NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Sisi Lain Sang Tirani

Malam di penthouse lantai tiga puluh enam itu selalu terasa lebih panjang dari dua puluh empat jam yang biasa Viona lalui di luar. Baginya, ruangan megah berlapis marmer Carrara dan dinding kaca yang menyuguhkan kerlip lampu Jakarta ini tak lebih dari sebuah sangkar emas yang kedap suara. Sebuah tempat di mana harga dirinya ditanggalkan setiap kali pria itu melonggarkan dasinya.

Viona berdiri di dekat jendela besar, memeluk tubuhnya sendiri yang hanya terbalut gaun tidur satin tipis berwarna merah marun—pilihan yang sengaja diletakkan di lemari atas perintah pria yang kini menguasai seluruh aspek hidupnya. Jam dinding digital berganti angka, menunjukkan pukul sepuluh malam.

Tepat pada detak kelima belas setelah pukul sepuluh, terdengar bunyi klik mekanis dari pintu utama. Detak jantung Viona seolah berhenti sesaat, lalu berpacu dua kali lebih cepat. Ritual ketakutan dan antisipasi yang selalu sama setiap malamnya.

Arkan Mahendra melangkah masuk.

Postur tubuhnya yang tegap setinggi 185 sentimeter selalu mampu mengintimidasi ruangan mana pun yang dia masuki. Jas hitam mahalnya tersampir di lengan kiri, sementara tangan kanannya melonggarkan simpul dasi sutranya dengan gerakan yang terkesan malas namun penuh otoritas. Wajah tampannya tampak letih, guratgurat tegas di rahangnya mengeras, menandakan hari yang panjang dan mungkin penuh tekanan di kantor pusat Mahendra Group.

Mata elang Arkan langsung menyapu ruangan, mencari satusatunya objek yang menjadi alasan dia menolak menghadiri jamuan makan malam bersama para pemegang saham malam ini. Begitu tatapannya terkunci pada figur ramping Viona yang berdiri di dekat jendela, kilat posesif yang familier langsung melintas di manik mata hitamnya.

"Kau belum tidur?" suara bariton Arkan memecah keheningan, berat dan serak karena kelelahan.

Viona berbalik perlahan, meremas jemarinya yang mendadak dingin. "Aku... menunggumu, Tuan."

Arkan mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang samar. Dia berjalan mendekat, melempar jasnya ke atas sofa beludru, lalu berhenti tepat dua langkah di depan Viona. Aroma maskulin yang pekat berbaur dengan wangi palo santo dan sedikit aroma wiski mahal langsung mengepung indra penciuman Viona.

"Menungguku? Atau menunggu kewajibanmu?" Arkan mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh dagu Viona, memaksa gadis itu mendongak untuk menatap langsung ke dalam matanya.

Viona menahan napas. Sentuhan itu tidak kasar, namun ada cengkeraman tak kasatmata yang menuntut kepatuhan mutlak. "Bukankah itu hal yang sama dalam kesepakatan kita?" jawab Viona dengan suara sepelan bisikan, mencoba mempertahankan sisasisa keberaniannya.

Mata Arkan menyipit. Dia benci saat Viona mengingatkannya tentang 'kesepakatan' atau 'kontrak', meskipun dialah yang mendikte setiap klausul di dalamnya. Dia ingin wanita ini tunduk, tetapi ada bagian dari ego liarnya yang juga menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar kepatuhan mekanis. Arkan ingin gairah yang nyata, bukan sekadar sandiwara seorang gadis yang berutang budi.

Jari jemari Arkan bergerak turun, menelusuri leher jenjang Viona, merasakan denyut nadi gadis itu yang berpacu liar di bawah kulitnya yang halus. "Kau selalu tahu bagaimana cara merusak suasana, Viona," bisik Arkan, wajahnya mendekat hingga Viona bisa merasakan embusan napas hangat pria itu di bibirnya.

Sebelum Viona sempat membalas, Arkan sudah merapatkan tubuh mereka. Bibir pria itu menuntut dengan paksa, sebuah kecupan yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. Gairah yang membara, yang selalu menjadi benang merah hubungan rahasia mereka, kembali tersulut dalam hitungan detik. Viona memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang CEO, mencoba melupakan rasa perih di hatinya bahwa dia hanyalah pemuas dahaga di kala malam bagi pria ini.

Namun, di tengah ciuman yang menuntut itu, Viona merasakan sesuatu yang berbeda. Ada keputusasaan yang tidak biasa dari gerakan Arkan malam ini. Pria itu memeluk pinggangnya dengan begitu erat, seolaholah Viona adalah satusatunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai yang sedang berkecamuk di kepalanya.

Ketika Arkan akhirnya melepaskan pagutan mereka untuk meraup udara, keningnya bersandar di bahu Viona. Napasnya terengahengah. Untuk beberapa saat, keheningan kembali menguasai penthouse tersebut, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling bersahutan.

Viona terpaku. Arkan tidak melanjutkan tindakannya. Pria yang biasanya langsung menyeretnya ke atas ranjang tanpa banyak bicara itu kini hanya diam, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Viona. Gadis itu bisa merasakan ketegangan yang luar biasa dari otototot bahu Arkan yang keras.

"Tuan Arkan?" panggil Viona ragu, tangannya menggantung di udara, bimbang apakah harus mendorong pria ini atau justru membalas dekapannya.

"Diamlah. Biarkan seperti ini sebentar saja," gumam Arkan, suaranya terdengar sangat lelah, kehilangan sebagian besar nada dingin yang biasa dia gunakan di ruang rapat maupun di dalam kamar ini.

Hati kecil Viona berdesir. Ini adalah sisi lain dari Arkan Mahendra yang belum pernah dia lihat selama satu bulan menjalani peran sebagai wanita simpanannya. Sang tirani yang ditakuti di dunia bisnis, sang CEO berdarah dingin yang bisa menghancurkan karier seseorang hanya dengan satu jentikan jari, malam ini tampak begitu... rapuh.

Viona memberanikan diri. Perlahan, telapak tangannya yang halus menyentuh punggung lebar Arkan, mengusapnya dengan gerakan lembut yang menenangkan. Itu adalah insting alaminya sebagai seorang wanita, melupakan sejenak status kontrak yang mengikat mereka.

Sentuhan lembut Viona tampaknya memberikan efek magis. Arkan perlahan menegakkan tubuhnya, menatap Viona dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat keterkejutan di matanya, seolah dia tidak menyangka akan mendapat kehangatan tulus dari wanita yang dibayarnya.

"Kau... tidak membenciku malam ini?" tanya Arkan, suaranya rendah, menyelidiki.

Viona menurunkan pandangannya, tidak berani menatap mata elang itu terlalu lama. "Utang ayahku lunas karena Anda, Tuan. Ibu saya bisa mendapatkan pengobatan terbaik karena uang Anda. Saya tidak punya hak untuk membenci penyelamat keluarga saya, meskipun cara yang kita pilih salah."

Mendengar kata 'penyelamat' dan 'uang', rahang Arkan kembali mengeras. Kilat kehangatan yang sempat muncul sekelebat langsung sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang semula. Dia melepaskan pelukannya dari pinggang Viona dengan kasar.

"Benar. Jangan pernah lupakan posisimu, Viona. Kau di sini karena aku membelimu dari belas kasihan rentenir itu," ucap Arkan tajam, katakatanya sengaja dirancang untuk melukai, atau mungkin, untuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona wanita di depannya.

Arkan berbalik, melangkah menuju meja bar mini di sudut ruangan, lalu menuangkan wiski ke dalam gelas kristal. Dia meneggaknya dalam satu kali tegukan, membiarkan cairan pekat itu membakar tenggorokannya, mencoba mengusir rasa asing yang baru saja menyusup ke dalam hatinya. Rasa ingin dilindungi, rasa ingin dimengerti—sesuatu yang sudah dia kubur dalamdalam sejak pengkhianatan masa lalunya.

Viona berdiri diam di tempatnya, menelan kembali rasa pahit yang menyumbat tenggorokannya. Kamar mewah ini mendadak terasa sangat dingin. Dia tahu, dinding es yang dibangun Arkan terlalu tebal untuk bisa ditembus oleh siapa pun, termasuk dirinya yang hanya dianggap sebagai barang sewaan eksklusif.

"Masuk ke kamar dan tidurlah," perintah Arkan tanpa berbalik, suaranya kembali datar dan tak tersentuh. "Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang kerja."

"Baik, Tuan," sahut Viona patuh. Dia membalikkan badan dan melangkah dengan perlahan menuju kamar tidur utama, meninggalkan Arkan sendirian dalam kegelapan malam yang perlahan mulai memudar, digantikan oleh semburat fajar yang mengintip di ufuk timur Jakarta. Hubungan ini membara penuh gairah, namun di bawah permukaannya, ada jurang pemisah yang siap menenggelamkan mereka berdua kapan saja.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!