Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Langkah kaki Miska menjauh dari rumah itu tanpa menoleh sekali pun. Tas ransel sederhana di pundaknya terasa ringan, namun hatinya jauh lebih berat. Tidak ada teriakan memohon di belakangnya. Tidak ada langkah kaki yang mengejar. Pagar besi tertutup rapat, seolah dirinya tidak pernah ada di sana.
Ia berjalan terus tanpa tujuan pasti. Setiap langkah menjauh terasa seperti merobek bagian dari dirinya—bagian yang dulu masih percaya suatu hari Askar akan berubah, Bu Surya akan menerima dirinya. Namun hari ini, ia tahu harapan itu sudah mati.
Di dalam rumah, suasana justru tenang. Bu Surya menyeduh teh dengan wajah puas. "Tanpa wanita itu, rumah ini jadi lebih nyaman."
Askar berdiri di jendela, menatap ke luar dengan tatapan datar. "Dia PASTI hanya melakukan gertakan. Dulu dia tidak pernah pergi jauh. Tunggu saja, besok atau lusa dia pasti kembali, minta maaf dan memohon masuk."
Ia yakin sepenuhnya. Baginya, Miska tak bisa hidup tanpa dirinya. Selama bertahun-tahun wanita itu selalu ada—menunggu, melayani, sabar. Bagaimana mungkin ia pergi begitu saja dan tidak kembali?
Hari-hari berlalu. Askar bangun pagi, berangkat kerja, merasa rumah terasa lebih ringan tanpa kehadiran Miska. Setiap pulang sore ia menoleh ke pintu, berharap melihat istrinya berdiri di sana. Namun hari demi hari berlalu—pintu itu selalu sepi. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan.
Egonya terlalu tinggi untuk mengakui kegelisahan. Ia justru semakin yakin: Dia sedang merajuk. Dia takut. Dia akan kembali.
Hubungannya dengan Rara semakin lepas. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada takut ketahuan. Tiga hari setelah kepergian Miska, mereka makan malam di restoran mewah lalu menginap di hotel yang sama. Di kamar yang hangat itu mereka tertawa dan bercanda, seolah tidak ada hati yang sedang hancur di luar sana. Askar sama sekali tidak memikirkan di mana Miska tidur, apakah ia makan, apakah ia kedinginan.
Sementara itu, Miska berada di penginapan kecil yang sederhana. Dindingnya tipis, kasurnya tipis, dan udara dingin menembus masuk. Perutnya terasa lapar, namun ia menahan—harus hemat setiap rupiah. Ia membuka ponsel, berharap ada pesan masuk. Layarnya tetap kosong. Tidak ada pertanyaan, tidak ada kabar. Ketiadaan dirinya sama sekali tidak mengganggu hidup mereka.
Namun di tengah kesepian itu, ada satu hal yang membuatnya tetap berdiri. Ia membuka aplikasi toko yang dulu Bu Siti—tetangga kampungnya yang baik hati—bantukan untuknya. Hari itu sepuluh pesanan baru masuk. Jantungnya berdebar. Setiap pesanan adalah harapan. Setiap pesanan adalah bukti ia punya nilai di luar rumah itu.
"Terima kasih, Bu Siti," bisiknya pelan saat melihat pesan singkat dari wanita itu: Semangat ya, Miska. pesanan mu semakin banyak. Lanjutkan.
Air mata jatuh, bukan karena lapar atau dingin, tapi karena menyadari cinta yang ia rawat bertahun-tahun tidak pernah cukup untuk sekadar diingat, sementara orang asing justru memberinya harapan baru.
Hari keempat, kelima, keenam berlalu. Bu Surya mulai merasa aneh. "Kau yakin dia akan kembali, Askar? Sudah hampir seminggu, tidak ada kabar sama sekali."
"Dia cuma menunggu waktu yang tepat untuk pulang," jawab Askar dengan tenang, meski keraguan kecil mulai merayap. "Dia tidak punya tempat lain untuk pergi. Ke mana lagi dia bisa pergi?"
Ia kembali fokus pada pekerjaan dan Rara. Bahkan mulai memposting foto mereka berdua di media sosial tanpa menyembunyikan apa-apa. Di kantor, gosip menyebar, namun tidak ada yang berani berkomentar. Semua melihat betapa bebas dan bahagianya mereka berdua. Rara pun semakin percaya diri, berjalan beriringan dengannya, menerima tatapan iri rekan-rekan lainnya.
Hanya Arfan yang melihat semuanya dengan tatapan berbeda. Setiap kali melihat mereka berjalan beriringan tanpa beban, keningnya berkerut. Ia teringat wajah Miska—wanita sederhana dengan tatapan mata yang lembut dan tulus, berbeda jauh dengan Rara yang selalu tampak penuh kepura-puraan.
Suatu sore di lorong kantor, Arfan berpapasan dengan Askar. "Kau tampak sangat menikmati hidup belakangan ini."
"Tentu saja. Hidup itu untuk dinikmati," jawab Askar santai sopan.
"Begitu ya," ujar Arfan pelan. "Tapi ingatlah ini. Apa yang kau anggap beban berat, bisa jadi adalah penopang yang membuatmu tetap berdiri tegak. Dan saat penopang itu pergi... kau takkan pernah tahu seberapa cepat kau akan jatuh."
Askar tertawa, menganggap itu omongan kosong. "bapak terlalu berlebihan. Tenang saja. Dia pasti kembali. Hanya soal waktu."
Arfan hanya mengangguk lalu pergi. Ia tahu, pria seperti Askar baru akan menyadari nilai sesuatu setelah ia benar-benar hilang dan tidak bisa dikembalikan lagi.
Sementara itu, di tempat kecilnya, Miska mulai berusaha bangkit. Setiap malam ia masih menangis, setiap pagi terbangun dengan dada sesak, namun ia tetap membuka ponsel dan mengecek pesanan. Setiap hari pesanan bertambah. Bu Siti sering mengirim pesan singkat memberi semangat, bahkan menawarkan bantuan mengambilkan barang dari pasar jika Miska kesulitan.
Jangan menyerah, pesan Bu Siti suatu sore. Kau wanita kuat. Nanti kau lihat, kau akan jauh lebih baik tanpa mereka yang tak pernah menghargaimu.
Miska tersenyum, senyum tulus pertama kalinya sejak ia pergi. Ia belum berani berpikir jauh, hanya berusaha bertahan. Setiap kali nama Askar terbayang, ia menarik napas dalam-dalam dan berkata pada dirinya sendiri: Kau tidak boleh kembali. Kau harus kuat, walau itu sulit.
Hari ke tujuh. Seminggu penuh sejak kepergian Miska.
Askar pulang ke rumah dengan langkah ringan, membawa bunga untuk Rara yang akan datang berkunjung. Bu Surya sudah menyiapkan makanan di meja makan. Semuanya tampak sempurna, seolah tidak pernah ada wanita bernama Miska di rumah itu.
Namun saat meletakkan kunci di meja ruang tengah, matanya jatuh ke sudut ruangan—tempat dulu Miska selalu menaruh barang-barangnya. Sekarang kosong. Sangat kosong.
Sesuatu yang dingin dan sepi menyentuh hatinya. Ia segera menggeleng, membuang pikiran itu jauh-jauh.
Dia pasti kembali besok, pikirnya dengan ego yang masih berdiri tegak. Dia pasti kembali.
Tapi ia tidak tahu—bahwa langkah yang diambil Miska seminggu yang lalu adalah langkah yang tidak akan pernah berbalik arah. Bahwa kesabaran yang habis tidak bisa dikembalikan lagi. Dan bahwa wanita yang dulu ia anggap lemah dan tak berdaya, kini sedang belajar berdiri di atas kakinya sendiri, tanpa pernah lagi membutuhkan dirinya.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