Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Rapat Singkat Sebelum Perjalanan
Langkah kaki Arion bergema di lorong-lorong batu kastil yang dingin.
Suara gesekan Sunder-Soul pada lantai batu menciptakan melodi yang mencekam, seolah-olah kematian sendiri sedang berjalan melewati koridor tersebut.
Para pelayan dan ksatria yang berpapasan dengannya segera menepi, menundukkan kepala begitu dalam hingga dagu mereka menyentuh dada.
Arion tidak menuju ruang istirahat.
Langkahnya berhenti di depan sebuah balkon besar yang menghadap ke arah hutan kabut, tempat di mana Elara berdiri mematung sejak tadi.
Elara masih terdiam, matanya masih terbayang oleh pemandangan di halaman belakang-pemandangan di mana Arion menunjukkan otoritas mutlaknya.
Arion berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Hawa dingin yang memancar dari tubuhnya membuat Elara tersentak kecil dan berbalik.
"Kau melihat semuanya?" tanya Arion datar.
Elara menatap wajah Arion lama, mencoba mencari sisa-sisa pria yang ia temui di sel bawah tanah dulu.
"Tuan... siapa kau yang sebenarnya?" suara Elara hampir berbisik.
"Pangeran yang pertama kali kutemui... dia hanya menatap bosan ke arah takdir, seolah sudah menyerah pada segalanya dan membiarkan dunia meludahi wajahnya."
Elara melangkah satu tindak lebih dekat, matanya bergetar.
"Tapi sekarang... mata itu tidak lagi kosong. Mata itu membara, Tuan. Dan kobaran apinya terasa seperti akan membakar siapa pun yang berani menatapnya."
Arion berjalan mendekat, menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon, menatap kegelapan hutan yang mulai menyelimuti kastil.
"Pria yang menyerah itu memang sudah mati, Elara. Dia mati saat mereka menarik paksa sirkuit mana dari tubuhnya dan membiarkannya membusuk dalam kesunyian," jawab Arion tanpa emosi.
"Kebosanan itu adalah bentuk terakhir dari keputusasaan ku. Tapi sekarang... aku tidak punya waktu untuk merasa bosan lagi. Dunia ini punya banyak hutang padaku, dan aku baru saja mulai menagihnya."
Arion menoleh sedikit ke arah Elara, sorot matanya melembut sesaat, sebuah kontras yang tajam dari auranya yang predatoris beberapa menit lalu.
"Kau takut padaku sekarang? Takut pada mata yang membara ini?"
Elara terdiam.
la melihat luka-luka di tangan Arion yang masih memerah, sisa dari harga yang harus dibayar untuk memanggil kembali kekuatannya.
Alih-alih mundur, Elara justru melangkah maju dan dengan ragu menyentuh lengan Arion yang terbalut perban tipis.
"Aku takut..."
jawab Elara jujur.
"Tapi aku lebih takut jika api itu juga akan menghanguskan dirimu sendiri. Jika kau adalah bayangan yang membara, maka biarkan aku tetap berada di dekatmu, bahkan jika dunia ini harus hancur karenanya."
Arion tertegun sejenak. la menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan.
"Kebaikanmu adalah satu-satunya hal yang mengingatkanku bahwa aku masih bernapas di tengah neraka ini."
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang berwibawa memecah keheningan.
Sebas muncul di ambang pintu balkon dengan sebuah gulungan surat di tangannya.
"Tuan Muda, maaf mengganggu waktu Anda,"
ucap Sebas dengan hormat.
"Semua komandan unit telah berkumpul di ruang pertemuan. Informasi yang Anda minta telah tiba... dan nampaknya, Kerajaan telah melakukan pergerakan yang lebih bodoh dari yang kita duga." Arion merapikan kemejanya, menyembunyikan luka-lukanya di balik kain hitam. Ekspresi dinginnya kembali seketika.
"Bawa Elara ke kamarnya. Pastikan dia aman,"
perintah Arion pada Sebas.
Kemudian ia menatap Elara untuk terakhir kalinya malam itu.
"Beristirahatlah. Besok, udara di kastil ini tidak akan sesunyi ini lagi."
***
Ruang pertemuan itu terasa luas namun mencekam.
Sebuah meja kayu hitam persegi panjang yang sangat panjang membentang di tengah ruangan. Di ujung sisi lebarnya, Arion duduk sendirian di kursi kebesarannya yang tinggi.
Di samping kanannya, Sebas berdiri dengan postur sempurna, tangan di balik punggung, siap memberikan informasi kapan saja.
Meja itu dipisahkan menjadi dua barisan panjang di hadapan Arion.
Di sisi kiri dan kanan duduk ketiga ajudan utama-Liora, Hanz, Nyx-bersama kelima komandan unit Black Knight.
Mereka semua duduk dengan tegak, namun tidak ada yang berani menatap langsung ke arah Arion yang sedang duduk tenang mengamati mereka satu per satu.
"Jadi..."
Arion memulai, suaranya bergema dingin.
"Kerajaan sudah mulai bergerak... walau taringnya tidak mengarah kepadaku?"
Sebas maju sedikit, memberikan gestur pada peta di atas meja.
"Benar, Tuan Muda. Laporan intelijen menyebutkan peperangan akan segera pecah di wilayah Selatan. Sepertinya Kerajaan sedang memprioritaskan ekspansi di sana."
"Dan berita tentangku?"
"Hanya segelintir petinggi yang mendengarnya," jawab Sebas tenang.
"Bahkan... nampaknya hanya ada satu orang di pusat istana yang benar-benar yakin bahwa Anda telah kembali. Sisanya menganggap laporan dari perbatasan hanyalah angin lalu."
