Naura itu capek hidup miskin! Mana dia suka di bully lagi! makannya mending cari Papa gula aja yang bisa bikin hidupnya lebih baik!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
🌹SELAMAT MEMBACA ANAK KESAYANGAN EMAK. 🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW IG : @REDLILY123.🌹
🌹ENAK SAYANG KALIAN SEMUA. 🌹
Naura merasakan ada banyak sekali hal yang aneh hari ini, khususnya untuk Nathan dan juga Savana. Karena kali ini ada tugas mendadak di saat dosen tidak bisa masuk, biasanya Savana akan langsung menyuruhnya untuk mengerjakan tugas.
Namun perempuan itu malah mengatakan. "Yuk kita cabut."
Sampai-sampai salah satu temannya bertanya, "Lu nggak mau nyuruh dulu itu kacung?"
Dengan jelas Naura mendengarkan percakapan mereka, dan hanya bisa tersenyum disebut demikian.
"Gue lagi males, ayo ah perangkat. Lagian gue juga masih bisa ngerjain ini sendiri."
Sebelumnya Savana tidak pernah mau mengerjakan tugas sendiri karena takut nilainya lebih kecil dari Naura. Ini sebuah keajaiban, sampai-sampai Naura menelepon Chika dan mengatakan akan datang ke Fakultas temannya itu untuk bercerita.
Berakhirlah mereka duduk bersama di fakultas yang ada di fakultas Chika.
"Gue mau ada kelas nih, mending mati aja ketemunya."
"Gue traktir deh." Naura mencoba membujuk sahabatnya itu.
"Tetep aja gue ada kelas. Pokoknya jam segini gue harus balik lagi ke kelas." baru juga mengatakan itu, mendapatkan telepon dari salah satu temannya, memberitahukan kalau dosennya tidak akan datang dan digantikan dengan memberi tugas. "Oke lu yang traktir, udah janji sama gue. Ayo cepetan berangkat."
Chika dengan terburu-buru menarik tangan Naura. "Gue yang pilih restorannya ya."
Dikarenakan sopir pribadi Chika sedang memiliki pekerjaan lain, Jadi mereka menaiki taksi menuju ke Mall. Memasuki salah satu restoran, dan duduk di sana dengan Naura yang menceritakan apa yang terjadi.
"Tapi harus janji jangan bilang siapa-siapa tentang Pak Nathan sama Savana."
Sedari tadi Chika hanya diam, tidak menyangka kalau faktanya Safana Bukankah anak pak Nathan. "Tapi gue pikir-pikir mereka mirip banget loh, masa iya bukan anak kandung. Sugar Daddy lu lagi mabuk kali, jadinya dia nggak ngomong jelas."
"Dia ngomong pagi-pagi ya, lagi sarapan dan dalam keadaan yang sadar-sadar nya."
Mungkin inilah yang disebut keberuntungan, Savana dan juga teman-temannya memasuki restaurant tersebut. Chika langsung menunduk supaya tidak dikenali, dan mereka duduk di belakang Naura.
Beruntungnya ada sekat dari bambu sehingga mereka bertiga pasti tidak akan mengenali Naura dan juga Chika.
Naura sadari itu Savana, alarm bahaya nya sudah berdengung sejak mendengar suaranya.
"Lu mau cerita sama kita sekarang?" salah satu teman Savana bertanya.
Chika segera beralih posisi untuk duduk di samping Naura. Ingin mendengarnya juga.
"Nyokap gue pengen cerai sama bokap gue. Dia juga mau berhenti dari kerjanya jadi jaksa dan memilih buat pulang ke kampung halamannya di USA."
Naura dan Chika membekap mulut mereka sendiri karena kaget dengan fakta itu.
"Alasan mereka pengen cerai emang nya apa?"
"Gue juga nggak tahu. Tapi yang gue sadari kalau bokap gue mencoba buat nahan supaya nyokap nggak ngajuin perceraian. Di sini sini gue lihatnya nyokap yang pengen pergi. Kalian tahu sendiri gimana dari dulu gue nggak pernah diperhatiin sama Mommy, seolah gue itu bukan anaknya. Gue juga nggak bodoh, gue sadar kalau mau mi itu punya kebencian tersendiri buat gue. Meskipun semuanya terhalang sama Deddy." suara yang dikeluarkan Savana terdengar bergetar menahan kesedihan.
Rumit! Kepala Naura menjadi sakit mendengarnya.
"Jadi sekarang di mana nyokap sama bokap lu?"
