NovelToon NovelToon
Fii Lauhim Mahfudz

Fii Lauhim Mahfudz

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:385k
Nilai: 4.9
Nama Author: Febby Sadin

Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....

Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...

selamat membaca 🥰🥰🥰

bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih melekat

Setelah diketahui Sang penggembala ternyata kambing tua kesayangannya masuk kedalam sumur, Sang penggembala pun berusaha menolongnya. Karena ternyata sumur itu telah memakan banyak korban. Telah banyak hewan lain yang terperosok ke dalamnya.

Namun, sayangnya, Sang penggembala meski telah berusaha, tetap saja tak mampu menolong

kambing tua. Akhirnya dia berusaha mengikhlaskan kambing tua kesayangannya itu.

Sumur itu pun ditutup, agar tak lagi memakan korban. Semakin lama, sumur itu pun ditutup dengan gundukan pasir. Awalnya, si kambing tua mengira ada pertolongan lagi dari atas sumur, namun ternyata lama kelamaan hanya gundukan pasir yang ada.

Pasir itu mengenai dirinya, setiap pasir itu di lemparkan ke dalam sumur dengan jumlah yang banyak, setiap itu pula dia berusaha mengibaskan pasir yang mengenai tubuhnya agar tak menguburnya pula.

Dan semakin lama, gundukan pasir itu meninggi, dan saat hampir menutup sumur, saat itu pula kambing tua pun melompat. Saat itu juga si kambing tua pun akhirnya bisa keluar dari dalam sumur.”

Habibah mengakhiri ceritanya dengan memberikan pesan-pesan dari kisah yang di

ceritakannya.

“Dari cerita itu, setiap pendengar pun bisa mengambil Hikmah darinya. Kita jangan

mudah putus asa. Meski cobaan bertubi-tubi. Namun jadikanlah cobaan itu sebgai jalan

menuju keberhasilan. Percayalah bahwa kita bisa.” Ucap Habibah, mengakhiri ceritanya.

Aby tersenyum, tatapannya seketika nanar. Begitu menampakan bahwa dia sedang

berpikir tentang hal yang diceritakan Sang adik. Habibah berusaha pahaminya. Dalam

tuntunannya menggandeng Sang kakak, dia terus saja membatin,

“Duhai Habibi, andai kau bagai Aby ku pastilah aku takkan resah memikirkanmu, karena kau dekat denganku, pasti aku takkan merindu untuk bisa melihatmu, karena kita selalu bersama, pastilah aku takkan merasa miris, karena kau juga sedang memikirkanku. Namun kau hanya Habibi fi qolby wal jasadi?”

Sembari berjalan kembali kerumah, Aby kembali memakai tongkatnya. Habibah kembali

menuntunnya. Hari itu seolah cukup bagi keduanya. Habibah sangat menyayangi Sang kakak, begitu pula sebaliknya.

Sesampainya keduanya di rumah, Sang Ibu mendekati keduanya yang kini duduk di

ruang tamu. Habibah tahu pasti akan ada yang

Sang Ibu ingin sampaikan pada keduanya.

Namun kenyataan, Sang Ibu hanya menyampaikan sesuatu untuk Habibah, di mana telah diketahui sebelumnya oleh Aby.

Sang Ibu menyodorkan sebuah lembaran pada Habibah sembari berkata, “Untukmu,

nak… bacalah!” Dan seketika itu, dengan sejuta pertanyaan di benaknya Habibah pun

menerima lembaran itu dan membacanya.

“Surat pendaftaran kuliah?” Habibah bertanya, seolah bertanya pada dirinya sendiri.

“Iya, nak… dua hari lalu Ibu pergi ke kota untuk mendaftarkanmu kuliah…”

Terkejutlah Habibah mendengar pengalaman Sang Ibu, dimana hal itu yang selama ini

dipertanyakan oleh Habibah kemana perginya Sang Ibu waktu itu.

“Ya Allah! Ibu…” Habibah hanya mampu menyeru, tak kuasa dia lontarkan keluhan atau

suatu kata yang mengesankan bahwa dia tak mau.

Karena dalam lubuk hatinya, dia tak pernah lagi ingin menyakiti Sang Ibu dan dia juga ingin mengenyam kembali pendidikan tinggi, sebagaimana keinginannya dulu.

Tanpa dia sadari setetes butiran mengalir di pipinya, dengan sigap jemarinya sesegera

mungkin menyekanya.

“Terimakasih, Ibu…” hanya itu yang mampu di ucap.

Sang Ibu pun menggenggam tangan Habibah, begitu erat. Seolah menyampaikan padanya. Bahwa Habibah harus tenang dan kuat, begitu takdir Tuhan.

