Hanya sepenggal kisah tentang Andra dan Rhania, tidak ada yang spesial. Kisah sederhana dari pria humoris dan wanitanya.
Tidak disarankan untuk dibaca, risiko kalau sakit mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Papa (Lebih Dahulu)
Seketika suasana rumah terasa begitu hangat, Rena bahkan tak malu memperlihatkan kasih sayangnya pada Andra. Pun Jelita cukup antusias menanyakan ini itu pada kakak iparnya itu. Gian sesekali menenggelamkan wajahnya di dada Raka lantaran malu dengan Andra yang sejak tadi berusaha menyapanya.
"Berhenti, Andra!! Anak gue nangis awas aja lo," ujar Raka habis kesabaran ketika Andra lagi-lagi mencoba mencubit wajah imutnya.
"Mamanya aja diem kok lo sewot, Ka," sahut Andra enteng. Sebenarnya Gian tak menangis ataupun terganggu, hanya saja anak itu tengah berusaha mengenali Andra lebih dulu.
Baik Jelita maupun Rena hanya tertawa geli, kedua pria yang sudah dewasa itu masih saja sama. Wijaya yang melihat kedekatan keduanya hanya mampu menarik sudut bibir sebagai bentuk betapa bersyukurnya dia.
"Ck, alasan!" Raka sedikit menjauh, wajah tembem Gian yang kini memerah akibat cubitan Andra yang tak mampu menahan gemas cukup membuat Raka terganggu.
Andra mencebik, rasanya tak rela Gian menjauh darinya. Perubahan wajah Andra tak lepas dari perhatian Wijaya, sang Papa. Pria itu menarik sudut bibir, terlihat jelas jika Andra sudah cocok menjalankan peran layaknya Raka.
Begitupun dengan Rena, wanita yang kini menganggap Andra sebagai putranya juga memikirkan hal yang sama. Beberapa bulan lalu ia telah menemui salah satu anak rekan bisnis Wijaya, meski Rena tahu ia tak memiliki hak tentang masa depan Andra sepenuhnya. Tapi, ia juga ingin Andra merasakan kebahagiaan bersama orang tercinta seperti Raka saat ini.
"Ehem, Andra."
"Iya, Pa, ada apa?" tanya Andra menatap Wijaya sekilas.
"Papa rasa kamu sudah cukup mampu untuk menjadi seorang ayah seperti Raka," ujar Wijaya setengah bercanda.
Untuk kali ini, ia tidak akan menikahkan putranya dengan jalan perjodohan, karena ia tahu Andra tidak sama seperti Raka. Perihal pasangan, Wijaya percaya putra sulungnya dapat memilih calon pendamping yang baik.
"Hahaha! Papa bisa saja, bahkan mengungkapkan rasa saja dia tidak mampu." Raka merasa dirinya tak terkalahkan jika tentang wanita di banding Andra. Tanpa ia sadari bahwa dirinya bahagiapun atas bantuan Wijaya sebagai orang yang mempertemukannya dengan Jelita.
"Diem, Kaaa," desis Andra mengeratkan giginya. Sungguh ia malu, sebelumnya ia mengatakan pada Wijaya bahwa alasannya pulang ingin melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan kekasihnya.
"Apa semiris itu, Andra?" tanya Wijaya menautkan alisnya. Habis sudah harga dirinya, Rena dan sang adik ipar yang tengah susah payah menahan tawa membuat Andra semakin malu.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, mengelak percuma lantaran Raka takkan membiarkannya berkilah tentang ini. Tawa Gian memecah keheningan, mata yang sedari tadi tertuju pada Andra teralihkan.
"Huft, selamat." Andra membatin, menatap Gian tulus. Jika saja keponakannya itu tak bersuara mungkin ia akan salah tinhkah lebih lama lagi.
"Jangan malu mengakuinya, Andra, apa kau butuh Papa dalam mendapatkan wanitamu?" tanya Wijaya menatap Andra serius, kali ini ia tak bercanda. Bagi Wijaya, kebahagiaan putranya adalah hal utama. Cepat atau lambat, apa yang di inginkan anaknya harus segera meraka dapatkan.
"Ah tidak, Pa, prihal hati dan wanita, aku memiliki cara sendiri untuk mendapatkannya. Karena, sedari dahulu aku lebih memilih hidup mandiri." Andra melirik Raka sekilas, ucapan sarkas yang memang ia tujukan untuk Raka itu cukup membuat panas pria di depannya.
