Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Rindu
Semalam Firda kurang tidur karena dia harus bolak-balik bagun tidur menyusui, ganti popok, menggendong Baby Akira hingga anak itu tertidur, semua dia lakukan seorang diri tanpa bantuan siapa pun. Firda heran, entah apa yang terjadi dengan Rahmi sehingga dia lalai dengan tugas-tugasnya dan lebih memilih tidur nyenyak sepanjang malam.
"Apa semalam Mbak Rahmi tidak enak badan?" tanya Firda keesokan paginya ketika babysitter itu keluar dari kamar mandi.
"Ah, iya. Semalam sakit kepalaku kambuh, makanya aku tidur terus sepanjang malam," jawabnya.
"Oh, ya? Kenapa tidak bilang? Kan aku bisa mintakan obat sama bi Mina."
Rahmi meringis. Tersenyum dipaksakan. "Sudah tidak sempat," katanya. "Kalau sakit kepalaku itu kambuh, bicara pun terasa sulit. Bawaannya mau tidur saja."
"Oh." Firda mengangguk mengerti. "Jadi bagaimana sekarang, apa sudah mendingan?"
"Hem. Sudah agak mendingan."
Firda mendongak menatap jam dinding. Sebentar lagi jadwalnya Akira berjemur. Di luar langit cerah sangat mendukung.
"Kalau sakit kepala Mbak Rahmi sudah enakan, Mbak Rahmi bisa 'kan bawa Baby Akira keluar berjemur? Aku mau istirahat sebentar. Semalam waktu tidurku sedikit sekali," kata Firda.
Rahmi terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. "Mm... sepertinya tidak bisa. Aku ada janji dengan dokter pagi ini. Sebentar lagi aku mau siap-siap, mau pergi ambil obat."
Firda mengangguk mengerti. "Ya sudah, tidak apa-apa. Biar aku saja yang membawanya keluar nanti."
Rahmi diam-diam menyunggingkan senyumam penuh arti. Saat berjalan menuju dapur untuk mengambil sarapan, samar-samar dia mendengar Bi Mina sedang berbicara dengan Arman di telepon. "Sebentar lagi waktunya non Akira keluar berjemur, Tuan. Anda bisa melihatnya nanti untuk melepas rindu."
Seketika Rahmi mengurungkan niatnya. Dengan cepat dia putar badan kembali ke kamar Baby Akira. Setibanya di depan kamar anak sang majikan, dia sudah mendapati Firda menggendong bayi itu keluar kamar. "Berikan Non Akira padaku. Biar aku saja yang membawanya keluar berjemur." Rahmi langsung mengambil alih Akira dari gendongan Firda tanpa meminta persetujuan lebih dulu.
"Loh, bukannya tadi kata Mbak Rahmi mau siap-siap ketemu sama dokter. Apa tidak terlambat?"
"Tenang. Dokternya barusan chat aku, katanya janji temu kami diundur 30 menit."
Kening Firda mengkerut. Ada yang janggal dengan jawaban Rahmi. "Dokter yang chat Mbak Rahmi langsung?"
Rahmi menjadi sedikit gelagapan. "Ah, i-iya. Kebetulan dokter itu kakak sepupuku sendiri," katanya, lalu tertawa dipaksakan. Firda hanya membulatkan bibir mendengar jawaban terakhir Rahmi.
Seperti biasa saat Akira keluar berjemur, Firda akan meluangkan waktunya untuk journaling, meluangkan segala jenis perasaan dan keresahannya lewat tulisan. Itu adalah teknik coping (strategi mengelola stres) yang disarankan oleh Bu Rina—psikolog yang selama ini membantunya terapi. Selain itu, karena Firda suka membaca, dia juga disarankan untuk membaca buku psikologi pengembangan diri yang sudah terbukti membantu banyak pasien untuk sembuh dari traumanya. Dengan konsistensi mengikuti saran Bu Rina, Firda perlahan-lahan bisa mengurangi intensitas flashback dan kecemasannya akan kehilangan orang tersayang, meski sekali-kali dia masih suka tiba-tiba terbangun dan langsung menempelkan jari telunjuknya di bawah hidung Baby Akira yang sedang terlelap.
...****************...