Sedangkan Aby yang duduk tepat di samping kiri Habibah pun, langsung merangkuhnya,

hingga jatuhlah kepala Habibah ke pundak Aby.

“Sudah, jangan menangis…”

“Tangis haru!” jawab Habibah,

“Uuuh…” Aby menimpali, seolah menggoda.

Sang Ibu pun tersenyum renyah, “Minggu depan kau mulai masuk. Di lembaran itu tertulis segala rinciannya, bukan?” seolah bertanya pada diri sendiri. Habibah mengangguk mengiyakan.

“Bila nanti di sana tak kau temui aku, carilah sosok yang sepertiku minimal, mungkin hal

itu dapat obati rindumu padaku…”

“Kok kakak berkata begitu? Memangnya begitu jauhkah?”

Keduanya mengangguk, dan Sang Ibu menjawab,

“Itu di tempatmu dulu sekolah, nak… kau akan kembali tempati rumah Ayahmu yang

dulu di sana…”

Tercenganglah Habibah mendengarnya, “Hah?!!” tak ada komentar lebih darinya, pada

keluarganya dia hanya mampu menjadi orang yang selalu lapang dada. Dia selalu

mengutamakan diam.

Aby dan Sang Ibu pun tersenyum melihat Habibah. Kembali Aby mengelus lengan

adiknya di saat-saat keterkejutan Habibah.

“Tenanglah, bila aku sembuh akan ku susul kamu…” Ucap Aby, tak melanjutkan. Dia seolah menyembunyikan sesuatu yang tak Habibah ketahui, ataupun juga Sang Ibu. dia hanya menyisakan senyuman, untuk menutupi hal itu.

“Ah, kakak bisa aja…amin aja lah.“ Habibah membalas senyuman Aby.

...****************...

Lagu-lagu indah terputar urut, terdengar indah menunjukkan hati. Tak bosan dia dengarkan tiap waktu. Seolah hanya itulah penenangnya, menemani disetiap keadaan apapun.

Dan seolah hal itulah yang membuatnya mampu bertahan tanpa seorang yang spesial di hatinya. Baginya telah menjadi pelipur lara. Tak segan sesekali dia pun ikut mendendangkan

irama syurga itu. Lagu terindah yang dia sukai,

“Yaa dzal asma’il Husna

Yaa kholiqonaa Ghufroonak

Nas aluka wa antal asma’

Na’mal ‘afwaka subhanak.”

Tak kunjung lengah dia dendangkan lagu-lagu itu. Dengan sekali melirik ponselnya yang memunculkan pesan-pesan, di mana hal begitu tak membuatnya senang sedikitpun, hanya sebagai pengisi waktu luang dan penghibur sementaranya. Meski jarang dia acuhkan

ponselnya.

Ponselnya berdering, satu telpon masuk. Hal itu mengejutkannya, namun dengan sigap dia pun mengangkat telpon tersebut, lagu-lagu masih tetap terputar.

“Hallo, Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…”

“Maaf, ini siapa?”

Tut! Tut! Tut!

Tiba-tiba telpon terputus. Lagi-lagi dia mendapat telpon dengan private number yang tak jelas. Dia lemparkan ponselnya di atas tumpukan bantal-bantal dan dia lemparkan pula tubuhnya di atasnya. Dia terawang langit-langit kamarnya. Perlahan bibirnya bergerak mengucap,

“Astaghfirullahal’adzim… Allah…”

Dia sangat berharap suara itu adalah seorang

yang di impi-impikannya. Setiap private

number, hanya ada jawaban seorang bersuara lembut itu yang dia dengar. Hal itulah yang

membuatnya semakin bertanya-tanya,

“Siapa dia?”

Dia pandangi sebuah kado tak berpengenal yang kini hanya terpajang di lmarinya.

Sampai saat itu dia sedikitpun untuk mencoba membacanya. Kado yang sangat misterius

baginya. Yang di dalamnya berisi dua buah lembaran bersama dengan kado itu. Kembali dia menghela napas panjang. “Siapa dia?”

Bila saat dia buka bukunya, di mana terdapat dua buah lembaran yang tak berpengenal

itu, ingin sekali dia meneteskan air mata, tak kuasa menahan sakit di hatinya, betapa inginnya dia, bahwa dia ingin ketahui siapa gerangan penyampai kata-kata itu padanya?

