NovelToon NovelToon
JERAT CINTA SANG MAFIA

JERAT CINTA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhitungan di Bawah Sangkar Emas

​Kamar di lantai tiga markas Argantara lebih mirip dengan suite hotel bintang lima daripada sebuah sel tahanan. Dindingnya dilapisi panel kayu jati berwarna hangat, kasur king-size berseprai sutra hitam tergelar di tengah ruangan, dan jendela kaca tebal dari langit-langit ke lantai memperlihatkan pemandangan taman belakang yang dijaga ketat oleh pria-pria berjas serba hitam.

​Meski mewah, Aria tahu persis bahwa tempat ini tetaplah sebuah sangkar.

​Pagi baru saja merambat ketika pintu kamar ganda terketuk dua kali secara teratur. Tanpa menunggu jawaban dari Aria, pintu itu terbuka. Devan Argantara melangkah masuk. Pria itu tampak segar dengan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya tergulung rapi hingga pergelangan tangan, memperlihatkan jam tangan kroom mahal dan garis tatonya yang menyembul tipis di balik lengan.

​Di belakang Devan, seorang pelayan pria meletakkan nampan berisi kopi hitam pekat, roti panggang, dan sebuah map kulit tebal berwarna cokelat tua di atas meja bundar dekat jendela.

​"Bagaimana tidurmu di sangkar barumu, Little Bird?" suara Devan terdengar hangat—sebuah kehangatan buatan yang justru terasa lebih berbahaya daripada intimidasi dinginnya semalam.

​Aria yang sedang berdiri di dekat jendela berpaling kaku. Ia masih mengenakan pakaian santai berupa kemeja putih kebesaran dan celana kain tebal yang disediakan oleh pengawal Devan tadi malam. Tatapannya menusuk tajam ke arah Devan.

​"Cukup nyaman untuk ukuran seseorang yang sedang diculik oleh bos mafia," sindir Aria datar, melipat kedua tangannya di dada.

​Devan terkekeh pelan. Ia menarik salah satu kursi di dekat meja bundar, duduk dengan santai, lalu mengisyaratkan Aria untuk mendekat. "Diculik adalah kata yang terlalu kasar. Kamu ada di sini untuk menyelamatkan nyawamu sendiri dari cengkeraman klan Vane. Duduklah, kita punya hal penting untuk dibicarakan."

​Aria menimbang sejenak sebelum akhirnya melangkah mendekati meja. Ia mengambil tempat duduk tepat di hadapan Devan, menolak kopi yang disajikan, dan langsung menatap lurus ke arah mata gelap pria di depannya.

​"Aku sudah menyetujui aliansi gila ini semalam," kata Aria dingin. "Apa lagi yang mau kamu perjelas?"

​Devan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia mengambil map kulit cokelat tua tersebut, lalu melemparnya pelan hingga mendarat tepat di hadapan Aria.

​"Semalam kita membicarakan garis besarnya," tutur Devan dengan nada bicara yang sangat teratur. "Hari ini, kita membicarakan detail taruhannya. Di dalam map itu ada rencana operasional untuk membobol pusat penyimpanan data Kasino Royale Vane."

​Aria membuka map tersebut secara perlahan. Di lembar pertama, terpampang foto sebuah benda tua berlapis kulit hitam tebal dengan ukiran perak di sudut-sudutnya—Black Ledger. Di bawah foto tersebut, terdapat puluhan lembar denah arsitektur, skema alur listrik, dan daftar jadwal patroli pengawal bersenjata.

​"Buku ini bukan cuma sekadar catatan transaksi ilegal," Devan menjelaskan sembari menatap dokumen itu. "Di dalamnya tersimpan seluruh bukti suap, identitas pencucian uang, dan nama-nama pejabat korup yang disandera oleh Hector Vane selama dua dekade. Siapa pun yang menguasai Black Ledger, dia yang memegang kendali penuh atas hukum dunia bawah kota ini."

​"Dan brankas tempat buku ini disimpan dilindungi oleh sistem keamanan gabungan," potong Aria sembari membolak-balik lembaran teknis. Matanya yang cerdas menganalisis skema tersebut dengan cepat. "Pemindai retina ganda, lantai bertekanan dinamis, dan sistem enkripsi siber yang diperbarui setiap tiga jam sekali secara acak oleh server independen. Ini bukan sekadar brankas kasino biasa, Devan. Ini benteng militer."

​"Makanya aku membutuhkan peretas terbaik yang pernah ada," pungkasi Devan, menatap Aria tanpa berkedip. "Dan orang itu adalah kamu."

​Aria menutup map tersebut dengan suara kepakan kencang. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Devan dengan senyum sinis yang sarat kebimbangan.

​"Membobol brankas model begini adalah tindakan bunuh diri," ujar Aria tegas. "Tingkat keberhasilannya di bawah lima belas persen. Kalau satu saja sensor terpicu, sistem akan menyemprotkan gas saraf beracun ke dalam ruangan brankas dalam hitungan sepuluh detik. Kamu sedang memintaku berjalan menuju eksekusi mati."

​Devan tidak membantah ucapan Aria. Pria itu justru maju mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua lengannya di atas meja, mengikis jarak di antara mereka hingga aura dominasinya kembali memenuhi udara di sekitar Aria.

​"Memang berisiko," aku Devan dengan suara rendah yang menggetarkan. "Tapi itulah taruhan yang harus kamu ambil jika mau tetap bernapas."

​"Taruhan?" beo Aria, menyipitkan matanya rapat-rapt.

