Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENEROBOS BENTENG BESI
Pagi di kediaman keluarga Mahendra yang terletak di kawasan elite Menteng biasanya dimulai dengan kesunyian yang amat disiplin.
Tidak ada suara radio yang menyala lambat, tidak ada canda tawa pelayan.
Pukul 05.00 tepat, Gibran Mahendra sudah mengikat tali sepatu lari militernya.
Setelan lari berwarna hitam legam membungkus tubuhnya yang kekar.
Tidak ada musik di telinganya, tidak ada gangguan _smartwatch_.
Hanya suara deru napasnya yang teratur dan ritmik, bersahutan dengan ketukan langkah pantang menyerahnya yang menghantam aspal dingin kompleks perkantoran dan perumahan elite tersebut.
Bagi Gibran, kontrol adalah segalanya.
Tubuhnya adalah senjata, dan pikirannya adalah ruang komando yang harus steril dari segala macam distraksi.
Namun, kontrol yang ia bangun selama puluhan tahun itu merusak tepat di kilometer ketiga.
Dari arah tikungan taman kompleks, sebuah sosok meluncur dengan kecepatan tinggi menggunakan sepatu roda.
Pakaian olahraganya menurut standar ketat Gibran sangat "kurang bahan" dan teramat tidak pantas untuk pagi yang sunyi.
Ziva.
Gadis dua puluh tahun itu hanya mengenakan sport bra berwarna pink neon yang mengekspos perut rata dan pinggang rampingnya, dipadukan dengan celana pendek ketat yang memamerkan kaki jenjangnya yang licin berkilau oleh peluh tipis.
"Pagi, Om Sayang!
Duh, jodoh emang nggak ke mana ya, jam segini udah ketemu di jalanan sepi!" teriak Ziva tanpa rasa malu sedikit pun.
Suaranya yang melengking renyah memecah keheningan pagi yang bagi Gibran teramat sakral.
Gibran tidak berhenti.
Ia bahkan tidak memiringkan kepalanya selapis pun.
Ia hanya memperlebar jarak langkahnya, menambah kecepatan lari marathonnya, berharap gadis pengganggu yang serba berisik itu akan tertinggal dan kehabisan napas di belakang.
Tapi Ziva adalah seorang atlet dalam hal kegigihan.
Memanfaatkan traksi roda abec-9 pada sepatu rodanya, ia dengan amat mudah meluncur mulus, menyejajarkan posisinya persis di samping kiri Gibran.
Rambut kuncir kudanya berkibar, mengibarkan aroma sampo stroberi manis yang menusuk indra penciuman sang Letnan Jenderal.
"Om, kok lari terus sih?
Takut ya kalau deket-deket sama aku?" goda Ziva sambil meliukkan tubuhnya dengan luwes di atas sepatu roda.
Matanya yang bulat mengerling nakal.
"Tenang aja, Om... aku nggak bakal gigit kok.
Kecuali kalau Om sendiri yang minta..."
Gibran berhenti mendadak.
Ayunan kakinya terhenti secara presisi.
Wajahnya yang keras dan sedingin es menoleh penuh ke arah Ziva, menghujat gadis itu dengan tatapan membunuh.
"Ziva.
Ini area publik," suara Gibran bergema, dalam dan sarat akan ancaman.
"Tolong jaga bicaramu dan berpakaianlah yang lebih sopan.
Kamu bukan anak SMA lagi."
Ziva ikut berhenti dengan manuver _T-stop_ yang lihai, berputar centil tepat di hadapan Gibran hingga jarak mereka kini hanya tersisa setengah meter.
"Sopan itu relatif, Om Jenderal," sahut Ziva santai, menopang kedua tangannya di pinggang, membusungkan dadanya secara sengaja.
"Menurut aku, ini gaya hidup sehat anak muda zaman sekarang.
Lagian, Om suka kan liatnya?
Ngaku aja, deh... detak jantung Om yang cepat ini bukan karena lari tiga kilometer, tapi karena ada Ziva di depan mata."
Gibran menarik napas dalam-dalam melalui hidung, membiarkan udara pagi memenuhi paru-parunya demi menahan batas kesabaran yang menipis drastis.
Ia menatap Ziva dari puncak kepalanya yang berantakan estetis hingga ujung kakinya yang jenjang.
Ada gejolak asing yang mencoba menembus dinding pertahanannya, namun ia dengan cepat membunuhnya tanpa bekas.
"Pulanglah," perintah Gibran, mengacungkan jari telunjuknya yang kekar ke arah jalan kembali.
"Sebelum saya telepon mamamu untuk menjemputmu seperti anak kecil."
"Telepon aja!
Bilang sama Mama kalau aku lagi belajar strategi perang..."
Ziva tertawa lepas, mendekatkan wajahnya sedikit hingga napasnya yang hangat terengah membelai dagu kaku Gibran.
"...strategi memenangkan hati Letnan Jenderal Gibran Mahendra!"
Tawa renyah Ziva yang bar-bar bergema di sepanjang jalanan sepi Menteng, meninggalkan Gibran yang berdiri kaku mematung dengan rahang yang tertaut rapat.
