NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Tidak Perlu Disebut Dua Kali

Pagi itu langit SMA Bakti Bangsa cerah tidak wajar untuk ukuran bulan yang harusnya sudah masuk musim hujan.

Rio berjalan melewati gerbang sekolah dengan tas ransel di punggung, Wukong di pundak kanan, dan kotak biola tua yang ia selipkan hati-hati di dalam tasnya. Tiga hari sudah berlalu sejak ia membawa kotak itu pulang dari ruang musik. Tiga hari yang diisi dengan berbagai percobaan — meletakkan kotak itu di dekat jendela yang hangat, berbicara pelan ke arahnya sebelum tidur, bahkan sekali waktu Rio mencoba memutar musik dari ponselnya dengan speaker menghadap ke kotak itu seperti orang yang menyirami tanaman.

Tidak ada perubahan.

Laba-laba di dalam kotak itu tetap tidak bergerak. Sistem pun tidak memberikan update apapun selain satu baris yang sudah Rio hafal di luar kepala: *Proses Pembangunan Tidak Dapat Dipaksakan.*

Rio sudah berdamai dengan fakta itu, setidaknya untuk saat ini.

Yang belum ia berdamai adalah suara-suara yang mulai ia dengar sejak tiga hari terakhir — bisik-bisik di koridor, tatapan-tatapan yang lebih lama dari biasanya, dan beberapa percakapan yang sengaja dibuat cukup keras agar Rio bisa mendengarnya dari jarak beberapa langkah.

*"Eh, denger gak kemarin? Kevin bilang monyetnya Rio itu cuma akting. Harimau Leo sakit lambung, makanya ambruk."*

*"Iya gue juga denger. Masa monyet sirkus bisa bikin harimau tier Master gemetar? Gak masuk akal."*

*"Kevin yang bilang sendiri ke anak-anak. Dia bilang kalau Rio sengaja nyebarin rumor biar keliatan keren padahal aslinya tetap F-rank."*

Rio mendengar versi yang berbeda-beda setiap harinya, tapi intinya sama — narasi tentang hari panggung itu sudah diputar ulang dan dikemas ulang oleh seseorang menjadi cerita yang jauh lebih menguntungkan bagi pihak yang sebenarnya kalah.

Wukong di pundaknya mencicit pelan — nada yang sudah Rio kenali sebagai ekuivalen dari *dan kamu masih diam saja?*

"Biarkan," jawab Rio singkat, seperti biasa.

---

Masalahnya bukan bisik-bisik itu.

Masalah sesungguhnya muncul pada jam istirahat pertama, di koridor lantai dua dekat kelas Rio, dalam bentuk seseorang yang berjalan terlalu percaya diri untuk ukuran pagi hari.

Kevin Aditya Pratama.

Tinggi seratus delapan puluh dua sentimeter, rambut tersisir rapi dengan gel yang harganya mungkin setara dengan uang makan Rio seminggu, seragam yang selalu tampak lebih bersih dan lebih rapi dari siapapun di sekolah ini. Di belakangnya, dua temannya — Dani dan Reza — mengikuti dengan jarak setengah langkah, posisi yang sudah sangat terlatih.

Kevin bukan sekadar murid populer biasa.

Ayahnya adalah Raymond Pratama, salah satu dari sepuluh Hunter peringkat Legend tertinggi di negara ini. Seorang pria yang namanya disebut di berita nasional minimal dua kali sebulan, yang wajahnya terpampang di billboard sponsor peralatan hunting di sepanjang jalan protokol kota. Kekayaan, koneksi, dan reputasi keluarga Pratama sudah cukup untuk membuat kepala sekolah tersenyum canggung setiap kali Kevin membutuhkan sesuatu.

Dan Kevin tahu persis berat nama itu. Ia memakainya seperti orang lain memakai jam tangan mahal — terus-menerus, dengan sadar, untuk memastikan orang lain selalu melihatnya.

Rio melihat Kevin berjalan menuju arahnya dari ujung koridor.

