menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH TERAKHIR
Beberapa hari berlalu.
Yuki tidak pernah benar-benar jauh dari Akira.
Di kelas, di lorong, bahkan sampai ke kafe tempat Akira bekerja.
Dia selalu ada. Diam-diam. Memperhatikan.
Menaruh sebotol minum di meja Akira. Menyelipkan kotak P3K kecil ke laci. Menunggu dari kejauhan saat Akira pulang kerja.
Akira tetap sama. Dingin. Cuek. Seolah tidak peduli.
Namun hari demi hari, hatinya mulai goyah.
Kelembutan Yuki. Caranya yang selalu ada di saat semua orang menjauh.
Sedikit demi sedikit, Akira mulai menyadarinya.
Dan di sela-sela kesadarannya itu, nama Riyumi masih terus muncul. Seperti serpihan kaca yang tidak bisa ia buang.
---
*Atap Sekolah - Jam Istirahat*
Angin bertiup kencang.
Akira duduk sendirian, makan siangnya tidak tersentuh. Kelelahan membuatnya tertidur. Wajahnya pucat.
Di bawah, Yuki mondar-mandir mencari.
"Yasiro, kamu lihat Akira?" tanyanya dengan nada cemas.
"Mungkin di atas. Tempat dia biasa," jawab Yasiro singkat.
Tanpa pikir panjang, Yuki berlari. Di tangannya ada dua botol minum.
"Harus cepat... dia pasti belum makan."
Pintu atap terbuka.
Di pojokan, Akira tertidur.
Yuki mendekat pelan. "Akira... Akira..."
Akira tersentak. Matanya terbuka, masih kabur.
Dan dalam detik itu, dia melihat bayangan yang selama ini ia rindukan.
"Riyumi... jangan pergi lagi,"
Pelukannya erat. Putus asa.
Yuki membeku. Jantungnya berdegup kencang. Tapi ia tidak menolak.
Tangannya yang gemetar naik, mengelus rambut Akira dengan hati-hati.
"Ini aku... Yuki. Bukan Riyumi."
Akira langsung melepaskan. Wajahnya memerah karena malu dan bingung.
"Ma... maaf."
Keheningan menggantung.
Yuki duduk tidak jauh darinya. Suaranya pelan, lembut.
"Kalau ada yang mau kamu ceritakan... ceritakan saja padaku. Aku akan dengarkan. Siapa tahu aku bisa membantu."
Bendungan itu akhirnya jebol.
Akira menangis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
"Dia... Riyumi... sudah tiga bulan. Tiba-tiba menghilang. Tanpa kabar. Terakhir kali dia pulang duluan..."
Ia menceritakan semuanya. Tentang tawa Riyumi. Tentang janji-janji kecil mereka. Tentang hari terakhir yang tidak pernah ia duga akan menjadi yang terakhir.
Yuki hanya diam. Air matanya jatuh, tapi ia tetap menyodorkan tisu.
"Biarkan aku membantu mencarinya, ya? Aku punya kenalan yang bisa melacak orang. Boleh aku lihat fotonya?"
Akira mengangguk. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto seorang gadis dengan senyum paling cerah yang pernah ia kenal.
---
*Keesokan Harinya*
Ponsel Akira berdering.
"Akira," suara Yuki terdengar cemas di seberang. "Kenalanku bilang... Riyumi mungkin ada di kota sebelah."
Akira langsung berdiri. "Kota sebelah? Kita berangkat sekarang!"
"Aku ikut denganmu. Aku juga ingin tahu tentang Riyumi."
"Boleh. Temani aku."
---
*Kota Sebelah*
Mereka berjalan dari satu gang ke gang lain. Bertanya ke setiap orang.
Hingga sore tiba, hasilnya nihil.
Akira duduk di trotoar. Bahunya merosot. "Tidak ada... tidak ada sama sekali."
"Istirahat dulu," Yuki menarik tangannya pelan. "Ke kafe sebentar, ya?"
Di dalam kafe itulah mereka bertemu dengannya.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat mirip Riyumi.
Ibu Riyumi menatap Akira dengan kaget. "Akira? Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Di mana Riyumi, Tante? Kenapa dia tidak ada kabar? Aku ke sini untuk mencarinya!"
Wanita itu terdiam. Matanya mulai berkaca.
"Ikut Tante," katanya lirih. "Ke tempat Riyumi."
Perjalanan dalam mobil terasa panjang dan menyesakkan.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan gerbang besi.
Pemakaman.
Jantung Akira serasa berhenti.
Ibu Riyumi menunjuk sebuah batu nisan putih.
*Riyumi Asuma*
"Ini... rumah Riyumi sekarang," ucapnya sambil terisak. "Tempat terakhirnya."