Siang harinya, kegilaan Ziva tidak mereda; itu justru memuncak.
Ia menyeret Keyla, sahabat kampusnya yang penakut, ke sebuah toko kue terpercaya paling mahal di bilangan Jakarta Selatan.
"Lo beneran udah gila ya, Ziva?!" bisik Keyla setengah histeris saat mereka berdiri di depan etalase kaca.
"Lo mau nganterin kotak martabak manis ke Markas Besar Angkatan Darat?!
Itu tempat orang-orang berparasut dan pegang senjata laras panjang, Ziva!
Bukan tempat nongkrong anak gaul!"
"Key, dengerin pakar hukum cinta ini," Ziva membetulkan posisi kacamata hitam _Cat-Eye_ miliknya dengan angkuh.
"Pria kayak Om Gibran itu hatinya dibentuk dari batu granat.
Keras, dingin, tak tersentuh.
Tapi batu kalau ditetesi air gula secara konsisten, bakal bolong juga.
Nah, martabak red velvet keju ini adalah air gulanya."
Dengan mobil sedan sport merah miliknya, Ziva meluncur nekat menuju gerbang utama markas komando tempat Gibran bertugas.
Suasana di sana sangat mencekam.
Dua prajurit Polisi Militer (PM) berbadan tegap dengan baret biru dan senjata otomatis tersimpang di dada langsung memblokir jalan begitu mobil asing itu mendekat.
"Selamat siang.
Maaf, Mbak.
Ada keperluan apa di area terbatas ini?" tanya prajurit PM itu dengan artikulasi yang sangat tegas dan formal.
Ziva menurunkan kacamata hitamnya perlahan, memamerkan riasan mata _smokey_ dan senyuman paling memikat yang pernah ia latih di depan cermin.
"Selamat siang, Pak Tentara yang ganteng," panggil Ziva dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Saya mau antar amunisi paling penting buat Letnan Jenderal Gibran.
Tolong kasih tahu beliau... calon istrinya sudah datang membawa perbekalan."
Dua prajurit penjaga itu saling bertukar pandang.
Rahang mereka jatuh sedikit, bingung antara harus tertawa atau menahan gadis gila ini atas tuduhan pelecehan institusi.
Namun, sebelum mereka sempat mengambil tindakan tegas, sebuah mobil dinas sedan hitam berspesifikasi khusus dengan plat bintang tiga emas meluncur pelan hendak keluar dari gerbang dalam.
Mata elang Ziva menangkap keberadaan mobil itu.
Tanpa memikirkan keselamatan jiwanya, Ziva melompat keluar dari mobilnya sendiri.
Ia berlari cepat ke tengah jalur utama, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar tepat di depan bumper mobil dinas tersebut.
CITTTT!
Suara decitan rem ganda terdengar memekikkan telinga.
Ban mobil mewah itu berhenti hanya beberapa sentimeter saja dari lutut mulus Ziva.
Seketika suasana gerbang berubah tegang.
Dua prajurit PM langsung bersiap menyergap, sementara ajudan pribadi Gibran yang duduk di kursi depan keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi dan pelipis berkeringat.
Namun, sebelum sang ajudan bertindak lebih jauh, kaca jendela belakang mobil dinas itu perlahan turun secara otomatis.
Di balik kegelapan kaca mobil, terlihat sosok Gibran Mahendra.
Ia masih mengenakan seragam dinas harian (PDH) lengkap dengan segala atribut kehormatannya.
Matanya yang tajam berkilat dipenuhi kemarahan yang tertahan, memancarkan daya intimidasi yang sanggup membuat pria dewasa mana pun berlutut.
"Apa lagi yang kamu lakukan sekarang, Ziva?" suara Gibran rendah, namun setiap kata yang keluar terasa menekan paru-paru siapa pun yang mendengarnya.
Bukannya takut, Ziva justru berlari kecil mendekati jendela tempat Gibran duduk.
Ia menyodorkan kotak kue berwarna emas itu menembus celah jendela, memamerkannya dengan senyum tanpa dosa.
"Ini buat Om!
Martabak spesial pakai rasa cinta," ujar Ziva dengan nada riang, bibirnya melengkung manis meski dahinya mulai dipenuhi bulir keringat akibat terik matahari siang Jakarta.
"Tadi aku antre beli ini sambil mikirin Om, jadi aku jamin rasanya pasti manis banget.
Dimakan ya, Om... biar wajahnya nggak galak terus kayak mau ngajak perang."
Gibran menatap kotak kue itu dengan pandangan dingin yang sulit diartikan.
Matanya lalu berpindah melirik wajah Ziva yang merona merah karena panas, memandangi binar kegigihan di mata gadis dua puluh tahun itu.
Ada jeda panjang yang begitu menyiksa di antara mereka.
Angin siang bertiup pelan, membawa keheningan yang mencekam.
Gibran tidak mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak itu.
"Mayor," panggil Gibran tanpa mengalihkan pandangan mata dinginnya dari wajah Ziva.
