Apa jadinya seorang Polisi hebat memiliki mata iblis yang dapat melihat apa saja?. Dengan kekuatan yang ia miliki ia membantu Nakamoto Sakurai dalam menyelesaikan kasus undangan berdarah. Kasus yang sangat mengerikan yang dialami oleh Nakamoto Sakurai.
Namun ada misteri yang tersembunyi dibalik identitas Inuzuka Kira yang memiliki kekuatan mata iblis itu. Nama aslinya siapa?. Apakah ia abadi alias tidak bisa mati?. Dan apa maksud kontrak yang terjalin antara Inuzuka Kira dengan Nakamoto Sakurai?.
"Heh!. Aku ini adalah manusia abadi yang memiliki kekuatan iblis. Akan aku lihat semua yang kalian sembunyikan dariku." Kira berkata dengan penuh percaya diri.
Akan tetapi pada saat itu ia terkena tembakan, Sakurai sangat takut karena dokter mengatakan jika Kira telah meninggal. Jantungnya terkena tembakan?. Saat itu Sakurai ingat sesuatu tentang bagaimana caranya menghidupkan kembali Kira. Hatinya yang bergejolak mencoba melakukannya. Apakah Kira memang manusia abadi setelah ditembak seseorang yang tidak dikenal?. Temukan jawabannya dalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Retto fuaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INGIN MENGETAHUINYA
...***...
Kira on.
Sakurai senpai, kau harus kuat. Aku akan selalu melindungi mu, tidak akan aku biarkan siapapun yang menyakiti mu. Aku pasti akan menemukan dalang dari kasus undangan berdarah. Bertahanlah Sakurai senpai, percayalah!. Bahwa aku adalah orang yang dapat kau percayai di dunia ini.
Kira off.
Sakurai menatap tajam ke arah Kira yang sedang menikmati sarapannya.
"Jangan menatap aku seperti itu senpai." Kira tertawa kecil. "Nanti matamu bisa geser dari tempatnya."
"Mau sampai kapan kau berada di rumah ku?." Ucapnya kesal. "Kau punya rumah sendiri." Lanjutnya. "Jangan menggangguku."
"Ayolah senpai." Kira menghela nafas pelan. "Setelah introgasi kemarin, kau yang merengek padaku."
Blush!.
Wajah Sakurai memerah sempurna mendengar ucapan itu.
"Kau menangis sampai malam, kau mabuk, sehingga aku terpaksa menemanimu sampai kau pingsan."
"Berisik!." Sakurai kesal. "Jangan ungkit masalah itu." Ia menatap tajam Kira. "Aku bunuh kau kira!."
"Hahaha!."
"Jangan tertawa!."
"Baik." Kira menghentikan tawanya. "Setidaknya, sampai besok aku harus tetap berada bersamamu senpai."
"Kenapa begitu?."
"Aku takut, wanita bertopeng itu mengincar mu."
"Wanita bertopeng yang kau gambarkan itu?."
"Benar."
"Rupanya ada sosok lain, yang ikut campur dalam masalah itu." Sakurai menarik nafas dalam-dalam. "Pantas saja dengan kekuatan biasa, aku tidak mampu melakukannya."
"Lawan mu itu iblis, jadi?." Kira tersenyum aneh. "Kau memang sangat membutuhkan diriku senpai."
"Kalau begitu, jangan pernah tinggalkan aku." Kira menatap tajam. "Kau tidak boleh mati, sebelum aku izinkan mati."
"Hahaha!." Kira tertawa keras. "Kau sangat egois sekali sakurai senpai."
"Kau tidak sanggup melakukannya?."
"Akan aku lakukan."
"Bagus kalau begitu."
...***...
Sementara itu.
Sebuah rumah mewah.
Jendral tertinggi dari kepolisian Higashiyama telah menerima laporan hasil interogasi dari Sakurai. Hasilnya cukup mengejutkan, mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang mereka terima?.
"Apakah laporan ini dibuat langsung oleh nakamoto sakurai?." Yamamura Tani menatap laporan itu. "Kau yakin? Dia yang menulis laporan itu?."
"Benar pak, dia yang menuliskan laporan itu." Jawabnya. "Bersama anjingnya kira yang melakukan interogasi, di sebuah ruangan khusus yang mereka minta." Shohei Matsunaga memperlihatkan surat izin. "Meskipun pada awalnya mendapatkan penolakan dari berbagai pihak."
"Dia memang bersungguh-sungguh dalam kasus sepuluh tahun berlalu." Yamamura Tani terkekeh kecil. "Aku tidak menduga, kehadiran inuzuka kira akan memberikan dampak yang baik padanya."
"Apa yang akan bapak lakukan padanya?."
"Besok adakan rapat bersama." Jawabnya. "Kita bahas bersama."
"Baik pak."
"Dia itu." Dalam hati Yamamura Tani mengingat kembali kejadian saat itu.
...***...
Kembali ke masa lalu.
Yamamura Tani melihat ke arah seorang pemuda yang menatap tajam ke arahnya.
"Jangan pernah sentuh sakurai senpai." Suaranya bergetar menahan amarah. "Saat ini jiwanya sedang terguncang, dan kalian?."
Deg!.
Yamamura Tani terkejut melihat hawa kemarahan yang ditunjukkan oleh Kira.
"Tidak akan aku biarkan, kalian berbuat sesuka hati." Kira menatap tajam. "Apalagi kalian berniat memindah sakurai senpai ke tempat pengasingan."
"Aku tidak mengerti apa hubunganmu dengannya." Balas Yamamura Tani. "Tapi itu sudah menjadi keputusan bersama."
"Keputusan bersama? Atau keputusanmu sendiri?." Kira sedikit kesal. "Yang menginginkan kasus itu tutup?."
