Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu mantan
Sebuah kalung indah dengan bermatakan berlian kecil, dipilih oleh Aneska.
"Sepertinya ibu memiliki selera yang sangat bagus," ujar manager toko tersebut, sembari mengeluarkan kalung yang Aneska pilih.
"Ini adalah produk terbaru kami, dan juga yang paling mahal. Dan kalung yang memiliki model seperti ini hanya ada lima saja dinegara ini," ucap manager tersebut menjelaskan.
Mendengar perkataan manager tersebut, Aneska langsung terdiam. Ia tak berniat untuk membeli kalung termahal yang ada di toko ini.
Bahkan tadi dirinya sengaja memilih yang memiliki permata paling kecil, karena menganggap kalau itu yang termurah.
"Mas ...." Aneska melirik Danish yang berdiri disampingnya.
"Kenapa?" tanya Danish. Ia tak melirik Aneska, melainkan fokus pada berlian yang Aneska pilih.
"Saya beli yang ini, siapkan surat-suratnya," ucap Danish.
"Mas!" Aneska menarik tangan Danish. "Aku gak jadi pilih kalung yang itu, Mas," ucap Aneska. Dia sungguh tak enak hati kalau Danish mengeluarkan banyak uang hanya untuk membeli sebuah kalung untuknya.
Danish mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya Danish heran.
"Itu kalungnya terlalu mahal, Mas. Pilih yang lebih murah aja," ucap Aneska.
Mendengar perkataan istrinya, Danish tertawa kecil. Tangannya terangkat mengusap kepala istrinya itu.
"Aku mampu, kok, Anes. Bahkan menurutku itu masih kurang mahal," ucap Danish.
Mendengar perkataan sang suami, Aneska menghela napas berat.
"Atau kamu mau beli satu set sama cincin dan gelangnya?" tanya Danish.
Mendengar hal tersebut, Aneska langsung menggeleng. "Gak, Mas. Ini saja cukup," ujar Aneska. Ia tak mau Danish menghamburkan uang untuknya.
Danish mengangguk. "Aku kedalam untuk mengurus pembayaran dulu, kamu tunggu disini, ya," ujar Danish.
Aneska mengangguk, ia duduk disofa yang tersedia di sana. Sedang Danish masuk kedalam sebuah ruangan yang digunakan untuk pembayaran.
Tidak lama Aneska menunggu, Danish kembali dengan sebuah paper bag ditangannya. Ia meletakkan paper bag itu diatas meja, dan mengeluarkan kotak kalung yang baru saja dibelinya.
Danish duduk di samping sang istri.
"Boleh aku pasangkan?" tanya Danish sopan. Suaranya terdengar lembut dan sangat indah masuk ketelinga Aneska.
Serasa seperti dihipnotis, Aneska mengangguk.
Danish menyibakkan rambut panjang Aneska dan kemudian mengenakan kalung pemberiannya itu. Dengan penuh perasaan, pria itu kemudian mencium tengkuk Aneska, membuat istrinya itu sedikit terkejut.
Danish yang juga tak sadar kalau sudah mencium tengkuk Aneska, langsung salah tingkah, dan kemudian berdiri.
"Ayo," ajak Danish, sesaat setelah kecanggungan melanda keduanya.
Setelah beberapa lama berjalan mengelilingi toko-toko di mall tersebut, kemudian sepasang suami istri itu masuk kedalam sebuah restoran yang ada di sana.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Danish, sembari menyerahkan buku menu kepada Aneska.
Setelah keduanya selesai memilih makanan, dan menyantapnya, kini keduanya sedang berjalan menuju lift, hendak turun ke basemen mall tersebut.
Tapi sebelum keduanya sampai didepan lift, tiba-tiba saja rambut Aneska dijambak oleh seseorang dari belakang, membuat wanita itu terkejut dan tersentak.
Aneska memekik karena kesakitan, membuat Danish terkejut. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah, seseorang yang menjambak Aneska adalah Zoya, mantan kekasihnya.
"Wanita sialan! Dasar murahan!!" Zoya berteriak penuh amarah, bahkan karena saking marahnya, membuat wajahnya memerah.
"Apa yang kamu lakukan, Zoya! Lepaskan!!" Danish berusaha melepaskan tangan Zoya yang menjambak rambut istrinya.
"Lepas Zoya!!" Danish semakin marah, terlebih ketika melihat Aneska yang mengeluarkan air mata karena menangis.
Mendengar amarah Danish, Zoya langsung melepaskan tangannya dari jambakan tersebut.
