Sekuel of "Young Mother"
Note : Banyak adegan 18+ dan adegan berbahaya jadi jangan di tiru ya. And jangan pernah menebar kebencian di lapak ini. JIKA TIDAK SUKA SKIP SAJA!!!
Kenangan dimasa lalunya membuat seorang Alsheyres Devra Rodriguez menjadi sosok pemuda yang dendam akan segala sesuatu yang mengusik dirinya terutama keluarganya.
Hingga suatu kejadian membuat dirinya benar-benar murka dan hampir saja membunuh seorang perempuan yang hampir membunuhnya. Ia bringas, kejam dan berdarah dingin karena dibalik kesuksesannya di dunia bisnis ada dunia hitam disana. Ya, dia adalah ketua mafia yang tidak bisa melukai seorang perempuan karena kejadian di masa lalunya yang membuat dirinya tak bisa melakukan hal itu.
**********
"Jangan coba-coba melukai saya. Jika kamu tidak mau melihat kemurkaan saya!" Suara berat nan penuh penekanan itu membuat seorang perempuan yang hampir saja melayangkan pisau kearah Alsheyres terhenti saat laki-laki itu dengan berani menggenggam benda tajam itu. Tak peduli jika darah sudah menetes dari telapak tangannya.
Sedangkan seseorang yang lagi-lagi berniat membunuhnya itu hanya bisa diam tak berkutik di tempat.
**********
"Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku." Suara yang dulunya memancarkan aura mematikan, kini dia justru terlihat seperti anak kecil yang tak mau ditinggal oleh ibunya. Dan itu semua di sebabkan seorang perempuan.
Kira-kira perempuan di masa lalunya atau justru perempuan baru yang bisa menyembuhkan luka seorang King Mafia? Dan bagaimana dengan nasib perempuan yang selalu berniat membunuh Alsheyres? Apa dia mati atau justru dialah yang berhasil menyembuhkan luka itu? Dan bagaimana kisah selanjutnya? Penasaran? baca saja kisahnya hanya di "The Dark Love."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08. Mencoba Kabur
Digo yang melihat perempuan itu kini memeringsut takut pun ia kini menampilkan senyum menyeramkan sebelum wajahnya kini ia dekatkan kesamping kepala Sheilla.
"Itu peringatan untuk kamu. Saya tidak pernah main-main dengan ancaman saya nona Arsheilla Anastasya," bisik Digo tepat di samping telinga Sheilla yang membuat Sheilla kini membuka matanya lebar.
"Saya beri waktu sampai besok pagi. Jika kamu tidak memberitahu siapa orang yang ada dibelakangmu, maka saya akan mencari tahu sendiri. Dan jika saya sudah menemukan dia, jangan harap nyawa kamu lepas dari genggaman saya. Dan satu lagi, saya juga tidak akan segan-segan melenyapkan keluarga kamu. Menghancurkan masa depan adik kamu, merusak dia hingga menjadikan dirinya depresi berat dan berakhir dia akan bunuh diri. Saya juga yakin jika nenek kamu akan merasa sedih dan berakhir sakit-sakitan dan akan meninggal setelahnya," ujar Digo yang membuat Sheilla lagi-lagi mengepalkan tangannya.
"Camkan kata-kata saya tadi nona Arsheilla Anastasya. Dan pikirkan baik-baik, jangan sampai anda menyesal di kemudian hari," sambung Digo dengan memberikan tepukan kecil di pipi kiri Sheilla lalu setelahnya ia bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Digo sialan!" umpat Sheilla saat pintu ruangan tersebut tertutup rapat.
"Arkkhhhhhhh, aku gak boleh lama-lama disini. Jika aku masih mau nyawaku dan juga masih ingin melindungi keluargaku. Aku harus mencari cara untuk keluar dari sini sekarang juga," gumamnya sembari melirik ke sembarang arah. Hingga matanya tertuju ke pintu balkon di kamar tersebut.
Ia tersenyum, seperti ia tengah mendapatkan secercah cahaya kecil dari dalam kegelapan. Dan ia tak ingin membuang-buang waktu lagi, ia perlahan menurunkan kakinya yang masih terasa teramat sakit namun ia harus paksakan untuk berdiri jika ia mau segera keluar dari rumah terkutuk tersebut. Dan dengan ringisan menahan sakit yang luar biasa, Sheilla kini berhasil berdiri tegak.
"Ayo Sheilla, kamu pasti bisa," gumamnya untuk menyemangati dirinya sendiri. Perlahan namun pasti ia melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar tersebut untuk mengunci pintu tersebut agar dua maid yang ia yakini di tugaskan untuk menjaganya nanti tak akan menggagalkan rencananya. Dan untungnya kunci kamar tersebut kini tergantung di lubang kunci pada pintu tersebut.
Sheilla yang telah sampai dihadapan pintu tersebut bergegas untuk menguncinya dengan gerakan cepat dan setelah ia memeriksa jika pintu itu benar-benar sudah tidak bisa ia bukan, Sheilla memutar tubuhnya dan tujuan keduanya kini kearah balkon kamar tersebut.
"Astaga, tinggi banget," ucapnya saat dirinya telah berdiri di atas balkon dan melihat jarak balok tersebut dengan tanah.
