Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Kencan
Cinta dan keluarga sedang menikmati sarapan pagi mereka dengan Cinta yang masih menggunakan piyama tidur kumamonnya lengkap dengan sandal tidur di kakinya.
"Cinta, biasakan mandi dulu Nak baru makan," nasihat ayahnya.
Cinta mengunyah makanannya dengan cepat lalu menjawab perkataan ayahnya, "Iya Pa maaf. Soalnya Cinta pagi-pagi sudah merasa lapar jadi tidak sempat untuk mandi terlebih dulu, tapi Cinta janji besok Cinta tidak mengulanginya lagi kok, Pa," ujar Cinta berjanji, sang ayah mengangguk mengiyakan.
"Cin, menurut kamu bagaimana Si Iqbal itu? Tampan, kan?" tanya tante Nadia sambil memuji paras putra pertama pak Suryadi.
"Masih jauh lebih tampan Lee Min-ho," tampik Cinta yang tak setuju.
"Cinta, Tante kamu itu lagi serius nanyanya," tegur pak Wahyudi.
"Cinta sudah serius kok Pa jawabnya." Cinta kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, sedangkan tante Nadia tersenyum Jahil.
"Cinta Cuma malu mengakui jika anak Pak Suryadi memang tampan Kak," kata tante Nadia yang mulai menggoda keponakannya.
"Ishh Tante, mana ada begitu. Mukanya biasa saja kok sama seperti manusia pada umumnya. Punya dua telinga, dua mata, satu hidung, dan satu mulut kan?, terus apa spesialnya," kilah Cinta yang masih tak setuju jika tante Nadia kesayangannya memuji lelaki itu, sedangkan sang tante hanya bisa tertawa kecil mendengar celotehan keponakannya itu.
"Kamu kenapa Cinta seperti kesal sekali dengan Iqbal, padahal kalian baru kenal," ucap sang ayah yang merasa aneh dengan sikap anaknya yang terlihat begitu kesal dengan calon tunangannya yang bahkan baru saja ia kenal kemarin.
"Tidak ada apa-apa kok Pa, Cinta biasa saja," jawab Cinta mencoba mengelak.
Tidak mungkin Cinta bercerita pada ayah dan tantenya jika Iqbal anak rekan bisnis ayahnya itu ialah orang paling menyebalkan yang pernah Cinta temui.
"Cinta, Papa mau berangkat kerja ke kantor dulu ya. Kamu habis ini langsung mandi jangan sampai harus disuruh Tante Nadia terus, kasihan Tante kamu," ujar Ayah Cinta pamit pergi bekerja setelah selesai menghabiskan sarapan pagi beliau dan tak lupa mengingatkan Cinta putrinya.
"Iya Pa," jawab Cinta.
"Tante, Cinta sudah selesai sarapannya. Cinta naik ke atas dulu ya, sekalian Cinta mau mandi." Cinta beranjak dari kursi meja makan, meninggalkan tantenya yang masih menyantap sarapan paginya.
Di kamar Cinta tidak langsung mandi, ia duduk di tepian ranjang sambil membuka ponsel miliknya. Tak ada hal yang istimewa, Cinta hanya membuka beberapa chat grup dari teman-temannya atau sekadar membuka akun sosial media miliknya.
°°°
Saat ini Cinta dan Henny sedang berada di kantin, jam mata kuliah pertama mereka siang itu telah usai 15 menit yang lalu.
"Henny, kamu benar"—Cinta menarik napasnya panjang—"aku harus hati-hati," ucap Cinta tiba-tiba, sambil mengaduk-ngaduk minuman jus miliknya dengan sendok.
"Benar apa?" Henny tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya, Cinta.
"Soal perjodohan kemarin," sambung Cinta.
"Om berewokan!?" teriak Henny heboh membuat beberapa mahasiswa-mahasiswi di kantin memperhatikan mereka.
"ssttt,"—Cinta meletakkan jari telunjuknya di depan mulut—"jangan teriak heboh begitu kenapa sih Hen. Lihat, kita jadi bahan objek perhatian mahasiswa lain," tunjuk Cinta pada beberapa orang yang memperhatikan mereka.
"Kamu dijodohkan dengan om-om berewokan Cin?" bisik Henny, karena ia juga malu jika berteriak seperti tadi dan menjadi bahan gosip nantinya.
"Bukan itu maksudku."
"Terus soal apa? Kata kamu tadi aku benar." Henny yang semakin bingung dengan ucapan Cinta tadi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Orang yang tidak sengaja aku tabrak kemarin itu kakaknya Aldi," ungkap Cinta.
"Kakak Aldi? Kamu tau dari mana Cinta kalau dia itu kakaknya Aldi? Terus kenapa jadi bahas itu?—Henny mengerucutkan bibirnya lucu tanda tak mengerti—"bukannya kita lagi bahas tentang perjodohan kamu ya?"
