Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Siang itu, koridor lantai dua yang baru saja tenang mendadak memanas. Sebuah kabar miring menjalar cepat seperti api menyambar rumput kering, dibawa oleh teman sekelas Clara yang tak sengaja mendengar selentingan soal insiden di sekolah minggu lalu.
Di dalam kelas X-E, Jasver sedang santai menyandarkan punggungnya di kursi, mengobrol ringan bersama Ren dan Bumi. Namun, ketenangan itu hancur berantakan ketika pintu kelas didobrak cukup keras.
Brakk!
Clara berdiri di ambang pintu. Matanya memerah, napasnya memburu, dan wajahnya dipenuhi rasa kecewa yang mendalam. Di belakangnya, seorang temannya berdiri dengan memasang raut wajah sok prihatin. Seluruh isi kelas X-E mendadak hening seketika.
"Jasver! Keluar lo!" suara Clara melengking, memecah keheningan kelas.
Jasver tersentak kaget. Dia, Ren, dan Bumi saling berpandangan sebelum akhirnya Jasver berdiri dengan panik dan melangkah mendekati pintu. "Cla? Kamu kenapa? Kok nangis–"
"Ngga usah sok perhatian!" potong Clara tajam begitu Jasver mendekat. "Gue udah tau semuanya, Ver. Soal lo yang salah rangkul cewek lain di depan sekolah minggu lalu!"
Deg.
Jantung Jasver rasanya melosot sampai ke tumit. Wajahnya seketika pucat pasi. Ren dan Bumi yang masih duduk di dalam kelas refleks menegakkan punggung mereka, ikut menegang.
"C-Cla, dengerin dulu, itu salah paham–"
"Salah paham apanya?!" potong Clara, suaranya mulai bergetar menahan tangis. "Temen gue ngeliat sendiri! Lo ngerangkul Aery dari belakang, kan?! Dan alasan PC hologram lo hilang... itu karena lo kasih ke Aery buat nyogok dia biar ngga ngomong ke gue, kan?!"
Jasver membeku. Mulutnya terkunci rapat. Dia tidak bisa bersilat lidah lagi karena tuduhan itu seratus persen akurat.
Di saat yang bersamaan, Aery dan Farah yang baru saja selesai dari kamar mandi berjalan melewati koridor depan kelas X-E. Langkah mereka terhenti begitu melihat kerumunan murid yang mulai berkumpul di depan pintu.
Farah membelalakkan matanya. "Eh, Ry, itu bukannya Clara sama Jasver? Mereka kenapa?"
Aery mematung di tempatnya. Matanya menatap Clara yang sedang meluapkan emosinya di depan Jasver. Rasa bersalah mendadak menyengat dada Aery, meskipun bukan dia yang membocorkan rahasia itu.
"Ver..." suara Clara kini melemah, bukan lagi nada marah, melainkan nada kepasrahan yang menyakitkan. "Bukan cuma soal salah rangkul atau PC hologram itu. Tapi selama ini... gue ngerasa cuma gue yang berjuang di hubungan ini."
Jasver menatap Clara dengan pandangan bersalah. "Cla..."
"Lo ngga pernah bener-bener ada feedback perasaan buat gue, kan?" lanjut Clara dengan air mata yang mulai menetes ke pipinya. "Lo pacaran sama gue cuma karena 'yaudah jalanin aja'. Lo ngga pernah terbuka, lo selalu rahasia-rahasiaan, dan lo ngga pernah ngeliat gue dengan cara gue ngeliat lo."
Suasana koridor mendadak sangat sunyi. Ren di dalam kelas hanya bisa menunduk meringis, sementara Bumi menatap Jasver dengan pandangan prihatin yang amat sangat.
Jasver hendak menggapai tangan Clara. "Cla, maaf... gue–"
"Ngga usah, Ver," Clara menepis pelan tangan Jasver, merapikan rambutnya sambil menyapu air matanya kasar. "Gue capek. Kita putus aja." Tanpa menunggu balasan Jasver, Clara langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor, diikuti temannya.
Jasver berdiri mematung di depan pintu kelas. Bahunya merosot turun, matanya menatap kosong ke lantai. Untuk pertama kalinya, Jasver tidak bertingkah konyol atau dramatis. Cowok itu benar-benar terpukul, bukan hanya karena diputusin, tapi karena sadar kalau ucapan Clara soal perasaannya memang benar adanya.
Dari jarak beberapa meter, Aery menatap punggung Jasver yang tampak begitu rapuh. Farah yang berada di samping Aery merangkul bahu sahabatnya itu, menghembuskan napas panjang.
"Gila..." bisik Farah pelan. "Gue ngga nyangka akhirnya bakal meledak gini."
Pintu kelas X-E perlahan terbuka lebih lebar. Bumi dan Ren keluar melangkah mendekati Jasver. Tanpa banyak bicara, Bumi menepuk bahu Jasver dengan perlahan, memberikan dukungan tanpa suara, sementara Ren merangkul leher sahabatnya itu.
♧♧♧
Malam harinya, kedai kopi langganan Trio Curut terasa agak hening di awal. Ren dan Bumi duduk di meja pojok bawah pohon. Wajah dua cowok itu dipasang dalam mode super siaga, tipe wajah penuh simpati yang sengaja disiapkan untuk menghibur sahabat yang baru saja mengalami tragedi kehancuran asmara di depan umum.
Di hadapan mereka, Jasver duduk membelakangi lampu kedai. Cowok itu menunduk dalam, tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin, tak bersuara sama sekali sejak lima belas menit yang lalu.
Ren berdeham pelan, menyenggol lengan Bumi. "Bum, lo ngomong sesuatu dong. Hibur temen lo tuh, kasihan dari tadi diem aja kayak patung semen."
Bumi menghela napas, lalu menepuk-nepuk bahu Jasver dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian. "Ver... kalau lo mau cerita, cerita aja. Ngga usah dipendem sendiri. Kita paham kok, diputusin di depan banyak orang itu emang nyesek banget."
Jasver perlahan mengangkat kepalanya. Matanya menerawang jauh, lalu sebuah helaan napas panjang meluncur dari bibirnya. "Guys..." suara Jasver terdengar parau.
"Iya, Ver? Kita di sini," sahut Ren prihatin.
Jasver menatap Ren dan Bumi bergantian, lalu tiba-tiba... sudut bibirnya terangkat. Senyumnya melebar, dan dalam sekejap mata, wajah lesunya menguap digantikan oleh cengiran lebar nan tanpa dosa khas seorang Jasver.
"Jujur ya, sebenarnya... GUE LEGA BANGET GILAA! BEBAN HIDUP GUE SERASA DIANGKAT SEMUA!" pekik Jasver gembira, lalu menyambar kentang goreng di meja dan melahap tiga biji sekaligus.
Mata Ren dan Bumi membelalak sempurna. Suasana prihatin yang dibangun selama lima belas menit hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
"Hah?!" Ren terlonjak di kursinya, hampir menumpahkan es kopinya sendiri. "MAKSUD LO APA BEGOO?!"
Jasver mengunyah kentang gorengnya dengan wajah super santai. "Ya emang nyesek dikit sih pas diputusin tadi siang, secara harga diri cowok ganteng kayak gue agak tercoreng dikit di depan kelas. TAPI SELEBIHNYA GUE LEGA BANGET! FREE AT LAST!"
Bumi yang biasanya selalu tenang kini menatap Jasver dengan alis berkerut ke atas, antara takjub dan bingung. "Ver, lo serius? Jadi tadi siang lo dramatis di depan kelas itu cuma akting?"
"Ngga akting, Bum! Pas Clara marah-marah gue emang ngerasa bersalah banget. Tapi pas dia minta putus..." Jasver menyenderkan punggungnya ke kursi dengan gaya bos besar, "Sejujurnya gue udah dari beberapa hari yang lalu bingung gimana cara bilang putus ke Clara. Gue tuh kerasa banget udah ngga ada rasa lagi, cuma gue ngga tega dan ngga tau cara ngomongnya gimana tanpa ngerusak suasana."
"Astaga..." Ren menepuk jidatnya keras-keras sampai berbunyi puk. "Jadi selama seminggu ini lo senam jantung bukan cuma takut rahasia salah rangkul kebongkar, tapi karena lo juga bingung cara mutusin dia?!"
"Iya!" aku Jasver tanpa malu-malu. "Makanya pas Clara yang mutusin duluan, dalam hati gue kayak: 'Alhamdulillah, ya Allah... tugas negara selesai!' Walau yaa ada rasa bersalahnya dikit. Tapi seriusan, gue lega luar biasa!"
Ting!
Ponsel Bumi di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk di grup chat baru mereka yang diberi nama "Trio Curut + Duo Srikandi" oleh Farah tentunya.
Farah: @Jasver oi buaya darat, lo masih hidup ga? Aery kasihan tuh dari tadi sore ngerasa bersalah banget gara-gara kejadian tadi siang.
Bumi membaca pesan itu, lalu langsung menoleh ke Jasver. "Tuh, Aery malah yang ngerasa bersalah. Dia mikir gara-gara rahasia salah rangkul lo terbongkar, hubungan lo sama Clara jadi hancur."
Jasver langsung menyambar ponselnya sendiri dari saku dan mengetik dengan kecepatan cahaya di grup chat.
Jasver: @Aery SANTAYYY RY! Nggak usah merasa bersalah! Gue malah mau syukuran nasi tumpeng nih malam ini! GUE LEGA BANGET DIPUTUSIN WKWKWKWK
Farah: STRESS LO YA VER?
Aery: Serius, Jasver?
Jasver: Serius seribu persen! Thanks to lo juga sih, secara nggak langsung lo membukakan jalan kebebasan buat gue wkwkwk. Besok PC hologramnya nggak usah balik gapapa, anggap aja itu uang jasa kebebasan gue!
Farah: Gila. Bener-bener ga punya nurani nih anak. Btw Aery, besok kita ga usah merasa kasihan lagi ya sama nih ulet bulu.
Aery: Okeyy.
Ren yang ikut mengintip isi chat itu cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil membuang napas kasar. "Sumpah ya, Ver. Gue sama Bumi udah siap-siap mau jadi support system temen yang galau, tau-taunya kita lagi ngadepin pasien RSJ lepas."
Bumi terkekeh renyah, menggelengkan kepala melihat tingkah Jasver yang kini malah asyik memutar lagu gembira di Spotify-nya. "Yaudah, yang penting lo ngga stres. Tapi besok-besok kalau pacaran lagi, jangan kayak gitu. Kasihan ceweknya."
"Siap, Pak Ustadz Bumi!" sahut Jasver riang sambil hormat bendera. "Mulai besok gue resmi jadi jomblo berkualitas!"
Malam itu, rasa canggung dan tegang yang sempat menggantung seharian akhirnya benar-benar mencair. Dan di balik layar ponselnya di rumah, Aery yang membaca pesan-pesan konyol Jasver di grup cuma bisa tersenyum tipis, merasa lega sekaligus geleng-geleng kepala melihat tingkah ajaib cowok yang pernah salah merangkulnya lingkungan sekolah itu.
♧♧♧
Pagi itu, peron stasiun komuter dipenuhi hawa dingin sisa hujan semalam dan lautan seragam sekolah yang berdesakan mengejar kereta pukul enam lebih empat puluh.
Jasver melangkah masuk ke dalam gerbong ketiga yang pintunya baru saja terbuka. Matanya yang mengantuk menyapu isi gerbong, mencari celah berdiri yang agak longgar. Namun, begitu pandangannya mendarat di dekat tiang pegangan tengah, rasa kantuk Jasver mendadak hilang terbang entah ke mana.
Di sana, Aery sedang berdiri tenang sambil memegang tali tas ranselnya. Rambut kucir ekor kudanya tampak rapi seperti biasa.
Jasver refleks menghentikan langkah. Aduh, apes... masa gue harus satu gerbong pas lagi berdua gini? batin Jasver panik. Bumi hari ini berangkat agak pagi karena ada jadwal piket, sedangkan Ren diantar. Otomatis, tidak ada benteng pertahanan bagi Jasver.
Namun, karena dorongan penumpang lain yang terus masuk dari belakang, Jasver mau tak mau terdorong makin maju hingga akhirnya berdiri tepat satu meter di sebelah Aery.
Aery menoleh saat merasakan kehadiran seseorang yang cukup familier di sebelahnya. Begitu melihat Jasver, kedua alisnya terangkat kecil. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi super canggung. Kereta mulai melaju dengan guncangan pelan, mengiringi keheningan yang tebal di antara cowok jangkung yang serba salah itu dan cewek berkucir satu yang tenang.
Jasver memegang tiang pembatas erat-erat, matanya menatap papan iklan di atas kepala Aery dengan pura-pura serius. Namun, rasa canggung yang makin menghimpit dada membuat Jasver tidak tahan lagi. Dia harus memecah keheningan ini sebelum otaknya konslet.
Jasver berdeham pelan. "Ekhem... Ry."
Aery menoleh pelan, menatap Jasver dengan pandangan bertanya. "Kenapa?"
"Itu... tumben lo sendirian?" basa-basi Jasver dengan raut wajah sekaku papan gilasan, matanya melirik ke kiri dan kanan Aery. "Si Farah mana? Biasanya lo berdua udah kayak gelang sama cincin, nempel mulu."
Aery diam sesaat sebelum menghela napas tipis. "Farah mendadak sakit."
"Hah? Sakit apaan?" Jasver refleks membelalak. "Perasaan kemarin di kantin dia masih bisa ngeplak kepala si Ren pakai mangkuk bakso?"