Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Pernikahan tinggal menghitung jam. Char sudah didandani oleh MUA terbaik kota Seradam, begitu juga keluarganya.
Villa bertingkat itu dihias sedemikian rupa, mobil pengantin telah menunggu. Keluarga Torrer berangkat menuju tempat pemberkatan sebelum matahari naik dari ufuk timur.
Langit subuh di kota Seradam masih membiru kelam ketika konvoi kendaraan mewah klan Romanov mulai membelah jalanan menuju Katedral Montenare. Di sepanjang garis batas pengamanan, kilatan lampu kamera para wartawan menyala liar dari kejauhan, terhalang barikade berlapis dari ratusan prajurit bersenjata lengkap yang tak memberi celah sekecil apa pun untuk penerobosan.
Di dalam mobil pengantin Rolls-Royce yang melaju tenang, Charoen duduk tegak diapit ayah dan ibunya yang megah. Riasan dari MUA terbaik Seradam memoles paras ayunya tanpa cela—menciptakan paduan antara keanggunan seorang ratu dan ketajaman sosok genius yang tak terpatahkan. Gaun putih bersiluet ramping karya Mr. Rotiler melekat sempurna, sementara tiara berlian warisan Romanov berkilau samar tertimpa pendar lampu jalanan.
Sementara itu, di mobil pengawalan belakang, Grace duduk membisu dalam gaun biru pilihannya. Bibirnya mengatup rapat, tangannya mengepal kaku di atas pangkuan. Peringatan keras dari Bibi Lotta tentang kematian terus bergaung di kepalanya setiap kali ia melihat ketatnya laras senjata para pengawal Romanov di luar jendela. Rasa iri yang membakar kini berbaur dengan ketakutan mutlak.
Ketika rombongan tiba di halaman Katedral Montenare, lonceng raksasa gereja tua itu mulai berdentang nyaring, menggetarkan udara pagi.
Raphael membukakan pintu, Gorgio turun dan langsung memberikan tangannya pada Char saat gadis itu turun. Sementara Lotta turun dibantu oleh Raph.
Musik mengiring ketika Char melangkah dengan lengan melingkar di lengan ayahnya. Biasanya, katedral sepi walau dalam keadaan misa. Tetapi saat ini, seluruh kursi penuh sesak. Mereka ingin mengikuti pernikahan termewah sepanjang tahun ini.
Pria berambut perak itu tampak sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuxedo hitam khusus. Mata kelabunya yang biasa dingin bagai es mengunci pandangan Charoen yang perlahan berjalan mendekat.
Gorgio Torrer melangkah maju dengan tubuh sedikit gemetar, mengulurkan lengannya agar Charoen bisa mengapitnya untuk diantar menuju altar. Namun sebelum langkah pertama diambil, Alexander mengikis jarak, mengabaikan protokol formal dan menatap Gorgio dengan pandangan penuh penekanan.
"Cukup antarkan dia sampai di depan deretan kursi depan, Tuan Torrer," ujar Alexander dengan suara berat yang mutlak. "Sisa langkah menuju altar adalah milikku."
Alexander lalu menoleh pada Charoen, mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. Binar kehangatan yang samar kembali hadir di matanya.
Dengan tegas, Charoen melepaskan lengannya dari lengan sang ayah. Menerima tangan besar dan menggenggam. Sebentar lagi ia bertaruh hidup di tangan pria penguasa itu.
Di hadapan sang Paus Fransiskus. Alexander mengucap sumpah dengan suara keras dan tegas. Ia seperti mengatakan jika seluruh janjinya pasti ia akan buktikan.
"Alexander Philip Romanov, apakah kau bersedia menerima Charoen Elizabeth Torrer sebagai istrimu dalam suka maupun duka, senang maupun sempit, sehat maupun sakit?" tanya Paus Fransiskus dengan suara serak khas pria tua.
"Yes, i do!" jawaban Alexander begitu tegas dan kuat.
"Charoen Elizabeth Torrer, apakah kau bersedia menerima Alexander Philip Romanov sebagai suamimu dalam suka dan duka, senang maupun sempit, sehat maupun sakit?" pertanyaan sama dari Paus Fransiskus.
"Ya ... Saya bersedia!" jawab Charoen juga tak kalah tegas. .
"Kalau begitu sematkan cincinnya dan cium pengantinmu. Kalian sah jadi suami istri!"
Alexander menyematkan cincin berlian delapan karat di jari manis Char yang kurus, begitu juga sebaliknya. Alexander membuka kain tipis yang menutupi wajah istrinya dan mencium lembut bibir Char.
Sentuhan bibir Alexander di atas bibir Charoen terasa begitu lembut, kontras dengan aura dominan yang biasanya terpancar dari sang penguasa klan Romanov. Riuh tepuk tangan dari para tamu undangan memenuhi katedral yang megah itu, berbaur dengan dentang lonceng Katedral Montenare yang terus bergema mengumumkan bersatunya dua nama besar di kota Seradam.