"Ini ada hubungannya Hen, soalnya orang yang dijodohkan Papa aku ke aku itu kakaknya Aldi."
Henny langsung batuk tersedak makanan yang baru saja ia kunyah. Cinta yang melihat sahabatnya tersedak langsung saja memberikannya minum.
"Dunia memang sempit Cin," Henny menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya.
Aldi yang baru masuk kantin melihat ke sekeliling, "Sepertinya meja kantin sudah penuh" pikirnya. Karena ia tadi kebelet buang air kecil membuat ia harus mampir dulu ke toilet, jadilah sekarang ia kehabisan bangku di kantin untuk duduk. Namun sepertinya keberuntungan berpihak padanya, ia melihat Cinta dan Henny duduk di salah satu meja dan tersisa dua bangku kosong di sampingnya, langsung saja Aldi berjalan mendekati mereka.
"Si Eko mana? Tumben tidak kelihatan, biasanya menempel dengan kamu terus, Hen." tanya Aldi yang langsung mendudukkan dirinya di bangku di sebelah Cinta.
"Aish!"—pekik Cinta memegang dadanya—"Aldi kamu membuat aku kaget saja deh," ungkap Cinta merasa kaget karena Aldi tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
"Iya ih, seperti hantu saja suka bikin orang kaget." Henny ikut menimpali.
"Di perpustakaan, mengerjakan tugas dari dosen dia," sambung Henny menjawab pertanyaan Aldi.
"Oh. Hehe, Iya maaf,"—Aldi tesenyum kikuk—"kalian lagi membicarakan apa sih? Sepertinya seru banget." sambung Aldi bertanya.
"Kami cuma membahas rencana liburan akhir tahun, iya kan Hen?" Cinta memberi isyarat mata pada Henny untuk tidak memberitahukan Aldi jikalau mereka sedang membahas kakaknya Aldi, Henny menurut dan menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, tinggal 2 minggu lagi kan ya,"—Aldi mengangguk—"aku mau pesan makanan dulu ya, sudah lapar banget soalnya nanti keburu masuk," sambungnya beranjak dari kursinya dan pergi memesan makanan.
°°°
Cinta dan Henny berjalan di Parkiran Kampus, semua jadwal mata kuliah mereka berdua hari ini telah selesai, jadi mereka sudah bisa pulang.
Terlihat seorang lelaki berdiri tepat di depan mobil Cinta yang terparkir.
"Cin lihat deh, itu kan mahasiswa baru yang famous itu. Kenapa berdiri di depan mobil kamu?" Henny yang pertama menyadarinya menyenggol bahu Cinta dan yang di senggol langsung mengarahkan pandangannya ke objek yang disebutkan sahabatnya tadi.
"Iqbal?" ucap Cinta tepat saat berdiri tak jauh dari mobilnya yang terparkir.
Ternyata lelaki yang dimaksud Henny ialah Iqbal. Iqbal berjalan mendekati Cinta dan Henny saat terdengar olehnya suara gadis itu.
"Ayahku menyuruhku mengajakmu pergi jalan malam ini," ucap Iqbal tepat di depan Cinta, Cinta diam tak menjawab namun beberapa detik berikutnya ia mengangguk.
"Aku akan menjemputmu jam 7 malam nanti di rumahmu," ujar Iqbal sebelum berjalan berlalu meninggalkan Cinta yang masih tak bergeming.
"Cin?" panggil sahabatnya. Merasa tak mendapatkan respon, Henny sedikit menggoyang bahu Cinta.
"Eh?" sadar Cinta menolehkan wajahnya pada Henny.
"Jadi itu cowok yang akan dijodohkan ke kamu Cin?" tanya Henny untuk memastikan dugaannya.
"Iya, jutek banget kan?" jawab Cinta sambil memperhatikan Iqbal yang berjalan memasuki mobil hitamnya.
"Tapi kamu beruntung Cin," celetuk Henny yang juga memperhatikan Iqbal dari belakang.
"Beruntung kenapa? Aku dijodohkan dengan cowok seperti dia itu cobaan Hen, bukannya keberuntungan," tukas Cinta.
"Itu dia mahasiswa baru yang aku maksud kemarin, yang kamu tanya ke aku waktu kita di kantin." Henny dengan antusiasnya mengingatkan.
"Aku pulang duluan ya, Hen," Cinta tak menanggapi ucapan Sahabatnya, memilih masuk ke mobil dan melajukannya keluar gerbang kampus.
"Kebiasaan deh, aku belum selesai ceritanya, sudah ditinggal pergi begitu saja," keluh Henny memprotes melihat kelakuan Cinta yang selalu saja membuat ia kesal.
To Be Continue...