Bukan kebetulan. Koridor ini bukan jalur normal Kevin menuju kelasnya.

---

"Eh, Rio."

Kevin berhenti tepat di depan Rio dengan jarak yang sedikit terlalu dekat — teritori psikologis 101, sesuatu yang mungkin ia pelajari dari ayahnya yang seorang Hunter veteran. "Gue denger kamu kemarin bolos Matematika setengah jam."

Rio tidak menjawab, hanya berhenti berjalan.

"Ke mana emangnya?" Kevin menoleh ke Dani dan Reza sebentar, lalu kembali ke Rio dengan sudut bibir yang terangkat setengah. "Nyembunyiin monyetnya? Takut ketahuan kalau ternyata itu monyet mall biasa yang kebetulan pake kostum?"

Dani dan Reza tertawa pelan — suara yang sudah dikalibrasi sempurna, cukup untuk memperkuat Kevin tanpa terdengar terlalu berlebihan.

Di pundak Rio, Wukong tidak bergerak. Tidak mencicit, tidak menoleh ke Kevin. Hanya duduk sangat diam dengan mata yang menatap ke arah lain — perilaku yang sudah Rio kenali sebagai tanda bahwa Wukong sedang menahan sesuatu dengan sangat sadar.

Rio menatap Kevin datar. "Ada keperluan lain?"

"Iya, ada." Kevin merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya, dan menampilkan sebuah tangkapan layar ke arah Rio. "Ini dari forum hunter regional kemarin malam. Ada orang yang nge-post cerita tentang dungeon liar di kawasan pelabuhan yang tiba-tiba kosong bersih dalam satu malam. Semua monster habis, bahkan bos dungeon-nya."

Rio menatap layar ponsel itu tanpa ekspresi yang berubah.

"Anehnya, tidak ada rekaman, tidak ada jejak siapapun," lanjut Kevin, memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan gerakan yang terlalu kasual untuk benar-benar kasual. "Tapi yang lebih aneh lagi — beberapa orang yang kebetulan lewat area itu malam itu bilang sempat merasakan tekanan energi yang sangat besar. Bukan tekanan normal monster biasa."

Hening tiga detik di koridor itu.

Kevin memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu tahu sesuatu tentang itu?"

"Tidak," jawab Rio.

"Yakin?"

"Yakin."

Kevin menatapnya beberapa detik lagi dengan ekspresi yang sedang mencoba membaca sesuatu di wajah Rio — dan menemukan tidak ada yang bisa dibaca karena Rio tidak memberikan apapun untuk dibaca.

Akhirnya Kevin menarik napas pendek, satu sisi bibirnya terangkat lagi. "Oke. Gue percaya kamu." Nada suaranya mengandung infleksi yang secara spesifik berarti kebalikan dari kata-katanya. "Lagian, tekanan energi setingkat itu tidak mungkin berasal dari hunter dengan bakat F-rank dan monyet sirkus. Jadi memang gak mungkin kamu."

Ia berjalan berlalu, Dani dan Reza mengikuti.

Tiga langkah.

Kemudian Kevin berhenti tanpa berbalik. "Oh iya, Rio." Suaranya santai, terlalu santai. "Ayah gue kemarin tanya-tanya soal anomali dungeon di pelabuhan itu. Beliau kirim tim investigasi ke sana pagi ini. Kalau ada yang ketahuan berburu ilegal di zona itu, dendanya lumayan — belum lagi pencabutan lisensi hunter permanen."

Ia tidak menambahkan apapun. Melanjutkan langkahnya dan menghilang di tikungan koridor bersama dua bayangannya.

---

Rio berdiri di koridor yang sekarang terasa lebih sepi dari tadi, menatap titik di mana Kevin menghilang.

Di pundaknya, Wukong akhirnya bergerak — mendengus sangat pelan melalui hidungnya, suara yang lebih terdengar seperti cercaan daripada hembusan nafas biasa.

"Iya," kata Rio pelan. "Gue tahu."