"Aku sudah menugaskan orang kantor untuk mengantarkan uangnya nanti siang. Bayaran ibu susu itu untuk minggu ini dan minggu depan," kata Arman, matanya tidak lepas dari layar ponsel yang menampilkan bayinya berjemur di teras samping digendong oleh babysitter.
"Baik, Tuan," jawab Bi Mina dengan nada yang tenang. Wanita paruh baya itu menarik diri menjauh dari teras samping. Dia merasa sudah waktunya untuk membahas sesuatu yang penting dan bersifat privasi. "Bi, bagaimana keadaan di sana? Apa tidak ada yang aneh-aneh? Ibu susu dan babysitter itu tidak melakukan hal yang mencurigakan 'kan?"
Arman bertanya dengan nada yang santai, tapi mata Bi Mina menangkap sedikit kekhawatiran di balik pertanyaan itu. "Sejauh ini semuanya baik-baik saja, Tuan. Tidak ada yang mencurigakan. Semua orang melakukan tugasnya sebagaimana mestinya. Non Akira juga anteng-anteng saja, tidak pernah rewel semenjak Anda pergi."
Arman bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu, Bi."
"Tuan, kapan Anda pulang? Apa tidak rindu dengan Non Akira? Ini sudah setengah bulan lebih sejak Anda pergi."
Arman terdiam sejenak, suaranya berat ketika akhirnya dia menjawab, "Aku masih sibuk, Bi. Ini masih di luar kota memantau perkembangan salah satu anak perusahaan. Masalah kapan aku pulang, aku juga masih belum bisa memastikan. Dan soal rindu, aku 'kan bisa video call kapan saja setiap kali rindu pada Akira."
"Tapi tetap saja, Tuan, bertemu langsung itu rasanya lebih syahdu. Apa Tuan tidak rindu menggendong Non Akira? Selama Anda pergi, banyak perubahan pada pertumbuhannya. Berat badannya naik cepat karena dia kuat menyusu. Terlihat semakin menggemaskan dari hari ke hari, Tuan. Bibi saja kalau mencium pipinya rasanya tidak mau berhenti saking gemasnya." Bi Mina tertawa. Dia sengaja mengatakan itu semua untuk memancing emosi Arman, membuat pria itu semakin merasa rindu dan tidak tahan lagi ingin segera bertemu dengan putrinya.
Arman menelan ludah susah payah, dadanya terasa berat seperti terbebani oleh rasa rindu yang tak terucapkan. Dia tahu, video call bukanlah pengganti pelukan hangat Akira, bukanlah pengganti wajah lucu yang membuat hatinya meleleh.
Tapi, dia masih belum siap untuk mengakui kelemahannya, untuk mengakui bahwa egonya tidak bisa mengalahkan rasa rindu yang mendalam terhadap putrinya. Dalam hatinya, Arman berjuang antara rasa rindu yang menggunung dan ego yang membuatnya menjauh.
Kejadian traumatis di masa lalu masih membekas, menyisakan rasa perih yang mendalam. Arman tidak mau ketika dia pulang dan bertemu dengan Firda, luka yang dulu susah payah dia sembuhkan kembali menganga.
"Tuan Arman, kenapa Anda diam saja?" tanya Bi Mina, suaranya lembut namun penuh perhatian. Sebenarnya, selain membahas tentang Akira, Bi Mina juga ingin membahas mengenai kondisi Firda yang kata Bu Rina, psikolognya, sudah lebih baik. Mulai minggu depan, durasi sesi terapi sudah bisa dikurangi. Tapi, setiap kali Bi Mina mulai menyebut nama ibu susu Akira, Arman selalu saja mencari alasan untuk mengakhiri panggilan, jadilah dia menahan diri untuk tidak membahas tentang wanita tersebut.
"Oh, itu, Bi, aku baru ingat, aku lupa mematikan kompor di dapur. Sudah dulu ya, Bi. Teleponnya aku matikan dulu," kata Arman, suaranya terdengar tergesa-gesa.
Kening Bi Mina berkerut menatap layar ponsel yang sambungan telepon videonya sudah terputus dengan Arman. "Sejak kapan tuan Arman berkenalan dengan peralatan dapur? Ada-ada saja alasannya. Perasaan semakin lama dia di luar, semakin pintar pula mengarang alasan," gumam Bi Mina geleng-geleng kepala.
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..