Demi keluarganya dia rela menanggalkan gelar yang diraihnya hingga dia larut dalam statusnya sebagai ibu rumah tangga dengan segala kesibukan mengurus rumah dan dua anak balitanya.
Sampai pada akhirnya pengkhianatan suami dan hinaan yang tiada henti dari mertuanya menyadarkan dia untuk bangkit dan merubah dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thatya0316, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Semakin menjadi
Hari-hari pun terus berlalu, selama satu minggu setelah malam itu, Apandi selalu pulang tepat waktu. Dia pun mulai kembali mengajak mengobrol pada Amanda dan memberikan nafkah batin seorang suami pada istrinya.
Amanda mau menerima permintaan maaf Apandi, karena dia teringat dengan ucapan Pak Ustadz, kalau ada seseorang yang menginginkan perpisahannya dengan Apandi sehingga orang itu mengambil jalan halus.
Namun, setelah lewat dari satu minggu, Apandi mulai kembali cuek dan sering pulang malam bahkan setelah dia pulang, terkadang dia keluar lagi dengan alasan pekerjaan.
Seperti hari ini, saat Amanda bertanya, mau ke mana suaminya pergi, dia malah mendapatkan kata-kata yang menusuk hati dari Apandi.
"Mas, sudah jam delapan. Memangnya mau ke mana malam-malam begini?" tanya Amanda seraya terus memperhatikan suaminya yang sedang berdandan di depan cermin.
"Aku ke kondangan dulu, sudah janjian sama teman kantor," Bohong Apandi.
"Gak kemalaman jam segini mau berangkat? Kenapa tidak tadi siang saja?" Amanda merasa aneh dengan gelagat suaminya.
"Kamu tuh selalu curigaan terus sama suami, seperti kurang kerjaan saja. Daripada kamu berlagak seperti detektif, lebih baik kamu kerjakan pekerjaan rumah agar rumah selalu terlihat rapi. Lihat di keranjang! Baju yang belum di gosok sampai menggunung begitu," tunjuk Apandi.
"Perut aku lagi kram, Mas! Kalau dibawa duduk, gosok baju terasa sakit," keluh Amanda. Memang, semenjak Amanda melahirkan anak yang kedua dia sering kram perut bagian bawahnya.
"Halah, kamu mah manja. Sakit segitu aja gak mau ngapa-ngapain," cibir Apandi.
Amanda hanya terdiam, tidak ingin menjawab ucapan suaminya karena dia tidak mau terjadi percekcokan lagi di antara mereka. Apalagi sedari tadi dia sebenarnya sedang menahan rasa sakit.
Aku semakin tidak mengenalimu, Mas! Semakin ke sini, kamu sering sekali bicara yang menyakitkan hatiku. Apa aku sudah tidak berarti lagi buatmu? batin Amanda.
***
Siang berubah jadi malam, malam pun sudah berganti dengan pagi. Setiap hari Amanda hanya berkutat dengan pekerjaannya mengurus rumah dan anaknya.
Sudah menjadi kebiasaan Amanda, setiap selesai sholat subuh dia belanja sayur untuk sarapan pagi. Meskipun di rumah ada kulkas, tapi dia lebih suka sayur yang terlihat segar untuk di masak, sehingga jarang menyimpan sayur lama-lama di lemari es itu.
Namun ternyata, saat dia pergi untuk membeli sayur, Azka bangun dari tidurnya sehingga mengganggu Apandi yang masi terlelap.
"Manda, Manda!!!" teriak Apandi memanggil istrinya. Namun dia tidak mendapatkan sahutan apapun, sedangkan Azka menangis semakin kencang karena tidak bisa menemukan bundanya.
"Ke mana lagi tuh orang? Masih pagi sudah kelayapan , bukannya mengurus anak," gerutu Apandi.
"Huaa ... undanya iyang, undanya iyang (Bundanya hilang, bundanya hilang)." Tangis Azka semakin kencang.
"Diam, Dek! Jangan menangis terus, nanti bunda juga pulang," sentak Apandi. Bukannya berhenti, Azka malah menangis semakin kencang.
Tidak lama kemudian, Amanda kembali dengan membawa tentengan di tangannya berisi makanan untuk sarapan pagi keluarganya. Dia sedikit berlari saat dari jauh terdengar suara Azka yang menangis.
"Ke mana saja kamu, Manda? Beli sayur segitu saja sampai seharian. Besok-besok kalau belanja bawa Azka sekalian! Ganggu tidurku saja," geram Apandi. Dia sangat kesal karena tidurnya yang baru tiga jam terganggu.