Ia berjalan kembali ke kelasnya dengan langkah yang tidak berubah dari tadi. Wajahnya tidak berubah. Tangannya tidak mengepal.

Tapi di belakang matanya yang datar itu, ada sesuatu yang baru saja berputar — bukan amarah, karena amarah terlalu boros energi untuk digunakan pada situasi seperti ini. Lebih ke arah kalkulasi yang dingin dan sangat sabar.

Kevin baru saja meletakkan sebuah kartu di atas meja.

Rio hanya perlu memastikan bahwa saat waktunya tiba untuk memainkan kartunya sendiri, kartu itu jauh lebih berat dari yang Kevin bayangkan.

---

Jam pelajaran ketiga — Biologi Dungeon, guru muda yang cara mengajarnya cukup menarik karena ia sering membawa spesimen monster dalam toples formalin sebagai alat peraga — Rio duduk di bangku pojok dan mencoba berkonsentrasi.

Gagal total.

Pikirannya terus kembali ke kotak biola tua yang ada di dalam tasnya. Tiga hari tanpa perubahan apapun. Panel sistem mengatakan tidak bisa dipaksakan. Tapi Rio tidak suka menunggu tanpa melakukan sesuatu — sifat yang mungkin terbentuk dari bertahun-tahun harus mengurus segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan siapapun.

Di antara penjelasan guru tentang sistem pencernaan monster tier rendah, Rio membuka panel sistem diam-diam di bawah meja.

---

**[Status: Abyssal Goddess Weaver]**

**[Kondisi: Dormansi — Tidak Ada Perubahan]**

**[Catatan Sistem: Dormansi disebabkan oleh trauma jiwa tingkat ekstrem. Berdasarkan analisis lebih lanjut — entitas ini pernah mengalami pemutusan kontrak secara paksa oleh tamer terdahulu. Proses pemutusan paksa pada ikatan kontrak tingkat dewa setara dengan penghancuran sebagian inti kesadaran.]**

---

Rio membaca baris terakhir itu dua kali.

Pemutusan kontrak paksa.

Bukan cedera biasa. Bukan kekalahan dalam pertarungan. Seseorang pernah secara aktif dan sengaja memutuskan ikatan kontrak dengan makhluk ini secara paksa — sebuah proses yang di buku-buku teks hunter digambarkan sebagai prosedur darurat yang hanya dilakukan dalam kondisi ekstrem, karena dampaknya traumatis bagi kedua belah pihak.

Untuk tamer manusia, pemulihan membutuhkan berbulan-bulan.

Untuk hewan kontrak — terutama yang memiliki kesadaran setingkat dewa — Rio tidak bisa membayangkan apa yang tersisa setelah itu.

Delapan puluh tahun di dalam kotak biola tua, sendirian dan tidak disentuh, bukan karena tidak ada yang menemukannya.

Mungkin karena tidak ada yang layak untuk ditemukan.

---

Bel istirahat siang berbunyi pukul sebelas empat puluh lima.

Rio tidak pergi ke kantin. Ia pergi ke atap gedung utama — tempat yang secara teknis tidak boleh diakses murid, tapi pintunya sudah rusak sejak semester lalu dan tidak ada yang repot-repot memperbaikinya.

Ia duduk di pinggir atap dengan punggung bersandar ke tembok rendah pembatas, kaki terentang di depan, tas di sampingnya. Angin siang bertiup cukup kencang di atas sini, membawa bau dedaunan dari taman sekolah dan dari kejauhan, samar-samar, bau asin laut dari arah pelabuhan.

Rio mengeluarkan kotak biola tua itu dari tasnya.

Meletakkannya di pangkuannya.

Membukanya pelan — kaitan berkarat yang sudah mulai agak mudah dibuka setelah tiga hari karena Rio selalu membukanya setiap malam sebelum tidur.

Laba-laba hitam ungu itu masih di posisi yang sama. Kedelapan kakinya menekuk rapat ke dalam, tubuhnya dingin dan tidak bergerak di bawah cahaya matahari siang yang terang.

