Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DI LAPANGAN HIJAU
Setelah rapat koordinasi perdana yang menegangkan itu selesai, aula serbaguna perlahan sepi. Seluruh perwira staf membubarkan diri dengan tertib, melangkah kembali menuju ruang kerja masing-masing yang telah disiapkan di bawah naungan struktur organisasi baru. Sepanjang perjalanan menyusuri koridor Mako Pusdikmil yang panjang dan kaku, Kapten Ayuni Ameera Bakri berjalan dengan tatapan lurus, namun pandangan matanya kosong laksana menembus ruang hampa. Pikirannya tidak benar-benar berada di koridor itu.
Apa ini, Tuhan? tanyanya menjerit dalam hati, meremas pelan map dokumen dinas di dadanya.
Setelah lebih dari lima tahun lamanya ia berjuang mati-matian mengubur nama itu, menjauhkan diri, dan memastikan tidak pernah melihat pria itu sedikit pun, kini realitas menamparnya dengan cara yang paling tidak terduga. Tiba-tiba saja, mereka berada di bawah satu atap instansi yang sama. Suasananya persis seperti tinggal dalam satu rumah besar, namun dengan kondisi, status, dan suasana batin yang sudah sepenuhnya berbeda dan terlarang.
Ayu memejamkan matanya erat-erat selama beberapa detik sembari terus melangkah, lalu menarik napas dalam-dalam untuk mengisi rongga dadanya yang mendadak sesak. Ia berbisik lirih, memohon agar Tuhan senantiasa menguatkan iman dan menjaga kesetiaan di dalam hatinya. Kali ini, tempat baru ia bertugas tampaknya bukan sekadar ujian karier militer, melainkan akan menjadi tantangan tersendiri yang sangat berat untuk batin dan keteguhan jiwanya.
Tak terasa, waktu bergerak cepat membelah pagi. Terik matahari di jam sepuluh pagi mulai memancarkan kehangatan yang pas, mengusir sisa-sisa kabut dingin yang sempat mengepung Bukit Raya. Di kawasan luar lapangan yang membentang di dalam markas Pusdikmil Satria Garda, suasana tampak hidup dan hangat. Anak-anak dari keluarga para perwira dan staf yang tinggal di perumahan dinas tampak sibuk berlarian ke sana kemari menikmati hari. Ada yang sibuk mengayun sepeda roda tiga mereka dengan riang, ada yang kejar-kejaran, dan ada juga sekelompok anak laki-laki yang sedang asyik bermain bola plastik di tepi lapangan rumput.
Di antara bocah-bocah kecil yang aktif itu, tampak Arkan dan juga Alif—putra dari pasangan Lettu Yunita dan Lettu Yusuf. Mereka berdua berlari riang, menendang bola ke sana kemari tanpa memedulikan peluh yang mulai bercucuran.
Secara geografis ksatrian, gedung utama Mako Pusdikmil berdiri kokoh di bagian depan. Tepat di belakangnya terdapat gedung aula serbaguna, dan di balik aula itulah membentang sebuah lapangan hijau yang sangat luas. Di sebelah kanan lapangan tersebut, berdiri megah rumah jabatan Komandan Pusat Pendidikan, yang letaknya sengaja dibangun berdampingan dengan deretan rumah dinas para staf perwira lainnya untuk memudahkan koordinasi.
Di sudut lain lapangan, sebuah bola plastik berwarna merah-putih menggelinding keluar dari jalur permainan. Bola itu berputar pelan di atas rumput teki, hingga akhirnya membentur pelan dan berhenti tepat di ujung sepatu lars hitam yang mengkilap.
Sepasang sepatu itu milik Kolonel Victoria Reins Mari. Saat itu, posisinya Victor bersama Sersan Satu Johan, sang ajudan setia, tengah berjalan kaki santai. Sebenarnya Victor hanya ingin berjalan-jalan saja keluar dari ruang kerjanya yang pengap, melangkah ke arah sebelah kiri paling ujung ksatrian untuk memantau langsung beberapa barak dan jajaran prajurit baru yang tengah sibuk melakukan latihan fisik. Namun, langkah tegap sang Kolonel terhenti seketika karena interupsi benda bulat tersebut.
Sebuah moment manis yang sama sekali tidak terduga akan terjadi hari ini di bawah langit Bukit Raya. Dengan gerakan tubuhnya yang tinggi besar, Victor perlahan menurunkan egonya. Pria itu berjongkok, mengulurkan tangan kekarnya untuk mengambil bola plastik tersebut.
Dari kejauhan, seorang bocah kecil berusia sekitar empat tahun tampak berlari dengan langkah-langkah kaki mungilnya yang menggemaskan, berusaha mengejar bola yang lepas. Anak laki-laki kecil itu ternyata adalah Arkan. Begitu menyadari bolanya kini berada di tangan seorang pria berseragam loreng dengan pangkat yang terlihat sangat mentereng, Arkan berhenti. Bukannya takut melihat postur raksasa Victor, anak itu justru tersenyum sangat manis sambil melambaikan tangan mungilnya ke atas, memberikan isyarat visual seperti meminta kembali bola yang tengah Victor pegang.
