NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Sosok di Balik Remang Malam

Tidak ada bisikan ghaib yang menggema. Tidak ada jeritan atau rintihan minta tolong. Arwah itu hanya berdiri diam di sana, seolah sekadar menunjukkan keberadaannya yang tak kasat mata di tengah restoran yang sunyi.

"Rhe? Serius deh, lu dari tadi melamun ngelihatin apaan sih? suara Zora menyentak, Rhea kembali ke realitas.

Rhea mengedipkan matanya cepat. Dalam satu kedipan, sosok hantu koki itu, mendadak menguap pelan, lenyap tak berbekas meninggalkan lorong dapur dan kembali kosong. Hawa dingin yang tadinya membekukan udara perlahan memudar, berganti kembali dengan kehangatan ruangan yang diiringi sayup-sayup alunan musik instrumen klasik dari pengeras suara restoran.

Rhea menghela napas panjang, mengusap pelipisnya sedikit basah oleh keringat dingin. "Enggak kok Ra. Gue cuma rada silau aja sama lampu lorong itu. Maaf ya, bikin lu bingung."

"Duh bikin kaget aja. Gue kira lu liat apaan, " Zora terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nah, tu pesanan kita akhirnya datang juga."

Seorang pelayan pria bertubuh jangkung berseragam serba hitam melangkah mendekati meja mereka sambil membawakan sebuah nampan kayu besar. Di atasnya terhidang dua porsi gulai kepala ikan yang kuahnya masih meletup-letup dan mengeluarkan asap tipis membumbung, dua mangkok nasi putih hangat serta dua gelas besar es teh manis dengan potongan jeruk nipis di atasnya.

Uap gurih santan yang kaya akan rempah-rempah tradisional langsung memenuhi udara di sekitar meja mereka, perlahan-lahan mengikis sisa-sisa bau amis darah ghaib yang sempat dihirup Rhea tadi.

"Silakan, Mbak. Selamat menikmati makan malamnya," ujar pelayan itu dengan nada suara yang sangat datar.

Rhea memperhatikan gerak-gerik pelayan itu dengan kening berkerut halus. Ada sesuatu yang tidak wajar dari gestur para pekerja di tempat ini. Senyum yang hilang langkah kaki yang berat, dan raut wajah yang muram seolah mereka bekerja di bawah tekanan yang amat sangat berat.

"Wah, asli baunya udah bikin ngiler begini," seru Zora dengan mata berbinar-binar gembira. "Ayo makan, Rhe. Jangan ditatapin doang nanti keburu dingin kuahnya. Ini kan momen perayaan hari pertama ruko kita baru buka."

Rhea mencoba menenangkan degup jantungnya yang masih agak berdebar. Dia meraih sendok dan garpunya, memotong sedikit daging ikan dan menyuapkannya bersama kuah gurih itu ke dalam mulutnya.

Begitu rasa bumbu itu menyentuh lidahnya, Rhea harus mengakui dalam hati bahwa masakan di restoran ini memang luar biasa enak. Bumbu rempahnya meresap hingga ke serat daging paling dalam, santannya gurih pas tanpa membuat enek, dan tekstur ikannya begitu lembut hingga meleleh di dalam mulut.

"Gimana, Bu Pengacara? Enak banget kan? Gue bilang juga apa, resep restoran Restu Ibu emang nggak pernah gagal dari dulu," puji Zora antusias sambil mengunyah makanannya dengan lahap.

"Iya, Ra. Asli, ini enak banget, bumbunya berasa banget sampe ke dalam dagingnya," jawab Rhea tulus sambil mengunyah pelan.

Sambil mengunyah, pandangan mata Rhea tanpa sengaja beberapa kali bergulir ke arah dinding utama restoran yang diterangi oleh sebuah lampu sorot kecil bernuansa kuning hangat. Di sana, terpasang sebuah foto berbingkai emas ukuran besar yang terpajang sangat rapi.

Foto itu menampilkan sosok seorang pria paruh baya yang tersenyum ramah dan hangat ke arah kamera, mengenakan pakaian koki berwarna putih bersih yang lengkap dengan topi koki profesional.

