CEO GILA, begitu julukannya. Karena usianya yang 27 tahun dan belum menikah tapi super duper galak garang, suka memaki sembarang dengan kata-kata toxic nyelekit.
Namanya Andre Wiguna Dharma, seorang CEO Perusahaan Keramik Asia Tile.
Kehidupan yang menurutnya penuh kepalsuan jauh dari cinta tulus, membuatnya tidak percaya pada cinta. Ditambah lagi dia pernah mencinta seorang gadis di usia 17 tahun, tapi ternyata kandas sebelum kapal berlayar. Membuatnya hanya menganggap cinta seperti permainan.
Hingga suatu ketika, ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang ternyata telah menikah. Dan ternyata suami Naysila adalah seorang office boy di perusahaan besarnya.
Akankah permainan cintanya berhasil kali ini?
Atau... Andre harus gigit jari karena Naysila lebih memilih Rendra sebagai cinta sejatinya?
Ataukah Tuhan akan memberinya jalan agar Naysila menjadi Takdirnya di masa depan?
Mari kita ikuti kisah Sang CEO GILA : Mencintai Istri
🙏🙏🙏Mohon dukungannya, please🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 (Shernita : Ibu Tiri Yang Kejam)
Mereka semua sudah dalam keadaan mabuk di pukul satu malam.
Seorang pria muda berusia dua puluh satu menjadi mainan untuk memuaskan sepuluh orang wanita dewasa yang haus belaian dan kasih sayang.
Pria itu adalah berond*ng arisan yang biasa mereka lakukan tiga bulan sekali sebagai subjek observasi mereka dalam bercint*.
Uang arisan senilai tiga puluh juta tidak menjadi kendala bagi para Nyonya tak berhati itu demi memuaskan hasr*t mereka.
Dan berondong itu pun melakukannya dengan senang hati pula karena imbalan yang didapatnya pun nominal uangnya lumayan menjanjikan. Bisa membeli sebuah sepeda motor NMAX.
Ditambah lagi, para Nyonya itu usianya masih dibawah lima puluh tahun juga. Masih lumayan bagus onderdilnya. Jadi secara tidak langsung, mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.
Lagipula, berondong itu tidak harus melayani semuanya sekaligus. Tetapi bergil*r melakukan dengan jeda sehari dan ditentukan di tempat yang sang Nyonya inginkan. Dengan gaya dan style para Nyonya Besar itu.
Cukup balance barter yang mereka sepakati. Begitu fikir semuanya.
"Hahaha... Sher! Kocokan selanjutnya adalah giliran kamu yang cari tumbalnya ya?" kata Nyonya Dilla, istri pejabat yang jadi bandar arisan tersebut.
"Ya ampun, Sis! Aku cari berondong dimana? Aku terima jadi aja deh, ga papa kena pinalty juga. Please, Sis!"
"Eit, semua ngelakuin itu lho! Ya emang begitu khan peraturannya. Siapa yang menang arisan kloter selanjutnya ya harus cari tumb*l berond*ng berikutnya."
"Aku ga kenal banyak orang diluaran!" tukas Shernita yang langsung disoraki teman-teman sosialitanya.
"Ish, bohong banget tuh! Kamu itu khan model terkenal di zamannya. Banyak komunitas pastinya!" tutur Nyonya Yuli, istri dari pengusaha emas tak percaya.
"Itu dulu, Madam! Ketika usiaku masih dua puluh limaan. Sejak aku menikah dengan Mas Jaya, hidupku serba dipantau dia. Circle pergaulanku hanya itu-itu saja! Belum lagi aku dituntut jaga image dia. Hhh..."
"Sama lah, aku juga!" celoteh Nyonya Tiara, istri dari anggota Dewan Terhormat.
Mereka tertawa-tawa dalam keadaan fly. Mabuk tingkat tinggi setelah berbincang ngalor ngidul ditemani minum berondong yang agak pecicilan.
Hingga satu persatu dari mereka memutuskan pulang kandang dengan kendaraan pribadi masing-masing.
Sungguh kehidupan yang sangat jauh dari moralitas.
...○○○○○...
Shernita pulang pukul tiga dini hari, dengan jalan yang sempoyongan.
Malam ini ia pulang setelah mereguk kenikmatan sebagai pemenang arisan dan berhak menikmati berondongnya paling pertama.
Benar-benar istri pengusaha yang luar biasa. Sangat hebat mengatur kehidupan malamnya ditengah loyalitasnya menunjukkan bakti cinta serta tanggung jawab sebagai seorang istri dari Tuan Jaya Wiguna yang jelas-jelas telah ia bodohi selama ini.
Ia juga diantar oleh sang berondong sampai depan gerbang rumah besarnya. Sementara pria muda itu pergi setelah menyerahkan kunci mobilnya.
Dung dung dung
"Wartiii!!! Wartiii..., bukaaa!!!"