Rio menatapnya lama tanpa berbicara.

Wukong duduk di sebelah kotak itu, tidak mengendus, tidak berusaha menyentuh. Hanya duduk di sana dengan ketenangan yang berbeda dari biasanya — bukan ketenangan pasif, melainkan ketenangan seseorang yang mengerti bahwa kehadirannya sendiri sudah cukup.

"Gue gak tahu kamu bisa denger ini atau enggak," Rio akhirnya bicara, suaranya pelan dan datar seperti biasanya tapi tanpa jarak yang biasanya ada di sana. "Dan gue gak tahu apa yang terjadi sama kamu sebelum ini. Tapi gue baca catatannya."

Angin bertiup. Daun-daun di taman bawah bergoyang.

"Pemutusan paksa," lanjut Rio. "Itu bukan hal yang harusnya terjadi ke siapapun." Ia berhenti sebentar, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Gue gak bisa janji banyak hal. Gue tinggal di kontrakan yang pintunya miring, kulkas gue isinya memprihatinkan, dan secara resmi gue adalah hunter bakat F-rank yang seharusnya tidak bisa berbuat apa-apa."

Laba-laba itu tidak bergerak.

"Tapi satu hal yang bisa gue jamin," kata Rio, menatap langsung ke tubuh kecil yang tidak bergerak itu. "Gue gak akan pernah melakukan itu."

Hening.

Kemudian — sangat lambat, hampir tidak terlihat kecuali karena Rio sedang menatap langsung ke sana — salah satu dari kedelapan kaki laba-laba itu bergerak.

Hanya satu kaki. Satu gerakan kecil yang tidak lebih panjang dari setengah sentimeter.

Lalu berhenti.

Kembali ke posisi semula.

Rio tidak bergerak. Tidak menunjukkan reaksi yang bisa mengejutkan apapun.

Tapi panel sistemnya menyala dengan satu baris notifikasi yang sangat pendek.

---

**[Update: Abyssal Goddess Weaver]**

**[Status Dormansi: 0.8% Sinyal Jiwa Terdeteksi — Peningkatan dari 0%]**

---

Nol koma delapan persen.

Angka yang, dalam konteks apapun di dunia ini, hampir tidak berarti apa-apa.

Tapi Rio mengetahui satu fakta sederhana yang ia pelajari bukan dari buku pelajaran atau sistem, melainkan dari bertahun-tahun menjalani hidup dengan cara yang tidak mudah — bahwa sesuatu yang bergerak dari nol, seberapapun kecilnya, jauh lebih berarti dari sesuatu yang tidak pernah bergerak sama sekali.

Ia menutup kotak biola itu pelan, mengembalikannya ke dalam tas.

Berdiri, menepuk debu dari celananya.

"Besok gue balik lagi," ucapnya ke dalam tasnya, dengan nada yang persis sama seperti saat ia berbicara ke Wukong atau serigala — tidak merendah, tidak berlebihan. Hanya seperti berbicara ke seseorang yang memang ada di sana.

Wukong melompat kembali ke pundaknya saat Rio berjalan menuju pintu atap.

Di bawah sana, dari arah gerbang sekolah, sebuah mobil SUV hitam mengkilat baru saja memasuki area parkir — bukan kendaraan murid, bukan kendaraan guru. Pelat nomornya dari luar kota, dan di pintu sampingnya terdapat logo yang Rio kenali dari berita-berita yang pernah ia scroll di ponselnya.

Logo Asosiasi Hunter Regional.

Tim investigasi yang Kevin sebutkan tadi pagi.

Rio menatap mobil itu dari atas atap selama tiga detik, matanya datar dan tenang.

Kemudian ia masuk ke balik pintu atap, melangkah menuruni tangga, dan kembali ke rutinitas siang harinya seperti tidak terjadi apa-apa.

Kartu-kartu baru saja mulai diletakkan di atas meja.

Dan Rio sudah sangat terbiasa main dengan tangan yang kelihatannya buruk.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!