Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Kehadiranmu yang tak ku sangka
Setelah melaksanakan sholat sunah 2 rakaat
Hari mendekati Resa,kemudian Resa mencium tangan Suaminya.pria itu tidak langsung melepaskan tangan istrinya. Tapi Dia menatap dengan lekat mata indah milik Resa.
Resa merasa jantungnya berdegup kencang, kini jarak antara mereka semakin dekat.Sedangkan Resa mengatur nafasnya karena rasa gugupnya.
Mereka masih saling menatap dengan senyuman yang tidak pernah hilang dari bibir mereka.Resa menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan ketegangannya.
Hari merebahkan tubuh Resa perlahan ke kasur. pria itu mulai mengikis jarak diantara Hari memulainya dengan mengecup kening istrinya berkali-kali. Kemudian turun pada kedua pipinya dan berakhir di bibir ranum sang istri.
"Jangan tegang sayang!"
bisiknya seraya melepaskan ciuman dulu.Resa mengikuti instruksi suaminya. Dia mengatur nafasnya yang semakin tidak karuan. Hari benar-benar melakukannya dengan perlahan. Biar kebersamaan itu bisa mereka nikmati.
Hari memegang tekuk leher istri nya, bibir mereka saling bertemu lagi. Namun kini dibarengi dengan kedua tangan Hari yang tidak bisa diam menyentuh pelan tubuh istrinya.
Ada sesuatu yang dirasakan Resa, desiran hebat yang begitu memabukkan sehingga membuat tubuhnya terasa melayang.Hari tidak mau berhenti. Kini tubuh istrinya sudah candu untuknya.
"Om..." Resa memanggil pelan.
"Kenapa Ai? tidak nyaman?" Hari menatap kepada Resa. Gadis itu memang nampak sedikit ketakutan.
"Hmmm, sedikit."lirihnya Mulai Merasa takut!
"Nggak apa-apa! Aa tidak akan menyakitimu."
Cup!
Hari tersenyum, kembali mengecup singkat bibir dan semua area wajah Resa itu berkali-kali. Dan ia kembali dengan aktivitasnya.
Diawali dengan perlahan, sentuhan ringan, namun lama-lama Hari menggila semakin panas.
Resa tidak lagi bisa berbuat apa-apa, dia pasrah dengan apapun yang dilakukan oleh suaminya. Berharap malam ini dia akan mendapatkan pahala dengan apa yang dia berikan pada suaminya.
Adegan selanjutnya auto sensor wkwkwk
Setelah selesai ritual Keduanya saling berhadapan,Mereka saling menatap satu sama lain.Resa merasa malu, dia menutup wajahnya dengan selimut.Hari tersenyum. Ikut masuk kedalam selimut lagi.
"Diam A,tangannya! Kan tadi udah! Aku mau bobo!" Resa merengek mencubit kesal tangan suaminya yang tidak bisa diam.
"Lagi ayo!"
"Astagfirullah! Jangan, ini saja masih sakit.Aku Nggak bisa gerak nih."
"Bercanda Aini! "Hari langsung menarik tubuh Resa dalam dadanya. Dia memeluk erat gadis itu sampai terlelap dalam tidurnya.tak terasa waktu subuh telah tiba, Resa yang bangun lebih awal turun dari tempat tidur. Dia mandi lebih dulu. Sedangkan Hari sama sekali belum dia bangunkan.
Pria itu masih menutup matanya dengan lelap.Setelah ia selesai shalat, Resa membangunkan Hari. "A, bangun udah subuh ini!" Resa menepuk tangan suaminya.
Hari membuka matanya, "Dingin Ai! Bentar lagi ya," lirihnya dengan suara manja.
"Astagfirullah! Nanti kesiangan, A, ayo cepat mandi dulu!" Resa memotivasi Hari untuk segera bangun.
"Mandi bareng yuk," ajak Hari tersenyum nakal.
"Aihh... udah keluar sana, kenapa jadi mesum gini otaknya,"
"Aku mandinya pake air hangat aja Ai, gak kuat dingin ini, nanti bisa masuk angin," keluh Hari membuat Resa mendengus.
Tanpa banyak kata, gadis itu beranjak ke dapur mengambil teko besar untuk merebus air.
"Gak peka banget punya suami,gak tahu apa di bawa jalan aja sakit,berasa ketarik jadi gak nyaman gini" batin Resa yang berjalan dengan perlahan.
"Di sini yang belum dewasa itu aku apa dia sih," heran Resa yang melihat sisi lain dari suaminya. Ternyata umur tidak menjamin seseorang bersikap dewasa pikir gadis itu.
***
Tak terasa sudah tiga hari berlalu, Hari yang merasa canggung hanya duduk diam di rumah mertuanya itu memutuskan untuk masuk kerja pagi ini.Padahal waktu cuti masih tersisa beberapa hari lagi.Resa menyiapkan kopi dan sarapan untuk suaminya sebelum dia berangkat.
Resa duduk di samping Hari. "Aini, Paman Haji Surya minta kita tinggal di rumahnya, mau gak? Dia kan tinggal sendiri, sebelum AA nikah sama kamu juga AA yang nemenin dia," kata Hari.
"Aku ikut kemanapun AA bawa," jawab Resa yang memang ingin segera keluar dari rumah yang selama ini membuatnya tak nyaman berada di kediaman ayahnya sendiri.
Hari tersenyum senang mendengar jawaban dari Resa yang menyetujui permintaannya. Dia mengulurkan tangan mengusap kepala Resa yang sudah terbalut hijab dengan sayang.
"Makasih ya, sekarang AA berangkat kerja dulu, nanti AA telpon kalau udah istirahat," ucap Hari beranjak dari tempat duduknya.
Resa mengantar suaminya hingga depan rumah, Dia mencium tangan Hari dengan takzim. Motor yang dikendarai Hari melesat hilang dari pandangannya, Resa berbalik masuk ke dalam rumah yang sudah sunyi, hanya tinggal dirinya dan Komala yang sedang melaksanakan sholat Dhuha di kamarnya.
Dia berjalan menuju kamar, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, matanya berhenti pada deretan buku dan kitab suci yang berjejer rapih. Tangannya meraih buku diary dan sebuah pulpen yang menjadi tempat berkeluh kesah dirinya di kala tak ada tempat untuk mencurahkan perasaannya.
Tangan lentiknya menulis bait demi bait, meninggalkan goresan tinta di sampul buku yang kosong.
Teruntuk satu nama, yang aku kenal tanpa sengaja dan mampu membuatku nyaman secara tiba-tiba. Dan Allah menyatukan kita dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Kamu lelaki sederhana yang bisa memberikan ketenangan dalam memberikan rasa aman dan nyaman.
Kehadiranmu yang tak ku sangka, nyatanya mampu menghidupkan kembali rasa yang sudah lama hilang dan mendatangkan kembali cinta yang sudah lama pergi. Aku tidak tahu apa maksud dari semua ini. Apakah mungkin setelah luka yang selama ini aku rasakan? Hadirmu adalah hadiah terindah yang akan aku dapatkan!
Jika memang iya, semoga hadirmu tidak memberiku luka untuk yang ke sekian kalinya. Melainkan membawa bahagia yang tak pernah aku sangka. Sudah banyak luka yang aku rasakan, semoga dengan hadirmu bahagia bisa aku dapatkan.
Resa menutup halaman buku diary nya dan meletakkan kembali ke tempat semula. Setelah Dhuhur tiba, Hari menelpon Resa untuk sekedar bertukar kabar di sela waktu istirahatnya. Setelah panggilan itu berakhir, samar-samar Resa mendengar percakapan ibu tirinya dengan beberapa saudara yang berkunjung ke rumah itu.
Dengan perlahan, kakinya melangkah keluar dari kamar, niat hati ingin menyapa sekumpulan orang yang sedang duduk lesehan di teras rumah yang pintunya terbuka lebar. Namun, langkahnya terhenti tatkala perkataan dari salah satu saudara ibu tirinya itu sangat menusuk hati.
"Sayang banget ya, Padahal Resa itu banyak yang mau, ko dia milih dinikahin duda," kata salah satu saudara ibu tirinya dengan nada yang sedikit menyindir.
"Iya, ya kenapa dia gak milih Hasan aja. Padahal pemuda itu lumayan tampan dari kalangan berada pula, agamanya udah pasti bagus karena lulusan pesantren," tambah saudara lainnya.
"Jangan salah, meskipun dia seorang duda sekalipun, kalau udah dibutakan cinta, mana bisa berpaling lagi," kata ibu tirinya dengan nada yang sedikit filosofis.
"Meskipun kata orang gak pantas untuk dia, tapi baginya dia lah dunia satu-satunya," sambungnya.
Resa yang mendengar percakapan itu merasa sakit hati dan memutuskan untuk tidak menemui mereka. Dia berbalik arah dan kembali ke kamarnya, merasa bahwa itu adalah satu-satunya tempat yang aman baginya.
tapi di dunia nyata ada sih org sprti ini