Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.
"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”
Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.
***
"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.
Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.
Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.
"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CSA 7
Amelia tak tahu sudah berapa hari berlalu, tapi hari pernikahannya semakin dekat. Gadis itu benar-benar tak diizinkan oleh ibunya pergi ke mana pun. Aktivitasnya hanya berputar di rumah sakit dan rumahnya sendiri yang telah ditinggali selama kurang lebih 24 tahun, terhitung sejak pertama kali dia dilahirkan sekaligus diabaikan.
“Aku benar-benar merindukan Kanaya.”
Amelia bersandar lesu di jendela kamar seperti bunga layu. Bulan bersinar dengan cahaya lembut, kontras dengan panasnya matahari siang tadi. Pemandangan yang cukup untuk menghibur mata, tapi tidak dengan hati Amelia yang kesepian.
Kanaya adalah satu-satunya yang selalu berada di sisinya—mendengarkan dan menghiburnya tak peduli perasaannya bagus atau buruk. Tiba-tiba kehilangan interaksi dengan sahabatnya itu membuat Amelia tak nyaman.
Gadis itu terlalu fokus dengan pikirannya hingga tak menyadari sosok berpakaian hitam bergerak mengendap-endap menuju jendela kamarnya.
Sosok itu mengetuk jendela kamar Amelia. Cukup pelan, tapi mampu membuat sang pemilik kamar tersentak.
Ketukan kedua kembali terdengar membuat Amelia was-was hingga meninggalkan tempat duduknya.
“Mel, bukan jendelanya. Ini aku, Kanaya.”
Amelia membulatkan matanya mendengar suara familier itu dan mendekat ke arah jendela.
“Nay, apa yang kamu lakukan di sini?” Dalam kebingungannya, Amelia membuka jendela dengan sangat pelan agar tidak membangunkan orang-orang rumah yang pastinya sudah tertidur di waktu yang menunjukkan hampir tengah malam.
Penghuni rumah Amelia kini kembali lengkap setelah beberapa waktu lalu Rosa bersikeras untuk pulang karena merindukan rumah orang tuanya.
“Tentu saja karena aku merindukan sahabatku. Ibu tiri Cinderella itu benar-benar mengurungmu seperti tahanan.” Kanaya mendumel kesal setelah berhasil melompat ke dalam kamar Amelia.
“Kamu tahu betapa bahayanya apa yang kamu lakukan saat ini? Bagaimana jika ketahuan?”
Amelia tidak bermaksud menahan sahabatnya, tapi dia khawatir jika seseorang menangkap kehadiran Kanaya yang mencurigakan. Melihat dari penampilannya yang serba hitam, memakai Hoodie, kacamata, dan masker kain membuatnya tampak seperti begal jalanan.
“Aku bisa menyerang mereka hingga pingsan. Tenang saja, aku sudah pernah mematahkan lengan lawanku di pertandingan.” Kanaya menjawab penuh percaya diri. Gadis itu melepas kacamata dan maskernya lalu menarik napas dalam-dalam.
“Sangat sia-sia mengkhawatirkan manusia brutal sepertimu.”
Amelia menutup jendela dengan hati-hati.
Mengingat tentang Kanaya yang mematahkan lengan lawannya di pertandingan, gadis itu sebenarnya didiskualifikasi karena menyebabkan cedera serius pada pemain lain yang merupakan pelanggaran berat. Namun, Kanaya tak mempermasalahkannya. Setidaknya dia puas telah memberi pelajaran pada pria mata keranjang seperti lawannya itu.
Pria itu berani menggoda Amelia yang ikut menonton pertandingan. Kanaya tak menahan diri saat mereka bertanding dan mematahkan lengan kanan pria itu yang diperkirakan dia tak akan bisa bermain taekwondo lagi seumur hidup.
Berkat koneksi dari orang tua Kanaya, gadis itu tak dituntut lebih jauh dan justru pihak lawan lah yang datang meminta maaf lebih dulu.
“Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Sudah izin pada Paman dan Bibi?”
“Tenang saja. Aku sudah izin dua hari yang lalu untuk melakukan aksi ini. Aku benar-benar merindukanmu, Mel.” Kanaya berucap setengah merengek. Dia memeluk Amelia dengan erat—begitu enggan melepasnya dalam waktu lama.
Amelia menghela napas berat. Dia juga sama merindukan sahabatnya itu.
“Maaf aku tidak pernah menghubungimu beberapa waktu ini. Situasinya terlalu rumit. Aku kesulitan—“
“Ayo kabur, Mel.”
Tiga kata Kanaya jatuh bagai bom di pendengaran Amelia. Gadis itu menggosok telinganya beberapa kali saking tak percayanya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Bisa ulang lagi? Sepertinya tadi pendengaranku bermasalah.” Amelia menarik senyum canggung.
