NovelToon NovelToon
Dimensi Dunia Lain

Dimensi Dunia Lain

Status: tamat
Genre:Mafia / Time Travel / Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Chicklit / Tamat
Popularitas:19.7k
Nilai: 5
Nama Author: bucin fi sabilillah

Zevanya Laureen adalah seorang gadis keturunan Mafia yang begitu sadis. Sedari kecil ia sudah di asuh oleh salah satu keluarga terpandang di negara kelahirannya.

Zeva kerap kali mendapatkan kekerasan pada mental dan juga fisiknya. Hingga suatu kejadian membuat Zeva koma dan kehilangan ingatannya. Semua perlakuan itu hilang begitu saja. Mereka yang awalnya begitu berani menyakiti Zeva, kini menjadi takut ketika melihatnya.

Apakah yang terjadi kepada Zeva?
Apakah Zeva akan menjadi sosok yang kuat seperti keluarganya terdahulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ada sebuah busur panah di tanganku. Kemudian, Miya, memberikan tiga buah anak panah. Memang setelah latihan tadi, kakek tua itu memberikan aku tantangan. Ya, ini tantangan pertama.

Aku melepas anak panahku dari busurnya. Kemudian, aku melesatkannya. Ah, melesat jauh dari perkiraan. Sama sekali tidak seperti apa yang disuruh.

“Kakek akan memberikan kamu izin ke mall kalau kamu bisa!” teriak kakek tua di ujung sana.

Mall? Jika begitu, aku akan semangat! Aku akan balas dendam, aku akan menghabiskan uang kakek tua. Huh.

“Baiklah!” teriakku balik.

Aku memfokuskan mata dan arah bidikanku. Kali ini, anak panah itu mendarat dengan sempurna tepat di tengah-tengah target alias di titik merah.

Aku cukup bangga dengan diriku sendiri. Aku berhasil saat melakukan yang kedua kalinya. Namun, aku yakin. Setelah ini, kakek tua itu akan memberikan aku tantangan yang lainnya. Huh.

“Ayolah, Zeva. Cucuku, semangat!” seru kakek tua itu. Ada sejuta rahasia dibalik ucapannya, aku yakin.

Aku mendekatinya. Mengambil minum yang ada di sebuah botol. Aku mengusap peluhku. Kemudian, aku sedikit meminta Miya untuk memberitahuku tantangan selanjutnya. Miya terlihat malas.

“Yakin ya nggak males-malesan kalau udah aku kasih tahu?” tanya Miya. Sepertinya dia tahu aku akan pilih-pilih. Aku hanya menyengir tidak jelas.

“Ish. Kamu kalau nggak bisa janji sama aku, aku gak bakal kasih tahu loh.” Ancamnya.

Aku merasa tertekan, sungguh. Dia ini kenapa? Seperti sudah sangat tahu aku. Baiklah, mari kita berjanji, meskipun aku tak benar-benar berjanji.

“Iya, aku janji.” Ucapku sambil cengengesan. Aku tak yakin dia akan mempercayai aku. Hei, tolonglah.

“Benar kan? Oke, aku percaya, jadi setelah ini akan ada beberapa tantangan. Tantangan pertama tadi memanah, selanjutnya menangkap kelinci, memburu burung, berjalan layak monyet, bermain pedang, menggunakan pistol, menjadi mata-mata, mengintai bahaya, dan terakhir, bertarung dengan kakekmu.” Ucapnya dengan jelas. Oh, tunggu, apa maksud perkataannya yang terakhir, apa aku bisa membunuh kakek tua itu? Tapi kalau dia nggak ada, aku disalahin nggak ya?

Baiklah, memangsa seekor kelinci ya, kedengarannya tidak sulit. Aku meminta peralatannya. Awalnya sih aku percaya diri, tetapi saat melihat mereka hanya memberiku satu kotak untuk kelinci, dan satu saringan untuk ikan.

Benda macam apa ini? Bagaimana mungkin menangkap kelinci menggunakan ini? Ada-ada saja. Tapi tidak apa-apa, aku ingin jalan-jalan. Jadi, aku akan melakukannya dengan cepat.