Seperti biasa, begitulah kelakuan Nyonya Shernita bila pulang dari perkumpulannya setiap tiga bulan sekali. Mabuk parah sampai buat keributan dipagi buta.
Dan sang ART yang masih terkantuk-kantuk membukakan pintu pagar rumahnya dengan legowo mendengarkan sumpah serapah pedas Shernita yang tidak pada tempatnya itu.
"Hei, gue itu gaji elo buat nurut kerja sama gue!!! Lo lama banget sih, bukain pintu gerbang doang! Kerja lo cuma makan tidur, makan tidur, Warti! Lama-lama lo gue pecat tanpa pesangon, lo!!!"
Shernita meracau.
Ocehannya itu sudah jadi lalapan Warti setiap kali sang Nyonya pulang pagi dengan keadaan mabuk seperti ini.
Hanya diam tak berani menjawab, karena keesokan harinya Warti tahu sikap sang Nyonya akan berubah 180 derajat.
Warti akan mendapatkan uang bonus sebagai sogokan tutup mulut pada sang Tuan atas kelakuan buruknya semalam.
Begitulah Shernita Wiguna.
Andre telah tahu kelakuan bejat sang ibu tiri. Ia tak peduli dan tak ingin mengadukan kelakuan minusnya pada sang Papa.
Karena tetap ujung-ujungnya ia hanya akan sakit hati serta harus menelan pil pahit kata-kata balasan dari Papanya yang selalu membela Shernita dibanding mendengarkan keluhannya.
Andre yang terbangun mendengar suara teriakan Shernita hanyalah membuka tirai jendela kamarnya dari lantai dua.
Memperhatikan dalam diam, tingkah laku Mama Tiri yang hidup bersamanya selama tiga belas tahun itu.
Andre keluar kamar.
Ia turun ke lantai bawah, niatnya menuju dapur dan membuka kulkas besar tiga pintu tak jauh dari kamar utama.
"Hei, bocah sial*n! Kau rupanya belum tidur! Kau pasti sedang memata-mataiku ya? Hahaha... percuma, monyet cilik! Kau tak kan pernah berhasil! Hihihi... Aku lebih pintar darimu pastinya!"
Andre tak menghiraukan ocehan Shernita yang terkesan memprovokatornya.
"Hei, sial...! Anak gak tau diuntung! (Bruk!) Aduh!!!"
Sukurin!!!
Shernita jatuh terjelembab karena highheelnya patah satu hak-nya.
Andre hanya menoleh sekilas. Ia kembali melanjutkan langkahnya hendak naik ke atas anak tangga.
Tapi tiba-tiba,...
Grep
Shernita menarik kaos oblong yang dikenakan Andre dan berkata ditelinga kiri anak tirinya itu.
"Monyet kecil! Lo semakin kurang ajar sama gue ya? Gue bakalan bikin lo angkat kaki segera dari rumah ini!"
Andre terkejut mendapati tubuh Shernita yang nemplok dipunggungnya bagaikan seonggok karung beras, hingga dua gunung kemb*r milik ibu tirinya itu sangat terasa ukurannya.
"Ish!!!"
Hampir Andre menjotos wajah Shernita, saking sebalnya. Namun melihat wajah sang ibu tiri yang tepat di matanya dalam keadaan mabuk parah, Andre akhirnya hanya mendengus dan mendorong wanita itu ke arah pintu kamar Papanya.
Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Karena percuma. Hanya akan buang-buang energi positifnya saja.
Shernita masuk kamarnya, Andre pun melanjutkan langkahnya juga ke lantai atas.
Kamarnya dan kamar Daniel memang ada di lantai dua. Sementara kamar utama pemilik rumah ada di lantai dasar.
Sehingga ia cukup aman dan jauh dari jangkauan mata Jaya dan Shernita.
Andre hanya bisa menoleh ke arah Warti, ART keluarganya yang sudah bekerja hampir enam tahun itu.
Rupanya Warti melihat mereka sedari tadi.
Warti memang salah satu saksi bisu perang dingin antara Shernita versus Andre selama ia bekerja di rumah itu.
Dan ia sama sekali tak pernah membuka suaranya mengadukan pada Tuan Besarnya perihal kejadian demi kejadian di rumah tempatnya bekerja.
Bagi Warti yang hanya pulang kampung setahun dua kali itu, uang gajinya jauh lebih berarti daripada ikut campur dalam urusan rumah tangga sang majikan.
Cukup baginya bekerja dengan baik dan gaji yang lancar untuk dikiriminya setiap bulan ke kampung demi biaya hidup dan sekolah ketiga anaknya yang ditinggal kabur suaminya entah kemana tujuh tahun lalu.
Begitulah kehidupan.
Ada yang senang, berfoya-foya. Namun tak sedikit orang bekerja keras banting tulang demi menafkahi orang-orang yang disayangi.
Kerasnya hidup beragam dimata sebagian orang.
...BERSAMBUNG...