban mobil berdecit keras di aspal.
Ia menginjak rem sekuat tenaga.
Mobil itu berhenti mendadak di pinggir jalan dengan suara gesekan yang tajam. Beberapa detik hanya ada suara mesin mobil yang masih menyala dan napas Dewangga yang terengah-engah.
Tangannya masih mencengkeram setir dengan keras.
Orang yang hampir tertabrak itu sudah menjauh dengan wajah kesal, tetapi Dewangga bahkan tidak memperhatikannya.
Dadanya naik turun cepat.
Lalu tiba-tiba saja sesuatu di dalam dirinya runtuh.
Dewangga menundukkan kepalanya.
Tangannya terangkat, lalu memukul kepalanya sendiri dengan keras.
"Bodoh!" katanya dengan suara bergetar.
Puk.
Tangannya memukul stir mobilnya dengan keras, membuat tangannya memerah, namun sama sekali tak dia perdulikan.
"Kenapa gue ngak ada di sana!”
Air mata akhirnya jatuh.
Ia membungkuk di balik setir mobil, bahunya bergetar.
" gue ninggalin dia… saat dia kehilangan orang tuanya" suaranya pecah. "Gue bahkan ngak tahu dia sendirian atau ada yang nemenin buat ngasih dia pelukan"
Tangannya bergerak memukul kepalanya sendiri, dengan pelan.
"Gue seharusnya ada di sana… gueseharusnya ada"
Air mata terus jatuh tanpa bisa ia hentikan.
Beberapa menit Dewangga hanya duduk di dalam mobil itu, menangis dalam diam, ditemani lampu jalan yang redup dan suara mesin mobil yang masih menyala pelan.
Namun akhirnya ia mengangkat wajahnya.
Matanya merah, napasnya masih tidak stabil.
Ia mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangan.
"Papa… Mamah…" gumamnya pelan.
"Mereka pasti tahu sesuatu."
"Mereka pasti tahu dimana Zeya sekarang."
Dewangga kembali memegang setir mobilnya. Kali ini tangannya masih gemetar, tetapi tatapannya lebih fokus dari sebelumnya.
Mesin mobil kembali meraung saat ia menekan pedal gas.
Mobil itu melaju lagi menuju rumahnya.
Menuju satu-satunya tempat yang mungkin bisa memberinya jawaban tentang 'di mana Zeya sekarang berada.'
Mobil Dewangga berhenti dengan suara rem yang tajam di halaman rumah besar keluarganya. Ia bahkan tidak benar-benar mematikan mesin dengan rapi. Pintu mobil dibuka dengan kasar, lalu ia berlari menuju pintu utama.
Pintu itu didorong terbuka dengan keras.
"Mah! Pah!" teriaknya dengan napas terengah.
Langkahnya cepat memasuki ruang tamu.
Namun begitu ia masuk, langkah Dewangga langsung terhenti.
Suasana di ruangan itu terasa berat.
Beberapa pengawal berdiri berjajar di dekat sofa dengan wajah tegang. Tidak ada yang berani bergerak. Tidak ada yang berani berbicara.
Di tengah ruangan, ayah Dewangga duduk di sofa dengan tubuh sedikit condong ke depan. Kedua tangannya bertumpu di lutut, sementara napasnya terdengar berat, seolah sedang menahan amarah yang besar.
Ibunya duduk di samping, wajahnya pucat. Matanya terlihat sembap, namun ia menundukkan wajahnya, seolah tidak sanggup menatap siapa pun.
Aura di ruangan itu begitu tegang sampai terasa menyesakkan.
Ketika Dewangga melangkah mendekat
Plak!
Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya.
Kepala Dewangga langsung terhuyung ke samping akibat tamparan itu.
"Apa yang sudah kau lakukan, Dewangga!" bentak ayahnya dengan suara menggelegar.
Ruangan itu seketika semakin berubah tegang, tak ada satupun yang berani bergerak bahkan se inci pun dari tempat mereka, jika tuan besar mereka sudah marah seperti saat ini.
