Alex Zenifer adalah seorang ketua gengster White Tiger yang dikenal dengan julukan raja dari para gengster.
Alex berhenti menjadi ketua gengster White Tiger karena ibunya meminta dia untuk berjanji padanya.
Perjanjian yang harus diwujudkan oleh Alex adalah melanjutkan sekolah di akademi elite untuk menjadi orang yang baik.
Di Akademi Alex tidak sengaja bertemu dengan lima gadis kembar.
Alex selalu fokus dalam belajar karena ingin mewujudkan janji yang tertanam pada jiwa dan pikirannya.
Orang tua dari ke lima gadis kembar adalah teman baik ayah dan ibu Alex sebelum mereka berdua meninggal.
Alex diminta untuk mengajari mereka berlima sekaligus juga melindungi mereka semua dari bahaya, karena kedua orang tua dari lima gadis kembar mengetahui Alex adalah ketua gengster terkuat di indonesia.
Apakah Alex bisa mengubah semua sifatnya?
Apakah Alex bisa mengajari dan melindungi mereka berlima?
Apakah Alex bisa merasakan cinta dari lima gadis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ligar Cahyadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#07 Buah Melon Yang Tidak Sengaja Dilihat
Di akademi elite, Alex berharap untuk bisa melupakan rasa dendamnya dengan melanjutkan pembelajarannya. Dia terus berjalan sampai ke tempat lapangan basket dan melihat beberapa orang yang sedang berlatih.
"Wahhh... Ternyata disini banyak juga yang minat pada olahraga basket, tapi kenapa hanya gadis-gadis saja yang berlatih?" ucap Alex sambil bertanya pada dirinya sendiri.
"Hmmm..."
Sesaat Alex terdiam dan memikirkan hal tersebut sambil menatap semua gadis yang sedang berlatih dengan tatapan kebingungan di pinggir lapangan basket. Tanpa disedari bola basket tersebut mengarah pada Alex.
"Hei... Awass!" teriak salah satu gadis sambil melambaikan tangannya pada Alex.
Alex menyangka bahwa gadis tersebut telah menyapa dirinya, lalu dengan spontan di balik melambaikan tangan sampai akhirnya bola basket teraebut mengenai kepalanya.
"Buuukkk"
Seketika Alex kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh di atas permukaan tanah.
"Ahh... Aku tidak bisa menghitung semua bola yang sedang berputar-putar dalam pandanganku.
Melihat Alex terjatuh semua gadis berhenti berlatih, lalu mengahampiri dirinya.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya salah satu gadis tersebut sambil menghampiri dirinya.
Seketika Alex membukakan kembali matanya dengan pandangan yang sudah normal kembali.
"Akkhh... Aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut sehingga tidak bisa menghindar dari bola yang mengarah padaku." ucap Alex sambil menatap wajah seorang gadis yang menghampirinya.
Seketika Alex sangat terkejut dengan gadis yang ada dihadapannya itu adalah Shintya.
"Hoi... Hoi... Hoi... Bukankah kamu Shintya saudarinya Flora?" tanya Alex dengan sangat terkejut sambil membangunkan setengah badannya.
"Ehh... kenapa kamu bisa mengenaliku? Biar aku periksa wajahmu lebih dekat lagi." ucap Shintya sambil mendekatkan wajahnya pada Alex dengan jarak beberapa cm lagi mengenai kedua bibirnya.
"Tu-tunggu. Apa yang..." ucap Alex dengan terkejut namun perkataanya tidak dilanjutkan, karena pandangan matanya teralihkan pada 2 buah melon yang sangat besar.
Hal ini dikarenakan kaos yang dipakai Shintya sangat longgar, karena dia hanya meminjam kaos tersebut dari kakak kelasnya yang baru ditemuanya, lalu mengajak dirinya untuk berlatih bola basket.
"Ohh... Aku baru ingat kamu itu orang yang mengincar Flora. Tapi kenapa pandanganmu seperti itu memangnya ada apa?" tanya Shintia sambil penasaran apa yang sedang dilihat olehnya.
Kemudian Alex menutup matanya lalu mengarahkan jari telunjuk pada kedua buah melon yang tidak sengaja dilihatnya.
"Bi-bi-bisakah kamu memakai baju yang lebih cocok lagi!" jawab Alex dengan gugup.
"Hah?" ucap Shintya sambil melihat arah dari jari telunjuknya.
Seketika wajah Shintya memerah karena dia baru menyadari bahwa bajunya itu sangat longgar.
"Da-da-dasar mata keranjang!" teriak Shintya sambil menampar Alex dengan sekuat tenaga.
"Plaaakkk"
"Arrrgggghhhh"
Teriakan Alex sangat nyaring sehingga semua burung yang sedang hinggap di atas pepohonan beterbangan kembali.
•••
Kemudian Alex dan Shintya duduk di pinggir lapangan basket sambil melihat latihan yang sedang dilakukan oleh kakak kelasnya. Suasana menjadi sangat canggung karena Alex telah membuat Shintya sangat kesal.
"Kenapa kamu tiba-tiba menamparku?" tanya Alex sambil memegang pipinya yang masih bedenyut akibat tamparan yang dilakukan oleh Shintya.
"Itu adalah balasan yang setimpal bagimu karena telah melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat." jawab Shintya dengan nada kesal sambil memalingkan wajahnya.
"Hah? Bukankah kamu yang menunjukannya terlebih dahulu! Apalagi aku baru mengetahui bahwa buah milik gadis ternyata sangat lentur dan elastis." ucap Alex sambil memikirkan keunikan dari kedua melon yang baru saja dilihatnya.
"Ja-ja-jangan seenaknya bicara! Apakah kamu ingin aku tampar lagi hah?" ucap Shintya dengan gugup sambil berwajah memerah.
"Tu-tu-tunggu dulu! Aku serius berbicara seperti itu, apalagi ini adalah pertama kalianya aku melihatnya." jawab Alex dengan sangat gugup sambil membujuk Shintya untuk tetap tenang.
"Ehh... Aku tidak percaya dengan perkataan yang kamu ucapkan! Ohh... Apakah kamu ingin mengetahui ukuran dari buah Flora? Ini akan sangat menarik bagimu jika mengetahuinya." ucap Shintya sambil tersenyum dengan niat untuk menguji Alex.
"Hoi... Hoi... Hoi... Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Alex sambil menatap wajah Shintya.
"Tentu saja karena kamu orang yang paling dekat dengan dia, apalagi kamu serasi dengannya. Jika kamu ingin mengetahuinya, sekarang aku akan memberitahukan semua tentang Flora padamu sekaligus semua ukuran pakaian yang di kenakan olehnya." jawab Shintya sambil tersenyum sekaligus sangat penasaran dengan expresi Alex.
Tanpa diduga Alex langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ehhh... Mau kemana kamu?" tanya Shintya sambil terkejut karena setelah berkata seperti itu Alex langsung berdiri.
"Aku akan kembali ke tempat pendaftaran, aku takut nomor antrianku terlewat." jawab Alex sambil menatap wajah Shintya.
"Heh... Apakah kamu yakin tidak ingin mengetahuinya atau kamu ingin mengetahui ukuran yang sedang aku kenakan?" tanya Shintya sambil tersenyum kepadanya lalu menunjuk jari telunjuknya pada dadanya besar miliknya.
"Hah... Sungguh merepotkan. Mungkin semua orang sangat menyukai hal tersebut, namun aku tidak menyukainya sama sekali. Alangkah baiknya kamu menjaga semua rahasiamu dan juga saudarimu agar tidak terjadi suatu yang buruk pada kalian semua. Dan juga mana mungkin aku melakukannya pada orang yang tidak aku cintai apalagi diluar pernikahan." jawab Alex sambil tersenyum lalu berjalan menjauhi Shintya yang sedang duduk di pinggir lapangan basket.
"He-hei... Tu-tunggu dulu!" teriak Shintya sambil membujuk Alex untuk menghentikan langkah kakinya.
Namun Alex tidak ingin mendengarkan perintah dari Shintya dan hanya melambaikan tangannya padanya.
"Ahh... Apa yang sudah aku pikirkan sebelumnya. Ternyata masih ada orang seperti itu di dunia ini, terlebih lagi Alex sangat keren dan juga sangat tampan." ucap Shintya dengan wajah memerah sambil berseri-seri di tempat duduknya.
Setelah melihat Alex berjalan sangat jauh, dia mulai tersenyum-senyum sendiri sehingga kakak kelas yang sedang berlatih bola basket berhenti sejenak.
"Kenapa dengan dia?" tanya salah satu gadis yang sedang berlatih bola basket sambil menatap Shintya dari tengah lapangan.
"A-aku kira dia tergila-gila pada pria yang sudah ditamparnya." jawab gadis lainnya dengan sangat heran oleh kelakuannya.
Sementara itu Alex bergegas untuk kembali ke ruangan pendaftaran tersebut. Namun sesampainya di ruangan pendaftaran dia mendengar suara pengumuman nomor antrian ke 301 harus segera ke ruang pendaftaran.
"Gawat... Gawat... Gawat... Semoga bisa segera mendaftar walaupun terlewat hanya satu nomor." ucap Alex dalam hatinya sambil memasuki ruangan pendaftaran.
Sesampainya di ruangan pendaftaran, Alex bertanya pada petugas tersebut.
"Pak, apakah saya bisa daftar sekarang? Saya antiran dengan nomor urut ke 300." tanya Alex dengan harapan bisa segera mendaftar karena hanya terlewat dengan satu nomor.
"Maaf, kamu harus kembali meminta nomor urut antrian." jawab petugas tersebut dengan wajah datar.
"Ta-tapi..." ucap Alex namun perkataannya disela oleh petugas yang ada dihadapannya.
"Itu adalah kesalanmu sendiri sehingga nomor antrianmu terlewat. Ayo segera ambil lagi nomor antriannya sebelum ditutup." ucap petugas tersebut sambil menyuruh Alex keluar dan mengambil nomor antrian yang baru.
"Ba-baik pak." jawab Alex dengan nada lemah karena tidak menyangka hal ini akan terjadi.
Sesaat dia berpikir bahwa ini adalah kesalahan Shintya yang menahannya di pinggir lapangan basket.
"Lain kali jika aku melihat buah melon miliknya, akan aku remas dengan sekuat tenaga seperti kertas antrian ini. Hihihihihi." ucap Alex dalam hatinya sambil tertawa seperti hantu yang sangat menyeramkan.
"Hiii... Ta-tawanya itu, seperti kuntil anak! Semoga aku dijauhkan darinya." gumam petugas yang ada di ruangan pendftaran dengan tidak sengaja mendengarkan suara tawa yang menyeramkan.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...(Setiap Hari up eps terbaru pada pukul 21.00 bila keadaan author sedang normal)...
...(Apakah ingin ada HAREM atau tidak?)...
...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini serta saran dan bantuannya agar lebih semangat untuk crazy up. Pendapat anda sangat berharga bagi pemula seperti saya....
...Terimakasih 🙏...
semangat ya👏👏