"Kenapa... kenapa bisa begini..."
Akira jatuh berlutut.
Ibu Riyumi memeluknya dan mulai bercerita, suaranya pecah.
"Hari itu dia pulang. Ada anak kecil yang hampir tertabrak mobil. Riyumi mendorong anak itu... dan dialah yang tertabrak.
Saat kami tiba di rumah sakit, dia masih sempat sadar."
"Bu..." Ibu Riyumi menirukan suara putrinya. "Aku sudah ketemu Akira. Dia sudah jadi cowok yang keren dan baik. Aku senang sekali.
Kalau aku tidak ada, dan Akira mencariku... tolong antar dia ke tempat terakhirku.
Bilang padanya... dia harus terus berubah. Untuk dirinya. Dan untuk seseorang yang berharga di masa depannya.
Aku harap orang itu adalah aku... tapi takdirku sampai di sini.
Bilang padanya aku akan selalu ada di hatinya. Jangan pernah menyerah.
Aku... aku mencintaimu, Akira."
"UMIIII!!!"
Raungan Akira memecah keheningan pemakaman. Ia memeluk batu nisan itu erat, menangis sejadi-jadinya.
"Seharusnya aku yang mengantarmu! Kenapa harus kamu! Kenapa orang yang paling aku sayangi!"
Yuki ikut menangis. Ia memeluk Akira dari belakang.
"Ini bukan salahmu, Akira. Ini bukan salahmu. Ini takdir.
Riyumi pasti sedih melihatmu seperti ini. Dia pasti ingin kamu bahagia.
Mulai sekarang... biar aku yang ada di sampingmu. Aku tidak bisa menjadi Riyumi. Tapi aku akan berusaha... menjadi seseorang yang selalu ada untukmu. Jadi tolong... jangan menyalahkan dirimu lagi."
Lama sekali Akira terdiam.
Hingga akhirnya ia berdiri. Tangannya mengusap nama di nisan itu.
"Umi..." suaranya serak. "Terima kasih untuk semuanya.
Kamu akan selalu menjadi orang yang paling aku cintai.
Tenanglah di sana. Aku janji akan terus berubah.
Sampai kita bertemu lagi."
Angin berhembus. Kelopak sakura berjatuhan, menutupi batu nisan itu.
Yuki menggenggam tangan Akira.
Dan kali ini, Akira tidak melepaskannya.
Malam itu, kamar Akira begitu gelap.
Hanya ada cahaya redup dari layar ponselnya yang menampilkan foto Riyumi. Setelah pulang dari pemakaman, Akira mengunci diri di kamar.
Rasa putus asa merayap perlahan, mencekik dadanya hingga terasa sangat sesak.
Selama beberapa minggu terakhir, harapan bahwa Riyumi akan kembali adalah satu-satunya alasan Akira untuk bertahan. Setiap langkah kecil perubahannya, setiap kali ia mencoba menjadi orang yang lebih baik, semua ia lakukan agar saat Riyumi kembali, gadis itu bisa bangga padanya.
Namun sekarang, alasan itu hancur berkeping-keping.
"Untuk apa..." bisiknya pada kamar yang hampa. Suaranya serak, tenggorokannya kering akibat terlalu banyak menangis. "Kalau kamu tidak ada di sini... untuk apa aku berubah?"
Ia menarik lututnya ke dada, menyembunyikan wajah di sana. Bayangan tawa Riyumi, janji-janji mereka yang belum terwujud, hingga kenyataan pahit bahwa gadis itu tewas tertabrak demi menyelamatkan orang lain, berputar tanpa henti di kepalanya.
Penyesalan membakarnya dari dalam. Mengapa hari itu ia tidak mengantar Riyumi pulang? Mengapa ia melambaikan tangan begitu saja dan membiarkannya berjalan sendirian? Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia pasti akan menggenggam tangan gadis itu dan tidak akan pernah melepaskannya.
Akira melempar ponselnya ke atas kasur, tidak sanggup lagi melihat senyuman Riyumi yang kini terasa seperti ironi. Keheningan kamar terasa mencekam, seolah menyedot seluruh udara di sekitarnya.
Dinding pertahanan yang coba ia bangun runtuh sepenuhnya. Akira merayap ke lantai, menyandarkan punggungnya pada sisi tempat tidur. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar yang gelap gulita.
Dunia di luar sana terus berputar, namun bagi Akira, segalanya telah berhenti di nisan putih itu. Ia merasa kehilangan arah, tenggelam dalam penyesalan dan kehampaan yang begitu mendalam, tak tahu lagi bagaimana caranya untuk sekadar bernapas dan melanjutkan hidup esok hari.