Sequel : Burning Passion In Love!
Stefano, Casanova bastard yang sangat dingin. Prioritas utama adalah membalas dendam pada keluarga Weldon.
Dengan 2 saudaranya, Stefano berlayar menjadi seperti Ayahnya. Seorang Mafia kejam dan Pengusaha sukses.
Sebuah taktik keji mengharuskan di antara 3 pria kejam maju untuk menikah dengan Putri Mr Weldon. Alhasil Stefano yang maju untuk menikah dengan gadis baru lulus SMA.
Kisah rumit yaitu : cinta, dendam, benci, pembunuh dan gairah melebur menjadi kesatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPIL2 - You are My Love!
Pesta pernikahan begitu mewah di hadiri banyak kolega bisnis, aktor, artis, model dan kalangan penting lainnya yang menghadiri pesta pernikahan komisaris Demetrius. Mereka begitu antusias menyaksikan momen sakral komisaris Demetrius dan Putri dari komisaris Weldon. Mereka tidak menyangka seorang Stefano Eugene Demetrius mampu di taklukkan oleh gadis polos Putri bungsu Weldon.
Stefano tersenyum tipis menyalami tamu. Dia melirik Queenaia tampak ramah menerima ucapan selamat. Hatinya bergejolak tinggi akan situasi ini. Ingin rasanya kabur dari masalah tetapi dia bukan pengecut.
"Kak," panggil Kevin.
"Hn, ada apa?"
"Ini gadis kecil yang kamu suka?" tanya Kevin sembari berbisik.
Stefano menegang mendengar perkataan Kevin. Entah kenapa rasanya takut jika Queenaia di kasari keluarganya. Semoga saja Kevin mampu menjaga rahasia bahwa gadis ini atensinya terlabuh.
"Congrats Brother. Kamu sangat hebat, lakukan semua sesukamu. Tetapi, jika sudah waktunya ingat semua!" tegas Kevin lalu pergi menuju Vernon.
"Kevin aku percaya padamu!" seru Stefano. Berharap Kevin tidak membocorkan semua kalau Queenaia adalah gadis yang dicintai.
Kevin tersenyum tulus mendengar seruan Stefano. Sangat tahu dia tidak akan membahayakan semua. Senyum tipis terbit di bibirnya yang sensual. Kevin anak yang baik selalu melindungi Stefano serta akan selalu menjaga rahasia itu.
"Kak, semoga gadis itu mampu membuat Kakak menjadi Stef yang dulu. Walau dendam, darah dan benci akan berkobar. Tetapi, tenang semua akan berakhir bahagia setelah semua berakhir. Berbahagialah, Kak!" monolog Kevin seraya menengok ke arah Stefano dan beralih berbicara dengan tamu.
Queenaia merasa miris akan takdir. Kenapa harus Stefano yang menjadi komisaris Demetrius? Ya Tuhan, Queenaia ingin sekali berlari tanpa mau menengok ke belakang.
Stefano menepuk bahu Queenaia seraya tersenyum tipis. Dia berusaha akrab walau pada akhirnya berakhir kaku. Jangan terlihat berlebihan Stefano, buat Queenaia nyaman akan semua ini.
"Queen, apa kamu lapar?" tanya Stefano.
"Tidak, aku merasa kenyang."
Wajah cantik Queenaia bersemu saat perutnya berbunyi. Dia sangat malu akan kebodohannya, tetapi dia hanya mampu menunduk dalam menyembunyikan wajah merahnya. Semoga saja Stefano tidak menertawakan kekonyolan barusan.
Stefano tersenyum mendengar suara perut Queenaia. Gadisnya sangat manis jika malu-malu kucing. Hebat sekali dalam pertemuan ketiga sudah jadi Istrinya tanpa bisa di tolak. Stefano ingin menolak takdir, tetapi inilah takdir yang begitu rumit.
"Mr Demetrius, saya akan ambilkan makanan untuk kalian."
"Hn, satu piring berdua, pergilah!"
