NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Ketika Tinju Berbicara

Malam Minggu di sekitar terminal bus kota selalu menyajikan atmosfer yang berbeda. Bau asap solar dari bus-bus antarkota yang baru datang bercampur dengan aroma minyak gorengan dari warung tenda di pinggir jalan. Gavin sedang menemani Rian mencari toko loak yang menjual suku cadang kipas prosesor bekas di sepanjang ruko luar terminal ketika mereka mendengar suara keributan kecil dari arah gang sempit di samping halte transmisi.

Itu adalah gang mati yang minim pencahayaan, hanya diterangi sisa sorot lampu merkuri dari jalan utama. Langkah Gavin mendadak berhenti. Indra pendengarannya yang tajam menangkap suara isak tangis tertahan seorang perempuan, diikuti kekehan kasar beberapa pria yang terdengar sangat tidak bersahabat.

Gavin melirik tipis ke arah gang tersebut. Di bawah temaram bayangan dinding batako, seorang mahasiswi tingkat satu—terlihat dari tas ranselnya yang masih ditempeli stiker penanda gugus ospek—sedang disudutkan oleh tiga orang pria bertubuh tegap. Pakaian mereka khas preman terminal: jaket jins tanpa lengan yang kotor, celana jin belel, dan bau alkohol murahan yang menusuk hidung bahkan dari jarak lima meter.

"Jangan sombong lah, Dek. Kita cuma mau minta uang retribusi lewat jalan sini kok. Atau kalau gak punya uang, nemenin kita minum dulu di dalam, gimana?" kata salah satu preman yang memiliki tato dadu di lehernya, sambil mencoba mencengkeram pergelangan tangan gadis itu.

Gadis itu menangis ketakutan, tubuhnya gemetar hebat menempel ke dinding.

Rian yang melihat kejadian itu langsung panik. Wajahnya pucat di balik kacamata tebalnya. "G-Gav... itu ada yang dipalak. Kita harus cari pos polisi terminal sekarang!" bisik Rian dengan suara bergetar, tangannya sudah meraba kantong celana mencari ponsel.

"Nunggu polisi datang, itu anak orang keburu dibawa ke dalam gudang, Yan," sahut Gavin pendek.

Sikap slengean Gavin yang biasanya santai mendadak lenyap dari raut wajahnya. Ia melepas jaket jins pudar dari pundaknya, lalu melemparnya dengan presisi ke arah dada Rian. "Pegangin jaket gue. Jangan mendekat, dan jagain motor."

Sebelum Rian sempat membalas, Gavin sudah melangkah tenang memasuki gang kegelapan tersebut. Langkah kakinya sengaja dibuat tanpa suara di atas tanah yang becek. Ia berhenti tepat tiga langkah di belakang preman pertama yang sedang tertawa terbahak-bahak.

Tanpa mengeluarkan satu kata pun sebagai peringatan, Gavin mengambil sebuah tempat sampah besi berkarat yang tergeletak di dekatnya. Dengan satu sentakan lengan yang kokoh, ia mengayunkan tempat sampah itu penuh tenaga, menghantamkannya tepat ke punggung preman bertato dadu tersebut.

BRAKK!

Preman itu langsung terjerembap ke depan, mencium tanah dengan erangan keras. Dua temannya yang tersisa tersentak kaget dan langsung berbalik. Menyaksikan satu temannya tumbang, salah satu preman yang bertubuh kurus tinggi langsung mencabut sebuah pisau lipat dari saku belakangnya, sementara yang satu lagi memegang balok kayu kecil.

"Kurang ajar! Siapa lu, bocah gembel?!" teriak preman yang memegang pisau.

Gavin tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana jins robeknya, sementara tangan kirinya terangkat santai ke depan dada. Gerakannya sama sekali tidak menunjukkan kuda-kuda formal seperti atlet karate atau taekwondo; ia berdiri dengan santai, namun matanya yang sedingin es memaku pergerakan lawan.

Preman berpaku kayu maju lebih dulu, mengayunkan baloknya horizontal ke arah pelipis Gavin. Gavin menunggu hingga balok itu berada beberapa inci dari wajahnya. Dengan refleks jalanan yang sangat presisi, ia merunduk rendah, membiarkan angin ayunan kayu lewat di atas kepalanya.

Bersamaan dengan itu, Gavin melesat maju ke dalam jarak jangkau lawan. Siku kanan Gavin menghantam ulu hati pria itu dengan daya ledak yang luar biasa, disusul dengan sebuah sundulan kepala (headbutt) yang keras tepat di hidung si preman.

KRETEK!

Bunyi patahan tulang rawan terdengar jelas. Preman kedua ambruk sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah.

Preman terakhir yang memegang pisau lipat mulai panik. Ia mengayunkan pisaunya secara acak, mencoba menyayat dada Gavin. Gavin bergerak mundur setengah langkah dengan ritme yang sangat teratur, membaca pola serangan yang tidak terarah tersebut. Saat melihat celah ketika lengan lawan menjulur terlalu jauh, Gavin bergerak kilat.

Tangan kiri Gavin menepis pergelangan tangan lawan yang memegang pisau, sementara tangan kanannya yang bebas langsung melayangkan pukulan hook mentah ke arah rahang bawah preman tersebut. Tidak berhenti di situ, Gavin memanfaatkan momentum untuk memutar tubuhnya, mengirimkan satu tendangan sapuan rendah menggunakan tumitnya tepat di balik lutut pria itu.

BRAKK! DUARR!

Tubuh preman ketiga menghantam tanah dengan keras, pisaunya terlempar ke dalam selokan. Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga penjahat terminal itu sudah terkapar di tanah, mengerang kesakitan di bawah kaki Gavin.

Gavin mengembuskan napas pendek, merapikan sedikit kaus oblong hitamnya yang agak bergeser, lalu berjalan mendekati mahasiswi baru yang masih shock terduduk di pojok gang. Ia mengulurkan tangannya yang bersih.

"Udah aman, Dek. Bangun, jalanan di sini kotor," kata Gavin, suaranya kembali berubah menjadi santai dan ugal-ugalan seolah baru saja menyelesaikan obrolan warkop, bukan sebuah perkelahian brutal.

Gadis itu menerima uluran tangan Gavin dengan gemetar. "M-makasih... makasih banyak, Kak..."

Gavin menoleh ke arah luar gang, di mana Rian berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar memegang jaket jinsnya. "Yan! Sini lu! Tolong anterin adik tingkat kita ini ke halte depan yang ramai."

Gavin memungut jaket jinsnya dari tangan Rian yang masih linglung, lalu menyampirkannya kembali ke pundak. Sambil menyalakan motor Astrea-nya yang menderu cempreng di bawah lampu terminal, Gavin melempar senyum miring ke arah kerumunan kecil orang yang mulai mendekat karena mendengar keributan. Baginya, jalanan punya aturannya sendiri, dan malam ini ia baru saja menegakkan salah satu prinsip tertingginya: yang kuat tidak boleh menindas yang lemah.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!