Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!
Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?
"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.
"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Acara Arisan
"Tidak usah mandi! Waktunya tidak akan sempat, Mbak!" seru Sam memutar otak secepat kilat.
"Hah?! Tidak mandi?!" Tia melotot ngeri. "Kamu mau datang ke acara arisan keluarga besarku dengan daki kebun binatang?!"
"Kamar mandinya di luar, Mbak Tia! Di ujung lorong dekat Mbak Nani nongkrong!" bisik Sam setengah menjerit. "Kalau aku keluar bawa handuk sekarang, Mbak Nani bakal menghadang, pura-pura minta tolong gosokkan punggungnya, atau yang lebih parah... menyiram semur jengkol ke muka kita berdua!"
Tia bergidik ngeri membayangkan skenario horor itu. "Oke! Terus solusi kamu apa?!"
Sam langsung menyambar botol parfum mahal beraroma woody-citrus yang dibelikan Tia dari atas meja. Tanpa ampun dan tanpa belas kasihan, Sam menyemprotkan cairan wangi itu ke seluruh tubuhnya, mulai dari ketiak, leher, dada, dada bagian belakang, hingga ke celana bahannya. Suara semprotan srot-srot-srot bergema brutal di kamar 3x3 meter tersebut sampai ruangan itu dipenuhi kabut parfum tebal yang membuat Tia tersedak-sedak.
"Uhuk! Uhuk! Mas Sam! Kamu mau menyemprot parfum atau mau membunuhku pakai gas beracun?!" protes Tia sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
"Yang penting wangi dan dakinya terisolasi, Mbak! Ayo berangkat!" tegas Sam tegap.
Sam menyisir rambutnya secepat kilat dengan jari, memakai kemeja slim-fit putih yang kancing atasnya meregang gagah menonjolkan dada bidangnya, lalu membuka pintu kamar tripleks lebar-lebar.
Di luar pintu, Nani masih setia duduk di atas bangku plastik sambil memangku rantang semur jengkolnya dengan wajah cemberut berat. Begitu pintu terbuka, Nani langsung melompat berdiri.
"Sammy! Kamu..."
"Maaf ya Mbak Nani, aku ada urusan mendadak sama calon istriku! Semur jengkolnya disimpan buat makan malam saja!" potong Sam secepat kilat.
Tanpa memberi kesempatan Nani memprotes, Sam langsung menyambar jemari Tia, menggandengnya erat, dan melangkah lebar membelah lorong. Nani yang tertinggal di belakang hanya bisa melongo menatap punggung Sam yang gagah dan wangi semerbak, mengalahkan aroma jengkol pedas di tangannya.
"Awas kamu ya Mbak-Mbak kantoran! Tak sumpahin hak sepatumu patah di jalan!" gerutu Nani cemburu berat.
Mereka berlari kecil menuju halaman depan kontrakan, di mana motor matik kesayangan Tia terparkir. Karena panik mengejar waktu, Tia menyerahkan kunci motornya pada Sam.
"Mas Sam yang setir! Aku tidak bisa bawa motor pakai gaun begini!" perintah Tia.
"Siap, Mbak!"
Samsudin melompati jok motor matik Tia. Dalam balutan kemeja putih mahal, celana bahan rapi, dan rambut undercut berkilat, penampilan Sam menaiki motor matik warna merah jambu milik Tia terlihat sangat kocak, seperti model internasional yang salah mengambil kendaraan catwalk. Tia naik di jok belakang, mencengkeram pinggang kekar Sam kuat-kuat agar gaunnya tidak terbelit jari-jari roda.
"Pegangan yang kencang, Mbak! Ini pawang buaya mau ngebut!" seru Sam, memutar gas mendalam. Motor matik itu melesat membelah jalanan kota bagai angin puyuh.
Tepat pukul 09.55 pagi, motor matik merah jambu itu berhenti gagah di depan rumah megah berhalaman luas milik Tante Lies.
Tia turun dari motor sambil merapikan gaun dan rambutnya yang agak acak-acakan diterpa angin. Napasnya terengah-engah, tetapi begitu melihat deretan mobil mewah kerabatnya terparkir di halaman, jiwa kepemimpinan Tia kembali tegak.
"Ingat, Mas Sam," bisik Tia menata kerah kemeja Sam. "Dada tegak, senyum mahal, dan jangan bicara soal pakan ular!"
"Siap, Mbak Tia. Anggap saja ini masuk kandang reptil berdasi," balas Sam mantap.
Begitu mereka melangkah masuk melewati pintu jati rumah Tante Lies, suasana riuh arisan keluarga mendadak hening seketika. Puluhan pasang mata emak-emak, sepupu, hingga anak-anak kecil terpaku pada sosok pria yang berjalan di samping Tia.
Sam berdiri tegap. Postur tubuhnya yang atletis dengan kemeja putih melekat sempurna menonjolkan otot dada dan bahunya yang kekar. Wajah tampannya yang bersih dipadukan dengan rahang tegas dan wangi parfum mewah langsung menyapu seluruh ruangan.
"Astaga... Siapa itu yang dibawa Tia?" bisik Tante Mirna, sampai memiringkan kacamata baca di hidungnya.
"Ganteng banget! Itu model iklan atau artis FTV?!" celetuk salah satu sepupu perempuan Tia dengan mata berbinar-binar.
Bu Heni, ibu kandung Tia yang tadinya sudah bersiap-siap memegangi dadanya untuk akting pingsan berkala, mendadak membatu. Tangannya yang mengusap dada berhenti di udara, matanya melotot tak percaya menatap ketampanan calon menantu sewaannya.
Nia dan tunangannya yang belagu, Aris si Branch Manager, duduk di sofa utama. Wajah Aris yang semula penuh senyum kemenangan langsung menekuk kecut begitu melihat sosok Sam yang tingginya menjulang dan jauh lebih atletis dibanding dirinya yang agak buncit terbungkus jas tebal.
"Selamat pagi semuanya..." sapa Tia dengan senyum anggun paling puas dalam hidupnya. "Kenalkan, ini Sam. Calon suamiku."
Sam memasang senyum paling menawan yang sanggup meluluhkan hati wanita. "Selamat pagi Tante, Ibu... Saya Sam," ujarnya dengan suara berat yang bernada karismatik.
Tante Lies yang biasanya menjadi algojo utama keluarga besar langsung berdiri dari sofanya, menghampiri Sam dengan pandangan meneliti.
"Duh, Tia... Kamu dapat dari mana calon sebegini gagah?" tanya Tante Lies terpesona, memutari tubuh Sam seperti sedang memeriksa barang dagangan. "Mas Sam ini kerjanya apa kalau boleh Tante tahu? Pasti pengusaha kaya ya?"
Sebelum Tia sempat menyela dengan alibi Spesialis Konservasi Reptil, Sam sudah lebih dulu menjawab dengan jujur dan polos khas dirinya.
"Saya bekerja di bidang manajemen dan penanganan risiko pemangsa ganas, Tante. Khususnya spesialisasi penaklukan buaya muara di Kebun Binatang Kota," terang Sam ramah.
Ruangan itu mendadak hening lagi.
Aris si tunangan Nia langsung menyeringai ejek, merasa mendapat angin segar untuk menjatuhkan saingannya. "Oalah! Pawang buaya toh?! Hahaha! Kirain eksekutif muda atau pengusaha! Cuma pawang binatang ternyata!" ledek Aris dengan nada merendahkan.
Tia sudah panik dan bersiap memasang badan, namun Sam tetap tenang bagai batu karang. Sam menoleh pada Aris, matanya menatap tajam persis seperti saat ia menatap buaya muara 400 kilogram yang sedang lapar.
"Betul, Mas. Saya pawang buaya muara asli," balas Sam santai namun menohok. "Kerjaan saya tiap hari berhadapan sama pemangsa sadis yang suka berpura-pura tenang sebelum mencabik-cabik mangsanya. Jadi, saya sudah terbiasa menghadapi makhluk yang sukanya bermuka dua dan berlidah tajam."
Mata Sam melirik lurus ke arah Aris. Sindiran halus itu sukses membuat wajah Aris merah padam seperti udang rebus. Sepupu-sepupu Tia di pojokan ruangan menyembunyikan tawa geli mereka.
"Wah, hebat dong!" timpal Bu Heni yang mendadak bangga luar biasa, menghampiri Sam dan mengelus lengan kekar calon menantunya itu. "Pantas saja badannya kekar begini! Lelaki sejati ini namanya! Daripada yang cuma duduk di balik meja kantor tapi perutnya makin maju!" Bu Heni melirik sinis pada Aris.
Aris makin terpojok dan hanya bisa cemberut mengunyah kue nastar.
Sementara drama keluarga itu berlanjut, perut Samsudin yang sejak pagi belum terisi makanan tiba-tiba berbunyi nyaring.
Kruuuk...
Bau aroma rendang daging, prasmanan sate ayam, dan katering melati di meja makan arisan mendadak menggoyahkan fokus tempur Sam. Mata pawang buaya itu berbinar-binar menatap deretan piring makanan melimpah di meja panjang.
"Mbak Tia..." bisik Sam pelan di dekat telinga Tia.
"Kenapa, Sam? Mau menanggapi omongan Tante Mirna?" sahut Tia tegang.
"Bukan... Aku boleh makan prasmanan itu sekarang tidak? Perutku rasanya mau memakan piringnya sekalian," aku Sam jujur dengan wajah memelas.
Tia menahan tawa giginya agar tidak meledak di depan keluarga besar. "Boleh! Ambil sebanyak yang kamu mau, Mas Sam! Anggap saja ini bonus cicilan bulan pertama!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sam langsung bergegas menuju meja katering prasmanan. Dengan keterampilannya yang cekatan seperti saat memberi makan kawanan reptil, Sam menumpuk nasi putih, dua potong rendang raksasa, empat tusuk sate ayam, dan kuah gulai melimpah ke atas piringnya hingga membentuk gunung kecil.
Ia duduk anggun di kursi makan, melahap hidangan itu dengan nikmat dan lahapnya, tetap terlihat tampan mempesona meski makannya seperti orang tidak jumpa nasi tiga hari.
Tante Lies dan Bu Heni menatap Sam dengan rasa kagum yang makin menjadi-jadi. "Duh, calon suamimu itu makan saja kelihatan manly banget ya, Tia! Tidak jaim!" puji Tante Lies.
Tia tersenyum lebar, menyilangkan tangannya di dada sambil menatap suami kreditnya yang sedang asyik mengunyah rendang. Di dalam hatinya, Tia bersorak gembira. Investasi tiga ratus ribu per bulan ini benar-benar keputusan terbaik dalam hidupnya!
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu
udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran