Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Aneh ( Revisi)
"Hemm..ya, tunggu aku dirumah. Jangan lakukan apapun sampai aku kembali."
Suara Kais terdengar di telinga Anisa yang tanpa sengaja mendengar suara Kais yang lumayan kencang.
"Iya, I love you too.." Ucapan terakhir Kais membuat Anisa menghentikan gerakannya saat dirinya meletakkan menu sarapan dia atas meja makan.
"Sarapan mas.." Anisa mengucapkan itu saat melihat Kais yang sudah selesai melakukan panggilan telepon tentu nya pasti dengan Marsya.
"Kamu duluan saja, aku mau mandi sebentar." tanpa mengatakan apapun lagi, Kais melangkah cepat ke arah kamar dan segera membersihkan diri.
Anisa duduk di kursi meja makan sembari menunggu Kais. Anisa menyantap sarapannya dengan malas.
Tak butuh waktu lama, terlihat Kais keluar dari kamar dengan wajah yang segar dan terlihat sudah memakai setelah kemeja yang di gulung sampai siku.
"Ini sarapan kamu.." Anisa menyodorkan piring yang ada di hadapannya.
Kais yang sedang menatap layar ponselnya menatap ke arah Anisa sekilas. Lalu dia meraih cangkir kopi yang Anisa buat. Kais meminum kopi itu sampai setengah cangkir. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana nya.
" Aku harus segera pergi, kamu tinggal disini hari ini dan tunggu aku kembali. Aku cuma sebentar, ada hal yang harus aku lakukan." Kais mengecup kening Anisa dan mengecup bibir manis Anisa dengan singkat.
Tanpa menunggu tanggapan dari Anisa, Kais melangkah lebar menuju pintu keluar apartemen. Anisa menghela nafas panjang saat melihat sosok Kais menjauh darinya.
Setelah kepergian Kais, Anisa merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang ada di apartemen itu. Dia ingin mengistirahatkan tubuh nya setelah semalaman di gempur habis oleh Kais.
Jam dua siang Anisa terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling kamar yang asing baginya. Dia teringat semalam di bawa ke apartemen itu oleh Kais.
Mengingat soal Kais, laki-laki itu belum juga kembali. Entah dia pergi kemana dan tadi terlihat buru-buru saat keluar apartemen itu.
Tangan Anisa meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Terlihat beberapa pesan dari sahabatnya Marsya.
"Anisa kamu kemana, aku telpon kamu dari semalam nggak ada jawaban. Kamu tahu, hari ini aku seneng banget ternyata Kais mau ikut bersama ku ke Rumah Sakit untuk memeriksakan diri. Doakan kami supaya di permudah untuk memiliki momongan. Aku doakan kamu dah Bagas cepat menikah dan cepat memiliki momongan juga."
Pesan yang terlihat lumayan panjang itu, membuat sesak dada Anisa saat tahu jika Kais ternyata pergi ke Rumah Sakit untuk melakukan program hamil.
Ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyelinap di hati Anisa saat tahu Kais tak jujur padanya. Bukan berarti dia tak suka mendengar kabar baik sahabatnya dan suaminya itu.
Mengingat Kais yang pergi bersama Marsya, Anisa pun memutuskan untuk tidak berharap Kais kembali ke apartemennya itu. Jika sampai malam Kais benar-benar tak muncul, Anisa akan meninggalkan apartemen itu tanpa harus memberitahu Kais.
Hari berganti malam, kelap-kelip lampu-lampu ibukota terlihat dari lantai 20 apartemen yang saat ini Anisa berada. Pukul sembilan malam Kias masih saja belum muncul di apartemen mewah itu.
Rasa hati Anisa tiba-tiba begitu kesal mengingat Kais tak mengingat dirinya masih ada di apartemen itu. Ingin sekali menghubungi Kais dan mengatakan jika dia ingin pulang ke kostan miliknya. Tapi tentunya tidak akan Anisa lakukan karena Kais saat ini bersama sahabatnya sekaligus istri Kais.