Terlihat jelas bahwa Raka merasa tersinggung dengan ucapan Andra, meski hal itu benar adanya, tetap saja ia merasa Andra keterlaluan. Berdehem dan kembali mengajak Gian berbicara ini itu adalah cara Raka menghilangkan kegugupannya.
"Kamu bisa saja, baiklah Papa serahkan padamu. Siapapun yang menjadi pilihanmu, Papa jelas akan merestui kalian. Iya kan, Ma?" Tak lupa Wijaya meminta saran Rena jua.
Anggukan dan senyuman Rena cukup menjadi jawaban. Perlahan, restu orangtua dalam genggaman. Namun, sayang sang pujaan masih tak ia ketahui dimana keberadaannya.
"Papa lucu, bagaiamana bisa? Bahkan calon istri saja belum ada. Kenapa kalian begitu serius membicarakan pernikahan makhluk sialan ini?" Raka terbahak, jelas saja hal itu diikuti Gian, sang buah hati.
"Raka!! Hentikan tawamu." Wijaya berucap dingin, bukan marah ataupun tak suka. Hanya saja, perlakuan Raka terhadap Andra kerap berakhir dengan keributan kecil jika Wijaya berlalu nantinya.
Tak dapat ia pungkiri, apa karena mereka dulunya bersahabat sehingga Raka selalu bebas mengolok Andra. Pun dengan Andra, setiap ucapan yang ia lontarkan selalu berakhir dengan sindiran untuk Raka.
"Maafkan aku, Pa." Meski sudah dewasa, Raka akan selalu bersikap demikian pada Wijaya.
Bibirnya berucap maaf, namun hatinya bahkan tak menyesal sedikitpun. Bagaimanapun apa yang ia ucapkan benar adanya, pria itu menatap Andra tajam, seakan berbicara melalui sorot matanya.
"Awas aja lo," batin Andra penuh dendam. Meski tak dapar ia pungkiri Raka tak salah sedikitpun.
Andra merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuknya. Cukup lama ia pergi hingga kamar tidurnya terasa begitu asing. Bias cahaya menelusup jendela kaca di sisi kamarnya, Andra menatap jauh ke langit biru. Gumpalan awan bak kapas yang menghias alam seakan ingin ia gapai.
"Gue capek, Rhania." Keluhan yang hanya ia lontarkan kala tengah sendiri akhirnya terucap juga. Hampir 4 tahun, waktu terbuang begitu saja. Andra kerap membagi waktu bekerjanya untuk mencari keberadaan Rhania.
Sia-sia, tentu saja. Bahkan bantuan Alexpun tak berguna, tak ada niat Andra untuk kembali ke tanah air jika ia berhasil menemukan Rhania kala itu. Namun, dengan menghilangnya Rhania membuat Andra berpikir dua kali akan keputusan yang dulu sungguh ia yakini.
Ketukan pintu yang sedikit kasar membuat Andra terbangun, mengubah posisinya dan duduk di sisi tempat tidur. Suasana hati Andra tak begitu baik kali ini, jika si tampan namun menyebalkan itu hanya datang untuk mencari keributan sungguh Andra ingin membunuhnya kali ini.
"Ndra," ucap Raka memecah keheningan, sejak tadi Andra hanya menatapnya tanpa ekspresi.
"Ngapain lo kemari?" Andra berdecak kesal, bagaimana tidak, ucapan Raka yang sedari tadi menjatuhkannya di depan Wijaya membuat Andra ingin mengutuk pria itu.
"Lo laki kan?" Pertanyaan konyol yang membuat Andra menghela napas kasar, sungguh pertanyaan yang tidak berguna.
"Mau gue liatin?" Jika menghadapi pria gila macam Raka, maka Andra akan membalasnya tanpa otak.
BRUK!!
Raka tak segan memukul wajah Andra dengan bantal yang sengaja ia raih. Sungguh pertanyaan paling konyol yang pernah ia dapatkan, pikir Raka.
"Kepala gue pusing, Raka!!" Andra meninggi, rasa kantuknya sejak tadi menghampiri. Pergi ke kamar karena lelah yang menyerangnya, namun pria menyebalkan ini justru mengganggu istirahatnya.
"Sorry, bukan gitu maksud gue. Oke serius, Ndra." Raka duduk di samping Andra, menciptakan jarak yang cukup jauh tentu saja.
Tbc
Singkat tapi jelas
Akhirnya abang giant bakal punya spp ni
berenang ke tepian,,,
remuk badan dahulu
baru bisa jadian..../Joyful/