Jantung Victor berdesir hebat. Victor tahu betul—ia sangat tahu—bahwa anak laki-laki yang kini berdiri tegak di depannya dengan pipi kemerahan ini adalah Arkan, putra dari Ayuni Ameera Bakri.
Melihat anak itu mendekat, Victor tidak langsung berdiri. Ia memilih untuk tetap mempertahankan posisi berjongkoknya di atas rumput lapangan, walau dalam posisi berjongkok pun, tinggi badan Victor yang mencapai 195 sentimeter itu masih terlihat jauh lebih tinggi dan dominan daripada anak balita tersebut. Victor menatap lekat-lekat wajah Arkan, mencari jejak-jejak fitur wajah wanita yang selalu ada di dalam doanya. Dan ia menemukannya, mata bulat jernih itu adalah replika sempurna milik Ayu.
"Kamu tidak boleh main bola di tempat sembarangan, Sayang. Ini kan jalur perlintasan kendaraan dinas. Nanti kalau orang lain lewat atau kamu tersenggol kan berbahaya?" ucap Victor, mengusahakan suara baritonnya terdengar selembut mungkin agar tidak menakuti sang anak, meski nada ketegasan seorang komandan tetap tidak bisa hilang sepenuhnya.
Arkan tidak menangis. Ia hanya mendongakkan kepalanya yang kecil, menatap linsang pada melati emas di kerah baju Victor, lalu menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Janji ya, gak boleh main di sini lagi, okay? Kalau mau main bola, harus di lapangan khusus untuk anak-anak di sebelah sana, ya?" lanjut Victor lagi, menunjuk ke arah taman bermain ramah anak yang terletak aman di dekat perumahan.
"Iya, janji," sahut Arkan dengan suara cadelnya yang khas, terdengar begitu polos.
Entah dorongan magis apa yang merasuki jiwanya, sekat-sekat pembatas di hati Victor runtuh seketika. Tangan besar Victor yang biasa memegang senjata laras panjang kini bergerak perlahan, mengusap lembut rambut hitam Arkan dengan penuh ketegasan sekaligus kehangatan laksana seorang ayah perwira yang sedang menasihati putra kandungnya sendiri. Bibir kaku sang Kolonel yang terkenal jarang tersenyum di depan umum itu, kini melengkung menciptakan sebuah senyuman yang sangat tulus sembari menyerahkan kembali bola plastik tersebut ke dalam pelukan kedua tangan mungil Arkan.
Anak itu menerima bolanya, lalu sekali lagi melemparkan senyuman yang sangat lebar ke arah Victor. Senyuman lebar yang begitu khas, senyuman yang seolah mengandung dan memancarkan seluruh pesona wajah ibunya. Pemandangan itu secara spontan menarik magnet emosional yang kuat di dada Victor, membuatnya tak mampu menahan diri untuk memajukan wajahnya dan mencium lembut pucuk kepala Arkan dengan penuh penyayangan yang mendalam.
Sertu Johan yang berdiri di belakang mereka sempat terkesima melihat pemandangan langka tersebut. Namun, apa pun yang dilakukan oleh Victor hari ini, mungkin orang-orang lain atau anggota jaga yang melihat dari kejauhan hanya akan memandangnya sebagai sisi hangat dari sang komandan baru yang ternyata menyukai anak kecil. Toh, semua orang di ksatrian juga sudah tahu bahwa kedua keponakan kembar sang Kolonel—anak dari dr. Shaneen—juga berada dan tinggal di dalam satuan markas tersebut, jadi interaksi dengan anak kecil dianggap sebagai hal yang sangat wajar bagi seorang paman.
Namun, ketenangan taktis itu buyar dalam satu detik berikutnya. Arkan yang merasa telah mendapatkan perlakuan yang sangat hangat dari pria asing bertubuh gagah ini, mendadak menatap lekat mata Victor. Dengan kepolosan anak-anak yang belum mengerti rumitnya takdir orang dewasa, Arkan tiba-tiba memanggilnya dengan satu kata yang sakral.
"Ayah?" tanya Arkan polos, menunjuk dada Victor dengan jari telunjuk kecilnya.
Tentu saja Victor langsung tertegun membeku di tempatnya berjongkok. Seluruh sistem sarafnya seolah berhenti berfungsi selama beberapa saat mendengarkan panggilan itu keluar dari bibir anak Ayu. Jantungnya berdegup gila-gilaan, menghantarkan rasa sesak sekaligus luapan kebahagiaan semu yang aneh ke dalam dadanya. Panggilan itu adalah sebuah impian fana yang dulu sangat ingin ia wujudkan bersama Ayu, namun kini datang di waktu yang salah.
Bukannya membetulkan kata-kata anak itu, mengatakan bahwa dirinya bukanlah ayahnya melainkan orang lain, Victor yang telanjur larut dalam ego kerinduannya justru malah menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan panggilan tersebut dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Dasar Kolonel Victor, wibawa militernya runtuh total hanya karena satu kata dari seorang bocah kecil yang mengira dirinya adalah sosok sang ayah yang selama satu tahun ini jarang ia temui karena tugas dinas jarak jauh.