Aneska menangis semakin keras. Kulit kepalanya terasa benar-benar sakit. Wanita yang tidak ia kenal itu, menjambaknya dengan sangat kuat.
"Apa-apaan kamu Danish! Kamu menyelingkuhi aku dengan wanita ini!" tanya Zoya dengan suara menggelegar. Untung saja saat ini didekat lift itu tidak banyak orang, hanya mereka bertiga, karena letak lift itu sedikit jauh dari toko-toko.
Zoya melihat penampilan Aneska dari atas sampai bawah. Terlihat seperti seorang gadis polos, namun sangat cantik.
Rambut panjangnya yang berwarna hitam pekat, dan juga wajah kecil yang seputih salju itu akan membuat siapa saja terpesona.
"Kamu menyelingkuhi aku dengan wanita kampungan ini?!" tanya Zoya lagi. Ia menolak mengakui kalau Aneska sangat cantik, meskipun gaya berpakaiannya, menurut Zoya sangat kuno.
"Jaga bicara kamu, Zoya!" bentak Danish. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun. Terlebih ketika ia mendengar isakan Aneska yang membuatnya jadi merasa bersalah.
"Kamu membentak aku karena dia!?" tanya Zoya. "Aku itu pacar kamu, Danish! Sedangkan dia selingkuhan kamu!!" Zoya akhirnya berteriak, niatnya kemari untuk jalan-jalan menjernihkan pikiran karena Danish memutuskan hubungan dengannya, malah berakhir jadi seperti ini.
Mendekat perkataan Zoya, Aneska menatap Danish, meminta penjelasan pada pria itu.
"Ralat ucapan kamu, Zoya! Kamu mantanku, bukan pacarku lagi! Kita sudah berpisah!" tegas Danish.
Zoya tertawa keras mendengar pernyataan Danish. "Kita baru putus tadi siang Danish. Dan sekarang kamu sudah mendapatkan pengganti aku! Kamu benar-benar brengsek, Danish!!"
Dan setelahnya, sebuah tamparan keras melayang dipipi Danish. Tamparan kuat itu membuat pipinya memerah, dan itu sudah cukup menjelaskan, seberapa sakitnya.
"Mas? Benar dia kekasih kamu?" Aneska bertanya dengan rambut yang berantakan dan juga mata yang memerah.
"Maafkan aku. Tapi aku akan menjelaskan saat kita dirumah nanti, Anes," ucap Danish.
Mendengar perkataan Danish, Zoya tentu bingung.
"Apa maksud kamu, Danish? Kamu membawa perempuan sialan ini kerumahmu?" tanya Zoya. Amarahnya semakin memuncak, dan bersiap untuk menyerang Aneska lagi.
"Kalau kamu berani menyerangnya lagi, aku pastikan kamu akan membusuk dipenjara, Zoya!" tegas Danish, dengan wajah merah padam menahan amarahnya.
Danish membawa Aneska pergi dari sana. Meninggalkan Zoya yang masih syok dengan semuanya.
Didalam mobil, Danish masih berusaha untuk menenangkan Aneska yang menangis.
"Maafkan aku, Anes," ucap Danish. Merasa sangat bersalah terhadap sang istri, terlebih setelah apa yang Zoya lakukan pada Aneska.
"Aku butuh penjelasan, Mas. Siapa dia? Apa benar dia pacar kamu?" Aneska bertanya, menatap mata Danish.
Danish menghela napas, kemudian dia menggenggam tangan Aneska.
"Maafkan aku, Anes. Sebelum menikah dengan kamu, sebenarnya aku memiliki kekasih," ucap Danish mulai menjelaskan.
Aneska diam mendengarkan.
"Aku sebenarnya sudah ingin memutuskan hubungan dengannya, tapi aku tidak memiliki alasan kenapa melakukannya. Aku terus memikirkannya hingga puncaknya setelah kita melakukan hubungan semalam," ujar Danish.
"Jadi, saat tadi siang dia datang ke kantor, aku memutuskan hubungan dengannya. Karena itu juga dia terlihat sangat marah tadi, sebab tidak terima melihat aku jalan sama kamu."
"Aku harap kamu mengerti posisiku, karena sebelumnya aku udah pacaran sama dia selama satu tahun," ujar Danish.
Aneska diam mencerna semua perkataan Danish. "Dan kejadian semalam, saat kamu kepanasan, apa ada hubungannya dengan dia?" tanya Aneska.
Danish menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk.
"Aku memang menjalin hubungan sama dia, tapi aku tidak pernah tidur dengannya," jawabnya.
***
Happy reading!!