Seorang pria buta terpaksa dipaksa menikahi pengasuhnya sendiri atas paksaan kedua orang tuanya.
Sejak kecelakaan yang mengakibatkan kebutaan membuatnya sama sekali menjadi pria yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tunangannya pun membatalkan pernikahan mereka yang akan terlaksana tiga bulan lagi.
Hal tersebut tidak hanya mengecewakannya tetapi juga kedua orang tuanya. Hingga pada suatu saat, papa dan mamanya sepakat menikahkannya dengan seorang gadis yang selama ini mengurusnya hampir setahun sejak ia buta. Ada sedikit paksaan, gadis itu terpaksa menerima tawaran tersebut.
Suatu ketika perusahaan mengalami goncangan dan hal itu mengakibatkan kerugian sehingga perushaan hampir bangkrut. Melihat hal itu, secara diam-diam, istrinya merencanakan hal lain untuk suaminya dengan mengorbankan kedua matanya agar suaminya bisa melihat kembali dan bisa mengatasi masalah perusahaan.
Bagaimana kelanjutannya? ikuti terus Novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Permata Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendatangi Kantor keluarga Lenderth
Joi sudah kembali dari kampus, kini dia berkutat di dapur untuk memasak makanan sehat kepada Harvey.
sepulang kampus tadi Ia telah menyempatkan waktu untuk membeli sayuran sesuai yang dia baca di internet mengenai makanan sehat untuk mata.
"Nak, kenapa kamu masak?" tanya mama Ellen yang sudah terbiasa masuk dapur untuk masak kepada suami dan anaknya.
"Tadi aku sengaja beli sayuran di pasar yang sehat untuk mata kepada tuan muda, tante" ucapnya sambil terus bergerak dengan gesitnya. Mama Ellen terharu karena gadis itu tidak hanya menjaga putranya tapi juga berjuang untuk kesembuhan putranya.
"Apa kamu bisa memasak?" tanya mama Ellen.
"Iya tante, Aku sering diajar oleh bibi sejak ma... ah maksudnya oleh mama" ucapnya meralat pembicaraan. Mama Ellen yang tahu ia sudah tidak memiliki ibu hanya menatapnya dengan ibah.
"Ah baiklah, sejak dulu tante ingin punya anak perempuan agar bisa diajak masak tapi sepertinya tante sudah mendapatkannya." ucap mama Ellen tersenyum ramah.
"Tante mau masak juga?" tanya Joi.
"Iya sayang" ucap wanita itu mendekat ke arah alat masak yang ada di ruangan itu.
"Oh ya tan, Aku boleh tahu makanan apa saja yang pantang bagi tuan muda?" tanya Joi.
"Dia makan apa saja kecuali pedas sama pahit" jawab mama Ellen dan Joi hanya mengangguk paham.
Setelah siap beberapa masakannya, ia pun menatanya di tempat makan untuk dibawa ke kamar Harvey untuk makan malamnya.
Tok Tok Tok
"Selamat malam tuan muda, waktunya makan malam" ucap Joi membuat pria itu kembali emosi.
"Kenapa kamu datang lagi?" tanyanya penuh penekanan.
"Karena Aku sudah dibayar" jawabnya bohong.
"Tidak masalah jika uang itu sudah kamu pakai asal jangan muncul lagi" ucap pria itu lagi dengan nada tegas.
"Nggak bisa gitu dong, Aku diajarkan sejak kecil untuk bertanggungjawab, lagian yang mempekerjakan Aku di sini bukan anda tapi tuan besar" jawab Joi enteng.
"Makanlah, ini makanan sehat yang Aku buatkan kusus untuk kamu. Semuanya jenis makanan untuk kesehatan mata" ucap Joi pantang menyerah.
"Kamu pikir Aku mau menyentuh makanan menjijikan itu?" ucap Harvey.
"Cih, menjijikan dari mananya? jadi orang harus punya rasa bersyukur kenapa sih? banyak orang diluar sana tidak bisa makan karena tidak mendapatkannya tapi kamu malah ingin membuangnya. Pokonya kamu harus makan jika tidak ingin Aku ganggu sepanjang malam. Aku akan pulang jika kamu makan, kalau nggak Aku akan tidur di kamar dan ranjang malam ini" celotehnya panjang lebar sehingga Harvey pun ada pergerakan seolah ingin menggapai makanan itu untuk makan.
"Sudah kamu tenang aja, Aku akan menyukaimu agar makanannya nggak berserakan" ucapnya mengambil sendok dan mengambil makanan.
"Aaaaa" ucapnya memberi arahan dan pria itupun patuh. Satu siap, dua suap dan seterusnya, gadis itu tidak mendapati ekspresi aneh itu tandanya masakannya cocok di lida Harvey.