𝙷𝚊𝚙𝚙𝚢 𝙱𝚒𝚛𝚝𝚑𝚍𝚊𝚢 𝚋𝚞𝚊𝚝𝚖𝚞…

𝚂𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚍𝚒 𝚞𝚕𝚝𝚊𝚑𝚖𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚒𝚗𝚓𝚊𝚔 𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚍𝚎𝚠𝚊𝚜𝚊, 𝚍𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊 𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚛𝚎𝚖𝚊𝚓𝚊𝚖𝚞, 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚖𝚋𝚒𝚕 𝚑𝚒𝚔𝚖𝚊𝚑 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊 𝚍𝚊𝚗 𝚝𝚊𝚔 𝚞𝚜𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚕𝚞𝚙𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚛𝚎𝚖𝚊𝚓𝚊𝚖𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚎𝚛𝚒𝚑 𝚖𝚊𝚞𝚙𝚞𝚗 𝚒𝚗𝚍𝚊𝚑. 𝙺𝚎𝚍𝚞𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗𝚍𝚞𝚗𝚐 𝚑𝚒𝚔𝚖𝚊𝚑 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚍𝚎𝚙𝚊𝚗𝚖𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚔𝚎𝚝𝚊𝚑𝚞𝚒 𝚒𝚗𝚒…

𝙷𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚛𝚙𝚛𝚒𝚑 𝚋𝚊𝚐𝚒𝚖𝚞 𝚍𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚓𝚊𝚍𝚒𝚔𝚊𝚗𝚕𝚊𝚑 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚋𝚎𝚔𝚊𝚕𝚖𝚞 𝚙𝚎𝚛𝚋𝚊𝚑𝚊𝚛𝚞𝚒 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚍𝚒 𝚞𝚜𝚒𝚊𝚍𝚎𝚠𝚊𝚜𝚊𝚖𝚞, 21 𝚝𝚊𝚑𝚞𝚗…

𝙿𝚘𝚔𝚘𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚒𝚔-𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚛𝚝𝚊𝚒𝚖𝚞… 𝚊𝚖𝚒𝚒𝚗.

𝙸𝚗𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒𝚔𝚞.

𝙰𝚔𝚞 𝚢𝚊𝚔𝚒𝚗 𝚔𝚊𝚞 𝚝𝚊𝚑𝚞 𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚖𝚊𝚕𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚝𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊-𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚊𝚙𝚊𝚝 𝚒𝚗𝚒.

𝚃𝚎𝚛𝚜𝚎𝚛𝚊𝚑 𝚔𝚊𝚞 𝚊𝚗𝚐𝚐𝚊𝚙 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚊𝚙𝚊. 𝚃𝚊𝚙𝚒 𝚓𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚞 𝚊𝚗𝚐𝚐𝚊𝚙 𝚒𝚗𝚒 𝚑𝚊𝚕 𝚗𝚎𝚐𝚊𝚝𝚒𝚏 𝚍𝚒 𝚞𝚜𝚒𝚊 𝚍𝚎𝚠𝚊𝚜𝚊𝚖𝚞,…

Jemarinya menyentuh tulisan terakhir, dimana tulisan itu menjadi sebagai salam penutup

tanda pengenal yang tak dia ketahui. Tanda bahwa hal itu yang akan membuatnya ketahui

kelak siapa pengirim kado besertakan dua lembaran itu.

𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊

𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊 𝙰𝚔𝚞. 𝙰𝚗𝚐𝚐𝚊𝚙

𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝙰𝚕𝚕𝚊𝚑

𝚂𝚞𝚋𝚑𝚊𝚗𝚊𝚑𝚞 𝚆𝚊𝚝𝚊’𝚊𝚕𝚊

Dan sampai saat ini, meski dia telah coba turuti kata-kata itu, bahwa menganggap kado itu dari Allah Subhanahu Wata’ala, dia tetap tak mampu tutupi perasaan bahwa dia ingin ketahui. “Siapa dia?”

Perlahan dia ingat sebuah kata-kata dari isi pesan yang sampai kini belum di sentuhnya

oleh program delete. Kata-kata dari Ummu Habibah.

𝙰𝚔𝚞 𝚙𝚎𝚛𝚐𝚒 𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚎𝚛𝚙𝚒𝚑𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚕𝚊𝚋𝚞𝚑 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞

𝚝𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝 𝚙𝚎𝚗𝚐𝚎𝚖𝚋𝚊𝚛𝚊𝚊𝚗 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚞𝚗𝚢𝚒 𝚝𝚎𝚛𝚕𝚊𝚖𝚙𝚊𝚞𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚊

𝚋𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐-𝚋𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚕𝚊𝚕𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚎𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚛𝚊𝚙𝚞𝚑 𝚝𝚎𝚛𝚑𝚊𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊. 𝙿𝚊𝚍𝚊𝚑𝚊𝚕

𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊 𝚑𝚊𝚗𝚢𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚙𝚊𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 𝚜𝚊𝚗𝚍𝚒𝚠𝚊𝚛𝚊 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚔𝚎𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚖𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊.