Ibunya langsung memalingkan wajahnya, tidak sanggup melihat anaknya dipukul. Tangannya mengepal di pangkuan, tetapi ia tidak berkata apa-apa.
Dewangga hanya berdiri diam.
Ia tidak melawan.
Bahkan ketika ayahnya kembali mendorong bahunya dengan keras.
"Kau tahu apa yang terjadi hari ini?!" bentaknya lagi penuh kemarahan.
Dewangga tetap diam, wajahnya menunduk.
"Aku tahu" suaranya serak. "Aku sudah tahu tentang orang tua Zeya"
Ayahnya tertawa pendek, tapi tanpa sedikit pun rasa lucu.
"Kau baru tahu sekarang?"
Dewangga menggigit bibirnya.
"Pah" suaranya hampir pecah. "Tolong beritahu aku di mana Zeya sekarang."
Ayahnya menatapnya tajam.
Namun Dewangga tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai.
Ia berlutut.
Lalu benar-benar menundukkan tubuhnya hingga bersujud di kaki ayahnya.
"Tolong, Pah" ucapnya dengan suara bergetar. "Aku mohon beritahu aku di mana dia"
Beberapa pengawal di ruangan itu bahkan menundukkan kepala mereka, tidak berani melihat pemandangan itu.
Namun ayah Dewangga tetap berdiri kaku.
"Apa gunanya kau mencarinya sekarang?" suaranya dingin.
Dewangga mengangkat wajahnya sedikit.
"Pah, aku harus menemui dia.....,"
"Sudah terlambat!"
Bentakan itu memotong kalimatnya.
"Semua sudah terlambat!"
Dewangga membeku.
Ayahnya menatapnya dengan kemarahan yang jelas.
"Kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan?"
Dewangga mengernyit sedikit, bingung.
"Pah…?"
Ayahnya menunjuknya dengan tajam.
"Kau berani menghamili Zeya, lalu kau lari dari tanggung jawab!”
Kalimat itu seperti petir yang menghantam kepala Dewangga.
Ia benar-benar terpaku.
"A… apa…?"
Matanya membelalak.
"Pah… aku…"
Perasaan tak percaya, kaget dan bingung menjadi satu pada dirinya, namun semua perasaan itu tidak lebih besar dari rasa khawatirnya terhadap kondisi Zeya saat ini.
"Aku tidak sengaja ayah, itu semua diluar kendaliku, selain itu aku tidak lari dari tanggung jawab " jelas Dewangga
Namun justru itu membuat ayahnya semakin marah.
"Tidak sengaja?!" bentaknya.
"Seorang pria yang sudah merenggut kehormatan seorang wanita dengan alasan tidak sengaja?, apa kau waras Dewangga?."
Dewangga mengepalkan tangannya di lantai.
Rasa bersalah yang sudah menumpuk di dadanya kini terasa jauh lebih berat.
Air matanya jatuh lagi tanpa bisa ia tahan.
"Aku salah…" gumamnya pelan. "Aku benar-benar salah"
Ia kembali menunduk di kaki ayahnya.
"Tapi tolong, Pah" suaranya hampir tidak terdengar. "Beritahu aku di mana Zeya sekarang, aku siap bertanggung jawab sekarang juga ayah.”
Namun ayahnya tetap diam.
Wajahnya keras.
"Aku tidak akan memberitahumu," katanya dingin.
Dewangga mengangkat wajahnya dengan putus asa.
"Pah"
"Apa gunanya?" lanjut ayahnya tajam. "Untuk apa kau mencarinya sekarang?, lebih baik kau urus wanita itu"
Dewangga hanya diam mendengar ucapan Papanya, karena bagaimanapun semua berawal dari kedekatannya dengan Selin, yang membuat hubungannya dengan Zeya berjarak setiap harinya.
Dewangga hanya bisa bersujud di lantai, dengan satu perasaan yang kini semakin jelas di dalam dirinya.
Penyesalan yang datang terlalu terlambat.