Salah sendiri pulang pagi! Lagian sudah waktunya sholat subuh malah tidur terus, gerutu Amanda dalam hati.
"Tadi ngantri, Mas! Kalau pagi-pagi suka rebutan gorengan," elak Amanda.
"Halah, kamu tuh kebanyakan alasan. Sudah jangan berisik, aku mau tidur lagi!" Bentak Apandi.
Amanda hanya mengusap dada dan membaca istighfar melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin menjadi
Kalau tidak ingat dengan anak-anak, rasanya aku ingin menyerah menjadi istrimu, Mas. Setiap hari kamu keluar malam entah mau ke mana. Tiap kali aku tanya, kamus malah memarahiku. Apa di mata kamu, aku terlihat sangat buruk dan tidak berarti apapun? Apa cintamu yang dulu sudah hilang?
Amanda terus bergelut dengan pikirannya serasa mempersiapkan bahan untuk dimasak. Tanpa terasa darah sudah bercucuran di jarinya.
"Unda, dayah dayah ( Bunda, darah darah)!" tunjuk Azka yang sedang digendong di belakang oleh Amanda.
Amanda langsung terkaget saat melihat telunjuk terkena pisau. Dia pun segera mencuci tangan kemudian mengobatinya.
***
Langit sudah terlihat gelap, matahari pun tak terlihat lagi. Hanya menanti sang rembulan keluar dari peraduannya. Namun, sepertinya malam ini rembulan pun tampak malu-malu sehingga bersembunyi di balik awan hitam.
Apandi yang baru datang saat tadi menjelang Magrib, kini dia sudah bersiap untuk pergi lagi. Ingin rasanya Amanda melarang suaminya untuk keluar rumah saat malam hari. Namun, sudah pasti akan berujung pertengkaran.
Tanpa berpamitan pada Amanda, Apandi pun pergi meninggalkan anak dan istrinya di rumah. Namun, tak berselang lama setelah kepergian Apandi, Azka tiba-tiba muntah di kasur saat dia mendadak terbangun dari tidurnya. Amanda yang baru saja akan tidur pun langsung terkaget dan membersihkan bekas muntahan yang memenuhi seprai. Ibu dari dua orang anak itu langsung mencari kotak P3K untuk mencari obat.
Meskipun sudah diberi obat dan dilulur ramuan tradisional, Azka masih saja terus memuntahkan semua makanan yang tadi sore dimakannya sehingga Amanda menjadi panik karena Azka muntah terus tanpa berhenti.
Merasa khawatir dengan keadaan putra bungsunya, Amanda pun segera menggendong Azka dan membawanya ke rumah sakit. Namun terlebih dahulu, Amanda menitipkan Kia pada tetangganya.
"Assalamu'alaikum, Bude!"
"Wa'alaikumsalam," ucap Bude Marni dari dalam.
"Bude, titip Kia sampai ayahnya pulang, soalnya aku mau ke rumah sakit. Azka muntah terus tidak berhenti," terang Amanda
"Kia sini main sama Bude saja, Bundanya mau bawa Ade ke dokter dulu," ajak Marni pada Kia yang masih belum sadar seratus persen karena tadi mendadak dibangunkan oleh Amanda. "Berangkat dengan siapa, Manda?"
"Aku sudah pesan grab car, Masa Pandi sedang keluar tidak bisa dihubungi." Amanda menunduk sedih, apalagi melihat putranya yang sudah terkulai lemas.
"Kalau pakde ada bisa minta antar dia, tapi pakde masuk malam. Sabar ya Manda, Bude perhatikan suamimu sering sekali tidak ada di rumah. Apa dia punya istri lagi?" tanya Marni
"Aku gak tahu Bude, mungkin juga iya tapi dia bilangnya masalah pekerjaan," jelas Amanda.
"Godaan lelaki yang memiliki harta dan tahta tentu saja wanita. Kita sebagai istri tidak boleh tinggal diam dan hanya pasrah saja tapi harus bisa mempertahankan apa yang sudah jadi milik kita." Marni menasehati Amanda yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
"Iya Bude, itu mobilnya sudah datang. Manda pergi dulu, tolong bilang ke Mas Pandi kalau nanti pulang ya Bude!" Setelah berpamitan dengan Marni, Amanda pun langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dipesannya melalui aplikasi.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Dengan klik like comment vote rate gift dan favorite....
...Terima kasih!...