NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7.Lingkungan baru, mengamati.

Qiao’er berjalan di depan, langkahnya ringan namun tertib, menuntun Li Yun melewati lorong kayu yang sederhana namun bersih. Udara di sini berbau segar — bukan wangi dupa yang menyengat seperti di kediaman utama, melainkan aroma kayu cendana yang lembut bercampur semerbak bunga melati yang tumbuh merambat di dinding.

"Ini kamar Pangeran," ucap Qiao’er pelan sambil mendorong pintu kayu yang tidak terkunci. Ruangan itu tidak luas, namun tertata rapi. Sebuah tempat tidur kayu berselimutkan kain katun berwarna krem, meja kecil di dekat jendela, dan lemari pakaian sederhana berdiri di sudut ruang. "Letaknya hanya beberapa langkah dari kamar Nona Li Hua. Jika Pangeran membutuhkan sesuatu, panggil saja saya tapi jika saya tidak datang itu tandanya saya repot."

Li Yun melangkah masuk, menatap sekeliling dengan tatapan waspada. Jauh dari kemewahan, jauh dari penjara tempat ia dikurung selama bertahun-tahun. Namun kenyamanan ini justru terasa lebih mencurigakan baginya.

Qiao’er mengeluarkan bungkusan kain kecil dari lengan bajunya, lalu menyodorkannya kepadanya. "Ini salep penyembuh luka dari Nona. Beliau berpesan... agar Pangeran beristirahat dulu beberapa hari. Beliau tidak membutuhkan pelayan yang masih kesakitan. Nona berkata, tidak ada gunanya pelayan yang berdiri tertatih-tatih atau pingsan di tengah pekerjaan. Jadi, sembuhkanlah tubuhmu dulu."

Li Yun menatap bungkusan itu di tangan gadis itu, tidak segera menyambutnya. "Dia bilang begitu?"

"Benar, Pangeran," Qiao’er mengangguk pelan, menyelipkan bungkusan itu ke telapak tangannya sendiri. "Beliau juga berpesan: jangan memaksakan diri bangun terlalu cepat. Luka di punggung dan lenganmu belum benar-benar kering. Jika terasa perih, panggil saja saya."

Gadis itu menunduk hormat, lalu melangkah mundur menuju pintu. "Saya permisi, Pangeran. Semoga istirahatmu tenang."

Pintu tertutup pelan, menyisakan Li Yun sendirian di ruangan itu. Ia berdiri diam sejenak, mendengarkan langkah kaki Qiao’er yang perlahan menjauh. Hening kembali menyelimuti tempat itu. Ia berjalan perlahan ke arah jendela, memastikan tidak ada siapa-siapa di luar, lalu berbisik pelan namun tegas:

"An Fu... kemarilah."

Bayangan bergerak di balik rimbunnya tanaman merambat, dan seketika itu juga An Fu berdiri di hadapannya, berlutut dengan kepala tertunduk.

"Tuan..."

Li Yun duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai kayu yang halus. "Bangunlah. Kita punya tempat tinggal baru sekarang, An Fu."

An Fu berdiri, namun tetap menjaga jarak hormat. Wajahnya masih tampak tidak tenang, matanya menyapu sekeliling ruangan. "Tuan benar... sepertinya Nona Kedua ini berbeda dari keluarga Zhang yang lain."

Li Yun tersenyum miring, matanya menyala dengan kilatan kebencian yang tak kunjung padam. "Kita tidak boleh percaya begitu saja pada siapa pun dari Keluarga Zhang, An Fu. Walaupun dia terlihat berbeda, ingatlah satu hal — dirinya pasti mati, salahkan saja dia bagian dari keluarga Zhang."

Suaranya tajam, menusuk ke dalam keheningan ruangan. Tangannya mengepal erat di atas selimut, buku-buku jarinya memutih.

"Mereka semua sama. Menganggap diri mereka mulia, sementara kami hanyalah debu yang bisa diinjak sesuka hati. Li Hua... Shi Yin... Ayah mereka... tidak ada yang boleh dibiarkan hidup. Semua harus berakhir."

