🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML008~ Mengantar Axan
"Alena, kita sudah lama tidak bertemu. Kamu kapan ada waktu luang?" Pak Alex memberanikan diri mengajukan pertanyaan.
Alena mengernyitkan dahi, baginya Pak Alex harusnya belum tau statusnya saat ini sebab selama 8 tahun mereka tidak bertemu dan tidak bertukar kabar.
Pak Alex serasa ingin mengutuk dirinya, pertanyaannya barusan pasti akan membuat Alena bingung, apalagi selama ini ia mengutus anak buahnya untuk mengawasi Alena diam-diam, tentu ia tahu apa yang terjadi pada Alena saat ini.
"Kamu boleh mengajak suamimu, sekalian kita bertiga mengobrol." imbuh Pak Alex yang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Alena.
Alena menghela napas, sedetik kemudian ia tersadar sesuatu, Axan sudah mengadu tentang Ziya yang dirundung sebab tak punya Ayah, harusnya ia tidak mengucapkan hal demikian. Rupanya ingatannya mulai terganggu hihi. Sepertinya ingatan Pak Alex mulai tidak tajam lagi karena gugup wkwk.
"Maaf, Alena. Aku tidak bermaksud mengungkit almarhum suamimu."
Alena mengangguk dan kembali tersenyum.
"Besok aku ada waktu luang, Kak. Aku bakal ajak Ziya juga. Kak Alex juga sekalian aja ajak Istri Kak Alex sama Axan."
Pak Alex mengangguk tanda setuju.
"Besok malam, nanti aku kabari tempatnya." kata Pak Alex.
"Caranya?" tanya Alena.
"Aku akan mengirim pesan padamu, Alena."
"Oh, oke. Nomerku masih sama yang dulu."
Pak Alex mengangguk, Alena pun pamit pergi lebih dulu karena ada janji hari ini. Pak Alex menatap kepergian Alena, mobilnya kian menjauh dan menghilang dibalik tikungan.
"Selalu saja begini, saat bersamanya akan membuatku susah mengendalikan diri." gumamnya.
"Sudah terlanjur, lanjutkan saja lah." lanjutnya sembari masuk ke dalam mobil.
Siang harinya, setelah membuat kesepakatan dengan pemilik tanah yang akan menjual tanahnya pada Alena, ia segera bergegas pergi untuk menjemput Ziya.
"Dek Hikam, tolong kamu bantu urus surat-suratnya."
"Baik, Kak."
Hikam masuk ke mobil menyusul Alena yang telah masuk lebih dulu.
Setibanya di sekolah, Ziya terlihat duduk di dekat gerbang sekolah dengan Axan. Terlihat Ziya sedang menikmati es krim ditangannya sedangkan Axan hanya diam tanpa ekspresi.
"Sayang!" panggil Alena sembari keluar dari mobil, Ziya menoleh dan melihat yang memanggilnya adalah Ibunya.
"Mama!" Ziya melambaikan tangan.
"Ibumu sudah datang,"
Ziya mengangguk.
"Iya, Papa kamu belum dateng ya? Ikut aku aja yuk nanti biar dianterin ke rumah kamu."
Axan tampak sedang berpikir, Pak Alex memang terlambat menjemputnya, ia sudah menunggu selama 30 menit, sepertinya Ayahnya itu sibuk mengurus bisnis barunya sampai lupa menjemput dirinya.
"Gimana? Nggak bakal ditagih uang bensin kok." bujuk Ziya.
"Kenapa, hm?" tanya Alena setelah menghampiri kedua anak itu.
"Ini Ma, Papanya Xan belum jemput. Aku nawarin dia ikut kita aja, kan nggak bakalan dimintain uang bensin juga." jawab Ziya yang tak lupa menjilati es krimnya yang tersisa sedikit.
Alena menepuk jidat pelan.
"Astaga Ziya, bukan gitu caranya ngajak orang, Nak." batin Alena.
