NovelToon NovelToon
PETUAH TANAH LELUHUR

PETUAH TANAH LELUHUR

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Spiritual / Duniahiburan / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:581
Nilai: 5
Nama Author: Artisapic

Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB VIII SILUMAN BUNCUL

   Sinjang kirut sejatining wrayang, tumindak ing ala dadiya dening pepada, nyipta karma maring sembada, tumibak rasa kesumat dening raga, geger ing laga maring mlebu ing sukma, mantra aji kadiya sirna, rep sinarep enggal kersa, nuju panggonan nira ing kaurug sela, lenggahing aditya sang surya, tantra sirna dening sukma nira.

Beberapa saat setelah mereka menikmati hidangan dan menanyakan sesuatu dengan ki Werga, pada akhirnya hasil dari obrolan itu tercetuslah bahwa nama Singgala akan dirubah atau diganti dan titel Raden pun sudah tidak terpakai.

Di hari yang ditentukan itu, Raden Singgala malakukan ritual berganti nama, adapun syarat yang sudah dibuat untuk berganti nama diantaranya, tumpeng nasi kuning, pekakak ayam, dan bubur abang bubur putih serta beberapa syarat lain dengan lengkap. Acara pun dimulai dengan membaca Kidung Aji dan juga doa bersama. Beberapa saat kemudian selesailah acara itu dan diakhiri dengan siram badan Raden Singgala. Setelah itu untuk mengukuhkan nama baru Raden Singgala mempercayakan kepada Pandanala.

" Para rawuh dan para undangan, bahwa di hari nama dari Raden Singgala berganti nama menjadi ANGGAPALA, dan sebagai kesaksian kita semua, setiap yang hadir berhak untuk makan , dan akan diberi uang penetep atau penetap dari nama yang baru, sekiranya hanya itu saja, sekali lagi namanya berganti menjadi Anggapala," kata ki Pandanala.

Setelah mengumumkan nama tersebut maka sejak saat itu tersebar lah nama baru tersebut, dan jadilah sebutan sebagai ki Anggapala.

Waktu terus berlalu dan peristiwa-peristiwa pun banyak terjadi, yang semuanya itu dapat diatasi bersama.

Kala itu, telah terjadi sebuah musibah yang dialami oleh masyarakat Cikeusik, yakni musibah banyaknya anak-anak yang hilang di sungai dan beberapa hari kemudian ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

" Akhir-akhir ini banyak berita kematian anak-anak Ngger, yang lebih mirisnya lagi mereka meninggal dengan kondisi banyak noda hitam di tubuhnya," kata Mandaga.

" Sebaiknya segera dihentikan dan cari penyebabnya Ki, supaya aman dan tidak banyak masalah baru," kata Nyai Bengkalis.

" Ya.....secepatnya harus kita cari dan kita pecahkan masalah ini," lanjut Anggala.

" Saya kira Nyai yang harus mengumumkan ke warga, biar mereka paham akan masalah itu," kata Pandanala dengan memohon.

" Baik , besok akan saya umumkan supaya segera mencari biangnya," kata Nyai Bengkalis.

Pagi itu warga Cikeusik berkumpul di alun-alun untuk mendengarkan apa-apa yang akan disampaikan oleh Nyai Bengkalis. Beberapa saat kemudian munculah Nyai Bengkalis. Seluruh warga menyambutnya dengan penuh antusias.

" Para warga yang berbahagia, juga mereka yang dirundung duka, hari ini dimana berita duka tiap hari kita dengarkan, maka saya putuskan bahwa mulai hari ini kita akan berperang dengan bangsa mereka, kita punya Ki Werga, ki Pandanala ,dan seluruh ksatria Cikeusik , kita lawan mereka, kita musnahkan mereka, ingat......! Musuh kita bukan manusia," kata Nyai Bengkalis.

" Maaf Nyai Kalis, saya pendatang dan saya hanya sebatang kara, bagaimana kalau saya ikut dalam rencana ini," kata seorang anak yang tampak pemberani.

" Siapa namamu ki sanak ?" tanya Nyai Bengkalis.

" Saya Panunggul , nyi , dari Singapura, yang mana di daerah saya sedang dilanda penyerangan besar-besaran oleh daerah lain," kata anak itu ternyata bernama Panunggul.

" Baiklah Panunggul, kamu sekarang jadi warga kita, nanti kamu hidup di tempat saya, dan tadi kamu menyebutku dengan nama Nyi Kalis, itu nama yang bagus untukku," jawab Nyai Bengkalis.

Sejak saat itu nama Nyai Bengkalis berganti nama menjadi nyi Kalis, dan sejak saat itu juga beliau dukukuhkan menjadi Nyi Gede.