​Devan tersenyum tipis—sebuah ukiran senyum yang sangat berbahaya. Ia merogoh saku kemejanya dan meletakkan dua buah objek di atas meja, tepat di samping map dokumen.

​Objek pertama adalah sebuah paspor baru berkebangsaan asing atas nama baru Aria, lengkap dengan kunci rekening bank penampungan di Swiss yang berisi dana awal sepuluh juta dolar, serta kalung The Scarlet Tear yang berkilau megah di bawah cahaya lampu.

​Objek kedua adalah sebuah dokumen penangkapan resmi yang ditandatangani oleh pejabat kepolisian korup, lengkap dengan surat perintah transfer tahanan ke Lembaga Pemasyarakatan Khusus Maximum Security di pinggiran kota—tempat di mana orang-orang klan Vane memegang kendali atas para sipir dan tahanan.

​Aria menatap kedua objek tersebut bergantian. Darahnya terasa mendingin seketika saat menyadari apa arti dari kedua pilihan itu.

​"Ini penawaran resmiku, Aria," bisik Devan dengan kepastian mutlak yang tak tergoyahkan. "Pilihan pertama: Kamu membantuku mencuri Black Ledger, membongkar identitas pengkhianat di klanku, dan sebagai gantinya, kamu berjalan keluar dari tempat ini sebagai wanita bebas. Kamu dapat paspor baru, uang melimpah, kalung berlianmu kembali, dan perlindungan penuh dari Argantara selamanya."

​Devan menjeda ucapannya sejenak, lalu jemarinya yang tegap menggeser dokumen penangkapan ke arah Aria.

​"Atau pilihan kedua..." lanjut Devan, suaranya jatuh begitu dingin dan tanpa belas kasihan. "Kamu menolak membantuku, dan detik ini juga aku akan menyerahkanmu ke kepolisian korup itu. Dalam waktu tiga jam, kamu akan tiba di penjara bawah tanah, dan Hector Vane akan memastikan kamu membusuk di sana atau mati disiksa secara perlahan oleh para tahanannya."

​Aria menahan napasnya kencang. Tenggorokannya terasa kering. Ini bukan lagi sekadar negosiasi bisnis atau pertarungan gengsi; ini adalah eksekusi pilihan yang dirancang Devan dengan sangat rapi dan tanpa cela. Pria ini tidak memberinya celah sedikit pun untuk lari atau menawar.

​"Kamu sungguh iblis, Devan Argantara," desis Aria, gigi-giginya bergemelutuk menahan amarah yang membakar dadanya.

​Devan tidak terpengaruh oleh makian itu. Ia justru menatap Aria dengan kilatan mata yang dalam dan penuh daya pikat yang pekat.

​"Di dunia yang kita tinggali ini, tidak ada malaikat yang bisa bertahan hidup, Little Bird," jawab Devan tenang. "Aku memberi pilihan nyata. Hidup mewah dengan risiko tinggi di sisiku, atau mati membusuk secara perlahan di dalam sel dingin musuhmu."

​Aria mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Otaknya yang biasa bekerja dingin kini berpacu liar. Memilih opsi kedua adalah tindakan bunuh diri konyol. Pilihan pertama memang sarat bahaya dan sangat mematikan, tetapi setidaknya di sana ada peluang bagi Aria untuk membalikkan keadaan—atau bahkan mengelabui Devan di tengah jalan ketika kesempatan itu tiba.

​"Berapa lama waktu persiapan yang aku punya sebelum perampokan itu?" tanya Aria, suaranya akhirnya terdengar serak namun penuh kepastian.

​Devan tersenyum—sebuah senyuman penuh kemenangan yang menandakan sang penguasa berhasil mengikat mangsanya rapat-rapat. Pria itu menyambar kembali dokumen penangkapan dan membakarnya menggunakan pemantik api emas hingga berubah menjadi abu di atas asbak kristal.

​"Dua minggu," jawab Devan tegas. "Dalam dua minggu ini, kamu akan mempelajari setiap jengkal sistem keamanan Kasino Royale Vane. Dan selama dua minggu itu juga... kamu tidak boleh lepas satu detik pun dari pengawasanku."

​Aria menatap abu dokumen yang mengepulkan asap tipis di meja. Ia baru saja mengarungi kesepakatan paling gila dalam hidupnya dengan seorang pria yang bisa membunuhnya atau menyelamatkannya dalam satu kedipan mata.

​"Ingat janji mu, Devan," ujar Aria dengan mata menyala-nyala. "Begitu Black Ledger ada di tanganmu, paspor dan kalung itu jadi milikku."

​Devan berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya, lalu menatap Aria rapat-rapat dari ketinggian tubuhnya.

​"Aku selalu menepati janjiku pada mitra yang setia, Aria," kata Devan pelan, lalu melangkah menuju pintu. "Persiapkan dirimu. Nanti sore, latihan penyamaran dan simulasi peretasan pertamamu dimulai."

​Pintu kamar tertutup kencang, menyisakan Aria seorang diri di tengah kemewahan kamar yang terasa makin dingin. Aria menyentuh permukaan meja kayu, menatap peta Kasino Royale Vane dengan tatapan penuh tekad.

​Permainan gilamu baru saja dimulai, Devan Argantara, batin Aria. Tapi jangan pernah lupa... seorang pencuri ulung selalu tahu cara membobol sangkar terbaik sekalipun.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Aria dan Devan bisa jadi pasangan mafia tangguh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!