Dimana yang saat itu dia langsung menyanggahnya dalam telpon, bahwa baginya dunia bukanlah panggung sandiwara. Namun sebuah anugerah dari Allah Subhanahu Wata’ala, dimana hambanya harus mensyukuri akan semua itu tanpa mengeluhi segala hamparan cobaan dari Nya. Dan terus tetap berusaha meraih puncak keanugerahan yang tak mudah mendapatkannya.

Huft!

Kembali dia mempaskan napas panjangnya, sedikit rasa kesal bertenggar di hati. Seolah

tak mampu dia hilangkan. Pikirannya begitu kacau, alisnya sangat berkerut memikirkan

segala hal itu. Karena segala misterius itu tidak hanya sekali dia dapatkan. Hal itupun juga

membuatnya menyangkut pautkan tentang dirinya bersama Ummu Habibah. Namun, kembali lagi dia menyanggahnya. Hati tak sejalan dengan pikirannya. Dia takkan pernah percaya bila benar hal itu dari seorang Ummu Habibah.

...****************...

Serpihan kasih dan sayang dimasa lampau masih melekat dalam jiwa masa depan.

Terpikirlah oleh dua hati dari masing-masing pemilik hati dan jiwa… keduanya benar-benar

tak mudah melupakan.

Namun selalu tetap mencoba sebisa mungkin menyikapi keadaan yang serba mengkhawatirkan jiwa. Tak bisa lupakan sedikitpun kata yang harus dan semestinya tak ada. Mungkin selamanya akan melekat erat di dalam porosnya, di dinding dunia jiwanya.

Dia dekati tempat-tempat yang menyisakan kenangan baginya, yang memang tempat

itulah yang selalu hadir dalam kehidupan mengisi kesehariannya dan karena tempat itulah yang mempermudah dirinya untuk melepas rindu pada Rosulnya meski sejatinya tak pernah dilakukannya.

“Suratmu, itu darimu… kado itu, segalanya darimu… dan suaramu… ketiga hal itu yang

berhasil mengelabuhiku, menyiksaku… Lantas siapa dirimu?”

Dia bertanya dalam kebisuan, dalam kediaman, dalam kesendirian berteman sepi dan

yang akan di jawab oleh kesunyian hampanya keadaan…

Namun dia seorang berbeda, dia yakin bahwa dia kuat. Dan memanglah begitu, dia bukan seorang yang selalu meneteskan air mata di setiap hati merasa perih.

Dia bukan orang yang terkesan lemah, yang pasrah begitu saja pada nasib yang melilitnya. Karena begitulah dia. Dia seolah tak lagi punya beban, bila tekadnya telah berkata “Lupakan!” karena dia tak akan mampu menampung milyaran pertanyaan yang menghujaninya bila nantinya hal itu yang dia lakukan, seolah terpuruk dalam kesedihan.

Ahmad keluar dari kamarnya, bersamaan dengan itu dia telah keluar dari sumur duka

bayangan-bayangan masa lalu. Di genggaman ada peneguhnya, ada identitas dirinya, ada

penyejuk dukanya.

Dia duduk bersila berteman Al-Qur’an, dengan Basmalah dia pun menenggelamkan

pikirannya dalam lantunan ayat-ayatNya yang Mulia. Lupakan hal-hal yang

menenggelamkannya dalam duka.

...****************...

Sedangkan dari jiwa yang lain, kini dia mengembangkan senyumnya, semakin merekah dan terlihat indah bagai mawar merah.

Dia dekati hal-hal yang menyisakan sebuah kenangan baginya, yaitu tulisan-tulisannya sendiri. Dia tak merasa sengsara membacanya kembali, kebahagiaan yang tercipta, karena dia merasa seolah menghadirkan sosoknya, seorang yang di rindunya itu datang di hadapan.

Dia sentuhi pada tulisan itu, seolah menyentuh lembut wajah sosok seorang kekasih dengan penuh kasih sayang. Seolah dia ucapkan pada kekasihnya, bahwa dia rindu. Meski dia sadar hal itu hanya sekedar sebuah tulisan.