Arion menyandarkan punggungnya pada kursi tinggi itu.
la menatap kosong ke langit-langit ruangan sementara para ajudannya menunggu dengan napas tertahan.
Di luar, wajahnya terlihat sangat dingin, seolah ia sedang menimbang ribuan nyawa dalam kepalanya.
Satu orang di istana yang tahu mengenai ku... Sepertinya aku sudah tahu siapa orangnya. Cukup berbahaya juga orang itu masih memperhatikanku. Batin Arion.
Arion mencondongkan tubuhnya ke depan, jarinya mendarat dengan tegas di wilayah Kerajaan Beast pada peta.
"Aku tidak peduli apa yang dilakukan Kerajaan saat ini," ucap Arion dingin.
"Taring pertama kita... akan kita tancapkan di Kerajaan Beast."
Hening seketika menyelimuti ruangan. Liora memicingkan mata, mencoba mencari alasan strategis yang mematikan di balik keputusan itu.
Elara... aku melihat diriku dalam dirinya. Seseorang yang rumahnya dirampas, yang harga dirinya diinjak-injak. Aku ingin melihat rasnya berdiri tegak lagi. Aku ingin melihat mereka tersenyum... atau mungkin aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri bahwa masih ada sesuatu yang murni di dunia yang busuk ini. Batin Arion.
Arion sempat terpikir tentang betapa beragam dan uniknya ras Beast nanti, namun pikiran itu lewat begitu saja seperti asap.
Rasa perih di dadanya akibat sirkuit mana yang hancur menariknya kembali ke realitas yang pahit.
Kesedihan itu terlalu dalam untuk dilupakan hanya dengan imajinasi kecil.
"Aku punya alasan kuat untuk melakukan ini."
Lanjut Arion dengan nada berat yang penuh
ancaman.
Tapi siapa yang aku tipu? Aku sudah tidak bisa lagi merasakan kegembiraan yang sederhana. Bahkan saat aku memikirkan hal-hal yang seharusnya menyenangkan, yang tersisa hanyalah rasa dingin. Aku hanya ingin pergi dari sini. Menjauh dari bayang-bayang Kerajaan yang telah membuang ku.
Hanz berdeham, ia tampak sangat terkesan.
"Tuan Muda... kau ingin menjadikan wilayah Beast sebagai benteng pertahanan utama kita? Benar-benar langkah yang cerdik!"
Arion hanya memberikan anggukan kecil yang misterius.
Arion berdiri, memberikan isyarat bahwa pertemuan telah berakhir.
Namun, saat ia baru saja melangkah dua tindak menjauh dari meja, sebuah suara berat dan serak menghentikannya.
"Tuan Muda." Arion berhenti.
la menoleh sedikit, mendapati Hanz masih berlutut, namun kepalanya terangkat.
Mata sang penempa raksasa itu tampak berkaca-kaca oleh uap panas dan rasa hormat yang mendalam.
"Mengenai zirah hitam itu..." Hanz menarik napas panjang, suaranya bergetar namun tegas.
"Zirah itu tidak butuh kelayakan siapa pun. Dia tidak menunggu seorang pahlawan, juga tidak menunggu seorang raja yang sempurna."
Hanz mengepalkan tangannya di atas lantai batu.
"Zirah itu ditempa dengan darah dan janji saya selama tujuh tahun. Dia hanya butuh Anda. Dia hanya ingin kembali membalut tubuh tuannya, tidak peduli seberapa hancur atau seberapa merasa tidak layaknya Anda saat ini."
Seluruh ruangan menjadi sunyi senyap.
Liora dan Sebas menatap Hanz dengan pandangan tak percaya karena berani memotong langkah Arion.
Namun, Arion hanya terdiam. la menatap telapak tangannya sendiri yang masih tertutup perban, lalu kembali menatap Hanz.
Darah dan janji... Hanz benar- benar pria yang tulus. Tapi dia tidak tahu betapa beratnya memikul identitas yang melekat pada zirah itu. Aku takut jika aku memakainya sekarang, aku akan kembali menjadi sosok hancur itu.
Rasa sedih yang dingin kembali menyelimuti batin Arion, memadamkan keinginan kecil untuk sekadar tersenyum pada loyalitas Hanz.
"Simpan saja, Hanz," jawab Arion, suaranya kini lebih lembut namun tetap menyisakan jarak.
"Jika kau merasa zirah itu butuh aku... maka buatkan aku yang baru. Sesuatu yang bisa menampung siapa aku sekarang, bukan siapa aku dulu."
Arion kembali melangkah, kali ini tidak ada yang menghentikannya.
"Buatkan aku zirah yang lebih ringan... sesuatu yang tidak terlalu mencolok,"
pungkas Arion sebelum benar-benar menghilang di balik pintu besar.
Aku butuh sesuatu yang lebih ringan... agar aku tidak terlalu merasa terbebani oleh identitas pangeran yang gagal ini. Aku hanya ingin menjadi Arion yang baru. Seseorang yang mungkin... suatu saat nanti... bisa kembali merasakan kehangatan yang telah hilang.
Hanz tetap berlutut, menatap lantai dengan tangan gemetar.
la mengerti sekarang. Tuannya bukan menolak karyanya, tapi tuannya sedang mencoba melepaskan kulit lamanya yang penuh rasa sakit.
"Akan saya buatkan, Tuan Muda," bisik Hanz pada keheningan.
"Zirah yang akan membawa Anda menuju takhta yang baru."
Bersambung....