Aku mengejar-ngejar kelinci itu untuk menangkapnya. Namun, kelinci itu malah berlari-lari, lalu mengumpat di tanah. Siapa yang tidak kesal, aku bahkan sampai ingin membunuhnya, sayang aku tak diperbolehkan menggunakan senjata.

Aku terus mengitari halaman itu dan mencari kelinci. Namun, tampaknya kelinci yang biasanya penurut itu sudah bekerja sama dengan kakek tua.

Akhirnya aku memutuskan untuk menutup semua lubang di taman itu. Bajuku sudah sangat kotor, tetapi aku tak peduli. Yang kuinginkan, kelinci itu bisa aku dapatkan.

Egois? Memang. Tapi aku ingin segera menyelesaikan semua tantangannya. Aku ingin segera beristirahat. Ekor mataku dapat melihat kakek tua yang tertawa. Di sampingnya juga ada Miya yang mengipasi kakek itu.

Sebenarnya, yang menjadi tuan Miya itu siapa? Aku tahu sih dia yang menggaji, tapi kan Miya itu hanya pelayan pribadiku. Apakah dia berniat menjadikan Miya istrinya? Eh, amit-amit, tapi gapapa juga sih.

Nah, dapat. “Yes!” aku berteriak kegembiraan. Aku berhasil menangkapnya. Perlahan aku mulai memindahkannya ke dalam box pelan-pelan. Anehnya, saat di dalam box, kelinci itu menjadi sangat penurut.

Kelinci jenis apa ini? Mengapa dia bisa seperti itu? Hatiku menjerti ingin memilikinya. Aku membawa kelinci itu menuju kakek tua dengan senyum sombong yang sedang ingin aku tunjukkan.

“Nih, aku berhasil, kakek.” Sedangkan aku melanjutkan perkataan dalam hati, “kakek tua” sembari menahan tawa. Entahlah aku merasa lucu saja ketika menyebutkannya.

“Kamu tidak terlihat seperti orang sombong. Jangan bertingkah seperti itu, mukamu tidak cocok.” Seru kakek tua.

Udah tau orang lagi seneng, dia malah kayak gitu. Cucu mana yang tidak sebal dengannya. Aku merotasikan bola mataku, aku juga melengkungkan bibirku ke bawah.

“Kamu tuh ya, gak bisa apa mukanya datar gitu. Kan saya jadi capek lihatnya. Lagipula, kamu pasti tak bisa menangkapnya jika baterai kelinci itu tak habis.” Deliknya. Dia seperti tak ada lelahnya membicarakan mimik wajahku. Apa aku benar-benar terlihat aneh dengan ini ya?

“Baterai? Kelinci? Maksudmu kek?” tanyaku tak paham.

“Kau tak tahu? Kelinci itu adalah robot. Lihatlah matanya yang tak pernah berkedip.” Ujarnya. Dia pikir aku tahu? Aku saja bahkan baru tahu ada robot kelinci. Ah, kenapa tidak bilang dari tadi saja sih.

“Hei, aku mana memperhatikannya!” aku menggerutu kesal.

“Lihatlah dirimu yang masih tidak peka dengan banyak hal. Itu artinya kamu masih harus belajar dengan keras lagi.” Sahutnya memperhatikanku dengan tatapan setajam elang.

“Baiklah-baiklah, terserah padamu. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” tanyaku.

“Kakek berubah pikiran, sebelum kamu mengikuti gaya monyet, kamu lawan Miya dulu. Kamu harus membuat Miya menyerah. Barulah ketika saat itu kamu dinyatakan menang dan boleh melanjutkan tantangan. Ingat, harus sampai Miya menyerah, jangan kau yang membuatnya jatuh pingsan!” peringatnya. Sepertinya dia masih sangat ingat aku pernah membuat Miya tak sadarkan diri saat bolos belajar pada waktu lalu.

“Kakek tau apa yang kamu rencanakan. Tidak usah bersikap seolah tidak tahu apa-apa.” Peringatnya kembali.

Aku menggerutu, tetapi tidak berani aku ungkapkan secara langsung. Jujur saja aku cukup kaget dengan apapun yang dia tahu. Ya, selama aku membatin, aku juga mempersiapkan diri untuk melawan Miya.