Anisa yang terlihat tak tahan lagi tinggal disana, akhirnya tanpa memberitahu Kais..Anisa pulang ke kost-nya menggunakan ojek online.
Sementara di rumah besar Kais dan Marsya, pasangan itu baru saja kembali satu jam yang lalu setelah Marsya meminta Kais menemaninya ke Mall setelah urusan di Rumah Sakit selesai.
"CK..kemana sih Anisa, di telpon nggak diangkat chat pun nggak di balas." Kais yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar gumaman Marsya langsung teringat akan Anisa yang masih ada di apartemennya.
"Kenapa Sya, ada masalah?" Kais mencoba untuk mencari jawaban pasti akan apa yang dia dengar tadi.
"Ini loh, aku chat Anisa nggak di balas.Padahal biasanya dia langsung balas loh, di telpon pun nggak ada jawaban. Aku jadi khawatir sama dia. Tadi aku sempat chat Bagas kata nya nggak sama dia. Bagas bahkan sedang bimbingan koas baru."
Mendengar jawaban Marsya, hati Kais jadi tak tenang. "Mungkin dia sudah tidur Sya. Lihat saja sudah jam berapa ini.." Marsya menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Dia mendesah pelan melihat jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam lebih bahkan hampir jam sebelas malam.
"Iya mungkin dia sudah tidur, apalagi besok harus pergi ke kantor. Tapi, besok aku minta kamu lihat Anisa di kantor, apa dia baik-baik saja atau tidak." Kais mengangguk.
"Iya, kamu tenang saja. Lebih baik kamu tidur istirahat.Aku mau ke ruang kerja dulu , ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan." sembari mengusap lembut rambut sang istri, Kais pamit untuk ke ruang kerjanya.
Tanpa menunggu jawaban Marsya, Kais pun melangkah keluar kamar nya segera masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia dengan cepat meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Kais menghubungi nomer ponsel Anisa dan ternyata panggilan nya tak diangkat oleh gadis itu. Dia melacak ponsel Anisa dan memastikan keberadaan gadis itu.
Kais dapat melihat posisi Anisa saat ini. Kening Kais mengerut saat dia membaca lokasi dimana Anisa berada. Lokasi itu bukan di apartemen miliknya tapi, di area kost-an milik Anisa . Kais menghela nafas panjang. Dia lupa akan Anisa yang tadi dia tinggalkan di apartemen miliknya.
Panggilan Kais pun diabaikan oleh Anisa, chat pun tak di balas membuat hati Kais gusar. Tapi dia tidak mungkin menemui Anisa sekarang. Dia akan bicara pada Anisa saat mereka di kantor nanti.
Keesokan harinya, Kais berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Dia ingin segera bertemu dengan Anisa.
Sedangkan Marsya menatap Kais heran karena baru kali ini Kais berangkat ke kantor masih lumayan pagi.
"Kamu sudah mau berangkat Kai ?" Kais menoleh sejenak ke arah sang istri dengan merapikan penampilan nya.
"Iya, ada beberapa dokumen yang harus aku cek sebelum meeting jam sepuluh nanti." Kais menjawab dengan begitu santai dan membuat karangan yang terdengar begitu sempurna.
"Tapi kamu belum sarapan, tunggu dulu sebentar..aku bilang bibi buat siapkan sarapan pagi buat kamu." Kais yang menahan lengan Marsya dan kemudian menggeleng.
"Nggak perlu Sya, biar aku sarapan di kantor saja. Nanti biar Anisa yang pesankan sarapan untuk ku." Marsya menghela nafas panjang lalu dia mengangguk.
"Baiklah, aku percaya kalau Nisa bisa urus keperluan kamu di kantor. Aku akan hubungi Anisa nanti dan ingat kan dia buat siapkan sarapan buat kamu." Kais tersenyum mendengar perkataan Marsya.
Kais pun melangkah pergi setelah berpamitan dengan istrinya Marsya. Dia ingin segera sampai di kantor dan melihat wajah Anisa yang menghantuinya semalaman.
Bersambung