[Sekuel Terjebak Gairah Sang Mafia]
Setelah kepergian Queen tanpa sepengetahuannya, Jeevan terus mencari keberadaan gadis itu tanpa kenal lelah dan hampir seluruh area kota ia telusuri hanya untuk menemukan gadisnya.
Jeevan semakin sadar bahwa dirinya amat membutuhkan Queen, bahkan rasanya saat ini ia telah jatuh cinta pada gadis yang awalnya hanya akan ia jadikan pemuasnya di ranjang itu.
Namun, proses pencarian yang dilakukan Jeevan tak semulus yang kalian kira. Dia kesulitan lantaran Queen memang sudah pindah bersama papanya sesuai arahan Aqila.
Dan disaat Queen tak kunjung ditemukan, Caitlyn justru datang membuat suasana makin kacau karena orang tua Jeevan memaksanya untuk menikah dengan wanita itu.
Manakah yang akan Jeevan pilih? Tetap mencari Queen atau menikah dengan Caitlyn?
Baca aja kisah lengkapnya di season 2 terjebak gairah sang mafia, dengan judul 'Jerat Cinta Sang Mafia' yang akan diterbitkan sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Jemput Caitlyn
#Terjebak Gairah Sang Mafia 2
Jemput Caitlyn
•
•
Tom tersenyum lebar begitu melihat Erick muncul dan melangkah ke arahnya, ia yakin betul bahwa pria itu adalah Erick sebab tampilannya terlihat seperti bos besar.
"Halo mister Erick yang terhormat! Apa kabar?" sapa Tom dengan ramah.
"Baik, jadi kamu orang lelang yang ingin menagih pembayaran itu?" ujar Erick.
"Ya mister Erick, saya kesini untuk meminta uang pembayaran yang anda belum lunasi. Bagaimana, apa sudah ada uangnya?" ucap Tom.
"Tentu saja, nanti saya transfer ke rekening kalian. Kamu tidak perlu sampai harus datang kesini, saya bukan orang susah yang tidak bisa membayar semua itu!" ucap Erick.
"Tenang dulu mister Erick, saya bukan ingin merendahkan anda. Tetapi, saya disini untuk mengambil kembali apa yang belum menjadi hak anda," ucap Tom menyeringai.
Erick mengernyit heran.
"Apa maksud anda?" tanya Erick dengan bingung.
"Dinda, dia itu terhitung masih bagian dari kami. Sebab anda belum melunasi semua biaya untuk membelinya," jawab Tom santai.
"Saya kan sudah bilang tadi, saya akan segera transfer ke rekening kalian," ucap Erick.
"Tetap tidak bisa mister Erick, peraturan tetaplah peraturan. Saya harus membawa kembali Dinda sampai semua uangnya benar-benar lunas," ucap Tom.
"Tapi, saya tidak akan mengizinkan anda membawa Dinda. Dia sudah menjadi milik saya dan kami tidak bisa membawanya," ucap Erick.
"Kalau begitu kasus ini akan saya laporkan ke bos Jeevan, pastinya beliau tidak akan segan-segan untuk mengirim pasukannya dalam jumlah banyak ke rumah ini dan menyerang anda," ancam Tom.
"Anda mengancam saya? Dengar ya, saya tidak takut pada apapun itu!" tegas Erick.
"Ini mungkin terdengar seperti ancaman, karena memang betul ini ancaman. Tapi bukan hanya sekedar itu, karena saya tidak main-main mister dan saya bisa langsung hubungi bos Jeevan untuk segera datang kesini," ucap Tom emosi.
Erick terdiam sejenak memikirkan ancaman Tom barusan yang menurutnya lumayan menyeramkan jika benar terjadi.
"Bagaimana ini? Saya tidak mungkin menyerahkan Dinda kembali pada mereka, karena saya sudah terlanjur menyukainya. Tapi, saya juga tidak mau pasukan Jeevan datang dan merusak semua yang ada disini," pikir Erick dalam hati.
Tom terus tersenyum melihat kegelisahan di wajah Erick saat ini akibat perkataannya tadi.
Erick akhirnya setuju dengan ucapan Tom dan memilih mengembalikan Dinda pada pria itu.
"Mungkin memang saya harus menyerahkan Dinda, tidak apa-apa Erick ini hanya sementara. Nanti pasti saya akan bisa bersama dengan Dinda lagi selamanya," batin Erick.
Tom masih setia menunggu jawaban Erick, dan kini tampak Erick kembali menatapnya dengan ekspresi yang sangat gelisah.
"Baiklah, saya setuju dan saya akan kembalikan Dinda pada anda sekarang juga," ucap Erick.
"Memang itu yang harus anda lakukan mister Erick, karena Dinda masih belum resmi menjadi milik anda. Lalu, dimana dia sekarang?" ucap Tom.
Erick beralih menatap dua pengawalnya, ia memerintahkan mereka menjemput Dinda.
"Kalian berdua panggil Dinda dan bawa dia kesini!" perintah Erick.
