NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERANGAN BIBI MARNI

Ruang keluarga bagian timur mansion ini didesain dengan gaya klasik yang berlebihan. Sofa beludru hijau tua, meja kopi kayu berukir, dan karpet Persia yang motifnya terlalu ramai untuk ukuran mata manusia. Vania duduk di salah satu sofa, memegang gelas orange juice-nya dengan kedua tangan, menatap cairan oranye itu dengan tatapan hampa. Dia sedang mencoba menikmati lima menit kedamaian sebelum makan siang, sebuah kemewahan yang langka di dunia sinetron ini.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang diseret-seret, dipadukan dengan gemerincing gelang emas yang berlebihan, terdengar dari arah lorong.

Vania tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Dia bahkan bisa menebak aroma parfum bunga yang terlalu menyengat itu.

Ah, dia datang, batin Vania, menatap lurus ke arah "kamera" imajinernya yang melayang di dekat vas bunga. Bibi Marni. Sang spesialis bisik-bisik, ratu drama koridor, dan biang kerok kesalahpahaman di setiap episode. Rating sinetron ini pasti naik sepuluh persen kalau dia muncul. Perhatikan cara dia berjalan, kamera. Pura-pura lemah lembut, tapi matanya siap mencari celah.

"Nona Vania..." suara itu terdengar manis, lengket, dan penuh dengan kepalsuan yang bisa membuat gigi berlubang.

Bibi Marni duduk di sofa seberang Vania. Dia mengenakan daster batik yang sebenarnya dilarang di ruang keluarga, tapi dia selalu melanggar aturan dengan dalih "nyaman". Wajahnya dipoles tebal, alisnya dicabut terlalu tipis, dan senyumnya tidak mencapai mata.

"Bibi sebenarnya tidak ingin ikut campur, Nona," Bibi Marni memulai, tangannya yang penuh cincin batu permata palsu menyentuh lengan Vania. "Tapi Bibi ini kasihan melihat Larasati. Gadis itu terlalu polos, Nona. Dia tidak tahu bahwa Nona..."

Vania meminum orange juice-nya satu teguk besar, lalu meletakkan gelasnya dengan suara tak yang cukup keras di atas meja kopi.

"Bibi," potong Vania, suaranya datar namun memotong udara dengan tajam. "Bibi mau bilang kalau aku akan menyakiti Larasati? Atau Bibi mau bilang kalau aku masih diam-diam mengirim surat cinta ke Raka? Atau mungkin Bibi mau bilang kalau aku meracuni kopi Pak Darmawan?"

Bibi Marni terkejut, mulutnya terbuka sedikit. "I-itu... Bibi cuma..."

"Bibi, dengar," Vania menyilangkan kakinya, menatap wanita di depannya dengan senyum yang sangat manis, namun matanya dingin seperti es kutub. "Aku tahu persis apa yang Bibi lakukan. Bibi pergi ke kamar Larasati, pura-pura mengasihani dia, lalu Bibi bilang kalau aku berencana menjebak dia di pesta minggu depan. Setelah itu, Bibi lari ke Tante Ratna, bilang kalau Larasati yang merencanakan sesuatu. Tujuannya cuma satu: biar mereka bertengkar, dan Bibi bisa duduk di pojokan minum teh sambil pura-pura jadi penengah."

Wajah Bibi Marni memucat. Senyum palsunya retak. "N-Nona Vania, apa-apaan ini? Bibi tidak pernah..."

"Oh, belum selesai, Bi," Vania memotong lagi, nadanya tetap santai, seolah sedang membacakan daftar belanjaan. "Ngomong-ngomong soal kasihan, Bibi masih bayar cicilan ke Pak Tejo di Glodok, kan? Cicilan buat bayar judi mahjong yang menumpuk sejak bulan lalu. Atau Bibi mau aku cerita ke Tante Ratna soal hidung Bibi yang aslinya pesek, dan sekarang pakai silikon grade C dari klinik ilegal di Pasar Baru yang mulai bergeser ke kiri kalau Bibi kena air panas?"

Hening.

Ruang keluarga yang tadinya hanya diisi suara AC, kini menjadi hening yang mencekam. Bibi Marni menatap Vania dengan mata terbelalak, napasnya tersenggal-senggal. Wajahnya yang dipoles tebal kini terlihat seperti topeng yang retak. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya, di bawah lapisan foundation yang tebal.

"K-Kau... dari mana kau tahu..." suara Bibi Marni bergetar, kehilangan seluruh aura "tante-tante bijak" yang tadi ia bangun.

