NovelToon NovelToon
PENDEKAR PEDANG BERLIAN

PENDEKAR PEDANG BERLIAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Contest / Kultivasi / Pendekar / Wuxia / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Aa Petruk

Teratai Putih adalah nama sebuah desa terpencil yang letaknya jauh dari pusat keramaian kota di kekaisaran Han. Meski terletak jauh dari pusat ibu kota, namun penduduk desa Teratai Putih hidup rukun dan sejahtera berkat sumber daya alam yang melimpah.

Hingga suatu saat kedamaian desa Teratai Putih terusik oleh kehadiran kelompok perampok dan pendekar aliran hitam yang datang untuk merampas harta benda seluruh warga desa.

Penduduk desa yang awalnya hidup rukun penuh dengan ketentraman, terpaksa melewati hari-hari berselimut ketakutan yang mencekam.

Chi wei adalah seorang anak petani dari desa Teratai Putih. Dia bersama dua orang sahabatnya Tao Ming dan Yan San, setiap hari menghabiskan waktunya untuk berburu. Disaat anak-anak sebayanya sibuk belajar dan berlatih ilmu bela diri, mereka bertiga akan pergi ke hutan untuk berburu hewan liar dan berbagai macam tanaman obat. Hasil dari perburuan tersebut nantinya akan mereka jual ke tengkulak yang ada di desa Teratai Putih.

Hingga suatu ketika di sebuah hutan belantara, chi wei mengalami fenomena yang merubah jalan hidupnya. Takdir hidup yang membuat dia menjadi seorang pendekar berilmu tinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aa Petruk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cha 8 - Tiga Jiwa Yang Menyatu

Chi Wei dan Lung Huo kini berada di sebuah ruangan yang bentuk dan ukurannya sama persis dengan ruangan sebelumnya.

Yang membedakan ruangan tersebut adalah permukaan dinding dan lantainya didominasi warna biru gelap, warna yang senada dengan rambut Chi Wei saat ini.

Selain itu, jika di ruangan sebelumnya terdapat sebuah sumur, maka di tempat berwarna biru gelap itu terdapat sebilah pedang yang bilahnya berwarna senada dengan ruangan itu sendiri. Sementara gagang dari pedang tersebut berwarna perak dengan ukiran berbentuk kepala seekor naga, yang di bagian matanya terdapat batu berlian berwarna sama dengan bilahnya.

Selain sebilah pedang, di sana juga terdapat sebuah kitab pusaka dengan ukuran cukup besar namun tidak terlalu tebal. Sampul kitab tersebut berwarna perak dan terdapat gambar bunga teratai putih. Nama kitab pusaka itu sesuai dengan gambar yang terdapat di sampulnya. Kitab Pusaka Teratai Putih.

Letak kedua benda tersebut berada di tengah-tengah ruangan berwarna biru gelap itu dengan posisi melayang dan berputar secara perlahan. Ujung dari bilah pedang itu mengarah kebawah, sementara Kitab Pusaka Teratai Putih berada di atas gagang pedang tersebut dengan jarak hanya beberapa centimeter saja.

"Wei'er,,,kemarilah!" Lung Huo memanggil Chi Wei yang masih berselimut rasa kagum atas keindahan ruangan tersebut.

Chi Wei pun berjalan menghampiri gurunya yang kini berada di sebelah dua benda pusaka idaman para pendekar itu.

"guru....?" Chi Wei menatap Lung Huo denga penuh tanda tanya.

"Wei'er, pedang ini bernama pusaka pedang berlian. Sesuai dengan namanya, bilah pedang ini terbuat dari berlian yang kekerasannya ribuan kali dari berlian biasa. Sehingga tak ada benda yang tak mampu dihancurkan oleh pedang ini, tapi semua itu tergantung dari kekuatan dan keahlian pemilik pedang itu sendiri."

"sekarang, apa kau sudah menemukan jawaban atas apa yang terjadi dengan rambutmu?"