"Bokap gue lebih sering kerja dan tidur di kantor, nyokap gue sekarang udah ada di luar negeri. Makanya gue sengaja mau sewa apartemen aja. Soalnya kasihan sama Deddy gue, dia ke paksa pulang ke rumah yang gak bikin dia bahagia demi gue."
"Tapi lu nggak papa kalau semisalnya mereka cerai?"
"Nggak papa, lagian yang sayang sama gue itu Deddy gue doang. Cuma ya kasihan aja sama Deddy, kelihatannya dia sedih banget."
***
Karena tadi pagi Naura tidak mendapatkan jawaban tentang maksud dari perkataan Nathan, jadi dirinya akan bertanya sekarang. Benar-benar membuatnya penasaran, Naura akan bertanya dengan hati-hati.
Sebelumnya dia menyiapkan makan malam dengan begitu banyak menu, appetizer dan juga anggur yang dia temukan di salah satu rak.
Berhasil membuat Nathan yang baru pulang itu kaget melihat banyaknya makanan yang disediakan.
"Kok bapak nggak kedengeran sih pulangnya? Lewat mana."
"Ya lewat pintu lah, kamu pikir saya lewat mana?"
Senyuman Naura mengembang kemudian mendekat untuk memberikan pelukan. Selamat datang Bapak, saya udah siapin makanan buat bapak. Kantor bapak juga udah diberesin, kalau mau mandi udah disiapin juga air hangatnya.
"Pinter banget kamu." menunduk untuk memberikan kecupan di bibir Naura, juga rem@san di pantatnya secara bersamaan.
Pria itu pergi untuk mandi terlebih dahulu. Naura benar-benar merasa seperti pembantu dengan service plus-plus. Tapi tidak apalah, sama dia mendapatkan uang dan juga lulus dengan aman.
"Pak saya mau nanya sesuatu boleh nggak?"
"Nggak boleh."
Bibirnya langsung mengerucut kesal. "Tapi serius ini mau ditanyain, tadi saya nggak sengaja dengar percakapan Savana sama teman-temannya."
Gerakan mengunyah Nathan terhenti, menatap Naura karena tertarik dengan percakapan. Akhirnya Naura mengatakan apa yang dirinya dengar tanpa kebohongan.
"Emang bener ya, pak?"
"Savana itu anaknya kakak saya sama istri saya yang sekarang."
"Wah Maksudnya bapak diselingkuhin?!" Naura langsung menggebu-gebu tidak terima.
"Bukan gitu dengerin dulu." Nathan kemudian menceritakan saat usia Savana 5 tahun, kakaknya mengalami kecelakaan bersama dengan anak istrinya.
Yang selamat dari kecelakaan itu adalah Savana dengan ibunya. Savana yang mengalami trauma, memanggil Nathan dengan sebutan Deddy ketika pria itu baru pulang dari luar negeri.
Saat itulah dua pihak keluarga meminta Nathan dan juga Merry untuk menikah. Namun hal itu tidak berjalan dengan baik, Merry sangat mencintai suaminya yang meninggal. Adakalanya dia menyalahkan Savana yang saat itu tidak bisa diam sehingga menyebabkan kecelakaan. Meskipun sampai saat ini Savana belum tahu kebenarannya dan tidak ingat kenangan ketika dirinya masih bersama dengan ayah kandung.
"Terus selama ini Bapak sama istri bapak itu nggak pernah wikwik dong?"
"Ya pernah lah, gila aja berapa belasan tahun saya nggak lampiasin hasrat. Lagian dia juga kepengen."
Langsung merinding mendengarnya. "Tapi Diantara Kalian nggak ada cinta sama sekali?"
"Nggak ada, bahkan dari dulu Marry pengen pulang ke tempat orang tuanya. Saya tahan-tahan dia selama belasan tahun dengan uang yang saya hasilkan supaya Savana mendapatkan kasih sayang. Saya sangat mencintai anak yaitu seperti anak saya sendiri." bahkan kini Nathan menatap makanan di depannya tanpa nafsu sama sekali. "Sekarang ada di puncaknya, Merry pikir kalau Savana sudah cukup umur untuk mengetahui kebenarannya. Dia ingin bebas dan pergi menjauh."
"Terus.... Apa yang bakalan Bapak lakuin kali ini?"
Membalas tatapan Naura dengan dalam, dia pikir pria itu akan mengutarakan isi hatinya. Tapi ternyata malah mengatakan, "Mandi bareng yuk, saya butuh ketenangan."
"Hilih modus!"
***
To be continue
Komentarnya?