"Bagaimana aku bisa kabur kalau begini. Aku kira, aku tadi di kamar lantai satu tapi ternyata di lantai dua. Terus aku harus bagaimana biar bisa kabur dari sini. Oh tuhan. Come on Sheilla, kamu pasti punya ide cemerlang," ujarnya dengan mengetuk-ngetuk kepalanya hingga beberapa saat setelahnya, sebuah ide muncul di otak cantiknya itu yang membuat dirinya kini melebarkan senyumannya.
Dan setelah itu ia kini berjalan kembali kedalam kamar tersebut untuk melepas seprei yang melekat di atas kasur. Saat tangannya disibukkan dengan aktivitasnya saat ini, matanya tak sengaja melirik kearah bekas tembakan yang ada di sandaran ranjang. Bahkan ia bisa melihat peluru dari pistol yang dibawa Digo tadi menancap di sandaran ranjang tersebut yang membuat dirinya kini bergidik ngeri. Walaupun sebenarnya ini bukan pertama kali untuk dirinya, tapi lawannya dulu benar-benar berbeda dengan lawannya saat ini. Jika lawannya yang lain ia anggap sebagai singa maka Digo ia anggap sebagai raja singa. Ia tak bisa meremehkan lawannya saat ini yang benar-benar sangat berat ia tangani.
Sheilla kini telah selesai menghubungkan beberapa seprei juga selimut yang ia temukan juga di dalam lemari di kamar tersebut. Dan setelahnya ia kini berjalan kembali kearah balkon.
Ia melirik ke arah bawah, memastikan jika tidak ada seseorang yang melihat dirinya. Dan setelah memastikan semuanya aman, ia kini mengikat ujung seprei tadi di besi pembatas balkon dan sebagiannya lagi ia julurkan ke bawah. Dan saat dirinya mulai ingin turun ke bawah bahkan tubuhnya kini sudah naik keatas pembatas balkon, suara ketukan pintu kamar terdengar bersama dengan suara seorang perempuan yang ia yakini itu adalah maid yang ditugaskan menjaganya tadi.
"Nona. Apa nona masih didalam? Nona baik-baik saja bukan? ini kenapa pintunya di kunci?" teriak maid tadi.
Tok tok tok!!!
Lagi-lagi suara ketukan itu kembali terdengar.
"Nona, buka pintunya!" teriakan itu membuat jantung Sheilla berdebar. Jangan sampai rencananya kali ini gagal.
"Saya baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin istirahat saja untuk saat ini. Jadi saya mohon kalian jangan mengganggu saya dulu!" teriak Sheilla berharap mereka tak curiga dengan dirinya.
"Baiklah kalau begitu. Kita meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan nona. Silahkan istirahat nona," ujar maid tadi. Lalu setelahnya ia tak lagi mendengar ketukan juga suara dari maid tadi, Sheilla kini menghela nafas lega sebelum ia kini melanjutkan rencananya tadi. Dengan perlahan namun pasti ia mulai memindahkan tubuhnya untuk bergelayut di selimut yang akan membantunya turun dari lantai tersebut.
Ia terus fokus dengan apa yang tengah ia lakukan saat ini hingga suara seseorang yang sangat familiar masuk kedalam indra pendengarannya.
"Cari mati," ujar orang tersebut yang membuat Sheilla menghentikan gerakannya lalu pandangannya ia alihkan kearah sumber suara yang berasal dari bawah sana. Dan saat matanya sudah melihat ke bawah dan menemukan seseorang tengah menatapnya tajam, ia langsung menampilkan deretan gigi rapinya.
"Mau turun atau kembali naik?" ucapan tegas dari Digo membuat dirinya tetap stay di posisinya saat ini. Jika ia ingin turun kebawah sudah dipastikan ia akan langsung menjadi santapan raja singa. Tapi jika ia kembali ke atas, sama saja dia juga akan kembali terkurung di rumah itu.
"Nona Arsheilla Anastasya!" sentakan dari Digo membuat Sheilla yang tadinya terbengong kini kembali tersadar.
"Aku tidak mau keduanya. Aku akan tetap disini," ujar Sheilla yang tak memiliki pilihan lain selain bergelantungan di posisinya saat ini.
"Oh begitu. Baiklah saya ingin melihat seberapa lama kamu bisa bertahan di atas sana," tutur Digo. Dan setelah mengucapkan hal tersebut, Digo memberikan sebuah kode kepada anak buahnya. Hingga tak berselang lama, anak buahnya yang ia berikan kode tadi menghampiri dirinya dengan kursi lipat ditangannya.
Sheilla yang melihat hal tersebut pun ia membelalakkan matanya tak percaya. Apalagi setelah ia melihat Digo dengan santainya duduk di kursi lipat yang dibawakan oleh anak buahnya tadi. Tak lupa salah satu anak buahnya kini berdiri disampingnya untuk memayungi tubuh Digo agar terhindar dari cahaya matahari yang pagi ini tampak bersinar terang.
"Sialan," umpat Sheilla saat melihat senyum miring dari Digo. Senyum yang benar-benar sangat menyebalkan baginya.