Queenaia tidak suka ada yang menyebut Demetrius. Begitu sakit namun dia harus hadapi. Suaminya seorang komisaris yang dibenci sekaligus orang yang dicintai.
Stefano membawa Queenaia masuk ruangan. Perutnya juga lapar dan lelah berdiri terus menyalami ribuan tamu. Risiko jadi triliuner punya banyak relasi bisnis serta pejabat, artis dan puluhan tamu yang mengenalnya.
"Ayo makan."
"Sepiring? Aku ingin sendiri."
"Why? Kita sudah menikah jadi makan sepiring berdua tidak masalah. Apa kamu jijik makan sepiring bersama, Suamimu?"
Stefano menatap datar Queenaia tanpa arti. Dia tahu gadisnya sangat membenci komisaris Demetrius. Queenaia tertekan karena dia adalah orang yang dibenci silanya juga dicintai. Stefano tidak bisa memberikan segala kebahagiaan untuk Istrinya. Bukan kebahagiaan melainkan derita yang akan Queenaia rasakan dari tingkahnya.
Queenaia merasa tidak enak mendengar perkataan Stefano. Dia berusaha mengontrol diri untuk menjaga semunya. Semoga saja Suaminya tidak tersinggung akan perbuatannya.
"Maafkan saya berkata lancang barusan. Mari makan bersama dan maaf sekali lagi atas ke tidak sopan nan saya. Sekali lagi maafkan saya, Tuan!"
"Kenapa formal padaku, Queen? Makanlah!"
"Anda orang besar yang menyelamatkan perusahaan kami. Jadi tidak pantas saya berkata non formal."
Stefano mengusap pipi gembil Queenaia penuh perasaan. Biarkan dia gunakan perasaan sampai batas ketentuan. Tidak tahu kapan semua batas waktu berakhir, tetapi Stefano ingin menggunakan waktu tanpa balas dendam.
Queenaia berdesir merasa sentuhan lembut Stefano. Entah kenapa air mata luruh begitu saja mengingat orang ini yang menghancurkan masa depannya. Apa bisa Queenaia mengharap kebahagiaan dari Stefano?
Stefano merengkuh Queenaia erat karena tahu pikiran gadis kecilnya. Semua akan baik-baik saja jika rencana berjalan lancar. Dia akan melindungi Istrinya dari musuh walau nyawa taruhannya. Hanya Stefano yang boleh menyakiti Queenaia tanpa perasaan.
Queenaia ingin menolak tetapi tidak mampu. Sungguh pelukan Stefano begitu hangat dan mendebarkan. Bau maskulin ini begitu meneduhkan sampai ia lupa pria ini adalah komisaris Demetrius.
"Kita makan, setelah itu kembali menyambut tamu."
Stefano makan dengan tenang begitu pun dengan Queenaia. Mereka makan satu piring, satu sendok dan segelas bersama. Makanan habis tanpa sisa lalu mereka saling menatap.
"Kamu sangat lapar, Queen?"
"Kak Stef yang lapar jangan asal tuduh karena semua habis di makan, kak Stef."
Stefano tersenyum mendengar rajukan Queenaia. Gadisnya kembali ceria walau tidak tahu sampai kapan Queenaia mempertahankan keceriaan itu. Semoga saja sinar kebahagiaan itu terus ada agar Stefano mampu berjuang.
"Baiklah, aku yang kelaparan."
"Itu baru benar, ugh kenyang sekali."
Stefano mengusap noda makanan di bibir Queenaia. Dia tersenyum saat Istrinya terdiam akan tindakan spontan. Apa dia keterlaluan menyentuh bibir Istrinya?
"Kamu Istriku makanya bisa melakukan ini, maaf kurang sopan."
Queenaia menatap Stefano lamat-lamat. Ingin menyelami wajah rupawan orang yang dicintai sekaligus benci. Bodoh, dia begitu bodoh karena kesalahan fatal mencintai orang di depannya.
Stefano tersenyum maklum akan sikap Queenaia. Tetapi, kesakitan yang dia berikan nanti jauh lebih mengerikan.