𝓢𝓪𝓪𝓽 𝓼𝓪𝔂𝓪𝓹-𝓼𝓪𝔂𝓪𝓹 𝓫𝓮𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷, 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪

𝓼𝓪𝔂𝓪𝓹 𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰-𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰𝓷𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓾 𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽…

𝓑𝓪𝓷𝔂𝓪𝓴 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓻 𝓼𝓾𝓪𝓻𝓪-𝓼𝓾𝓪𝓻𝓪 𝓴𝓲𝓬𝓪𝓾𝓪𝓷

𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓜𝓲𝓵𝔂𝓪𝓻𝓪𝓷 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷, 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓼𝓾𝓪𝓻𝓪 𝓛𝓮𝓶𝓫𝓾𝓽𝓶𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓻𝓪𝓼𝓾𝓴 𝓴𝓮 𝓭𝓪𝓵𝓪𝓶 𝓳𝓲𝔀𝓪…

𝓛𝓪𝓰𝓾-𝓵𝓪𝓰𝓾 𝓲𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓽𝓮𝓻𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓻, 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪

𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰-𝓫𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰𝓶𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓷𝓪𝓻𝓲 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓻𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷𝔂𝓪…

06.00 090905

𝓢𝓮𝓵𝓪𝓼𝓪

𝓐𝓹𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓱𝓪𝓻𝓾𝓼 𝓴𝓾𝓵𝓪𝓴𝓾𝓴𝓪𝓷, 𝓼𝓮𝓰𝓪𝓵𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓼𝓾𝓷𝔂𝓲 𝓪𝓴𝓾 𝓽𝓮𝓻𝓭𝓲𝓪𝓶 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓴𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓶𝓮𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽 𝓽𝓪𝓽𝓪𝓹𝓪𝓷𝓶𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰

𝓼𝓮𝓸𝓵𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓪𝓽𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓼𝓾𝓪𝓽𝓾 𝓹𝓾𝓵𝓪 𝓹𝓪𝓭𝓪𝓴𝓾, 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓲𝓽𝓾 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓹𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪𝓪𝓷𝓴𝓾…

𝓐𝓴𝓾 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓴𝓪𝓾 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓶𝓮𝓶𝓲𝓴𝓲𝓻𝓴𝓪𝓷𝓴𝓾…

𝓑𝓲𝓵𝓪 𝓲𝓷𝓲 𝓶𝓮𝓶𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓪𝓴𝓭𝓲𝓻, 𝓶𝓪𝓴𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓸𝓱𝓸𝓷 𝓽𝓪𝓴𝓭𝓲𝓻𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝓲𝓴 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝓲𝓴…

𝓑𝓲𝓵𝓪 𝓶𝓮𝓶𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓰𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓻𝓫𝓪𝓲𝓴, 𝓶𝓪𝓴𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓸𝓱𝓸𝓷 𝓽𝓮𝓰𝓾𝓱𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓴𝓾 𝓹𝓪𝓭𝓪𝓜𝓾…

𝓑𝓲𝓵𝓪 𝓼𝓮𝓶𝓾𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓶𝓮𝓶𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓾𝓪𝓽𝓾 𝓹𝓮𝓻𝓼𝓮𝓶𝓫𝓪𝓱𝓪𝓷 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓹𝓮𝓷𝓮𝓰𝓾𝓱 𝓱𝓪𝓽𝓲, 𝓶𝓪𝓴𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓼𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓶𝓸𝓱𝓸𝓷 𝓡𝓲𝓭𝓵𝓸𝓲𝓵𝓪𝓱 𝓪𝓴𝓾 𝓨𝓪 𝓡𝓸𝓫𝓫…

𝓢𝓮𝓸𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓮𝓻𝓲𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓼𝓲𝓪-𝓼𝓲𝓪…

𝓣𝓪𝓷𝓰𝓲𝓼 𝓹𝓾𝓷 𝓽𝓪𝓴 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓻𝓽𝓲…

𝓗𝓪𝓽𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓭𝓾𝓼𝓽𝓪…

𝓗𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓡𝓲𝓭𝓵𝓸𝓜𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓹𝓪𝓼𝓽𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓫𝓮𝓻𝓪𝓻𝓽𝓲…

𝓡𝓪𝓷𝓰𝓴𝓾𝓱𝓵𝓪𝓱 𝓗𝓪𝓶𝓫𝓪 𝓨𝓪 𝓡𝓸𝓫𝓫𝔂…

𝓡𝓮𝓷𝓰𝓴𝓾𝓱𝓵𝓪𝓱 𝓱𝓪𝓶𝓫𝓪 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓴𝓮𝓱𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽𝓪𝓷 𝓡𝓲𝓭𝓵𝓸𝓜𝓾 𝓨𝓪 𝓡𝓸𝓫𝓫…

𝓐𝓶𝓲𝓲𝓷

Dan saat dia sentuhi beberapa lembar setelah itu, betapa dia langsung mengingatnya,

tepat saat dia melihat sosok yang dirindukannya saat itu, namun sosok itu bukan membalas

tatapannya malah bercanda gurau dengan wanita lain. Dan tanpa merasa sembari membaca tulisan-tulisannya sendiri, air matanya menetes.

𝓜𝓮𝓻𝓲𝓷𝓭𝓾𝓴𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪

𝓫𝓮𝓰𝓲𝓽𝓾 𝓼𝓪𝓴𝓲𝓽 𝓭𝓲 𝓱𝓪𝓽𝓲

𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪𝓹 𝓶𝓮𝓷𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓻 𝓱𝓪𝓵-𝓱𝓪𝓵 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓷𝓰𝓪𝓽￾𝓴𝓪𝓷𝓴𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓶𝓾, 𝓽𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪 𝓫𝓮𝓰𝓲𝓽𝓾 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓪𝓴𝓲𝓽𝓴𝓪𝓷…

𝓢𝓮𝓭𝓪𝓷𝓰 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓶𝓾 𝓽𝓪𝓴 𝓼𝓮𝓭𝓲𝓴𝓲𝓽𝓹𝓾𝓷

𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓷𝓰𝓪𝓽𝓴𝓾, 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓸𝓫𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓹𝓾𝓷 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴,

𝓭𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓾 𝓫𝓮𝓻𝓬𝓪𝓷𝓭𝓪 𝓽𝓪𝔀𝓪 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓪𝓲𝓷

Setetes lagi jatuh mengenai tulisan itu, dia kembali membuka tiap lembarnya, dia masih

ingin memutar memory masa lalunya, meski sakit terasa menusuk-tusuk hatinya saat itu.

Namun dia tetap berusaha kuatkan hati.

𝓐𝓷𝓭𝓪𝓲 𝓴𝓪𝓾 𝓽𝓪𝓱𝓾

𝓑𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓫𝓮𝓼𝓪𝓻 𝓹𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪𝓪𝓷 𝓲𝓷𝓲 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴𝓶𝓾,

𝓑𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓫𝓮𝓻𝓾𝓼𝓪𝓱𝓪 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓪𝓭𝓪𝓻𝓴𝓪𝓷𝓶𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓹𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪𝓪𝓷𝓴𝓾,

𝓑𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓶𝓮𝓷𝔂𝓮𝓷𝓽𝓾𝓱 𝓹𝓲𝓹𝓲𝓶𝓾 𝓭𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓪𝓽𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓪𝓴𝓾 𝓼𝓪𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓹𝓪𝓭𝓪𝓶𝓾

𝓣𝓪𝓷𝓰𝓲𝓼𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓸𝓵𝓪𝓱 𝓽𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓱𝓲𝓷𝓰𝓰𝓪 𝓴𝓮𝓻𝓲𝓷𝓰. 𝓢𝓮𝓽𝓲𝓪𝓹 𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽𝓶𝓾 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓲𝓼. 𝓢𝓮𝓶𝓾𝓪 𝓲𝓽𝓾

𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓴𝓾 𝓪𝓭𝓾𝓴𝓪𝓷 𝓹𝓪𝓭𝓪 𝓹𝓪𝓬𝓪𝓻𝓴𝓾, 𝓷𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓪𝓴𝓾 𝓱𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓲𝓶𝓾…

𝓑𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓲𝓶𝓾, 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓾𝓻𝓾𝓱 𝓱𝓲𝓭𝓾𝓹𝓴𝓾…

𝓑𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓲𝓶𝓾, 𝓵𝓮𝓫𝓲𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓪𝓾 𝓽𝓪𝓱𝓾… 𝓪𝓴𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓪𝓭𝓪 𝓭𝓲 𝓭𝓮𝓴𝓪𝓽𝓶𝓾

𝓐𝓴𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓮𝓶𝓪𝓷𝓲 𝓱𝓪𝓻𝓲𝓶𝓾

𝓚𝓪𝓾 𝓱𝓪𝓻𝓾𝓼 𝓽𝓪𝓱𝓾 𝓫𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓲𝓶𝓾

𝓓𝓪𝓷 𝓼𝓪𝓪𝓽 𝓴𝓪𝓾 𝓽𝓮𝓻𝓼𝓮𝓷𝔂𝓾𝓶 𝓹𝓪𝓭𝓪 𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓪𝓲𝓷, 𝓫𝓮𝓽𝓪𝓹𝓪 𝓼𝓪𝓴𝓲𝓽 𝓱𝓪𝓽𝓲𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓵𝓲𝓱𝓪𝓽𝓶𝓾… 𝓪𝓴𝓾 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓴𝓪𝓾