Rudolph Romanov yang duduk di barisan paling depan mengusap sudut matanya dengan sapu tangan sutra. Binar kebanggaan terpancar jelas dari mata tuanya, sementara Edward di sampingnya tersenyum tipis menyaksikan tuan mudanya kini resmi menyunting sang gadis genius.
Di barisan kursi keluarga Torrer, Gorgio menatap pemandangan di depan altar dengan napas tertahan. Ada rasa lega sekaligus ketakutan yang mencekam saat menyadari Charoen kini sepenuhnya berada di bawah perlindungan mutlak klan Romanov—terlepas total dari jangkauannya. Di sampingnya, Grace mengepalkan jemarinya hingga memutih, menggigit bibir bawahnya menahan air mata cemburu yang siap meledak.
Mereka meninggalkan katedral menuju sebuah hotel mewah inventaris keluarga Romanov. Salah satu harta yang akan jadi hak waris Alexander.
Hampir semua warga kota Seradam mengikuti pesta secara gratis. Makanan, minuman dan segala hiburan dari artis-artis ibukota memeriahkan pesta megah tersebut.
Sesi foto diadakan secara tertutup, bahkan Alexander sendiri yang mengatur dengan siapa saja ia dan istrinya difoto.
Gina dan Robert beserta anak-anaknya sedikit beruntung mendapat bagian walau berada di deretan paling belakang. Tak ada yang berani protes, karena mereka masih mau hidup lebih lama di sana.
Waktu bergulir, Char yang kelaparan duduk di kursi dan memakan makanannya dengan lahap. Semenjak ia jadi calon istri. Makannya cukup hingga membuat tubuhnya sedikit berisi, walau jauh dari berat badan ideal. Tetapi, Char tak lagi merasakan kelaparan.
Pesta pun berakhir, Gorgio harus membawa keluarganya pulang dan membiarkan Char pulang bersama Alexander. Tidak ada namanya perkenalan antar keluarga. Padahal itu yang diharapkan Robert juga Grace.
Char turun dari Roll-Royce, tangannya tak lepas dari genggaman Alexander. Rudolph ikut turun, sang cucu menatapnya bingung.
"Kau mau apa Kakek tua?" tanyanya yang membuat Rudolph kesal setengah mati.
"Aku menginap sampai dia hamil!" jawabnya sengit sambil menunjuk perut Char.
"Astaga, Grandpa! Aku memang berkuasa. Tapi aku bukan Tuhan!" seru Alexander kesal.
Rudolph tak mau tau, ia berjalan masuk ke dalam kastil milik cucunya.
Alexander hanya bisa pasrah dan ikut masuk bersama Char.
Mereka masuk ke kamar pribadi Alex. Tata ruang rapi dan maskulin. Harum ruangan itu sama dengan harum tubuh sang pemilik kamar. Ruangan yang besar dengan tempat tidur terbuat dari kayu jati berukir.
Ada ruangan wadrobe, bahkan pantri khusus di sana ada mesin kopi. Char sampai menganga melihat betapa mewah kamar pria yang jadi suaminya.
"Nanti kita pindah ...," suara Alexander memecah dan membuat Char menoleh padanya.
Alexander berdiri menyandar dengan tangan terlipat di dada. Matanya menelusuri tubuh Char.
"Pindah?" tanya Char bodoh.
"Kamar ini tidak bisa ditempati suami istri. Untuk merombaknya aku malas, lebih baik kita pindah rumah baru dan kau hias sendiri kamar kita," jawab Alexander tenang.
"Kamar kita?" Char menatap polos.
"Lalu perjanjiannya?" tanya lagi.
Alexander berdiri tegak dari sandarannya. Ia berjalan melangkah ke hadapan Char.
"Kau pikir, pernikahan kita di depan Paus Fransiskus dan dilihat ribuan mata, kita masih bisa memakai perjanjian itu?" tanya Alexander.
Char masih menatapnya dengan penuh pertanyaan, Alexander mengangguk paham. Siapa yang menyangka akan seperti ini, bahkan dirinya sendiri. Campur tangan sang kakek membuatnya melupakan perjanjian satu tahun itu. Terlebih Rudolph sendiri yang melunasi hutang perusahaan Gorgio dan menanam saham di perusahaan itu.
"Kita harus memberikan kakek tua itu cucu agar dia cepat pergi dari rumah ini!" ujar Alexander lalu menggendong istrinya ke atas ranjang.
Malam itu, seluruh pertaruhan dimulai. Alexander Romanov dan Charoen Torrer. Siapa lebih dulu jatuh cinta.
Bersambung.
Sepertinya Alex yang lebih dulu jatuh cinta deh.
Next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung
bau bau akan keromantisan n kebucinan sang mafia akan segera menguar nh