Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Sepulang Valerie, Rena memilih mengurung diri di kamarnya. Setelah bertemu langsung dengan tokoh utama dalam novel yang pernah dia baca, membuat perasaan Rena campur aduk. Apalagi, wanita itu muncul sebelum waktunya.
Tangan saling meremas, menyalurkan rasa gelisah yang tidak bisa Rena sembunyikan. Dia sangat takut dengan akhir yang akan dia dapatkan.
"Tidak. Aku tidak boleh diam saja. Aku harus mencari jalan." Wanita itu bangkit berdiri, dia melangkah menuju balkon kamarnya. Dia mengedarkan pandangannya, menatap hamparan hutan yang membentang. Tidak ada jalan keluar.
Helaan napas terdengar darinya. Sebenarnya, Rena berencana ingin kabur melewati hutan-hutan itu. Namun, di sisi lain, dia ragu. Bagaimana kalo di hutan itu, ada binatang buasnya?
Dia kembali masuk, dan mengambil sesuatu dari bawah ranjangnya. Namun, sebelum itu, dia sudah mengunci pintu kamarnya. Takut jika ada yang tiba-tiba masuk.
Rena membuka, selembar kertas yang berisikan desain mansion Moretti ini. Selama dia berkeliling, Rena selalu menyimpan dalam ingatannya, ruangan apa, dan terletak di sebelaha mana. Setelah itu, dia akan menggambarnya di kertas yang dia sembunyikan di bawah ranjang.
Sebenarnya, ada bangunan yang menjadi bagian dari mansion ini, yang belum Rena datangi. Yaitu, paviliun--tempat di mana para pelayan tinggal.
Rena tidak ke sana, karna merasa tidak ada hal penting di sana. Namun, setelah dipikir-pikir, sepertinya Rena harus ke sana.
...
Awalnya, Dante ingin langsung pulang ketika, pekerjaannya selesai. Namun, dia tidak bisa. Karna, secara tiba-tiba, William muncul. Pria itu, mengajaknya untuk makan malam.
Dante menolak. Dengan, alasan Rena sendirian di mansion. Namun, William tetap kekeuh ingin mengajaknya. Pada akhirnya, Dante berada di sebuah restoran dengan William.
"Istrimu tidak akan hilang, Dante," ucap William sambil terkekeh ketika, raut wajah gelisah Dante.
Dante hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Lalu, memotong steak daging yang dia pesan.
"Ngomong-ngomong, kamu bertemu di mana istrimu?"
Pertanyaan dari William membuat pergerakan Dante berhenti sejenak. "Acara perusahaan," jawabnya seadaanya.
William terdiam sejenak, memperhatikan Dante. Sebenarnya, dia sudah tau. Tapi, dia hanya memastikannya lagi.
"Kamu terlihat sangat menyukai istrimu. Aku jadi iri, jadi pengen punya istri juga."
Dante mengangkat kepalanya, menatap William. "Aku dengar, kamu sudah punya calon."
Tawa pelan dari William terdengar. "Aku sudah tidak sama dia lagi. Ribet. Sebagai pejabat yang cukup sibuk dengan pekerjaan, aku tidak bisa menuruti tuntunannya."
"Yah, cari yang tidak ribet."
Hening sebelum, Dante membalas. "Aku sudah menemukannya. Hanya saja, dia sudah jadi milik orang lain."
Alis Dante mengernyit. Dia tau, siapa yang dimaksud oleh William. Namun, dia memilih untuk berpura-pura tidak tau. "Siapa?" tanyanya.
"Ada. Aku tidak bisa memberitahumu," balas William sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya.
Dante mendengus. "Yah, sudah. Kalo begitu."
William sedikit kecewa dengan reaksi Dante. Namun, dia tidak membahasnya lagi. Pria itu menegakkan tubuhnya. "Bagaimana dengan usulan yang aku bicarakan waktu itu?"