"Tante anterin Xan yuk, kamu udah lama juga kan nunggunya? Bentar lagi gerbang juga ditutup."
Axan mengangguk pelan.
"Nah gitu dong," kata Ziya sambil menyenggol lengan Axan, Alena kembali menepuk jidat melihat kelakuan anaknya, padahal beberapa hari lalu masih kesal pada Axan, namun hari ini ia terlihat seperti teman akrab.
"Ya udah ayo." Alena mengulurkan tangan pada Axan, sedangkan Ziya langsung masuk ke dalam mobil karena buru-buru ingin terkena AC.
Axan menatap tangan Alena, matanya membulat sempurna, dengan tangan yang bergetar ia pun menyambut tangan Alena.
"Eh, kenapa gugup?" tanya Alena.
Axan menggeleng, ia mengeratkan genggaman tangannya seolah memegang sesuatu yang berbeda.
Alena membuka pintu mobil dan melihat Ziya sudah duduk di kursi penumpang baris kedua.
"Aku duduk disini, Ma. Mau nemenin Xan." katanya Ziya.
"Iya, boleh."
Axan duduk bersebelahan dengan Ziya, setelah itu Alena segera masuk dan melajukan mobil.
"Eh, rumah kamu dimana?" tanya Ziya.
"Lurus sampai dua kali melewati lampu lalu lintas, belok kiri lurus sampai melewati 1 lampu lalu lintas, ke kanan lalu lurus melewati pertigaan."
"Loh, ternyata lewat di sekitar rumahku ya." kata Ziya.
"Mungkin,"
"Gimana sekolah hari ini? Lancar?" tanya Alena.
Ziya mengeluarkan cemilan dari dalam tasnya.
"Lancar, Tante."
"Oh iya Mama udah liat chat di grup, nggak? Kata Bu Guru minggu depan sekolah mau ada acara." tanya Ziya.
"Belum, nanti Mama cek."
"Eh iya lupa nawarin. Xan, mau nggak?" Ziya menawarkan camilannya pada Xan.
"Terima kasih, aku tidak terlalu suka makan camilan."
"Oh, ya udah." Ziya melanjutkan kegiatannya mengunyah habis camilannya tanpa sisa.
Axan terus menatap punggung Alena yang sedang fokus menyetir, lanjut ia memandangi tangannya yang sudah digandeng Alena, ia tersenyum tipis.
"Tante." panggil Axan ragu-ragu.
"Ya? Kenapa?" sahut Alena yang tetap fokus ke depan.
"Ziya bilang Tante dan Papa saling kenal ya?"
Alena mengangguk.
"Iya, kami teman kuliah dulu." jawab Alena.
"Oh,"
"Teman kuliah? Kenapa tidak seperti teman?" batin Axan.
"Rumahnya yang mana?" tanya Alena.
Axan menoleh ke luar jendela.
"Yang paling ujung, Tante."
"Yang cat abu-abu itu ya?"
"Iya, Tante."
"Nggak terlalu jauh ternyata ya rumahmu dari rumahku." ucap Ziya yang ikut melihat arah rumah Axan.
"Iya kah?"
Ziya mengangguk.
"Kapan-kapan main di rumahku, kita belajar bareng." ajak Ziya yang disambut anggukan oleh Axan sebagai tanda setuju.
Mobil Alena berhenti tepat di depan rumah Pak Alex, rupanya rumah lamanya benar-benar sudah dijual dan pindah ke rumah baru yang tidak terlalu jauh dari rumah Alena.
"Mobil om ganteng nggak ada, Ma. Kerja mungkin ya?"
"Sepertinya Papa sibuk mengurus toko barunya, setelah pindah kesini Papa mulai berbisnis, kalau tidak salah ingat harusnya hari ini hari pembukaan salah satu toko Papa."
"Wahhhh, banyak ya tokonya?" tanya Ziya yang tertarik.
"Tidak, hanya tiga."
"Kapan-kapan kesana yuk!" ajak Ziya penuh semangat.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin