NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi Baru di Bawah Langit Ibu Kota

Malam penuh ketegangan telah berlalu sepenuhnya.

Suasana pagi yang tenang perlahan-lahan menyapa kawasan permukiman padat penduduk.

Sinar matahari menyembul dari sela-sela bangunan tinggi di kejauhan.

Memantulkan cahaya hangat di atas atap seng warung kecil milik Kirana.

Tidak ada lagi sisa-sisa kekacauan dari amukan preman semalam.

Paving block di depan warung telah tersapu bersih oleh tangan Andra sebelum fajar menyingsing.

Di dalam bilik kecilnya, Kirana membuka mata perlahan-lahan.

Rasa lelah fisik dan mental yang sempat menghimpit dadanya semalam kini berganti dengan ketenangan.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Menghirup udara pagi yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya.

Bayangan kejadian semalam masih berkelebat jelas di dalam kepalanya.

Bagaimana pria berjaket usang itu berdiri gagah menghadapi belasan preman beringas.

Bagaimana ketenangan luar biasa terpancar dari wajah Andra tanpa rasa gentar sedikit pun.

Kirana bangkit dari tempat tidurnya.

Ia merapikan selimut tipis miliknya dengan hati-hati.

Langkah kakinya kemudian membawanya keluar menuju area depan warung.

Pemandangan pertama yang ia tangkap adalah sosok Andra.

Pria itu sedang menyapu halaman sambil mengenakan jaket kain usang yang sama.

Punggungnya tampak tegap dan kokoh.

Seolah tidak ada beban berat yang baru saja ia selesaikan semalam.

"Pagi, Mas," sapa Kirana dengan suara lembut yang diwarnai ketulusan mendalam.

Andra menghentikan gerakannya sesaat.

Ia berbalik, lalu melemparkan senyuman tipis yang meneduhkan.

"Pagi, Kir," balas Andra dengan suara baritonnya yang tenang.

"Tidurnya nyenyak?"

Kirana mengangguk pelan.

Ada binar kehangatan terpancar dari sorot matanya yang indah.

"Sangat nyenyak, Mas."

"Berkat kamu... aku merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya setelah sekian lama."

Andra meletakkan sapu di sudut dinding.

Ia mendekati Kirana dengan langkah pasti.

"Jangan khawatir," ucap Andra meyakinkan.

"Mulai hari ini dan seterusnya, tidak akan ada lagi orang yang berani mengganggu ketenanganmu di sini."

Ucapan itu bukan sekadar janji kosong.

Kirana bisa merasakan ketulusan dan kekuatan mutlak di setiap kata yang meluncur dari bibir pria di hadapannya itu.

Meskipun Andra tidak punya harta berlimpah di matanya saat ini.

Kehadiran pria itu jauh lebih berharga dari segalanya.

Suasana pagi itu mendadak terasa begitu berbeda.

Warung kecil yang biasanya sepi kini terasa hidup kembali.

Mereka mulai membuka pintu gulung warung bersama-sama.

Menata meja dan kursi plastik yang sempat berserakan semalam.

Menyiapkan bahan-bahan untuk memasak menu sarapan harian.

Bau sedap kopi tubruk dan rebusan air mulai menyeruak keluar.

Menarik perhatian beberapa warga sekitar yang biasa lewat di pagi hari.

Namun, di balik kedamaian sesaat itu, roda kehidupan di luar perkampungan kecil ini mulai berputar kencang.

Jauh di pusat kota yang megah.

Di dalam sebuah ruangan kerja mewah berlapis kaca di lantai 50.

Suasana tegang sedang menyelimuti jajaran petinggi korporasi.

Sekretaris pribadi Andra yang sudah lanjut usia tampak mondar-mandir gelisah.

Di atas meja kerjanya yang luas, sebuah berkas penyelidikan rahasia tergeletak terbuka.

Berkas itu berisi laporan intelijen swasta tentang jejak terakhir sang CEO utama yang menghilang secara misterius.

"Bagaimana mungkin bayangan Tuan Andra tertangkap kamera pengawas di kawasan pinggiran kota?" gumam sang sekretaris tua dengan nada cemas.

Ia tahu betul sifat bos mudanya itu.

Andra adalah sosok perfeksionis yang cerdas dan tidak pernah bertindak tanpa alasan yang matang.

Hilangnya Andra ke tengah masyarakat bawah pasti memiliki tujuan besar.

Tujuan yang bisa mengguncang seluruh peta kekuatan bisnis nasional dalam waktu dekat.

Kembali ke warung kecil di sudut kota.

Matahari kini sudah semakin tinggi memancarkan sinarnya.

Beberapa pelanggan tetap mulai berdatangan memesan kopi dan makanan ringan.

Mereka menyapa Andra dengan nada yang sedikit lebih ramah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Berita tentang bagaimana Andra menghalau preman malam tadi rupanya sudah menyebar di kalangan tetangga terdekat.

Meskipun mereka tidak tahu persis apa yang terjadi di balik kegelapan semalam.

Setidaknya mereka tahu bahwa pria berjaket usang itu bukanlah orang yang bisa diremehkan begitu saja.

Kirana memperhatikan cara Andra melayani para pembeli dengan sabar.

Meskipun canggung di awal, Andra belajar dengan cepat.

Gerakannya cekatan dan efisien.

Ada aura kepemimpinan alami yang tidak bisa disembunyikan meskipun tertutup pakaian sederhana.

"Mas..." panggil Kirana saat warung mulai senggang di siang hari.

Andra menoleh dari meja pencucian piring.

"Ada apa, Kir?"

"Aku rasa... kita harus bicara serius soal hidup kita ke depan," ujar Kirana sambil menundukkan kepala.

Rona merah tipis tampak jelas di pipinya.

"Mengingat Doni mungkin masih akan mencari cara lain untuk mengganggu."

"Dan status kita yang tinggal serumah tanpa ikatan resmi... membuat tetangga mulai bergosip."

Andra menghentikan kegiatannya.

Ia berjalan mendekati Kirana, lalu menatap lekat-lekat kedua mata wanita itu.

"Katakan apa yang ada di pikiranmu, Kir," ucap Andra lembut.

Kirana menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya.

"Kalau kamu tidak keberatan... dan kalau kamu memang tulus ingin tinggal di sini membantuku..."

"Bagaimana kalau kita meresmikan hubungan ini?"

"Nikahi aku secara resmi di KUA kelurahan, jadilah suamiku yang sah di mata hukum dan agama."

Permintaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kirana.

Sebuah keputusan besar yang diambil oleh seorang wanita sederhana yang telah menemukan pelabuhan hatinya di tengah badai penderitaan.

Di dalam lubuk hatinya, Kirana tidak peduli lagi apakah Andra kaya atau miskin.

Yang ia tahu, pria di hadapannya adalah pelindung terbaik yang ia miliki di dunia ini.

Andra tertegun sejenak mendengarkan kalimat itu.

Jantung sang mantan miliarder berdegup sedikit lebih kencang.

Bukan karena kaget, melainkan karena kebesaran hati wanita di hadapannya.

Di saat wanita lain di luar sana memuja harta dan kekuasaan miliknya di lantai 50.

Kirana justru menerimanya apa adanya saat ia berada di titik paling bawah sebagai pria miskin berjaket usang.

Sebuah senyuman tulus terukir di bibir Andra.

Senyuman paling tulus yang ia tunjukkan sejak meninggalkan sangkar emasnya.

"Baiklah, Kir," jawab Andra mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Aku akan menikahi mu."

"Aku akan menjadi suamimu, dan aku berjanji akan memberikan seluruh hidupku untuk melindungi mu."

Hari itu, keputusan bulat telah diambil.

Sebuah pernikahan sederhana tanpa kemewahan, tanpa pesta meriah, dan tanpa saksi dari kalangan elite.

Namun dipenuhi oleh ketulusan cinta yang murni di sudut kota yang kumuh.

Berita tentang rencana pernikahan mereka langsung menyebar cepat di perkampungan tersebut.

Sebagian tetangga mencibir keputusan Kirana yang dianggap nekad menikahi seorang pria miskin pengangguran tanpa masa depan jelas.

"Duh, Kirana itu benar-benar sudah kehilangan akal!"

Bisik salah satu tetangga nyinyir di depan warung sore itu.

"Sudah punya suami brengsek seperti Doni, sekarang malah mau nikah sama gelandangan tidak dikenal."

"Mau makan apa nanti mereka kalau hanya mengandalkan warung kecil begini?"

Cibiran dan cemoohan pedas itu terdengar jelas di telinga Kirana.

Namun, Kirana hanya bisa menelan ludah pahit, lalu menatap Andra dengan penuh keteguhan hati.

"Jangan dengarkan mereka, Mas," bisik Kirana lirih, takut suaminya merasa kecil hati.

Andra hanya tersenyum dingin mendengar bisikan-bisikan miring di luar sana.

Dalam hatinya, ia tersenyum geli.

Biarlah mereka mencaci maki sekarang.

Biarlah dunia meremehkan status mereka sebagai pasangan suami istri termiskin di kampung ini.

Sebab sebentar lagi, badai sesungguhnya akan segera menghantam orang-orang yang berani meremehkan mereka.

Dan penyamaran agung ini akan segera menampakkan babak baru yang jauh lebih mendebarkan.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!