An Fu mengangguk, tatapannya mengeras. "Pangeran benar. Kita akan menghabisi mereka tanpa sisa. Satu per satu. Sampai tidak ada lagi nama Zhang yang tersisa di negeri ini."

Li Yun menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarah yang membakar dadanya. "Tapi bukan sekarang. Tubuhku belum pulih, kekuatan belum kembali sepenuhnya. Sabar, An Fu... biarkan mereka merasa aman dulu. Semakin tenang mereka, semakin mudah kita melancarkan serangan."

Ia meletakkan bungkusan salep itu di meja kecil, menatapnya sejenak sebelum melanjutkan, "Dan perhatikan Li Hua. Dia menyelamatkanku, merawatku... perilaku ini terlalu aneh. Cari tahu apa tujuannya sebenarnya. Apakah dia ingin menjadikanku alat untuk melawan saudaranya? Atau ada rencana lain yang tersembunyi?"

"Baik, Tuan. Hamba akan mengawasinya dari jauh," jawab An Fu pelan, lalu bayangannya kembali lenyap, seakan tidak pernah ada di sana.

Li Yun duduk sendirian di kamar itu, membuka bungkusan salep itu. Wanginya harum dan menenangkan, sama seperti aroma yang tertinggal di selimut tempat tidurnya. Ia mengusapkannya perlahan pada luka di lengannya, wajahnya tanpa sadar mengernyit menahan perih, namun di hatinya satu pertanyaan terus berputar: Siapa sebenarnya gadis ini? Mengapa dia berbeda? Dan mengapa dirinya mendengar suara hati nya?

Beberapa hari berlalu dengan cepat. Rutinitas baru pun dimulai. Setiap pagi, tepat setelah matahari terbit, Bibi Niang datang membawa tumpukan buku tebal dan wajah yang penuh harap.

"Nona... hari ini kita pelajari cara duduk yang sopan di hadapan para tetua," ucap Bibi Niang sambil menata bantal di lantai, suaranya lembut namun tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. "Posisi kaki tidak boleh menjulur ke depan, punggung harus tegak namun tidak kaku, tangan diletakkan di atas pangkuan..."

Li Hua duduk bersandar di tiang beranda, kakinya menjuntai bebas, sambil mengupas buah persik dengan santai. "Ah, Bibi... itu semua terlalu merepotkan. Duduk saja sampai nyaman, untuk apa pusing memikirkan posisi tangan?"

Bibi Niang menghela napas panjang, mendekat ke arahnya. "Nona, ini penting! Di pesta pertemuan keluarga bulan depan, semua mata akan tertuju pada Nona. Mereka mengira Nona adalah Nona Sulung, Shi Yin — yang dikenal anggun, tenang, sempurna dalam segala hal."

"Kalau begitu panggil saja Kakak Shi Yin," jawab Li Hua santai, menggigit daging buah persiknya. "Aku tidak menyuruh mereka mengira aku siapa-siapa."

"Tapi Nona..." Bibi Niang menekan tangannya, wajahnya tampak cemas. "Jika mereka tahu kami berbohong, seluruh keluarga besar akan marah besar. Nyonya Besar sendiri yang memerintahkan agar Nona dilatih menggantikan Nona Shi Yin. Kalau sampai gagal, saya yang akan dihukum berat, mungkin diusir dari kediaman ini."

Li Hua berhenti mengunyah sejenak, menatap wajah wanita paruh baya itu yang tampak sungguh-sungguh takut. Ia menelan makanannya, lalu tersenyum tipis.

"Bibi, dengarkan aku," ucapnya pelan namun tegas. "Aku tidak menolak belajar. Tapi anggun, lemah lembut, bicara pelan-pelan seolah setiap kata berharga emas... itu bukan aku. Aku tumbuh di desa, bekerja di ladang, berbicara lantang, tertawa lepas. Jika Pangeran dari Negeri Tang Liang itu tidak bisa menerima aku seperti ini, biarkan saja. Untuk apa menikah jika harus berpura-pura menjadi orang lain seumur hidup?"