Waktu telah ditentukan, hari itu, seluruh laki-laki warga Cikeusik yang masih mampu semuanya menuju ke sungai Selendang Kuning. Sementara itu ada sebagian warga yang membawa jaring juga alat lain untuk mencari sesuatu yang menyebabkan musibah.

" Mungkin ini ki pembuat masalah itu," kata Pandanala.

" Bisa jadi itu ki, kalau memang ini penyebabnya, pasti ini sejenis siluman air, ini lah si Lembu," kata ki Werga sambil mengamati benda yang ditangkap Pandanala.

Si Lembu adalah sejenis siluman air berwujud ular yang tubuhnya pendek, dan biasanya suka membawa orang masuk ke sarangnya. Kala itu si lembu dibawa ke alun-alun dan banyak yang melihatnya.

Sementara si lembu tertangkap tapi keesokan harinya ada berita yang sama, namun yang menjadi santapan kala itu adalah Panunggul, namun berkat kepandaian dan ketangkasannya, ia selamat dari bahaya itu.

" Maaf Nyi, saya baru saja mengalami sesuatu di sungai, yang saya lihat itu wujudnya seperti anak kecil, di daerah saya namanya Buncul," kata Panunggul.

" Hmmmm....rupanya kamu paham juga tentang makhluk itu," kata Nyi Kalis.

" Ooooooh, jadi Nyi Kalis tidak paham," tanya Panunggul.

" Maaf, saya aslinya dari Bengkalis dan karena ada perebutan wilayah, saya mengungsih dan menetap di sini," kata Nyi Kalis.

Pada malam harinya, tampak di pinggir sungai itu berdiri ki Werga, Pandanala, Anggapala, panunggul dan beberapa warga yang hadir. Tepat menjelang tengah malam, dari arah Timur, muncullah sesuatu yang membuat mata terbelalak. Sosok Buncul muncul di tengah air sungai, sosok itu meluncur dengan tenang tanpa suara. Dari balik semak, beberapa mata melihatnya, sosok itu kemudian lenyap dari pandangan. Lalu muncul lagi beberapa saat dan hilang lagi. Hal ini membuat jiwa Panunggul penasaran, maka ia melompat ke sungai. Byuuuuur......terdengar suara air sungai bergerak. Tubuh Panunggul kini berada di sungai, tiba-tiba tubuh itu meluncur dengan cepat. Dengan gerakan yang tangkas, melompatlah ki Werga ke air untuk menangkap tubuh Panunggul.

Walau sudah dalam pelukan ki Werga, tubuh Panunggul masih juga meluncur, dan dari atas bantaran sungai, melesat sosok Anggapala dan Soma serta Pandanala. Mereka memegang tubuh Panunggul dan Ki Werga, tetapi mereka juga terbawa oleh sosok Buncul. Dalam kondisi seperti itu, yang lain yang berada di bantaran sungai segera melemparkan jala dan jaring. Setelah semuanya terperangkap, barulah ditarik ke atas bantaran, dan tampak orang-orang tadi terbawa juga di dalam jaring dan jala itu.

Tampak sosok Jaya Kusuma atau ki Luwih membaca mantra aji, tiba-tiba mereka yang terbawa itu siuman. Dan tampak sosok Buncul berada di dalam jaring itu. Tubuhnya menggelepar meronta ingin melepaskan diri. Dengan sigapnya, semua warga membawa sosok Buncul ke alun-alun, dan dibukalah jala itu, hingga tampak jelas sosok itu ternyata sebuah makhluk berwujud gurita besar dengan tubuh tembus pandang seperti kaca.

Setelah mereka melihat sosok itu tak lama kemudian, tubuh dari sosok Buncul begerak dan bergerak lalu diam. Sosok itu mati dan diam selamanya. Ki Werga mendekat, baru saja ingin lebih dekat, tiba-tiba sosok itu melesat ke atas, se olah-olah ada yang menariknya, dan sosok itu melayang menuju sungai.

Sosok itu kini bebas kembali , di alun-alun semua merasa tertegun dan saling melongo, semua sia-sia.

" Hati-hati dengan Buncul, itu sejenis makhluk siluman," kata ki Werga.

" Lantas apa lagi yang akan dihadapi nanti Ki ?" tanya Anggapala.

" Entahlah........" kata ki Werga.

1
ArtisaPic
apa tuh judulnya.....soalnya aku baru ikutan di apk ini/Pray/
Winsczu
kayak baca novel yang udah di cetak 🤣. Tapi gapapa, bagus! 👍🏼👍🏼👍🏼
ArtisaPic: itu lanjutan dari judul
MENGUNGKAP SEJARAH PETENG
baca biar jelas ya/Rose//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!