***
Setelah sehari penuh pesta pernikahan di laksanakan, akhirnya Stefano dan Queenaia bisa istirahat. Mereka sangat lelah menyalami ribuan tamu undangan. Memaksa tersenyum agar terlihat baik-baik saja walau lelah mendominasi
Queenaia ingin mandi, tetapi gaun pengantin ini begitu berat dan susah di lepas. Hingga tubuhnya melayang akibat terangkat. Dia berteriak spontan ketika seseorang menggendongnya tanpa aba-aba.
Stefano ingin memulai awal baru sebelum badai. Dia menggendong Queenaia bak Ratu istimewa. Biarkan dia memberikan ribuan perhatian sebelum ribuan duka membelenggu.
"Kita akan bicara dulu baru mandi."
Queenaia hanya diam saat tubuhnya di rebahkan di ranjang. Apa bicara harus di ranjang dengan posisi intim? Benar adanya, komisaris Demetrius adalah pria berengsek.
Stefano bersandar di headboard setelah merebahkan Queenaia. Dia melirik Istrinya yang terlentang begitu menggoda. Baru Stefano sadari Queenaia begitu menggemaskan akan perawakan mungilnya.
"Duduk!" perintah Stefano.
Queenaia duduk menghadap Stefano. Sejatinya apa yang akan di bicarakan? Dia Tidah tahu harus bagaimana menghadapi malam pertama?
"Kita akan bicara dari hati tanpa ego!" tegas Stefano.
"Maksud Kakak apa? Kita sudah terikat lalu apa yang ingin Kakak katakan?"
"Kamu membenciku, benar?"
Pernyataan Stefano sukses membuat Queenaia terpaku. Entah kenapa air mata luruh deras akan pernyataan Stefano. Tubuhnya bergetar menahan gejolak benci dan cinta.
Stefano menghapus air mata Queenaia sedikit kasar. Entah kenapa sangat sakit sampai rasanya ia ingin marah pada takdir. Semoga saja Istrinya bertahan dalam rumah tangga palsu ini.
"...." Queenaia tidak sanggup menjawab dan hanya mampu menangis tersedu.
"Kamu membenci dan mencintaiku, Queen. Aku sadar kamu sangat membenciku karena merenggut masa depanmu. Lalu cintamu juga sangat besar untukku, maka pilihan terbaik benci aku, Queenaia!"
Stefano ingin semua lurus, biarkan Queenaia melangkah dengan tenang. Jika waktu itu habis maka penderita berlipat akan Stefano berikan.
Queenaia menatap Stefano dalam. Entah kenapa Suaminya mampu membaca pikiran. Apa karena seorang Demetrius Stefano mampu membaca gerak-gerik?
Hingga pada akhirnya Queenaia mengaku bahwa Stefano sangat dicintai. Biarkan ia mengungkapkan perasaan pada pria dewasa di depannya.
"Aku tidak tahu kenapa benci membaur cinta. Aku tidak sanggup menerima kalau orang yang kucintai ternyata sumber kehancuran bagiku. Kenapa harus kamu yang menjadi komisaris Demetrius? Kenapa harus Kakak?"
Stefano menggenggam tangan mungil Queenaia lalu mengecupnya. Dia tidak mampu menjawab karena emosinya begitu mengerikan. Stefano senang Queenaia mengakui perasaannya.
"Benci aku, Queen. Maaf, telah menghancurkan masa depanmu. Lihat mataku, Queen makan kamu akan melihat cinta. Seperti kamu, aku juga sangat mencintaimu dari awal bertemu. Kamu gadis pertama bisa meruntuhkan pertahananku. Aku tidak mempercayai cinta karena selama ini hanya sex, kencan dan menyakiti wanita yang pernah hinggap dalam hidupku. Tetapi, saat bertemu kamu ada semua berubah tatkala cinta menyeruak begitu saja. Bagiku cinta hanya omong kosong, namun semua sirna saat ada kamu. Gadis kecil nakal berani mengusik Stefano Eugene Demetrius. Sekali lagi maaf telah menghancurkan masa depanmu. Jika tahu kamu Putri Weldon mana mau aku merenggut mada depanmu. Sungguh aku tidak tahu apa pun tentang kamu yang sebenarnya Putri Tuan Weldon!"