Kakek tua itu tampak mencari perhatian Miya lagi. Dia memasangkan pelindung di badan Miya. Aku tahu Miya sudah menolak sebelumnya, tetapi karena kakek tua suka mengancam, Miya pun akhirnya mau.

Aku dan Miya sudah siap bertanding di arena. Kami masing-masing memegang pedang. Pedang tajam yang sama-sama sudah diasah sebelum pertandingan terjadi. Aku harap tak ada tumpah darah di sini.

Pertama-tama, aku mulai menyerang Miya terlebih dahulu. Namun, dengan mudahnya Miya menangkis serangan. Kami sama-sama menjaga pertahanan diri masing-masing, tentunya.

Aku mulai mencari titik lemah Miya saat aku sudah mulai lelah. Namun, anehnya, aku tak pernah melihat Miya yang berhenti karena lelah. Miya juga tak pernah terdengar dengan napas yang tak beraturan.

“Miy, kamu nggak ada capek?” tanyaku tak jelas. Jujur saja aku ingin menyerah.

“Tidak. Apakah kau lelah?” tanyanya berubah datar. Aku tertegun, ini bukan Miya yang biasanya. Kenapa dia bisa berubah seperti itu.

Dia menatapku dengan dingin, tetapi sedetik kemudian tertawa, “hahaha, ekspresimu kocak!” katanya. Menyebalkan.

1
saltsanddanmoothies
Thor aku ini manggil author lho bukan Thor temennya Kapten Amerika, jadi dimohon segera untuk up bab selanjutnya!
Bryand 😎🎤🎧
next thor
Bryand 😎🎤🎧
lanjut
Bryand 😎🎤🎧
mantab
Bryand 😎🎤🎧
lanjut
Drone Ground
semangat selalu Thor aku suka ceritanya ❤️❤️
Zizi Suartini
Keluarkan semua babmu Thor! Mata ini masih kuad membacanya!
SoftMambo
Maaf ya thor kalau kita teriakin buat up bab terus pdhl author yg mikir.. soalnya emg aku nunggu bgt lanjutannya
meylani putri 2
lanjut
Respati Wijaya
Kita emang nunggu crazy up, tapi author jangan cape-cape, ya! Jangan lupa makan, thor!
🎤K_Fris🎧: iya kak, di tunggu yaa, jangan lupa like nya☺☺
total 1 replies
CutieBun
waaah... makin seru aja nih... like for u...
🎤K_Fris🎧: terimakasih kak, dukung terus ya
jangan lupa tinggalkan like juga
total 1 replies
Valley
baguss :)
Irma Purwanti
Serruu bangett ceritanyaa,,,, ok bgt😍
🎤K_Fris🎧: jangan lupa tinggal kan like nya ya kak.
terimakasih
total 1 replies
DazzledSweetie
Aaaa! Author kece! Crazy up thor!
🎤K_Fris🎧: di bantu likenya ya kak
terimakasih ☺
total 1 replies
Cakrabirawa Tarihoran
Udah pewe rebahan taunya ceritanya ngegantung.. yasalam banget hiks!
🎤K_Fris🎧: novelnya bersambung ya kak, kita update 2 bab, per hari
jangan lupa subscribe ya, kalau nnti sayaa update kakak dpt notifikasi Nya, terimakasih ☺
total 1 replies
Garden Rose
Jangan lama2 ya thor updatenya, aku gamau lari2 pindah tempat yg lain huhu
🎤K_Fris🎧: bantu likenya ya kak, terimakasih ☺☺
total 1 replies
🍌 ᷢ ͩ༄⃞⃟⚡🍀⃟🐍ᵏᵉᵈᵘᵃ
parah emang narsis nya ga ketulungan 😂
🍌 ᷢ ͩ༄⃞⃟⚡🍀⃟🐍ᵏᵉᵈᵘᵃ: okey kkak... siap
total 2 replies
🍌 ᷢ ͩ༄⃞⃟⚡🍀⃟🐍ᵏᵉᵈᵘᵃ
adikku yang mana 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!