Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana seketika hening. Lisa tertegun ketakutan, wajahnya pucat pasi melihat apa yang baru saja terjadi. Ia segera berlutut dan membungkuk dalam-dalam.
"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya, Nona! Saya tidak sengaja!" ucapnya terbata-bata, gemetar ketakutan.
Aldric menahan senyum miring, lalu menatap Daxon — menunggu bagaimana reaksi tuannya. Sementara Daxon menatap Azalea yang duduk di lantai, tubuhnya basah kuyup dan berantakan. Di matanya, tidak ada rasa kasihan, hanya perhitungan dingin.
Azalea akhirnya mengangkat kepalanya, menyeka air yang menetes dari wajahnya. Ia menatap Daxon dengan pandangan bingung sekaligus waspada.
Daxon melangkah mendekat, suaranya rendah dan tegas tanpa ada nada lembut sedikit pun.
"Sudah cukup. Bangun dan bersihkan dirimu," perintahnya singkat.
Azalea berdiri perlahan, masih merasa kesal dan tidak nyaman. Sebelum ia sempat bicara, Daxon berbicara lagi dengan nada yang terus terang, seolah ingin memastikan dia mengerti posisinya.
"Kau ada di sini bukan sebagai tamu, bukan sebagai istri, dan bukan sebagai orang yang dihargai. Aku hanya membutuhkanmu satu hal, menjadi wadah untuk melahirkan pewarisku. Setelah kau berhasil mengandung dan melahirkan anak yang sehat, saat itu kau tidak lagi berguna bagiku."
Daxon berhenti sejenak, menatapnya tajam agar tidak ada yang salah paham.
"Setelah itu, kau bebas pergi — atau lebih tepatnya, akan aku buang dari sini. Aku tidak akan memelihara orang yang tidak memiliki fungsi lagi. Ingat itu baik-baik."
Jantung Azalea terasa dingin mendengar kata-kata itu. Ia sudah menduga hal buruk, tapi mendengarnya diucapkan secara langsung dan tanpa belas kasihan tetap membuatnya merasa terhina. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, menahan amarah dan rasa sakit di dadanya.
"Jadi... aku hanya alat yang akan dibuang setelah dipakai?" tanyanya dengan suara bergetar namun tetap tegas, tidak mau terlihat lemah.
Daxon mengangkat alisnya, tidak terkejut dengan pertanyaan itu. "Tepat sekali. Itu kesepakatan yang dibuat keluargamu saat menjualmu padaku. Kau tidak punya hak untuk menuntut apa pun selain hidup yang cukup selama kau masih dibutuhkan."
Aldric yang berdiri di sampingnya hanya diam, dia tahu betul rencana sahabat atau tuannya, dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
Lisa yang masih berlutut menunduk semakin dalam, tidak berani menatap wajah siapa pun.
"Lisa, antar dia ke kamar. Berikan baju ganti. Dan ingatkan dia, tidak boleh keluar dari area yang ditentukan tanpa izin. Jika melanggar, hukuman akan jauh lebih berat dari sekadar tertimpa air kotor," perintah Daxon dingin.
"Baik, Tuan!" jawab Lisa cepat, lalu berdiri dan menatap Azalea dengan pandangan prihatin sekilas. "Silakan ikut saya, Nona."
Azalea menatap Daxon sekali lagi, lalu membuang pandangannya. Tanpa bicara lagi, ia berjalan mengikuti Lisa menaiki tangga. Di dalam hatinya, ia berjanji, ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban pasif selamanya.
Saat mereka pergi, Aldric mendekat ke samping Daxon dan berbicara pelan. "Apakah Anda yakin mengatakan semuanya secara terus terang seperti itu, tuan? Dia bisa memberontak."
Daxon tersenyum miring, matanya tetap mengarah ke tangga. "Biarkan saja. Baginya, kenyataan ini lebih baik daripada dia berharap sesuatu yang tidak akan pernah ada. Dan jika dia berani memberontak... aku punya cara jika dia memberontak." ucap Daxon.
Setelah berbicara tegas pada Azalea, Daxon pun berjalan keluar dari mansion diikuti oleh Aldric. Mereka menuju mobil yang sudah menunggu, hendak melanjutkan urusan lain.
...****************...
Sementara itu, di tempat yang berbeda, suasana justru terasa sangat gembira. Rosa dan Selvina duduk santai di ruang tamu rumah mereka, wajah mereka berseri-seri penuh kepuasan — baru saja menerima sejumlah besar uang dari Daxon sebagai imbalan penyerahan Azalea.
"Bu, aku boleh nggak minta sebagian uang itu untuk bersenang-senang?" tanya Selvina dengan nada manja.
"Boleh dong, sayang. Kamu mau berapa, putri kesayangan Ibu?" jawab Rosa lembut, tidak segan-segan mengabulkan permintaan anaknya.
"Uang yang dikirim Tuan Daxon kan ada lima ratus miliar, ya? Aku minta dua puluh juta saja cukup," ucap Selvina sambil tersenyum lebar menatap ibunya.