Chi Wei sedikit tersentak mendengar kata-kata gurunya tersebut.

"Guru,,,a....apakah ini artinya......?"

"ya....kau dan pedang berlian biru ini telah ditakdirkan untuk bersama. Meski kelak akan banyak pendekar yang berusaha merebutnya darimu, tak ada satu orang pun yang mampu mengambilnya."

"kecuali kalau ada pendekar yang mampu membunuhmu dan menyerap seluruh kekuatanmu, itu pun kalau tubuh orang itu mampu menyerapnya atau tubuhnya akan hancur menjadi abu."

"apakah sekuat itu Guru?" Chi Wei bertanya dengan penuh rasa kagum.

"kelak suatu saat kau akan mengetahuinya, aku tidaklah pandai merangkai kata untuk menjelaskan semuanya. jadi, lebih baik kau mengetahui kekuatan pedang pusaka ini secara langsung."

"baiklah guru..." Chi Wei mengangguk pelan.

"hhhmmmmm.....aku yakin dengan melihat gambar bunga teratai ini, kau pasti tahu nama kitab pusaka ini, Wei'er?"

"teratai putih?"...

"tepat sekali, ini adalah kitab pusaka teratai putih, di dalamnya terdapat berbagai jurus ilmu beladiri. Baik itu jurus-jurus tangan kosong, ataupun jurus-jurus yang menggunakan senjata pusaka, baik itu pedang, tombak, busur panah, cambuk dan lain sebagainya. Dalam kitab ini juga terdapat berbagai jenis ilmu pengetahuan yang pastinya akan sangat berguna untukmu dan orang-orang sekitarmu."

"Dengan kitab pusaka ini, kau bisa mengubah pedang berlian menjadi senjata pusaka jenis lain. Kau hanya perlu berkonsentrasi dan membayangkan senjata jenis apa yang ingin kau gunakan."

"tentu itu semua hanya bisa dilakukan saat kedua benda pusaka ini telah menyatu dengan tubuhmu."

"hahhh!!!...lalu Guru, bagaimana cara agar pedang dan kitab pusaka ini menyatu dengan tubuhku?" Chi Wei bertanya dengan penuh semangat.

"sebentar lagi kau akan tahu,,,sepertinya kau sangat bersemangat?....padahal sebelumnya kau bahkan menolak jadi muridku." Lung Huo terkekeh menggoda murid satu-satunya itu.

"hehehe...iya iya aku minta maaf, guru." balas Chi Wei tersenyum canggung sambil menggaruk hidung.

"baiklah.....Wei'er, sekarang kau berdiri dan letakkan kedua kakimu di sini." perintah Lung Huo kepada Chi Wei sambil menunjuk ke lantai yang di sana terdapat sebuah pola berwarna emas berbentuk sepasang telapak kaki.

Blarrrrrr.....

Saat kedua telapak kaki Chi Wei menempel tepat di pola tersebut, tiba-tiba pusaka pedang berlian memancarkan kilatan-kilatan petir berwarna biru keemasan dan menjalar memadati seluruh ruangan.

"sekarang, kau bukalah kitab pusaka teratai putih." suara Lung Huo menggema dalam pikiran Chi Wei.

Chi Wei mengerutkan kening penuh keheranan, saat membuka kitab tersebut. Dalam kitab itu tidak terdapat tulisan atau gambar apa pun yang menjelaskan tentang sebuah jurus ilmu beladiri. Yang Chi Wei lihat hanya lembaran-lembaran kosong berwarna putih.

"terus buka kitab itu sampai lembaran yang terakhir!" suara Lung Huo seakan menjawab keraguan Chi Wei.

Chi Wei pun membuka lembar demi lembar kitab pusaka teratai putih secara perlahan sampai lembaran yang terakhir. Di lembar terakhir kitab itu terdapat sebuah pola gambar berwarna emas yang berbentuk sepasang telapak tangan.

Chi Wei mulai mengerti apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Lantas, Chi Wei pun menempelkan kedua telapak tangannya ke pola gambar tersebut.