"Tapi ini bukan sekadar pernikahan, Nona... ini urusan negara," Bibi Niang hampir memohon. "Keselamatan Keluarga Zhang, bahkan kedamaian negeri, bergantung pada pernikahan ini."

Li Hua menghela napas, berdiri perlahan. "Baiklah, Bibi. Aku tidak akan menyusahkanmu. Tapi aku juga tidak akan berubah menjadi orang lain dalam semalam." Ia mengulurkan tangannya. "Kemarikan buku pedoman wanita perkerti Ye Lu itu. Aku baca sendiri. Beri aku waktu seminggu. Seminggu lagi, Bibi bisa menguji aku sesuka hati."

Bibi Niang tertegun sejenak, lalu menyerahkan buku tebal bersampul sutra itu dengan tangan gemetar. "Benarkah Nona akan berusaha?"

"Aku janji," jawab Li Hua sambil menyambar buku itu, lalu menoleh ke arah pelayannya. "Qiao'er, bawa buku ini ke kamarku. Aku bacanya nanti, kalau sudah tidak ada yang mengawasi."

"Baik, Nona," Qiao’er tersenyum kecil, menyambut buku itu.

Bibi Niang akhirnya mengangguk lega, menunduk hormat. "Terima kasih, Nona. Terima kasih sudah mau mengerti. Saya pergi dulu, biarkan Nona beristirahat."

Begitu sosok Bibi Niang menghilang di balik pintu, senyum di wajah Li Hua perlahan lenyap. Ia berjalan santai ke arah sudut halaman yang teduh, di mana sebatang pohon rindang berdiri kokoh. Di balik dedaunan lebatnya, dua pasang mata mengawasi setiap gerak-geriknya.

"Lihatlah dia..." gumam An Fu pelan, menatap sosok Li Hua yang kini duduk bersila di rumput, memetik bunga dan membiarkannya terjatuh begitu saja. "Bukan tanda-tanda seseorang yang cerdas atau berhati-hati."

Li Yun berdiri diam, menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya tak lepas dari gadis itu. "Dia sengaja melakukannya," ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah. "Dia berpura-pura bodoh, ceroboh, malas... seolah tidak peduli pada apa pun. Tapi tidak ada orang yang bisa bertahan hidup sendirian di desa selama bertahun-tahun tanpa sedikit pun memiliki kecerdasan."

"Tapi dari semua yang saya dengar..." An Fu menunduk sejenak, menyusul informasi yang ia kumpulkan. "Di desa tempat ia tinggal, ia dikenal sebagai gadis sederhana yang rajin, membantu tetangga, bekerja keras di ladang. Tidak ada yang menyebutnya ceroboh atau malas. Justru sebaliknya — ia mandiri, cekatan, sering kali mengurus urusan rumah sendirian tanpa bantuan siapa pun."

Li Yun mengerutkan kening lebih dalam. "Jadi dia menyembunyikan kemampuannya di sini. Mengapa?"

"Mungkin ia tidak ingin menonjol," jawab An Fu. "Atau mungkin ia tahu, semakin tampak tidak berguna, semakin aman ia dari rencana-rencana licik keluarga ini."

Li Yun diam, menatap Li Hua yang kini tertawa sendiri sambil melempar kerikil ke arah kolam ikan kecil. Tawa itu terdengar tulus, bebas, tanpa beban — namun di matanya, Li Yun menangkap sesuatu yang lain. Sebuah ketegasan yang samar, seolah ia sedang mengamati sekelilingnya, menilai siapa kawan dan siapa lawan.

"An Fu..." panggilnya pelan.

"Ya, Tuan?"

"Perhatikan dia lebih dekat. Catat setiap perkataannya, setiap orang yang ia temui, setiap surat yang ia tulis. Jangan sampai ada yang terlewat."

"Baik, Tuan."

Li Yun tetap berdiri di sana, tak beranjak sedikit pun. Pikirannya kembali pada saat mereka bersalaman kemarin — kehangatan di telapak tangannya, tatapan matanya yang seolah melihat jauh ke dalam jiwanya, kata-katanya yang terdengar penuh keyakinan namun tidak bisa dijabarkan maknanya sepenuhnya.

​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!