𝓽𝓪𝓱𝓾, 𝓫𝓪𝓱𝔀𝓪 𝓪𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪𝓲𝓶𝓾…

“Ya Allah, astaghfirullahal’adzim…

Aku mohon ampun atas segala dosa-dosaku… ampuni pula aku atas perasaanku bila

terlalu menyayangi dan mencintai sesuatu…

Ridloilah keduanya untuk tetap terus bersemayam di hatiku. Biarlah perasaan ini aku yang merasakan. Biarlah bila tak ada balasan sedikitpun untukku, cukup Engkau yang tahu meski dia tak pernah tahu, cukup aku bahagia memiliki perasaan ini, meski sakit hati

menjalar sekujur tubuhku bila dia bukan menjadi milikku,

Jadikanlah perasaan ini suatu pengabdianku padaMu, telah mengagumi suatu ciptaan Mu

yang begitu sempurna, sosok penghafal segala firman Mu, sosok pengagung Rosul Mu…”

Perlahan dia hapusi air matanya, dia tutup kembali tulisan-tulisannya dan menyimpannya. Dia beranjak mengambil wudlu, dia pakai jilbab, dan dia raih mushafnya, dia duduk di atas hamparan sajadah sholatnya, dan dia pun menderas Al-Qur’an. Dan berharap

RidloNya merengkuh hingga ketenangan memenuhi jiwanya.

...****************...

Tatapan memincing kekejauhan, dia pandangi dengan tajam, dia rasuki hamparan keadaan di luar jendela kamarnya, dan perlahan dia pejamkan kedua matanya, mencoba rapuhkan segala pikirannya untuk sekiranya dapat tundukkan.

Tok! Tok! Tok!

“Iya…” seketika langsung dia buka pejaman kedua matanya,

“Cepatlah, Syahdu… kita segera berangkat, nak!”

“Iya, Ibu…”

“Beginilah susahnya memiliki diriku, susah segala-galanya, belum memikirkanku, belum

membiayaiku, lalu untuk apa aku di lahirkan bila hanya menyusahkan kalian saja?!” gerutnya

dalam hati.

Dia pun segera keluar dari kamarnya, dia tak mengganti pakaiannya, dia hanya

menambahkan jilbab untuk menutupi kepalanya dan berjas untuk tutupi baju lengan pendeknya.

Dia tak seutuhnya rela melanjutkan jenjang pendidikannya. Dia hanya ikuti hasrat keluarganya dan turuti saja semuanya. Baginya seolah tak ada lagi yang penting, karena kehidupan tak lagi begitu indah.

“Ayo berangkat!” ucapnya. Saat dia telah berdiri tepat di depan keluarganya yang telah

menunggunya di depan rumahnya. Sedangkan saat kedua mata menatapnya semua,

terkejutlah semua.

“Ah! Seolah tak ada yang lebih indah di pandang mata lagi bagimu selain jas hitam yang

selalu kau pakai itu, Syahdu!” ucap Sang kakak, bermaksud menyindir, karena dia tahu meski

sindiran pedas apapun, takkan terbakar dan goyahlah si Syahdu itu.

Dan memang benar, Syahdu hanya menyungging senyuman dan kembali pada ekspresi semula.

Dia pun menaiki mobil, duduk di ujung dekat jendela, dia buka jendela dan menatap

keluar, tak sedikitpun kepalanya berpaling. Dia duduk tenang disana. Sedang kata-kata

kembali terlontar menyindir untuk dirinya.

“Apalah kau ini, Syahdu! Sudah tahu mobil ber-ac… masih saja jendela di buka lebar

begitu. Siapa yang harus mengalah kalau sudah begitu?” ucap Sang kakak.

Ayahnya pun menyahut dari depan,

“Ah sudahlah! Ayah matikan saja ac-nya. Biar Syahdu tenangkan pikirannya. Kita tak

bisa lagi bersama-sama dia tahun-tanun kedepan,” sang Ayah mencoba menerka-nerka,

sekaligus menghibur Syahdu. Dia berpikir bahwa sikap Syahdu seperti itu lantaran tak ingin pisah dari keluarga.

Sedangkan tak ada yang tahu hati Syahdu, tak satu pun yang tahu. Dia pura-pura tak

mendengar ucapan-ucapan tentangnya. Meski sejatinya dia mendengar. Baginya segumpal

telinganya tidaklah begitu bergema. Hanya satu gunanya saat itu. Menghiburnya dengan

lagu-lagu kesukaan sahabatnya waktu itu.