Saat ke dua telapak tangannya menyatu dengan kitab teratai putih, tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi di dalam ruangan tersebut.

Blarrrrrrrrrrrrr.......

Kilatan-kilatan petir yang memenuhi ruangan itu, masuk ke setiap lubang pori-pori di tubuh Chi Wei. Tangan dan kaki Chi Wei menempel erat dengan pola masing-masing, telapak tangan dan kakinya terasa seperti sedang menghisap sesuatu dengan sangat kuat.

Bleng...

Pandangan Chi Wei menjadi gelap. Seketika itu, dia merasa seolah sedang berlatih berbagai macam jurus ilmu bela diri.

Selain itu, dalam benak Chi Wei terpampang jelas berbagai macam gambar dan tulisan yang menjelaskan berbagai ilmu pengetahuan. Mulai dari tata cara meramu obat, membuat pil energi, menempa senjata, dan lain sebagainya.

Selama proses itu berlangsung, perlahan warna biru di ruangan Chi Wei berada mulai memudar. sedangkan kedua benda pusaka yang berada di tempat itu sedikit demi sedikit secara perlahan berubah menjadi butiran debu dan terhisap masuk ke dalam tubuh Chi Wei.

Bruk... Chi Wei duduk berlutut dengan kepala tertunduk lesu. Napasnya tersengal seakan menggambarkan perasaan lelah yang teramat sangat.

Terasa sebuah telapak tangan menepuk pundaknya.

"bermeditasilah, tenangkan hati dan pikiranmu, buka matamu setelah kau merasa lebih baik."

Dengan posisi duduk bersila, Chi Wei berkonsentrasi untuk memulihkan ketenangan jiwanya. Ada sesuatu yang beda yang ia rasakan, Chi Wei seperti tak mengenal dirinya, namun semuanya terasa begitu menyenangkan.

Perlahan-lahan Chi Wei membuka matanya, dan mendapati Guru Huo duduk bersila di depannya sambil tersenyum bangga.

"selamat muridku, kau telah berhasil." Kata Lung Huo masih dengan senyuman bangga.

"Guru, di mana kita sekarang?... pedang dan kitab pusaka itu?"....

Lung Huo hanya tersenyum tipis melihat muridnya yang sedang kebingungan.

1
Rajo kaciak
enak bacanya, mc nya g play boy ,di tunggu kelanjutan ceritanya
Rajo kaciak
cerita nya terlalu kereen
Rajo kaciak
mantap, mudah2an hanya seorang wanita nya , karna rata2 kultivator punya bnyk istri 🤣🤣
Nay Galcite Nay Galcite
😎😎
John Travolta
thor ga ada update lagi kah?
dofi hendriyanto
rekomendasi
Khairul Azman Abdul Kahar
waduhhhh kenapa tidak diambil cincinnya
Bocil
cwritanya bagus thor. tapi untuk suara audionya musiknya terkalu keras jd merusak suara lainya.
Didik Setyawan
aq bingung saat bca seorang yg d'panggil pangeran it anakx jenderal,trs anakx raja/kaisar d'panggil pa y??????????????????
Didik Setyawan
tingkatan pendekar kok lucu pke bingit sich,s'tauku gelar dewa yg akhir tp nie lucu bingit.masa pendekar bumi trs dewa bumi,pendekar langit trs dewa langit.n raja Mlah yg akhir,emang gelar raja lbih tinggi drpd dewa wkwkwk,,
Roynaldi Ananda
àuthor kan lulusan pesantren tebu ireng
Roynaldi Ananda
author sialan
Hary
KAMPRET.... 🤣
Omen Aura
keren menghibur😄
Omen Aura
kopi luwak😄😄
Raditya Radi
lanjut
Harman Loke
lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuutt
Purwanto aza
g ada kelanjutannya
Nurhairani
jadi ngak seru.masa berahir begini ceritanya
Roni Sakroni
lanjutkan dan terima kasih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!