Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 - Lowkey
"Jogja? Kok mendadak banget, Zoe?" Mama Amelia bertanya dengan kening mengkerut, seolah menyimpan keraguan dan kecurigaan dari pertanyaannya.
Zoe tersenyum kecil menyadari keposesifan sang ibu. "Gak mendadak, Ma. Udah dijadwalkan satu minggu sebelumnya, tapi aku lupa."
"Apa ada masalah?" tanya Mama Amelia.
Sambil menjawab, Zoe melucuti pakaian bagian atasnya. Ia sudah sangat tidak nyaman dengan baju yang dikenakannya.
"Iya, ada sedikit masalah mengenai perizinan pembangunan hotel kita yang baru di sana? Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, jadi Mama gak usah khawatir, hem." Kedua tangan Zoe menangkup pipi sang ibu berusaha menenangkannya.
"Jadi, apa yang mau Mama sampaikan tadi?" Zoe bertanya dengan hati-hati.
Mama Amelia tidak langsung menjawab, wanita paruh baya yang masih nampak bugar dan cantik itu berjalan ke arah ranjang sang putra yang didominasi warna monokrom, ia duduk di sana dengan memasang wajah lelah.
"Ada apa?" Zoe berlutut di hadapan sang ibu, ia raih tangan lembut yang sudah dipenuhi keriput-keriput kecil itu lalu diciumnya dengan penuh kasih sayang. Zoe mengerti, bertahun-tahun sang ibu pun tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
Mama Amelia kerap kali dilanda perasaan khawatir dengan keadaan yang belum juga berubah membaik. Semua menyangkut Shena dan juga keluarganya. Satu sisi ia tidak ingin kehilangan gadis itu yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan kepedihan yang tercetak jelas di wajah putra satu-satunya. Bagaimanapun caranya, ia akan berusaha melunakan hati Zoe agar mau menerima gadis lain dalam hidupnya.
Mama Amelia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang menginginkan putranya segera menemukan kebahagiaan, itu saja.
"Bagaiman kalau kita pindahkan perawatan Shena ke rumah aja, Zoe. Mama gak mau lihat kamu kayak gini terus hampir setiap hari, capek pulang kerja tapi masih harus nyetir lagi bolak-balik rumah sakit. Kamu setuju, kan?"
Tangan Zoe yang semula menggenggam tangan sang ibu pun perlahan turun hingga terlepas, air mukanya berubah serius tidak sehangat tadi. Mama Amelia pun tentu menyadari perubahan ekspresi dari putranya itu, ia buru-buru kembali berbicara.
"Kamu gak perlu khawatir, Mama yakin Erlita bisa menangani Shena dengan baik. Kita akan ubah kamar tamu seperti di rumah sakit dengan fasilitas layanan VVIP khusus buat Shena, kamu setuju kan, Zoe?" bujuk Mama Amelia lagi, ia mengusap pelan kedua pipi putranya.
"Ma ...."
"Mama juga gak akan diem aja, setiap saat pasti akan pantau keadaan Shena. Jadinya lebih efisien, kan? Kamu juga jadi punya lebih banyak waktu untuk nemenin Shena."
Kepala Zoe tertunduk lesu, ini bukan kali pertama sang ibu mengajukan permintaan serupa. Bukan Zoe tidak ingin menyetujui, kalau saja bisa, ia pun sudah pasti melakukannya sejak dulu. Namun, Zoe khawatir tindakan tersebut akan membahayakan keselamatan sang kekasih. Apalagi tim dokter tidak menyarankan hal tersebut, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika keluarga pasien bersikeras dengan kemauannya sendiri tanpa mendengarkan peringatan mereka.
"Risikonya terlalu besar, Ma. Aku gak sanggup ngadepin sesuatu yang gak mampu aku tanggung nantinya," kata Zoe pelan. Ia sangat berharap ibunya mau mengerti atas kekhawatiran yang dirasakannya.
Dirasa obrolan ibu dan anak itu tidak akan menemukan solusi, akhirnya Zoe memutuskan untuk mengakhirinya. Mama Amelia pun keluar dari kamar, membiarkan sang putra untuk bersiap.
...*...
...*...
Seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya, Zoe dan Vivian kini sudah berada di Yogjakarta, tepatnya di daerah Malioboro, Sosromenduran. Daerah istimewa Kota Yogjakarta yang dipenuhi padatnya penduduk dengan berbagai aktivitas.
Mobil jenis sedan berwarna hitam itu perlahan memasuki area perhotelan yang megah dengan tinggi menjulang. Zoe turun dari mobil diikuti oleh sang sekretaris di belakangnya, setelah menyerahkan kunci mobil pada seorang palet hotel Zoe segera memasuki gedung mewah tersebut sesuai perjanjian sebelumnya. Ia akan menemui seorang klien yang bertugas sebagai pihak ketiga mengenai perizinan pembangunan hotel yang sudah berdiri setengah jadi. Akan tetapi, beberapa waktu lalu Zoe menerima kabar adanya benturan perizinan dari daerah setempat.