"Baik mister!" ucap pengawal itu patuh.
Keduanya pun pergi untuk menjemput Dinda, sedangkan Erick tetap disana bersama Tom.
•
•
Dinda yang masih memantau dari jauh, terkejut ketika dua pengawal Erick itu datang mendekatinya.
"Permisi nona," ucap salah satunya.
"Ah iya, ada apa ya?" tanya Dinda keheranan.
"Mari nona ikut kami ke depan!" jawab si pengawal.
"Loh buat apa?" tanya Dinda lagi.
"Ini perintah dari mister Erick, nanti nona bisa tanya langsung ke beliau!" jawab pengawal itu.
Dinda pun tak mengerti mengapa Erick menyuruh pengawalnya untuk membawa ia ke depan, apakah pria itu akan menyerahkannya pada Tom?
"Okay, aku ikut sama kalian." Dinda beranjak dari tempatnya dan mengikuti dua pengawal itu.
"Silahkan nona," ucap pengawal itu memberi jalan.
Dinda langsung melangkah ke depan mendekati Erick serta Tom yang sedang berhadapan disana.
"Ya Tuhan, semoga saja kedatangan Tom kesini untuk menyelamatkan aku! Jujur aja aku gak mau lama-lama ada disini, aku pengen pulang dan kembali ke orang tua ku!" batin Dinda.
Begitu sampai di dekat kedua pria itu, Dinda tampak gugup karena Tom tersenyum sembari memandang ke arahnya.
"Mister, kami sudah melaksanakan tugas," ucap si pengawal pada Erick.
"Terimakasih, ayo Dinda kamu kesini!" pinta Erick seraya menarik tangan Dinda.
"Ini ada apa ya mister? Siapa dia dan kenapa aku dibawa kesini?" tanya Dinda bingung.
"Dia orang lelang, kamu harus ikut dulu sama dia sampai pembayaran saya lunas. Maaf ya Dinda, tapi saya janji akan secepatnya menyelesaikan pembayaran ini!" jelas Erick.
Perasaan Dinda berubah senang, ternyata yang dipikirkannya sedari tadi menjadi kenyataan.
"Beneran mister?" tanya Dinda memastikan.
"Iya Dinda, gapapa kan?" jawab Erick.
Dinda mengangguk antusias, tentu saja dia sangat ingin pergi dari rumah itu.
"Baiklah, kalian bereskan barang-barang Dinda dan bawa kesini dengan cepat!" perintah Erick pada dua pengawalnya.
"Baik mister!" jawab mereka serentak.
Dinda sangat senang, begitupun dengan Tom. Rencana Tom kali ini berhasil, sehingga ia bisa membawa Dinda pergi.
"Sesuai janji saya ke kamu Dinda, saya akan selalu jaga dan lindungi kamu sampai kapanpun!" batin Tom.
•
•
Di lain sisi, Jeevan menepati ucapannya pada sang mama untuk datang ke bandara dan menjemput Caitlyn yang baru mendarat dari luar negeri.
Pria itu terus melihat jam di tangannya, sudah cukup lama ia menunggu tetapi tak kunjung ada tanda-tanda Caitlyn akan datang.
"Haish, mana sih nih cewek?!" geramnya.
Tak lama kemudian, muncul seorang wanita yang langsung mendekat dan menyapanya.
"Jeevan!" panggil wanita itu.
Sontak Jeevan menoleh ke asal suara, matanya terbelalak melihat sosok gadis cantik tengah tersenyum menatapnya.
"Hai! Aku Caitlyn, pasti kamu masih ingat kan sama aku Jev?" ucap wanita itu.
Jeevan masih terdiam, entah mengapa ia seperti tersihir melihat penampakan gadis itu yang teramat cantik.
"Eee halo? Jeevan, kamu kenapa diam aja? Ada yang salah sama aku?" heran Caitlyn.
"Eh? Gak kok enggak, maaf maaf saya gak fokus tadi!" ucap Jeevan gugup.
"Ahaha, iya gapapa Jeevan. Kamu udah lama ya nunggu aku disini?" ujar Caitlyn.
"Ya lumayan lah," jawab Jeevan.
"Oh gitu, maaf banget ya soalnya tadi begitu sampe sini aku langsung sakit perut. Jadinya aku ke toilet dulu deh," ucap Caitlyn tersenyum lebar.
"Gapapa, kalo gitu ayo saya langsung antar kamu ke rumah!" ajak Jeevan.
"Eh tunggu, aku pengen mampir ke rumah kamu dulu dong. Soalnya aku dah janji sama tante Qila buat datang kesana," ucap Caitlyn.
"Boleh, yuk!" ucap Jeevan.
Caitlyn tersenyum dan reflek menautkan tangannya di lengan Jeevan.
"Yuk!" ucap Caitlyn tanpa rasa bersalah.
Jeevan hanya bisa meneguk ludahnya, lalu berjalan ke arah mobil bersama Caitlyn di sampingnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...