Deg!.
"Ops!." Kira tersenyum kecil. "Aku bisa tutup mulut masalah itu." Ucapnya sambil memainkan rambutnya. "Aku tidak akan mencari tahu, kalau kau." Senyumannya terlihat aneh. "Terlibat dalam bisnis wanita malam."
"Ho?." Respon Yamamura Tani. "Sepetinya kau sedikit mengancam aku? Berani sekali."
"Keberanian memang diperlukan." Kira tampak santai. "Untuk membungkam orang-orang yang berkuasa seperti kalian."
Tidak ada jawab dari Yamamura Tani, hanya diam saja?.
"Jangan pikir, aku tidak mengerti apa yang kau sembunyikan."
"Lakukan sesuka hatimu." Yamamura Tani tampak kesal. "Jangan sampai kau merusak suasana hatiku."
"Baik pak." Kira merasa menang. "Anda
Tenang saja, saya tidak akan membocorkan masalah itu pada siapapun." Ia memberi kode menutup mulut.
Kembali ke masa ini.
...***...
Di sisi lain.
Nyonya X dan Naota Rui baru saja selesai melakukan aksi gilanya pada Yukari Rika.
"Lumayan juga." Nyonya X merasa senang. "Tidak buruk juga."
"Nyonya menikmatinya?."
"Tentu saja."
"Apakah nyonya ingin lagi?."
"Untuk saat ini aku mau pulang."
"Kenapa?."
"Besok mungkin ada rapat bersama."
"Terus?."
"Aku tidak mau, anjing sialan itu mengendus bau darah dariku nantinya." Jawabnya dengan nada malas. "Nanti bisa gawat."
"Oh? Nyonya benar." Naota Rui baru menyadarinya. "Kalau begitu? Kita pulang?."
"Gendong aku." Ia terlihat manja. "Rasanya lelah juga tertawa seharian."
"Baik nyonya."
Naota Rui menggendong Nyonya X layaknya seorang putri.
"Kau sangat manis sekali rui-chan." Ia usap wajah Naota Rui. "Jangan pergi dulu, ya?."
"Saya tidak akan pergi, walaupun nyonya mengusir saya."
"Ho? Kau memang manis sekali rui-chan." Hatinya merasa lebih baik dari yang sebelumnya.
...***...
Kediaman Nakamoto Sakurai.
"Senpai."
"Apa?."
"Jangan ketus begitu." Kira tertawa kecil. "Bagaimana kalau kita sedikit mengingat masa sma dulu?."
"Tidak ada gunanya mengingat masa lalu." Sakurai membaringkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari mereka duduk tadi. "Yang aku ingat, kau itu adalah adik kelas yang suka buka berkelahi, dan juga merepotkan."
"Apakah tidak ada kebaikan sedikitpun? Yang kau ingat dariku senpai?."
"Hm." Sakurai mencoba mengingatnya. "Aku rasa tidak ada."
"Oi!."
Sakurai hanya tersenyum kecil saja melihat Kira kesal.
"Walaupun kau ganas, kau masih memiliki perasaan baik pada cewek." Sakurai merasa ngantuk. "Teman sekelas mu yang berkata demikian."
"Oh? Ada ternyata."
Kembali ke masa itu.
Saat pelajaran olahraga kelas 3B dan kelas 1C bergabung, kebetulan memiliki jadwal yang sama. Pertandingan basket yang cukup menegangkan untuk disaksikan.
"Kira sangat kerena sekali ya."
"Tapi aku dengar dia suka berantem."
"Eh? Keren juga tu."
"Keren apanya?."
Mereka tertawa geli mendengar ucapan itu, sedangkan Sakurai yang tidak sengaja mendengar ucapan mereka?. Hanya menyimak saja.
"Tapi? Walaupun katanya inuzuka suka berantem? Tapi dia sangat baik pada cewek loh."
"Ah! Benar juga." Responnya. "Teman cewek sekelas kita waktu itu diganggu oleh beberapa siswa dari kelas sebelah." Ia mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. "Hanya kira saja yang berani melawan."
"Saat itu aku sangat takut sekali." Ia terlihat cemberut. "Andai saja kira tidak ada saat itu? Bisa saja kita trauma masuk sekolah."
"Aku rasa kau benar."
"Ho?." Dalam hati Sakurai. "Dia memiliki pandangan baik juga." Ia hanya tersenyum kecil.
Kembali ke masa ini.
"Sakurai senpai."
"Hm?." Sakurai membetulkan posisi tidurnya, agar tidak jatuh dari sofa.
"Coba tatap mataku senpai sebentar."
"Untuk apa?."
"Mungkin saja aku bisa melihat orang-orang yang mencurigakan." Jawabnya. "Sebelum kejadian itu."
"Besok saja."
"Eh?."
"Aku sangat ngantuk sekali."
"Baiklah." Kira tersenyum kecil. "Kalau begitu istirahatlah." Kira mendekati Sakurai. "Besok kita akan menghadapi masalah yang cukup besar."
"Pasti mereka tidak akan percaya, dengan apa yang telah aku tulis di sana."
"Jangan dipikirkan." Kira duduk di lantai, menyandarkan tubuhnya dekat sofa. "Mereka hanya belum terbiasa saja." Ia mengepal kuat tangannya. "Kita tidak akan menyerah begitu saja."
"Kau benar kira." Sakurai benar-benar merasa kantuk yang tidak biasa.
"Selamat malam senpai, semoga mimpi indah."
Tidak ada respon dari Sakurai, ia telah masuk ke alam mimpi?. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Apakah mereka mampu menyelesaikan masalah yang cukup rumit?. Temukan jawabannya.
...***...
sama sama pemalas dan makan gaji buta🤣😤
punya kasus kok malas malas an/Facepalm/