Di bagian bawah bingkai kayu berukir itu tertera sebuah plat kekuningan kecil dengan ukuran tulisan berwarna keemasan, Pak Bambang - Pendiri dan Pemilik Restoran Restu Ibu.

Rhea mencerna raut wajah di dalam foto itu baik-baik, mengamatinya dengan ketelitian seorang pengacara yang sedang memeriksa bukti kasus.

Postur tubuhnya yang agak gemuk, garis pipinya yang tegas hingga garis kumis tipis di atas bibirnya, semuanya sangat identik dan presisi dengan sosok hantu koki bersimbah darah yang tadi berdiri diam mematung di lorong dapur.

Sebuah rasa ingin tahu yang besar mulai bergejolak di dalam dada Rhea. Siapa sebenarnya Pak Bambang ini? Kenapa arwahnya masih bergentayangan di dalam restorannya sendiri dengan kondisi yang begitu mengenaskan dan menyedihkan? Jika beliau telah wafat, kenapa pakaian kokinya robek-robek parah dan celemeknya di penuhi oleh noda darah kering yang menghitam?

"Ra," panggil Rhea dengan suara pelan sambil memegang gelas es teh manisnya mencoba mencairkan suasana. "Restoran Restu Ibu ini pendirinya Pak Bambang yang ada di foto besar itu ya?"

Zora menghentikan suapannya sejenak, ikut mengarahkan pandangannya ke foto besar berbingkai emas di dinding.

"Oh, iya. Pak Bambang itu pendiri sekaligus racikan resepnya emang legendaris banget di daerah ini dari puluhan tahun lalu. Dulu kata orang-orang pas tempat ini baru buka, beliau sendiri yang turun tangan masak di dapur belakang buat menjaga kualitas rasanya. Tapi ya gitu..." Zora mendesah pelan, menusuk sepotong daging ikan dengan garpunya.

"Gitu gimana maksudnya?" tanya Rhea penasaran.

"Dengar-dengar beberapa bulan lalu, Pak Bambang itu udah meninggal. Katanya sih gara-gara sakit ada yang bilang riwayat serangan jantung gitu. Cuman yang bikin prihatin tuh, semenjak beliau nggak ada. Manajemen restoran ini katanya langsung berubah drastis."

Rhea mengangguk-ngangguk pelan, menyerap setiap informasi dan kata-kata yang diucapkan Zora ke dalam memorinya. "Meninggal karena sakit atau serangan jantung..." batin Rhea mengulang kalimat itu dengan rasa curiga yang makin menebal.

Jika seseorang meninggal secara wajar wujud arwahnya tidak akan membawa trauma fisik berupa celemek berdarah dan pakaian yang robek-robek tragis seperti yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Setengah jam kemudian, makan malam mereka pun selesai. Piring-piring di meja telah bersih. Zora berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar tagihan makan malam mereka dengan wajah puas karena perutnya sudah kenyang, sementara Rhea merapikan tas dan membetulkan posisi blazernya.

Sebelum melangkah keluar mengekor di belakang Zora melintasi pintu kayu restoran yang megah itu, Rhea sempat menghentikan langkah kakinya sejenak di dekat area penerima tamu.

Dia membalikkan badan, menoleh sekali lagi ke arah lorong dapur yang gelap dan remang-remang di bagian belakang restoran. Tidak ada siapa-siapa di sana sekarang. Hanya ada bayangan kegelapan lorong dan sisa-sisa aroma rempah masakan yang mengapung di udara.

Namun, Rhea tahu betul di dalam lubuk hatinya yang paling dalam pertemuan singkat dengan sosok ghaib Pak Bambang malam ini bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa arti.

"Yuk, Rhe. Udah selesai nih dibayar," panggil Zora dari ambang pintu luar sambil melambaikan tangannya.

"Iya Ra, yuk" balas Rhea sambil tersenyum tipis.

Dia membalikkan badannya dan melangkah keluar menembus dinginnya angin malam kota Jakarta dengan pikiran yang sudah di penuhi oleh teka-teki baru.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!