"Sebelah sini, Pak, Bu." Seorang laki-laki petugas hotel menunjukkan tempat pertemuan penting mereka.
Sebuah ruang private hotel dengan nuansa mewah terpampang jelas di hadapan Zoe sesaat setelah pintu dibuka. Kening Zoe mengernyit, ia kira pertemuan ini hanya akan dihadiri oleh beberapa orang saja, tetapi nyatanya ada sekitar 10 orang yang kini sedang duduk di meja bundar dengan pasangan masing-masing.
"Vi, sepertinya kita salah ruangan," kata Zoe pada sekretarisnya yang berdiri tak jauh darinya.
"Ah, maaf, Pak. Saya lupa memberitahukan kalau pertemuan kali ini dilakukan dengan santai tidak seperti pertemuan pada umumnya. Lagipula saya rasa ini malah bagus dan akan menguntungkan pihak kita tentunya, Bapak serahin semuanya sama saya!" ujar Vivian menjelaskan, "jadi, Bapak tenang aja!"
Tanpa Zoe duga, Vivian tiba-tiba menggandeng lengannya begitu saja. Laki-laki itu tidak bisa mengelak, sebab situasi yang tidak memungkinkan. Terlebih, klien yang akan mereka temui sudah terlanjur melihat kedatangannya.
"Oh, Pak Zoe. Mari bergabung!"
Hermawan Atmaja, seorang karyawan yang bekerja sebagai seorang konsultan perizinan di sebuah perusahaan jasa perizinan di kota ini pun berdiri menyambut kedatangan dua orang yang sejak tadi ditunggunya. Keduanya berjabat tangan, saling menyapa ringan satu sama lain.
Sebelum masuk ke inti pembicaraan, Zoe sempat meminta Vivian agar menjaga sikap dengan tidak bergelayut manja padanya. Laki-laki itu rupanya mulai tidak nyaman dan risih, merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Lepaskan tanganmu!" Zoe memiringkan kepala dan berbisik tepat di telinga Vivian.
Akan tetapi entah kenapa Vivian tidak menghiraukan perintahnya, bukannya melonggarkan belitangan tangan, gadis itu malah mempereratnya semakin membuat Zoe ingin menepisnya dengan kasar. Tetapi tidak bisa, lagi-lagi karena situasi yang tak ingin ia buat kacau.
"Jadi, hubungan kalian berdua ini sudah sejauh mana?" tanya Pak Hermawan membuka pembicaraan dengan senyum ramahnya.
Kening Zoe sontak merengut bingung, apa maksud pria baya di hadapannya?
"Ini maksudnya apa, Vi?" Kali ini Zoe sudah tidak lagi menjaga nada bicaranya, ia terkesan dingin dan datar saat mengajukan pertanyaan terhadap Vivian.
"Ah, maaf, Sayang. Sebelumnya aku gak cerita dulu sama kamu," Vivian mendongakkan wajahnya pada Zoe lalu beralih menoleh pada Pak Hermawan, "emmm, Om, maaf. Zoe emang kurang suka kalau hubungan kami diumbar begini."
Pak Hermawan tidak langsung menjawab, ia hanya tertawa ringan melihat dua sejoli yang nampak sedang dimabuk asmara itu.
Sementara Zoe masih diam, mencerna situasi yang sebenarnya terjadi. Om? Apa maksud Vivian?
"Sayang, Pak Hermawan ini om aku. Dan soal perizinan hotel kita yang di sini, kamu tenang aja, ya. Semua pasti beres. Iya, kan, Om?" Vivian semakin menyandarkan kepalanya dengan manja pada bahu Zoe. Ia bahkan tak sungkan dan semakin merapatkan tubuhnya tanpa celah.
Ah, sekarang Zoe mengerti. Jadi ini adalah permainan yang Vivian buat? Atau paman dan ponakan di hadapannya ini sedang berusaha untuk mengelabui dirinya? Apa pun itu, yang pasti Zoe bukanlah orang yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun.
Saat Zoe larut dengan permainan Vivian dan Pak Hermawan, Mama Amelia terus menerima bujukan dari seorang Erlita agar setuju untuk segera memindahkan Shena ke rumah keluarga Mafarulls.
"Tante bilang ingin supaya aku dan Pak Zoe bisa jadi dekat, kan? Kalau Mbak Shena dipindahkan ke rumah, itu berarti pekerjaanku juga akan lebih banyak di sana, Tan. Aku akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan anak Tante. Iya, kan?"
"Iya, kamu benar, Sayang. Tapi Zoe gak setuju," kata Mama Amelia denga raut wajah bingung.
"Pak Zoe tidak ada di sini, ini adalah kesempatan kita, Tan. Aku yang selama ini memantau kesehatan Mbak Shena, pastinya lebih mengetahui kondisinya. Semuanya pasti aman, Tante tenang aja!"
Mama Amelia tersenyum mendengar penjelasan Erlita. Dan ia pun mengangguk setuju yang langsung disambut gembira oleh Erlita.
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih