Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7: Rasa Cemburu yang Tak Disembunyikan
Keesokan harinya di sekolah, suasana terasa sedikit berbeda. Tatapan orang-orang padaku kini bukan lagi sekadar rasa ingin tahu atau hormat—ada juga yang penuh kekaguman, dan ada yang berbisik-bisik sambil melirik ke arahku dengan tatapan iri. Berita tentang pesta kemarin menyebar cepat: bagaimana Ethan selalu berada di sisiku, bagaimana ia menari denganku, dan bagaimana ia bahkan mengantarku sampai ke pintu mobil. Semua orang tahu bahwa Ethan yang dingin dan sulit didekati itu, kini memperlakukan seorang gadis dengan lembut dan penuh perhatian. Dan gadis itu adalah aku—Lily, yang dulu dibenci semua orang.
Saat jam istirahat tiba, aku berjalan menuju taman seperti biasa, membawa kotak bekal berisi kue sus krim yang baru saja dibuat Tante Lisa pagi ini. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya—bukan karena takut, tapi karena tahu bahwa seseorang sedang menungguku di sana. Benar saja, begitu aku sampai di bangku kayu itu, Ethan sudah duduk di sana, menatap ke arah jalan setapak dengan tatapan yang tak sabar. Saat melihatku, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang kini semakin sering ia tunjukkan padaku.
"Kau terlambat dua menit," katanya pelan, namun nada bicaranya tidak marah—justru terdengar seperti keluhan yang manis.
"Maaf ya, tadi ada teman yang bertanya pelajaran," jawabku sambil duduk di sebelahnya dan membuka kotak bekal. "Hari ini bawa kue sus krim, isinya lembut dan manis lho. Coba satu?"
Ethan mengambil sepotong, menggigitnya perlahan, lalu mengangguk pelan. "Enak. Lebih manis dari biasanya."
"Itu karena krimnya segar," jawabku sambil tersenyum, namun di dalam hati aku tahu—mungkin bukan hanya kuenya yang terasa lebih manis, tapi karena hatiku yang sedang merasa bahagia.
Kami duduk berdampingan, menikmati kue dan obrolan ringan tentang pelajaran, hobi, dan hal-hal kecil yang ternyata kami sama-sama sukai. Rasanya begitu mudah dan nyaman berbicara dengannya, seolah kami sudah saling kenal sejak lama. Namun momen itu terhenti ketika bayangan seseorang jatuh di atas meja kami. Saat kami mendongak, Mark berdiri di sana, tangannya mengepal erat di sisi tubuh, wajahnya terlihat serius dan sedikit gelisah.
"Ethan, boleh bicara sebentar?" tanyanya singkat, tanpa menatapku.
Ethan mengernyit, namun berdiri dan berjalan beberapa langkah menjauh agar bisa berbicara dengan Mark tanpa didengar orang lain. Aku tetap duduk di tempat, memungut sisa kue di piring, namun telingaku menangkap sebagian percakapan mereka yang terdengar sedikit meninggi.
"Kau terlalu berlebihan padanya, Ethan," suara Mark terdengar tegas dan penuh kekhawatiran. "Semua orang di sekolah sudah mulai membicarakan kalian. Kau tahu betapa banyak orang yang tidak suka melihat Lily mendapatkan perhatian sebesar itu. Dan… kau juga tahu bagaimana perasaanku padanya."
"Dan kau juga tahu bagaimana perasaanku padanya," balas Ethan dengan tenang namun tegas. "Aku tidak akan mundur, Mark. Bukan kali ini."
"Tapi kau menyakitiku dengan cara ini," jawab Mark pelan, namun nadanya penuh kesedihan. "Kita berteman sejak kecil. Dan sekarang… kita menyukai gadis yang sama."
Aku menahan napas di tempatku duduk. Hatiku terasa berdenyut sakit mendengar itu. Aku tidak bermaksud membuat mereka berdua berselisih. Aku tidak ingin menjadi alasan persahabatan mereka hancur. Perlahan, aku berdiri dan berjalan mendekati mereka.
"Maaf mengganggu," ucapku pelan namun tegas, membuat keduanya berbalik menatapku. "Aku tidak bermaksud membuat kalian berselisih. Kalian berdua penting bagiku, sebagai teman. Aku tidak ingin ada perselisihan di antara kalian karena aku."
Mark menatapku lekat-lekat, matanya penuh perasaan yang tak bisa ia sembunyikan. "Lily… kau tidak tahu betapa berartinya kau bagiku. Sejak hari pertama kau menolong Elena, sejak hari pertama kau tersenyum padaku… semuanya berubah. Aku tidak bisa hanya melihatmu sebagai teman."
Hening menyelimuti tempat itu. Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar kami. Aku menatap Mark, lalu ke Ethan. Hatiku terasa bimbang dan berat.
"Kalian berdua baik sekali padaku," ucapku pelan, suaranya sedikit bergetar. "Dan aku sangat berterima kasih. Tapi… aku butuh waktu. Aku belum siap memilih salah satu dari kalian. Dan aku tidak mau kalian berselisih. Bolehkah kita tetap berteman dulu? Tanpa ada yang merasa terbebani?"
Ethan menghela napas panjang, lalu menatap Mark. "Dia benar. Kita tidak boleh membiarkan hal ini merusak persahabatan kita. Beri dia waktu. Dan biarkan dia yang memilih nanti, bukan kita yang memaksanya."
Mark menunduk, lalu perlahan mengangguk. "Baik. Aku setuju. Tapi aku juga tidak akan mundur, Ethan. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuknya."
"Begitu juga aku," balas Ethan lembut, lalu menatapku. "Kita tunggu sampai kau siap, Lily. Apa pun pilihanmu nanti… aku akan menghormatinya."
Hari itu berakhir dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, hatiku merasa hangat karena dicintai oleh dua orang yang tulus dan baik hati. Namun di sisi lain, aku merasa berat karena tahu bahwa di antara mereka, satu orang pasti akan terluka nanti. Dan yang paling penting—aku belum tahu apakah perasaanku ini cukup kuat untuk mengubah takdir yang sudah tertulis di buku itu, atau justru aku sedang menuju masalah yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan.