NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Komedi / Contest / Pengantin Pengganti Konglomerat / Tamat
Popularitas:326.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.

Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.

Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.

Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?

Simak kisahnya hanya di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Firasat Tidak Enak

Devin mencoba menghubungi Tasya, tapi tidak ada juga respon. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, selalu kalimat itu yang terdengar dari speaker ponselnya.

"Tasya kamu kenapa sih, tidak mengangkat teleponnya. Aku benar-benar cemas, bila tidak direspon seperti ini." Devin bergumam sendiri.

Dia segera mematikan layar laptop, beranjak dari duduknya. Bila terjadi apa-apa pada istrinya, pasti dia yang akan disalahkan oleh semua orang.

Mobil Devin mulai melaju dengan kekuatan sedang. Dia sekedar iseng, mencoba melacak keberadaan Tasya menggunakan ponsel.

"Hah, Tasya tidak ada di sekolah. Dia berada di sebuah rumah di gang ini." Monolog Devin.

Mobil masih melaju, ke arah berlainan dengan sekolah Tasya. Dia menghubungi polisi, untuk membantunya agar tidak sendirian.

'Firasatku tidak enak, pasti terjadi sesuatu.' Batin Devin.

Dia keluar dari mobilnya, mulai berjalan di lorong sepi. Memperhatikan sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa. Rumah di sana tampak lusuh, seperti sudah lama tidak berpenghuni.

"Ayo kita bersenang-senang bersama Tasya." Ujar pria bertubuh kekar.

"Nah iya benar, akankah dia masih tidak akan menangis." Tambah teman, di sebelahnya.

Tasya tidak bergerak sedikitpun juga, karena dia sedang tidak sadarkan diri.

Bruk!

Bunyi pintu yang sengaja didobrak dari luar. Semua pria, yang berpenampilan preman itu terkejut.

"Kok bisa sih, dia tahu tempat persembunyian kita." Ujar pria berbadan kekar.

"Bacot!" Teriak Devin.

Pertarungan sengit mulai terjadi di antara mereka. Devin terus memberikan pukulan, dia tersulut emosi melihat Tasya yang sedang pingsan.

Duar! Duar! Duar!

Sebuah tembakan mengenai para penjahat tersebut. Polisi-polisi masuk ke dalam, karena tidak ingin, terjadi apa-apa pada Devin.

"Papa, kenapa bisa seperti ini?" Tanya Devin.

Dia melepaskan ikatan tali pada tangan Heru. Devin memeriksa tubuhnya, dengan memutar ke samping kanan dan kiri.

"Mereka sengaja menculik Papa ketika dalam perjalanan." Jawab Heru.

"Papa sekarang tidak apa-apa?" Tanyanya lagi.

"Papa tidak apa-apa, yang seharusnya kamu khawatirkan sekarang adalah Tasya." Jawab Heru.

Devin baru tersadar, dia segera berlari saat teringat keadaan Tasya. Devin menepuk-nepuk kedua pipi Tasya.

"Tasya bangun, aku sudah datang." Ucap Devin.

"Sebaiknya kita segera bawa dia ke mobil." Ujar Heru.

Devin segera menggendong tubuh Tasya yang kecil. Dia berjalan dengan setengah berlari, karena merasa panik. Polisi-polisi itu membawa pelaku kejahatan, ke kantor polisi.

"Tasya, maafkan aku yang datang terlambat." Devin terus memandangi wajah Tasya.

Heru masih fokus menyetir mobil, sesekali dia melihat ke arah spion kecil di langit-langit mobil.

'Mungkin saja, kalian mulai saling peduli. Namun, kalian tidak menyadari perasaan itu.' Batin Heru.

Tak berselang lama, dokter Afri sudah datang. Devin yang menyuruhnya untuk datang, melalui pesan singkat.

"Tuan Devin, aku sudah datang." Ucap Afri dengan mimik wajah ceria.

"Cepat masuk kamar, periksa keadaan Tasya." Jawab Devin.

"Kenapa kamu repot-repot, mengurus asisten pribadimu?" Tanya Afri penasaran.

"Bukan urusanmu." Jawab Devin.

"Iya tuan muda galak." Ledek Afri, dia langsung berlalu.

Devin menendangkan kakinya ke udara, sampai jasnya terbang sedikit terbuka. Afri memeriksa keadaan Tasya, yang terbaring lemah di atas ranjang tidur.

"Bagaimana keadaan Tasya?" Tanya Devin.

"Dia baik-baik saja, hanya ada obat bius berbahaya." Jawab Afri.

"Kamu bilang hanya, padahal berbahaya." Devin mencengkeram kerah baju Afri.

"Dasar tuan muda es, jadi jomblo sampai tua lu kalau dingin terus." Ledek Afri.

"Jomblo teriak jomblo." Jawab Devin. Dia menyumpalkan roti yang ada di atas nakas, ke mulut Afri.

'Cih, dia tidak tahu saja bahwa aku sudah menikah dengan Tasya.' Batin Devin.

"Apaan sih tuan muda, aku bisa makan sendiri. Tidak perlu melempar perhatian." Ucap Afri dengan percaya diri.

"Sepertinya kamu mau aku pecat sebagai Dokter pribadiku." Jawab Devin dengan nada kesal.

"Tidak seperti itu juga kali. Tasya sudah aku beri obat, untuk menetralisir bius berbahaya itu." Ucap Afri, dia melirik obat di atas nakas.

"Iya sudah, pulang sana." Devin mengusirnya.

Afri segera keluar dari kamar, sambil mengumpat Devin. "Dasar tuan muda arogan." Bersuara lirih.

"Apa yang sudah terjadi pada Tasya?" Tanya Dera, dia merasa bingung.

"Ini semua karena orang-orang yang telah menculik Papa Heru." Jawab Devin.

Heru menceritakan semuanya dari awal, Dera baru mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Tasya mulai membuka kedua matanya, dia melihat langit-langit kamarnya.

"Aku di rumah, apa ini mimpi." Tasya bergumam pelan.

"Kamu sedang tidak bermimpi, kamu memang ada di rumahmu." Sahut Devin.

Dia berjalan mendekat ke arah ranjang tidur. Devin segera duduk di sebelah Tasya.

"Siapa yang telah menolongku, bukankah tadi aku dibius?" Tanya Tasya.

"Suamimu yang telah menolong kita. Papa bersyukur karena dia datang tepat waktu." Jawab Heru.

"Terimakasih iya tuan Devin." Ucap Tasya.

"Iya." Jawab Devin singkat.

Heru dan Dera keluar dari kamar itu. Devin mengambil makanan di atas nakas.

"Ayo sekarang buka mulutmu!" Titah Devin.

"Kamu mau ngapain?" Tanya Tasya.

"Mau menyuapi kamu makanan, lalu mau ngapain lagi." Jawab Devin.

"Biar aku makan sendiri." Ucap Tasya.

"Sudahlah, jangan berlagak jual mahal." Jawab Devin.

Dia segera menyuapi nasi dan lauk ke mulut Tasya, karena perempuan itu telah membuka mulutnya.

"Kenapa kamu bisa datang tepat waktu, bahkan kamu tidak tahu aku di mana?" Tanya Tasya, dengan rasa penasaran.

"Firasat ku tidak enak, karena nomor ponselmu tidak dapat dihubungi." Jawab Devin.

"Benarkah orang sepertimu bisa memiliki firasat baik, aku hampir tidak percaya." Tasya tersenyum samar.

Keesokan harinya Devin mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam kamar Tasya. Dia ternyata sedang asyik belajar di kamarnya. Ada lampu kecil khusus untuk belajar.

"Tasya, kamu harus sarapan dulu sebelum pergi ke sekolah." Ucap Devin.

"Iya tuan." Jawab Tasya.

"Jangan iya iya terus. Cepat tutup buku mu." Titah Devin.

"Aku bisa makan di sekolah." Jawabnya dengan ketus.

"Makanan di luar tidak sehat. Cepatlah makan, lalu kamu harus minum obat." Ujar Devin mengingatkan.

"Aku tidak mau, aku masih sibuk belajar." Jawab Tasya membantah.

"Aku paling tidak suka, harus mengulangi ucapan ku berulang kali." Ujar Devin dengan setengah berteriak.

'Pria kerasukan arwah syaitan perempuan, sukanya menggerutu. Apa penting, kamu suka atau tidak suka. Pria kaku menyebalkan.' Batin Tasya mengumpatnya.

Devin duduk di sebelah Tasya, dia memaksa Tasya untuk makan dengan menyodorkan sendok berisi makanan. Tasya menerima suapan dari Devin, karena pria kaku di depannya mulai cemberut.

"Lain kali bila aku meminta sesuatu, jangan pernah menolaknya." Ujar Devin.

"Iya, iya tuan Devin." Jawab Tasya, dengan suara beratnya.

Devin terus menyuapinya, lalu Tasya mengunyah makanan tersebut.

1
De'Ran7
ngapain buat orang nangis..kek kurang kerjaan aja dah nih orang
De'Ran7
dih udah baik di gantiin..kalo gak yg malu banget kan situ ya.wkwk dikhianati udah gitu pengantinnya lari lagi sama sahabatnya
De'Ran7
hm..lucu sekali ya itu kata²(maaf)..pasti sakit banget dah tuh n malu jga sama orang yg undang
De'Ran7
ini mah udah keliatan kaleus kalo dia cewek gk bener..mudah dirayu
Amanah Amanah
lanjut ahh..
Amanah Amanah
Yana minta adiiik😄😄
Amanah Amanah
satu kawan satu musuh ya...
Amanah Amanah
singkat padat dn jesusu ya thooor
Amanah Amanah
ooooh ..gitu ya...Rumi bls dendam
Amanah Amanah
aneh ah ...Heru dn argan Kya g pernh menghdpi mslh yg lebih besar dri ini,jln pkirannya g mennjukn klo dia seorng yg konglomerat😏😏
Amanah Amanah
msa orng Kya g bisa menyelesaikan mslh Kya gini,g nyruh orng2 utk mnyeldikinya gitu
Amanah Amanah
kenapa sikap Heru sama argan jdi ksar si thooor secara dia itu kndlu asistennya argan,dan ada apa dg Rumi ya ...koq dia dendam SMA Tasya dn devan
Amanah Amanah
siapa ya...dalng di balik semua ini apa dia rumi atau Ferdian?
Amanah Amanah
iiiiih Smpe segitunya ya Ruby...itu kriminal,g mkir nnti dia mendekam di oenjara
Amanah Amanah
sabaaar hdpi ujian dg kepla dingin sya
Amanah Amanah
Tasya si nangis knpa thooor?
Amanah Amanah
kembali ke pelakor2 GJ
Amanah Amanah
ngebalas pesn dri kampus koq SMA mm nya yg nelpon g di bls ya...?
Amanah Amanah
begitulah klo g nrut swami,menyesl setelah kejdian yg menimpanya,semoga Tasya segera di temukn
Amanah Amanah
duuuuh tuh dokter lgi pdkt ya....SMA rubis,sayang jga si dr. tmpn,baik HTI hrus Deket dengn ult kket mcm rubis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!