“𝓨𝓪 𝓡𝓸𝓫𝓫𝓲 𝓫𝓲𝓵 𝓶𝓾𝓼𝓽𝓱𝓸𝓯𝓪

𝓑𝓪𝓵𝓵𝓲𝓰𝓱𝓶𝓪𝓺𝓸 𝓼𝓱𝓲𝓭𝓪𝓷𝓪𝓪

𝓦𝓪𝓰𝓱𝓯𝓲𝓻𝓵𝓪𝓷𝓪 𝓶𝓪𝓶𝓪𝓭𝓵𝓸𝓸

𝓨𝓪𝔀𝓪𝓼𝓲’𝓪𝓵 𝓴𝓪𝓪𝓻𝓸𝓶𝓲

𝓨𝓪𝔀𝓪𝓼𝓲’𝓪𝓵 𝓴𝓪𝓪𝓻𝓸𝓶𝓲…”

“𝓜𝓪𝓾𝓵𝓪𝔂𝓪 𝓢𝓱𝓸𝓵𝓵𝓲 𝔀𝓪𝓼𝓪𝓵𝓵𝓲𝓶

𝓛𝓲𝓶𝓭𝓪𝓲𝓶𝓪𝓷 𝓪𝓫𝓪𝓭𝓪𝓪…

‘𝓐𝓵𝓪 𝓱𝓪𝓫𝓲𝓫𝓲 𝓴𝓪 𝓴𝓱𝓸𝓲𝓻𝓲𝓵

𝓡𝓲𝓵 𝓴𝓱𝓸𝓵𝓺𝓲𝓴𝓾𝓵 𝓵𝓲𝓱𝓲𝓶𝓲…”

Dia tatapi saja gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya. Dia tak ingin berfikir

apapun. Dia masih tetap nikmati lantunan sholawat dari dendangan lagu yang di dengarnya.

Dia hirup napas dalam-dalam. Saat dia menyadari air mata mengalir dari ujung pelupuk matanya. Terasa olehnya sentuhan tangan Ibunya pada lengannya, menuntun dirinya memasuki sebuah asrama perkuliahannya.

...****************...

.

.

Dukung Febby Sadin terus ya dan baca terus kelanjutannya.

harap maklum jika bayak kesalahan ketik 🥰

1
Minartie
karya sastra tingkat tinggi maaf jika aku membacanya kebingungan....mungkin 3 tahun lagi saat ku lulus kuliah akan membacanya lagi🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻💓💓💓💓💓
Febby Sadin: hehe baca terus aja siapa tau suka dek 😅 atau baca novel author yg lain 😉
total 1 replies
Agazzy Jun
sekian lama q bca novel bru kli ini puyeng q bcanya susah phminya
Febby Sadin: semangat 😄
total 1 replies
Nurul Komaria
Sampek di sini dulu ya soalnya capek dan mau sekolah
Novi 78
bingung akunya...
Daisy🌻
semngat kak 🔥🔥🔥

yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
Apriyani Nai Raden Bangsawan
bingung pahami nya 🙃
RN
7 like favorite untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Sari Fatun
mubeng mubeng ora paham alure py
Giesa Indawan
lanjut thor
Masni Shaqinah
bahasanya baku banget...agak ribet memahaminya,,🙏
Bill: Mampir yuk ke cerita islami ku yang berjudul "DIARY ALHANAN"
total 1 replies
R_3DHE 💪('ω'💪)
bahasanya terlalu berat.... susah dimengerti...
Bill: Mampir yuk ke cerita islami ku yang berjudul "DIARY ALHANAN"
total 1 replies
Fans Beratmu
lanjut Thor
Giesa Indawan
masyaAllah... aku suka dari stiap susunan kalimatnya
Bill: Mampir yuk ke cerita islami ku yang berjudul "DIARY ALHANAN"
total 1 replies
Abdhi Al Jundi
mata y terlalu puitis bnyk sekali.. hayalan y sehingga yg baca bosan...
Abdhi Al Jundi
terlalu bnyk puisi jd bhs y ky sangat pujangga... menghayal y terlalu jauh
yeni nofriza
aaaaaaahhhhhh.... kirain 😅😅😅😅
siska mentari
ku bava berulang2. sehingga paham sya . haduhhhh
Bill: Mampir yuk ke cerita islami ku yang berjudul "DIARY ALHANAN"
total 2 replies
Elly Supriaty
bunda pingin sekali ada lanjutan thor
Elly Supriaty: insyaaAllah bunda mau
total 2 replies
Nenden Sulastri Rosida
sya msih blm fham sm alur crita ny,tp msh lnjut bca z lh.....
Bill: Mampir yuk ke cerita islami ku yang berjudul "DIARY ALHANAN"
total 2 replies
Elis Sa
lanjut mbak feb...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!