"Baiklah, sayang. Ibu akan segera mentransferkan nya ke rekeningmu sekarang juga," jawab Rosa sambil segera mengambil ponsel dan mulai mengotak-atik layarnya.
Tak lama kemudian...
Ting!
Suara notifikasi masuk menandakan transfer uang telah berhasil. Wajah Selvina semakin berseri, ia langsung berdiri dan memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat.
"Terima kasih, Ibu! Aku sayang banget sama Ibu!" ucapnya riang.
Rosa pun membalas pelukan itu sambil tersenyum puas, lalu mengelus-elus lembut rambut putri kesayangannya.
"Ibu juga sayang sekali sama kamu, Nak. Selama ada Ibu, keinginanmu pasti akan Ibu penuhi," jawabnya dengan nada lembut, sama sekali tidak merasa bersalah telah menjual anak tirinya sendiri demi kekayaan dan kemewahan.
Mereka berdua sama sekali tidak memikirkan nasib Azalea yang kini terjebak, hanya mementingkan kebahagiaan dan kenyamanan diri sendiri.
...****************...
Malam harinya. Suasana mansion menjadi lebih sunyi. Di kamar, Azalea hanya duduk termenung memandang keluar jendela, hatinya terasa hampa mengingat kenyataan bahwa dirinya hanya dianggap sebagai alat semata.
Malam itu juga, Daxon datang ke kamar Azalea sambil membawa sehelai baju yang terlihat sangat tipis dan transparan. Tanpa ragu, ia memutar gagang pintu dan masuk begitu saja tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Azalea terkejut seketika, langsung berdiri dan memeluk tubuhnya sendiri.
"K-kamu kenapa bisa masuk? Padahal aku sudah mengunci pintunya!" tanyanya dengan nada ketakutan.
"Ini mansion milikku, dan aku memegang kunci cadangan untuk setiap ruangan di sini," jawab Daxon datar tanpa ekspresi.
Ia lalu melemparkan baju itu ke arah Azalea. "Pakailah ini. Jangan memakai apa pun di baliknya. Cukup baju itu saja yang kau kenakan."
Azalea menangkap baju itu, dan matanya terbelalak kaget. Bahan yang sangat tipis itu tembus pandang — jika dipakai, seluruh lekuk tubuhnya akan terlihat dengan jelas.
"Aku... aku tidak mau!" jawabnya terbata-bata, wajahnya memerah karena malu dan takut.
"Aku sudah menduga kau akan menolak," ucap Daxon tenang.
"Tapi ingat, jika aku mengembalikanmu lagi ke ibu tirimu, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan tetap membiarkan Bi Inah hidup tenang, atau justru melampiaskan amarahnya pada wanita tua itu?" tanya Daxon mengancam Azalea.
Mendengar nama Bi Inah disebut, tangan Azalea mengepal erat hingga kukunya menancap ke telapak tangan. Emosi bercampur marah dan takut meluap.
"Kau dan mereka sama saja! Hanya tahu mengancam untuk memaksaku menuruti keinginan kalian!" bentak Azalea dengan suara bergetar, namun tetap berani menatap lurus ke arah Daxon.
Daxon tidak terkejut sedikit pun mendengar bentakan itu. Sebaliknya, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum dingin dan penuh tantangan. Ia melangkah mendekat perlahan, membuat Azalea mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding kamar.
"Memang benar," ucap Daxon dengan suara rendah yang berat, terasa menusuk di telinga Azalea.
"Kita sama-sama tahu posisimu. Kau tidak punya pilihan, Azalea. Entah dipaksa oleh mereka, atau dipaksa olehku — hasilnya tetap sama. Kecuali kau rela melihat Bi Inah yang sudah tua itu diusir, dipukuli, atau dibiarkan menderita di jalanan." ucap Daxon.
Ia menatap tajam ke dalam mata Azalea yang mulai berkaca-kaca. "Ingat janjimu sendiri. Kau datang ke sini demi melindunginya. Jadi jangan buang waktumu dengan menolak hal yang pasti akan terjadi."
Azalea menggigit bibirnya hingga terasa perih, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia menatap baju tipis di tangannya, lalu menatap kembali Daxon dengan pandangan penuh kebencian dan keputusasaan.
"Baiklah..." ucapnya lirih, suaranya terputus-putus. "Aku akan memakainya. Tapi ingat, Daxon Ardhan Ravenzo — aku melakukannya bukan karena aku menuruti keinginanmu, tapi hanya demi Bi Inah. Jangan pernah berpikir aku akan rela menjadi alat semata selamanya."
Daxon hanya mendengus pelan, tidak terganggu dengan ucapan itu. "Terserah apa alasannya. Yang penting kau mengerti peranmu di sini. Cepatlah ganti, aku tidak punya waktu menunggu terlalu lama."
Azalea pun berjalan menuju walk-in closet, sedangkan Daxon tetap menunggu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