Pergerakan Dante kembali terhenti. Dia terdiam, menatap makanan. Lalu, mengangkat kepalanya. "Sepertinya, aku tidak bisa menerima usulan itu."
Lagi dan lagi, William merasa kecewa dengan Dante. "Kenapa? Itu keuntungan banyak. Keuntungan yang kamu dapatkan dari perusahaan tidak akan sebanding dengan keuntungan yang diperoleh dari bisnis ini."
"Tidak, Om Kov. Resikonya tinggi, aku tidak mau."
Willam menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. Padahal, dia sangat berharap Dante menyetujui, usulannya. Ternyata, Dante menolaknya. Namun, bukan namanya William, jika dia tidak berhasil membuat Dante menyetujuinya.
"Aman, kok. Aku bisa menjamin keamanannya."
Dante menggelengkan kepalanya. "Maaf, Om Kov." Pria meletakkan pisau dan garpunya. Lalu, dia menyeka sudut bibirnya. "Sekali lagi, maaf, Om Kov. Aku harus kembali ke mansion segera." Dia bangkit berdiri, mengambil jasnya dan melangkah keluar dari ruang privat itu.
William tidak mengatakan apapun. Dia membiarkan Dante pergi. Tapi, dalam hatinya, dia merasa sedikit jengkel dengan Dante. "Ck."
...
Dante masuk ke dalam mansion yang terlihat sepi. Karna, pelayan sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Hanya ada beberapa pengawal yang lalu lalang untuk berparoli.
"Enzo, kamu bisa beristirahat," ucapnya pada Enzo yang mengikutinya dari belakang.
"Baik, Tuan." Enzo membungkukkan badannya, lalu melangkah menuju paviliun di mana dia tinggal.
Dante melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Saat dia membuka pintu kamarnya, tidak ada sosok yang biasanya terbaring di atas kasur king size, membuat alis pria terangkat sebelah.
Dia melangkah masuk, dan menatap ke arah pintu balkon. Ternyata, perempuan itu ada di sana. Duduk sambil menatap ke arah langit.
Dante mendekati pintu balkon. "Udah malam." Dia bisa melihat wanita itu tersentak.
"Masuk," ucap Dante sebelum, dia masuk ke dalam kamar, menuju kamar mandi. Sedangkan, Rena hanya mendengus sambil mengelus dadanya. Dia masih terkejut dengan kedatangan Dante yang secara tiba-tiba.
Rena segera masuk ke dalam kamar, dan langsung rebahan di kasur. Dia menutupi dirinya dengan selimut sampai batas leher. Selang beberapa menit, Dante sudah kembali dengan menggunakan piyama, lalu naik ke atas ranjang.
Keheningan menyelimuti mereka. Rena menghela napas, karna dia masih belum bisa tidur. Dia masih kepikiran dengan Valerie.
"Tadi, Valerie datang ke sini." Pada Akhirnya, dia menceritakan tentang kedatangan Valerie, karna dia ingin tau sejauh mana kedekatan Valerie dengan Dante.
Dante yang semula sudah memejamkan matanya, perlahan membuka matanya. Dia melirik punggung Rena lewat ekor matanya.
"Katanya, dia dapat alamat dan ijin ke sini lewat kamu."
Alis Dante terangkat sebelah. "Terus?"
Hening sejenak, sebelum Rena membalas. "Aku hanya ingin tau,... Kalian ketemu di mana?"
Hening kembali menyapa. Rena terlihat sangat menunggu jawaban dari pria itu.
"Tokonya," balas Dante setelah sekian lama diam.
"Sebelumnya, kalian pernah ketemu begitu?"
Dante semakin bingung dengan pertanyaan Rena. "Tidak."
"Oh."
"Aku memberikan alamat dan ijin ke sini, karna aku tau, kamu merindukan sahabat kamu itu."
Mendengar perkataan Dante, Rena sontak berbalik menatapnya. "Hah?"
"Tidak." Kini giliran Dante berbalik membelakangi Rena. "Tidur."
...bersambung