Ini kata pertama sangat panjang yang pernah terucap di bibir Stefano. Pemuda kutub berubah menjadi pemuda lembut hanya dalam hitungan menit. Tiga kali pertemuan semua berubah menjadi cinta membara.
Queenaia terperangah sekaligus haru mendengar penuturan Stefano. Hatinya menghangat dengan degup jantung bertalu. Kalau begini Queenaia tidak sanggup untuk membenci.
"Aku tidak pernah tahu perasaan kita sama. Aku sangat mencintai dan juga membencimu. Karenamu keluargaku harus menumbalkan masa depanku. Andai aku tahu Demetrius itu kamu pasti aku akan kabur dari altar karena tidak sanggup harus hidup begini. Kak, kenapa kamu mengambil masa depan, Queen? Kenapa harus Queen yang kamu hancurkan? Demetrius memang sangat berkuasa tapi kenapa tidak mau membantu Weldon tanpa imbalan pernikahan? Rasanya sangat kecewa orang sebaik Kakak ternyata seorang pria Iblis penuh tipu muslihat. Mana bisa aku membenci karena cintaku begitu dalam. Aku sangat membencimu karena tega membawa aku terlalu dalam mencintaimu. Kenapa takdir begitu kejam padaku? Kak, seperti kamu yang mencintai dari pandangan pertama. Aku pun juga mencintaimu dari pertama kali bertemu. Ketika mata kita saling menatap untuk pertama kali, aku merasa terkurung tanpa mau keluar. Semua terasa rumit bagi, Queen."
Stefano langsung merengkuh Queenaia erat. Jantungnya terasa sesak dan ngilu lalu jangan lupakan hatinya terasa kebas akibat sakit bak tercabik pisau tumpul. Apa benar Stefano mampu menghancurkan Queenaia? Apa bisa menghancurkan gadis setulus ini?
Queenaia balas merengkuh Stefano erat. Dia menangis histeris dalam dekapan Suaminya. Dadanya begitu sesak sampai tidak mampu menjabarkan.
"Queen, pergilah aku membebaskan kamu. Cinta dan benci akan membelenggu. Sebelum semua terlambat pergilah dan lupakan cintamu!"
Queenaia menegang mendengar perkataan Stefano. Dia tidak akan pergi karena hidupnya sudah terikat dengan Stefano.
"Apa ini? Kenapa Kakak menyuruh Queen pergi setelah merubah status? Aku tidak akan pergi karena keyakinan Ini bulat tentang rasa. Aku sangat mencintaimu dan akan menjalani hidup walau susah."
"Kamu bodoh, Queen!"
"Aku tahu, tetapi Kakak lebih bodoh!"
"Apa alasan kebodohan, ku?"
"Kamu bodoh melepas mangsamu, Tuan Demetrius. Aku tidak menyangka komisaris Demetrius itu bajingan lemah sepertimu!"
"Terima kasih, sanjungannya."
"Lalu sekarang bagaimana?"
"Hidup bersama!"
"Terlihat buruk."
"Hn."
"Katakan sesuatu agar aku tenang."
Stefano menangkup pipi gembil Queenaia. Perlahan tapi pasti bibirnya mendarat di bibir tebal Istrinya. Dengan sayang Stefano mengecup kening Queenaia penuh makna.
"Aku sangat mencintaimu, Queen."
"Aku juga sangat mencintaimu, Kak!"
Stefano dan Queenaia saling merengkuh erat menyelami kehangatan. Biarkan alunan melodi cinta membaur menjadi ikatan rumit. Biarkan Queenaia merasa bahagia walau sementara. Biarkan Stefano merasa menjadi orang yang bisa mencintai walau cinta itu akan menghancurkan dirinya.
sukses
semngt
mksh
keren