Vania tertawa kecil, suara yang renyah dan tidak memiliki niat baik sama sekali. "Anggap saja aku punya mata di mana-mana, Bi. Jadi, saran aku? Kasihan sama diri sendiri dulu. Jangan sampai Tante Ratna tahu Bibi jual perak-perak di ruang makan buat bayar utang judi. Kalau Tante Ratna tahu, Bibi tahu sendiri kan dia akan ngapain? Dia akan bikin Bibi hidup lebih sengsara dari Pak Tejo."

Bibi Marni berdiri dengan gerakan yang kaku dan panik. Kain daster batiknya tersangkut di meja kopi, membuat dia hampir jatuh, tapi dia berhasil menyeimbangkan dirinya dengan canggung.

"A-Aku... Bibi harus pergi ke dapur. Kompor... kompor belum dimatikan!"

Dengan kecepatan yang tidak wajar untuk wanita seumurannya, Bibi Marni berlari terbirit-birit keluar dari ruang keluarga. Suara langkah kakinya yang memakai sandal selop terdengar tap-tap-tap menjauh dengan cepat, diikuti suara pintu yang dibanting.

Vania menghela napas, mengambil kembali gelas orange juice-nya. "Dasar amatir. Kalau mau jadi antagonis sinetron, minimal jangan gampang diancam pakai utang judi. Ratingnya turun, Bi."

***

Di balik pintu kayu jati yang setengah terbuka, tepat di seberang lorong, Kevin berdiri dengan tangan di saku celana.

Dia telah mendengar semuanya. Setiap kata. Setiap ancaman. Setiap detail tentang hidung silikon dan utang judi.

Seharusnya, sebagai seorang pria yang terbiasa dengan kekerasan dan intrik bisnis, dia merasa jijik melihat Vania merendahkan wanita tua itu. Seharusnya, dia merasa Vania terlalu kejam.

Tapi yang Kevin rasakan saat ini justru berbeda.

Dadanya berdegup dengan ritme yang aneh. Matanya menatap pintu ruang keluarga tempat Vania duduk, dengan tatapan yang gelap dan intens.

Dia menghancurkan wanita itu tanpa perlu menyentuhnya, batin Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang sulit diartikan. Dia menggunakan informasi sebagai senjata. Dia mendominasi situasi dengan ketakutan. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan histeris. Hanya eksekusi yang dingin dan efisien.

Kevin menggeser posisi tubuhnya, bersandar di kusen pintu. Vania... kau memang penuh kejutan. Dan aku mulai sangat, sangat suka dengan sisi gelapmu ini.

***

Sore harinya, Vania berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kamarnya. Mansion ini sepi, hanya ada suara langkah kakinya sendiri yang bergema di atas lantai marmer. Dia merasa puas. Menghilangkan satu ancaman kecil seperti Bibi Marni berarti mengurangi satu variabel yang bisa memicu plot kematian di episode 150.

Oke, satu down, batin Vania sambil menghitung di jari. Tinggal Tante Ratna, Om Reza, dan Pak Darmawan. Tenang, Van. Pelan-pelan. Nanti malam aku mau nonton TV, cari tahu apakah ada sinetron lain yang tayang di tahun 90-an ini.

Tepat saat dia berbelok di tikungan koridor menuju sayap barat, sebuah bayangan besar tiba-tiba menghalangi jalannya.

Vania berhenti mendadak.

Kevin berdiri di sana. Pria itu bersandar di dinding, kedua tangannya disilangkan di dada, menghalangi seluruh jalan setapak. Lampu lorong yang remang-remang menciptakan bayangan tajam di wajah Kevin, membuat stubble di rahangnya terlihat lebih gelap dan tatapannya lebih menusuk.

Vania menelan ludah. Insting bertahan hidupnya berteriak. System error. Villain detected in close proximity.

"Kau..." Kevin memulai, suaranya rendah dan bergema di lorong yang sepi. Dia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka hingga Vania bisa mencium aroma cologne maskulinnya yang bercampur dengan bahaya. "Kau berubah, Vania."

Vania memaksa kakinya untuk tidak mundur. "Orang berubah, Kevin. Itu namanya evolusi."

Kevin menunduk, menatap lurus ke dalam mata Vania. Tatapannya bukan tatapan marah, tapi tatapan seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesies baru yang sangat menarik.

"Bukan itu maksudku," bisik Kevin, suaranya serak, membuat bulu kuduk di leher Vania meremang. "Kau menjadi lebih... tajam. Lebih berbahaya. Dan aku ingin tahu kenapa."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!