Tanpa keduanya sadar bahwa sejak tadi papa Matthew sedang berdiri di balik pintu dan mengawasi mereka bahkan kini bertambah lagi mama Ellen. Keduanya tersenyum dan semakin yakin dengan gadis ini.
Hasil dari bibit unggul memang tidak pernah mengecewakan. Icha, kamu sangat luar biasa menghadirkan anak gadismu dan Aku tidak akan melepaskannya lagi. Masalah suamimu akan Aku hadapi. Batin papa Matthew bertekad menjadikan Joi sebagai menantunya.
"Selamat malam, selamat beristirahat ya, Aku pulang dulu. Esok pagi Aku akan kembali lagi dan jika kamu senang dengan masakanku maka Aku akan mulai memasak untukmu setiap hari sampai batas kontrakku" ucapnya panjang lebar dan membawa piring kotor bekas makan Harvey keluar.
Entah kenapa mendengar kata kontrak, Harvey menjadi mellow. Setelah kepergian gadis itu, Harvey kembali termenung akan nasibnya.
Di bawah sana, Joi sudah siap-siap untuk pulang.
"Om, tante, Aku pulang dulu" pamit Joi.
"Sudah malam, biarkan Liem mengantarkanmu" ucap mama Ellen.
"Nggak usah tante, Aku bawa motor sendiri" ucap Joi.
"Tidak boleh, kalau begitu Liem akan mengiringmu dari belakang. Tak baik anak gadis jalan sendiri malam begini" ucap mama Ellen yang mau tidak mau Disetujui oleh gadis itu.
Liem membawa mobil mengikuti Joi dari belakang membelah jalan kita yang cukup padat hingga tiba di sebuah kompleks perumahan elit. Joi tidak ada alasan lagi menutupi identitasnya dari Liem dan keluarga Matthew lagi karena mereka sudah mengenalnya dengan baik.
"Di sini aja om" teriaknya setelah menepi. Liam pun berhenti dan melihat gadis itu kembali melakukan motornya dan tak jauh dari sana ia pun masuk ke area mansion keluarganya.
Setelah dipastikan masuk dengan baik, Liem melakukan mobilnya pergi dari sana.
*****
Seperti yang sudah direncanakan oleh sepasang suami isteri kemarin, merekapun menepati ucapan mereka dengan mendatangi Zem.
Matthew dan istrinya masuk ke lobi kantor keluarga Zem, dan mendekat ke arah resepsionis.
"Selamat siang, pak Zem ada?" tanya papa Matthew. Semua orang yang memang mengenal tuan Matthew karena kehebatannya di dunia bisnis itu langsung mengarahkannya menuju ke pantai paling atas.
"Ada tuan, silahkan ke lantai paling atas" ucap gadis itu. Sambil bergandengan tangan, sepasang suami istri itu masuk ke dalam lift karyawan yang akan mengantarkan mereka ke sana. walaupun dia orang penting namun tahu menempatkan diri jika lift kusus itu hanya untuk orang tertentu.
Tok Tok Tok
"Masuk" ucap seorang dari luar sana.
Sepasang suami istri itu pun masuk dan mendapati seorang pria yang masih gagah kini serius dengan berkas yang ada di depannya.
"Zem" satu kata yang keluar dari mulut orang yang baru masuk itu mampu menarik perhatiannya. Pria itu spontan mengangkat kepala dan mendapati orang yang sudah belasan tahun tidak ingin dia temui.
Tatapan matanya yang tajam langsung menghunus sepasang suami istri yang masih berdiri di depannya. Jika Matthew menanggapi tatapan itu dengan senyum kemenangan, tidak dengan sang istri yang sudah ketakutan dan menarik tangan suaminya agar segera pergi dari sana.
"Untuk apa kau ada di sini?" tanya Zem dengan tatapan tajamnya.
"Ada hal menarik yang ingin aku bicarakan. Apakah boleh?" ucap Matthew serius.
"Apa lagi rencana busuk yang kau rencanakan?" tanya Zem.
"Tentu yang lebih menarik dari sebelumnya dan mungkin anda akan memilih mati jika aku mengambilnya" tantang Matthew membuat Zem tidak goyah.
"Semua mungkin akan aku ijinkan untuk kau ambil dari hidupku, tapi satu yang tidak boleh kau sentuh karena jika itu terjadi maka nyawamu akan melayang" ancamnya membuat Matthew tertawa mengejek. Sahabatnya ini tidak pernah berubah walaupun mungkin mereka sudah mantan sahabat.
"Apakah itu? jika itu adalah putrimu, maka akupun menginginkannya" ucap Matthew tenang.
Deg
Bersambung
Joi cinta boleh, bodoh jangan. Kalau mmg dia ga cinta lepaskan saja