"Antar dia pulang ke rumahnya sekarang."
"Siap, Jenderal!" sahut sang ajudan tegas.
"Dan untuk kamu, Ziva..." Gibran mendekatkan wajahnya sedikit ke arah jendela, menatap langsung ke dalam manik mata gadis itu.
"...jika sekali lagi kamu berani membuat kekacauan dan keonaran di area militer seperti ini, saya akan memastikan kamu dikenakan tahanan rumah selama satu bulan penuh.
Saya tidak sedang bercanda."
Sebelum Ziva sempat membalas, kaca mobil menutup rapat secara perlahan.
Mobil dinas bintang tiga itu kembali melaju mulus, meninggalkan Ziva yang berdiri terpaku di tengah sengatan matahari, memegangi kotak martabak yang dingin oleh terpaan AC mobil Gibran tadi.
Malam harinya, jam menunjukkan pukul 22.00 WIB.
Ruang kerja Letnan Jenderal Gibran di kediaman pribadinya sangat sunyi.
Hanya lampu meja berwarna kuning temaram yang menyala, memantulkan bayangan tegas sang pemilik ruangan yang sedang meneliti berkas pertahanan negara.
Namun, di sudut meja kayu jati yang amat rapi itu, terdapat sebuah objek yang sangat tidak cocok dengan estetika ruangan tersebut: kotak kue berwarna emas.
Entah bagaimana prosesnya, sang ajudan tadi siang tidak berani membuang barang tersebut dan memilih meletakkannya diam-diam di meja kerja atasannya.
Gibran menghentikan ketukan pulpennya.
Matanya mengarah pada kotak tersebut.
Dengan gerakan lambat dan terukur, Gibran mengulurkan tangannya dan membuka tutup kotak itu.
Di balik keharuman aroma keju dan cokelat yang menguar, terdapat secarik kertas lipat berwarna merah muda yang diselipkan di pinggir kotak.
Tulisan tangan di atasnya berantakan, terburu-buru, namun terasa sangat jujur:
'Om Gibran, jangan terlalu capek jaga negara melulu.
Sekali-kali jaga hati aku aja, lebih empuk dan hangat daripada kursi kantor Om yang kaku itu. - Ziva, Masa Depanmu.'
Gibran menatap tulisan itu selama beberapa detik.
Sebuah dengusan pelan lolos dari hidungnya.
Dan kemudian, sesuatu yang sangat langka terjadi sebuah tawa kecil, amat tipis, nyaris tak terdengar, terbit di sudut bibir sang Jenderal yang terkenal tak pernah tersenyum.
Ia mengambil garpu kecil yang tersedia, memotong sepotong kecil martabak manis tersebut, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Manis.
Terlalu manis dan legit untuk seleranya yang selama puluhan tahun ini hanya terbiasa menyeduh kopi hitam pekat tanpa gula.
Namun, ia tidak memuntahkannya.
Ia mengunyahnya perlahan, menikmati rasa gurih yang tertinggal di lidahnya.
Bayangan gadis berisik dengan _sport bra_ neon di jalanan pagi tadi, serta aksi nekatnya menghadang mobil dinas di tengah sengatan matahari siang, mendadak berputar ulang di dalam kepalanya.
Ziva Adriana adalah sebuah keaosan mutlak.
Gadis itu sangat berisik, teramat tidak sopan, tidak memiliki rasa takut, dan sepenuhnya berada di luar lingkar kendali yang selama ini ia agungkan.
Dan untuk pertama kalinya dalam karier militernya yang cemerlang, sang Letnan Jenderal menyadari bahwa menaklukkan musuh di garis batas negara jauh lebih mudah daripada menghadapi ancaman dari seorang gadis berusia dua puluh tahun yang bertekad meruntuhkan keangkuhannya.
"Bocah nakal..." gumam Gibran pelan pada ruangan yang hampa, sambil menggelengkan kepalanya pasrah.
Di sisi lain kota, di dalam sebuah kamar tidur bernuansa pastel yang mewah, Ziva sedang berbaring telentang di atas kasurnya.
Ia menatap langit-langit kamar dengan senyuman lebar yang tak sanggup ia tahan, mendengarkan lagu pop romantis yang mengalun dari ponselnya.
Ia baru saja mendapat laporan singkat dari salah satu ajudan muda Gibran yang berhasil ia sogok dengan voucher belanja bahwa kotak martabaknya berhasil mendarat selamat di atas meja kerja sang Jenderal, dan tidak berakhir di tong sampah.
"Rintangan satu: dicuekin setengah mati.
Check, sudah dilewati," gumam Ziva penuh kemenangan sambil memeluk bantal gulingnya erat-erat.
"Rintangan dua: dibilang bocah berisik.
On progress."
Ziva memejamkan matanya, membayangkan ekspresi wajah Gibran saat memakan kue buatannya.
"Tunggu aja, Om Jenderal," bisik Ziva pada kegelapan malam.
"Jalur kuning yang Om bangga-banggakan itu... bakal aku bikin melengkung sempurna cuma buat kita berdua."