Seorang gadis yatim piatu tinggal dengan neneknya, bertemu dengan CEO tampan. Pertemuan yang tak di sengaja membuat mereka mereka terikat di sebuah pernikahan.
"Tuan Alex yang terhormat, jangan coba-coba menyentuhku atau kau harus ganti rugi." jari telunjuk Arie menegak tepat di wajah Alex, Arie merasa itu akal akalan Alex agar bisa menyentuhnya.
"Cih.. kau bahkan bukan levelku."
Alex menatap tak kalah mengintimidasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggal pernikahan
Sebuah mobil melaju membelah malam yang dingin keheningan tercipta di dalamnya, sepasang manusia di dalam besi berjalan itu tengelam dalam pikirannya masing-masing.
" Tuan... bolehkah saya meminta uang 500 ribu" ucap Arie gugup,terus tertunduk.
Alex memandang Arie sejenak, menghela nafas panjang.
benar benar mata duitan belum apa apa sudah minta uang batin Alex," tentu akan ku potong nanti dari harga mu"
" Terima kasih " Arie tersenyum kecut ,Alex terus saja mengingat kan dia soal harga dirinya, tidakkah dia sedikit terenyuh dengan janji yang di ucapkan di hadapan kakeknya tadi.
" dimana rumahmu kenapa jalanan nya seperti ini " selorohnya melihat jalan dengan aspal yang rusak.
" apa tuan tidak ingat disinilah tuan pernah menabrak saya "
Alex pun terdiam mengenang pertemuan pertama nya dengan wanita yang kini menjadi calon istrinya.
" tuan berhenti di depan saya akan turun di sana "
" ok " Alex menghentikan mobil di depan sebuah gang kecil yang hanya bisa di lewati pejalan kaki.
" tuan tunggu di sini saja saya akan segera kembali, " ujar Arie sambil membuka pintu mobil.
" tidak , aku akan ikut denganmu" Bukan apa apa Alex hanya tidak mau mendapatkan murka Kakeknya bila sampai terjadi sesuatu dengan gadis itu.
mereka pun berjalan di gang sempit menuju rumah Arie, Alex tertegun melihat dimana Arie menghentikan langkahnya, gadis itu sibuk membuka gembok pintu rumahnya, sedangkan Alex terus memperhatikan bangunan usang yang baginya tak layak di sebut rumah ini.
" silahkan masuk tuan " setelah membuka pintu Arie mempersilahkan Alex masuk kedalam gubuknya.
dengan kikuk Alex mengikuti Arie tak kalah terkejutnya saat ia melihat keadaan dalam ruangan itu,tak ada satupun barang yang layak baginya, bahkan tak ada satu kursi pun untuk dia duduk, melihat Alex yang tengah mencari sesuatu Arie segera mendekatinya.
" Tuan bisa duduk di tempat di ranjang itu jika tuan mau "
Alex hanya mengangguk dan duduk di kasur yang sudah keras, sambil memperhatikan Arie yang kembali dari balik ruangan lain menenteng sebuah kantong plastik.
" sudah tuan ayo Kita Pergi"
" apa hanya itu barang barang mu "
" iya hanya ini"
" baiklah ayo cepat aku juga sudah tak tahan lama lama di sini "
Arie tersenyum kecut mendengar perkataan Alex, lagi lagi kata katanya begitu jelas melukai hatinya, tentu saja seorang CEO sebuah perusahaan besar mana mungkin pernah ke tempat kumuh seperti rumah nya.
" tapi sebelum pulang, uangnya nama" Arie menyodorkan tangannya .
" CK... " Alex segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembar uang pada Arie.
" tuan tunggu di Sini dulu ,saya tida akan lama, " Arie kembali menutup pintu dan menguncinya, setelah itu dia berlari kecil ke arah sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berada.
tok... tok..tok...
" mba sum, ... mba sum " beberapa kali Arie sudah mengetuk pintu rumah yang sudah gelap itu,tak lama lampu di ruang tamu menyala
, seorang wanita dengan. wajah yang nampak mengantuk muncul dari balik pintu.
" iya... ya ampun Arie garai aku kaget ae Rie , onok opo bengi bengi, trus awakmu kenek opo kok koyo ngene" kantuk mba sum langsung hilang melihat sosok di depannya dengan keadaannya yang awut awutan.
" ga Popo mba sum, aku mau Tibo," kilah Arie.
" Iki mba kunci umah trus Iki duit dewan winginanne, sepurane mba ya aku telat bayar" imbuh Arie.
" ga Popo Rie, lha awakmu arep Nang di Saiki kok kunci e di balik no Nang aku "
" aku kerja mba , Iko wes di enteni juragan ku " ujar Arie sambil menunjuk sosok laki-laki yang berdiri di depan kontrakannya.
" Oalah.. ya wes, Ati ati ya nduk," mba sum memeluk Arie erat, bagaimana pun. iya juga menyayangi gadis kecil ini.
" iya mba matur suwun" Arie pun berlalu dan menghampiri Alex.
" apa yang kau katakan pada orang tadi, kenapa kau menunjuk ke arahku " tanya Alex .
" aku hanya mengatakan kalau kau majikan ku dan aku akan tinggal di rumahmu,"
*******
mobil itu terhenti di sebuah apartemen super mewah, mulut Arie terbuka lebar sama seperti matanya yang hampir tak berkedip .
" tutup mulutmu,dan cepat Ikuti aku " ujar Alex sambil melangkah keluar dari mobilnya, Arie dengan cepat mengekor sambil memegangi ujung baju Alex, dia benar benar takut kalau sampai dia tersesat dan salah jalan, gedung se megah dan semewah ini seumur umur baru sekali ini dia melihat langsung. setelah menaiki lift mereka pun sampai.
" nomer PINnya akan aku ganti agar kau mudah mengingat nya, berapa tanggal lahir mu " ujar Alex sambil memencet angka di papan nomer.
" aku tidak tahu tuan " Arie menunduk lesu, tanggal lahir di bahkan dari rahim siapa dia lahir dia tidak mengetahui nya.
" kau ini bagaimana, tanggal lahir sendiri saja tidak tahu" Alex menatap kesal, sementara Arie hanya menunduk lesu.
" baiklah kalau begitu akan aku ganti dengan tanggal pernikahan kita besok ingat baik baik "
Arie mengangguk pelan, masih memegang ujung baju Alex dia mengikuti pria itu masuk ke dalam apartemen.
cewek lain km perhatikan sedangkan istri sendiri km abaikan dasar gob**k