“Tidak. Aku serius mengajakmu kabur. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang terjadi? Mereka akan menikahkanmu dengan pembenci nomor satumu. Itu seperti pembunuhan secara tak langsung pada ketenangan hidupmu. Ayo kita pergi sekarang.”
Lengan Amelia dipegang erat oleh Kanaya yang telah berdiri. Tampak benar-benar serius dengan ucapannya.
“Nay, aku tidak bisa.” Amelia menggeleng lemah setelah menyadari betapa seriusnya sahabatnya saat ini.
“Kenapa? Memangnya kamu mau terjebak dalam hubungan beracun ini? Bayangkan nanti kakakmu dan pria brengsek itu terus bermesraan dan kamu hanya bisa menjadi saksi seperti benda tak bernyawa—menahan sakit sampai mati. Tidak, tidak. Itu tidak bisa diterima.”
Kanaya berucap cepat seperti kebiasaannya saat sedang marah. Kecepatan bicaranya bahkan dapat menyaingi seorang rapper.
“Tidak bisa, Nay. Aku sudah terikat kontrak pernikahan dengan Mas Hanan.”
“Kontrak pernikahan?” Kanaya nyaris tak dapat menahan jeritannya membuat Amelia panik.
“Ssstt ... jangan berisik.” Amelia memberi isyarata diam lewat telunjuknya yang diletakkan di depan bibir.
“Maaf, maaf. Aku benar-benar terkejut. Apa maksudnya dengan kontrak pernikahan? Jangan bilang kamu ditipu oleh si brengsek itu. Aku akan—“
“Tenang dulu. Aku akan menjelaskannya, tapi jangan memotong ucapanku atau kamu kulempar ke luar tak peduli ketahuan orang-orang atau tidak.”
Kanaya mengangguk cepat dan duduk dengan tenang untuk meyakinkan sahabatnya itu bahwa dia tak akan membuat ulah lagi.
Amelia menghela napas pelan.
“Kontrak pernikahan ini hanya akan berlangsung selama enam bulan. Selama waktu itu aku hanya perlu menemani Mbak Rosa sampai Mas Hanan menemukan cara meyakinkannya untuk memutuskan pernikahan kami.”
Kanaya tampak berpikir sejenak, begitu serius hingga Amelia ikut terdiam dan menunggu sahabatnya itu berbicara.
“Terlalu rumit, bagaimana jika kakakmu itu tidak berumur panjang?” tanya Kanaya tanpa filter.
“Naya.” Amelia melotot tak terima.
“Apa? Memangnya aku salah? Tidak ada yang tahu sampai kapan manusia akan hidup, ‘kan. Apalagi kakakmu itu penyakitan.” Kanaya memasang raut tak bersalah.
Amelia menatap sinis sahabatnya itu sejenak. Dia tahu bahwa berbicara dengan Kanaya terkadang memerlukan kesabaran ekstra karena gadis itu suka mengatakan hal-hal yang tak terduga.
“Tidak salah, tapi jangan membahas hal seperti itu tentang Mbak Rosa.”
“Salahnya karena membuatmu menderita. Aku tidak suka dengannya, kamu tahu, ‘kan. Aku tidak akan menunjukkan sedikit pun rasa kasihan pada orang seperti itu.”
Kanaya sama sekali tak menyembunyikan perasaan tak sukanya. Dia selalu berterus terang, meski di awal pertemanan, sikap inilah yang membuat Amelia sedikit tak nyaman. Namun, rupanya dia telah terbiasa, meski harus menanggung tensi darah yang naik turun.
“Lupakan saja. Aku sudah memberi tahumu apa yang terjadi, ‘kan. Kamu harus yakin kalau aku akan baik-baik saja ke depannya.” Amelia menata ekspresinya agar santai dengan senyum tipis di bibir tipisnya.
“Kenapa kamu begitu yakin dengan ini? Maksudku ... curigalah sedikit. Bukankah semuanya terlalu sederhana? Si brengsek itu sudah sekian lama membencimu, tapi dia tiba-tiba mengajukan kontrak yang terlalu mudah. Kupikir ada harga yang harus kita bayar di balik kertas-kertas perjanjian itu.”
Raut lelah menghampiri Amelia.
“Pertama-tama, berhenti memanggil Mas Hanan pria brengsek dan semacamnya. Kedua, kupikir semua manusia bisa berubah. Mas Hanan harus fokus pada kesehatan Mbak Rosa. Mungkin dia hanya memikirkan cara cepat untuk terbebas dari semua kerumitan ini. Pokoknya jangan terlalu dipikirkan.”
Kanaya pada akhirnya menyerah. Kalimat iseng yang awalnya dia sebutkan hanya untuk menghasut sahabatnya, siapa sangka benar-benar terjadi di masa depan.